“Dia. Kenapa dia di sini?” gumam lirih Agnes sambil terus melihat ke arah Thomas.
“Apa, Nes?” tanya Linda yang mendengar ucapan Agnes.
Agnes menoleh dan langsung menundukkan wajahnya, berharap agar Thomas tidak melihatnya.
“Enggak kok. Gak papa,” jawab Agnes pelan.
“Duh, kenapa juga dia di sini. Kenapa harus di perusahaan ini juga,” gumam Agnes dalam hati.
Agnes mengangkat wajahnya lagi. Tatapannya kini tertuju lagi ke arah Thomas ya g duduk santai, mengikuti acara.
“Jangan bilang dia yang bakalan jadi presdir di sini. Mati aku kalo dia sampe jadi presdir,” ucap Agnes yang semakin ketakutan.
Pikiran Agnes berantakan. Dia juga semakin tidak tenang, mendapati sosok yang dia hindari selama ini tiba-tiba muncul di hadapannya lagi.
Agnes takut kariernya akan hancur saat Thomas menjadi presdir. Dia takut akan mendapat masalah dengan pertemuannya lagi dengan pria itu.
“Eh, tapi kan aku udah gak punya urusan lagi ama dia. Hubungan kamu hanya malam itu dan sudah berakhir sangat lama. Iya, aku udah gak ada urusan ama dia,” ucap Agnes dalam hati mencoba menenangkan dirinya sendiri.
“Kenzo. Dia punya aku. Karena dia sama sekali gak pernah tahu kehadiran anakku!”
Agnes berharap kekhawatirannya tidak terjadi. Dia hanya terbawa kaget saja, sampai dia merasa sangat gugup.
Lagi pula kejadian itu sudah 7 tahun lalu. Pasti Thomas juga sudah lupa dengan dirinya.
Mengingat mereka tidak banyak berinteraksi malam itu, Agnes semakin yakin kalau Thomas pasti tidak akan mengingat dirinya lagi.
“Nes, menurut kamu, calon presdir baru kita yang mana ya?” tanya Linda, berbisik di telinga Agnes.
“Gak tau. Tunggu aja, bentar lagi juga bakalan dikenalin,” jawab Agnes yang sedang tidak ingin berpikir.
Sebenarnya Agnes juga sedang dilanda rasa penasaran, siapa yang akan menjadi pimpinan tertinggi di perusahaan tempat dia bekerja. Diam-diam di dalam hatinya, dia berdoa agar bukan Thomas yang jadi presdir.
Akhirnya pembawa acara mulai memperkenalkan sosok presdir baru perusahaan. Agnes bernapas lega, setelah sejak tadi, napasnya sangat sesak.
Ternyata doanya terkabul. Thomas bukan orang yang disebut namanya dan akan jadi pimpinan di perusahaan ini.
Setidaknya Agnes akan aman bekerja di sini. Dia tidak akan bertemu lagi dengan Thomas.
Sementara itu, Thomas yang baru 3 hari datang dari Amerika, ikut papanya mengikuti pelantikan saudara sepupunya, menjadi presdir di anak perusahaan milik keluarganya.
Thomas akan segera bekerja di kantor pusat, bersiap menggantikan papanya yang akan masuk masa pensiun.
Thomas yang biasanya tidak suka acara seperti ini, entah mengapa pagi ini dia menyetujui ajakan papanya untuk hadir di sini.
Tatapan Thomas, tersita pada sosok wanita cantik yang duduk di depannya. Wanita yang sesekali terlihat sedang melihat ke arahnya, namun kini lebih banyak menunduk, entah apa yang dia kerjakan.
“Apa itu dia? Mirip sekali mereka,” ucap Thomas dalam hati, mencoba mengenali sosok wanita yang menyita perhatiannya.
“Agnes Naura Mahendra. Manajer pemasaran.”
Pembawa acara memanggil nama Agnes. Sebelum berdiri, tanpa sengaja Agnes melihat ke arah Thomas.
Dan celakanya, tatapannya bertemu dengan Thomas. Agnes semakin gugup, sampai hendak terjatuh saat dia berdiri memperkenalkan dirinya pada presdir perusahaan.
Senyum miring mengembang tipis di bibir Thomas, saat dia bisa melihat wajah Agnes dengan lebih jelas.
Tidak salah lagi, wajah yang selalu menghantui dirinya selama bertahun-tahun itu, kini muncul di hadapannya. Wajah yang dia cari bertahun-tahun, untuk membuat perhitungan dengan wanita yang pernah menipunya.
Agnes semakin gemetar saat dia melihat pandangan Thomas terus tertuju ke arahnya. Kakinya bahkan terasa sangat lemas saat dia duduk kembali.
Tatapan menakutkan Thomas kembali dia dapatkan. Tatapan yang mengingatkannya kembali pada kejadian malam itu.
“Gak. Gak mungkin dia inget aku,” gumam Agnes dengan tangan yang sedikit gemetar.
Agnes masih duduk dengan gugup. Entah mengapa rasanya acara ini lama sekali. Dia sudah ingin kabur dari tempat itu, menghindari Thomas yang membuatnya tidak tenang.
Agnes mulai merasa sedikit tenang, saat dia tidak lagi mendapati Thomas melihat ke arahnya. Pria itu kini terlihat berbincang dengan pria paruh baya yang duduk di sampingnya.
Acara akhirnya berakhir. Para petinggi berjalan keluar lebih dulu, meninggalkan ruangan.
Agnes melihat Thomas berjalan begitu saja saat melewati deretan kursi tempat dia duduk. Pria itu seperti tidak menyadari keberadaannya di sana.
“Cuek?! Apa dia dari tadi sebenernya gak liat aku ya?” ucap Agnes pelan.
“Duh, Agnes. Kenapa juga kamu bego banget jadi orang. Di sini kan banyak orang, siapa tau dia liat orang lain bukan liat aku. Ya ampun, Nes. Bego banget sih,” ucap Agnes yang menyesali kegugupannya sejak tadi.
Agnes merasa ketakutannya itu membuat dia merasa kalau Thomas melihat ke arahnya. Padahal, saat Thomas lewat di dekatnya, pria itu malah terlihat biasa saja, bahkan seperti tidak terjadi apa-apa.
Thomas berbelok ke toilet, sebelum dia ikut masuk ke dalam ruang kerja presdir. Beni, sang asisten pribadi, menjaga di depan pintu toilet.
Beni masuk ke dalam toilet. Dia berdiri di depan wastafel, menunggu atasannya keluar.
Thomas mencuci tangannya di wastafel. Dia menatap bayangan wajahnya sendiri di kaca, sambil tersenyum tipis.
“Apa kamu liat dia tadi?” tanya Thomas.
“Iya, Pak. Saya tidak menyangka kalau dia bekerja di sini,” jawab Beni.
“Apa kamu liat tadi dia gugup. Aku yakin, dia pasti masih mengingatku.”
“Apa saya harus menangkapnya sekarang, Pak?”
Thomas menarik napas dalam lalu menegakkan badannya. Dia menarik tisu dan mengelap tangannya.
“Biarkan saja dulu. Aku ingin sedikit bermain dengannya,” ucap Thomas dengan seringai maut di bibirnya.
“Baik, Pak.”
“Terus awasi dia. Dan cari tau semua tentang dia,” perintah Thomas lagi.
“Baik, Pak.”
Thomas membuang tisunya begitu saja lalu berjalan keluar dari toilet. Tentu saja Beni yang akan membersihkannya, lalu segera mengikuti langkah atasannya menuju ke ruang kerja presdir.
Thomas masuk ke dalam ruangan itu. Terdengar suara papanya dengan berbincang dengan sepupunya, yang baru saja dinobatkan jadi pimpinan perusahaan.
“Trus pelantikan Thomas kapan, Om?” tanya sepupu Thomas.
“Thom, kamu bakalan di sini kan? Gak bakalan balik ke Amerika lagi,” tanya sepupu Thomas.
“Thomas udah setuju pindah ke sini. Lagian cabang di Amerika juga udah punya pimpinan baru,” jawab Lukas, papa Thomas.
Lukas menoleh ke putranya. “Trus, kapan kamu mau dilantik, Thom? Papa udah pengen pensiun.”
Thomas tersenyum ke papanya. “Sepertinya rencana Thomas berubah deh, Pa,” jawab Thomas.
“Berubah? Apa maksud kamu?” Lukas menanti penjelasan.
Thomas menyandarkan punggung tegapnya di sofa lalu menatap ke sepupunya yang duduk di depannya.
“Pa, Thomas mau di sini. Thomas mau jadi presdir di sini,” ucap Thomas.