“Kamu mau di sini? Permainan apa lagi ini, Thom?” tanya Lukas bingung dengan permintaan putranya yang sangat tiba-tiba.
Lukas dan sepupu Thomas saling berpandangan. Mereka tidak mengerti kenapa Thomas berulah lagi sekarang.
Dua hari lalu, Thomas sendiri yang bersikeras ingin menggantikan posisi sepupunya di kantor pusat, dengan alasan dia harus mengetahui isi perusahaan, tempat dia akan memimpin.
Tapi ternyata tiba-tiba pagi ini Thomas membuat keributan lagi. Dia malah ingin menjadi presdir di tempat yang sempat dia tolak mentah-mentah.
“Thom, becandamu gak lucu,” ucap Aldo sepupu Thomas.
“Aku gak becanda. Dan ini juga bukan permainan, Pa. Thomas mau di sini aja,” jawab Thomas santai, tanpa beban.
Suasana di dalam ruangan itu berubah menjadi sangat serius. Thomas sukses membuat kepala Lukas pusing lagi.
“Kasih Papa alasan, kenapa kamu mau di sini? Inget Thom, ini bukan tempat main. Ini perusahaan!” tegas Lukas.
Thomas sedikit memiringkan kepalanya. Dia kemudian menggeleng pelan sambil membalas tatapan papanya.
“Gak ada alasan kok. Cuma kalo dipikir-pikir kok Thomas suka di sini,” jawab Lukas santai.
Lukas menarik napas dalam. Dia mengambil ponselnya dan berdiri.
“Ayo pulang. Tugas kita udah selesai di sini!” tegas Lukas.
“Thomas mau di sini, Pa!”
“Thomas! Jangan kayak anak kecil!”
Thomas terdiam. Dia menatap papanya dengan sorot mata tajam.
“Anak kecil? Papa anggap Thomas anak kecil?” ucap Thomas sambil menyeringai.
“Apa Papa lupa kalo Thomas yang menyelamatkan krisis keuangan di cabang Amerika? Anak kecil seperti apa yang bisa membuat perusahaan sekarat jadi maju seperti sekarang, Pa?”
Lukas terdiam mendengar ucapan putranya. Dia sama sekali tidak bisa menjawab, karena apa yang dikatakan Thomas benar adanya.
Aldo yang ada di sana ikut bingung. Keadaan semakin canggung saat ini.
“Om, kalo emang Thomas mau di sini, gak papa kok, Om. Aldo bisa balik ke pusat,” ucap Aldo mencoba menengahi dan mengalah.
Thomas tersenyum. “Tuh Pa, Aldo aja terima kok. Dia siap pindah.”
Thomas melihat ke Aldo. “Gak papa kan Do kalo aku di sini? Lagian kan kamu dah lama di pusat. Aku yakin pusat masih butuh kamu,” lanjut Thomas sambil melihat ke arah sepupunya dengan wajah cerah.
“It’s okey! Aku kerja di mana aja juga ok kok.”
“Tapi gimana sama pelantikannya? Kan tad—“
“Aku gak butuh kayak gitu. Yang penting adalah kinerja.”
Thomas melihat ke papanya lagi. “Ok Pa, semua udah beres. Sementara, Papa jangan pensiun dulu ya. Gak lama kok, Pa.”
Lukas masih kesal pada putranya. Dia menatap geram pada putra sulungnya, yang kerap kali membuatnya sakit kepala.
“Tahun depan kamu harus ke pusat. Dan ingat, saat itu juga kamu harus nikah!” tegas Lukas.
Thomas tidak menjawab. Sudah terlalu sering dia mendengar kalimat paksaan itu, padahal Thomas masih belum menemukan orang yang tepat untuk berdiri di sampingnya.
Sejak kematian kekasihnya secara mendadak 8 tahun silam, hati Thomas membeku. Meski dia banyak dikenalkan dengan para wanita pilihan mamanya, tapi belum ada satu pun yang memikat hatinya.
Dan kini, saat usianya sudah berada di awal 30an, sang mama kembali gencar menawarkan perjodohan untuknya.
Lukas pun pergi meninggalkan ruangan itu tanpa pamit. Aldo yang seharusnya mulai bekerja di kantor ini, jadi bingung sendiri.
Akhirnya Aldo pun berpamitan. Dia seperti diusir oleh tatapan Thomas yang menyuruhnya cepat pergi.
Aldo berdiri di depan ruang kerja presdir. Dia menoleh sebentar ke pintu coklat yang kokoh itu, sambil berpikir keras.
“Kenapa Thomas tiba-tiba berubah pikiran. Pasti ada alasan kuat tentang ini. Thomas bukan orang yang mudah terpengaruh. Pasti ini sesuatu yang penting. Aku harus cari tahu tentang ini,” ucap Aldo pelan.
Aldo melepas napasnya, lalu mengajak asistennya pergi. Dia juga mengatakan pada sekretarisnya, kalau pimpinan berubah.
Tentu saja hal itu membuat sekretaris yang akan masuk membawa dokumen penting perusahaan bingung.
“Eh bentar, ini maksudnya gimana ya? Atasanku ganti gitu?” gumam Dea kebingungan.
“Trus atasanku yang mana? Ini berkasnya di bawa ke mana, woy!” geram Dea saat melihat pintu lift yang dinaiki oleh Aldo tertutup begitu saja.
Di dalam ruang presdir, Thomas berjalan menuju ke meja kerjanya. Dia mencoba bertahan di tempat ini, untuk sedikit mengawasi penipu uang 3 milyarnya.
“Beni,” panggil Thomas.
“Iya, Pak,” jawab Beni yang sigap berdiri di depan meja kerja atasannya.
“Cari tau semua tentang penipu licik itu. Semuanya, termasuk ke mana saja dia pake semua uangku,” titah Thomas.
“Baik, Pak.”
Thomas menajamkan matanya dan mengepalkan tangannya. “Aku akan buat perhitungan sama dia. Berani sekali dia main-main sama aku!” geram Thomas penuh amarah pada Agnes.
Sementara itu, Agnes membawa kotak besar berisi barang-barangnya, menuju ke meja kerjanya. Dia yang sudah menjadi manajer muda, sudah mendapat ruangan sendiri dan pastinya tanggung jawab yang lebih besar.
Agnes meletakkan kotak di tangannya di atas meja. Dia kemudian duduk di kursi kerjanya, lalu mengeluarkan isi kotak itu untuk dia tata di ruang kerja barunya.
Sebuah pigura foto kini ada di tangan Agnes. Dia tersenyum melihat senyum jagoan kecilnya, yang selalu menjadi bahan bakar semangatnya untuk bekerja.
Tapi senyum itu mendadak berubah, saat dia teringat dengan pertemuannya tadi dengan Thomas.
Agnes menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Pikirannya menerawang jauh, sambil terus memegang foto Kenzo.
“Dia tadi inget gak sih sama aku. Kayaknya tadi dia juga ngeliat ke aku deh, tapi kenapa pas posisi kami lebih deket, kok dia diem aja ya. Apa dia emang gak inget ama aku?” gumam Agnes bermonolog sendiri.
“Hmm ... kayaknya aku sendiri aja deh yang panik. Mungkin tadi dia gak liatin aku. Lagian kan tadi banyak orang, mana mungkin dia bisa ngenalin aku.”
“Iya, pasti dia udah lupa. Lagian bodo amat lah, kan dia gak di sini juga kerjanya. Udah ah, gak usah mikir aneh-aneh.”
Agnes menepis semua pikirannya yang membuat dirinya panik sendiri. Agnes segera merapikan semua barangnya, agar dia bisa segera mulai bekerja.
Seperti biasa, semangat Agnes dalam bekerja sangat tinggi. Dia langsung melahap semua pekerjaan yang ada di atas meja kerjanya.
Agnes keluar dari ruang kerjanya sambil membawa sebuah berkas. Dia berjalan keluar menuju ke lift, yang akan membawanya ke tempat yang akan dia tuju.
Sambil menunggu lift datang, Agnes membaca lagi berkas yang dia bawa. Dia tidak ingin ada kesalahan pengetikan, yang mungkin akan menjadi bahan permasalahan pada atasannya.
Pintu lift berbunyi. Perlahan pintu lift terbuka.
Agnes menutup lagi map berkasnya, bersiap masuk ke dalam lift. Tapi, belum sempat melangkah masuk, tubuh Agnes mendadak kaku.
Di dalam lift, berdiri Thomas dan Beni. Pandangan Thomas terarah kepadanya, sampai membuat Agnes mematung.
“Mati aku. Kenapa dia masih di sini,” gumam Agnes dalam hati sambil terus mengarahkan pandangannya ke dua pria di dalam lift