“Masuk?” tanya Beni yang melihat Agnes tetap diam dan terus melihat ke dalam lift.
“Gak! Enggak, Pak. Gak jadi,” jawab Agnes spontan sambil melangkah pelan ke belakang.
Mendengar jawaban Agnes, Beni segera menekan tombol penutup pintu. Thomas yang berdiri di belakang Beni, melepas senyumnya saat pintu besi itu sudah tertutup kembali.
Thomas sangat menikmati wajah panik Agnes tadi, yang sangat lucu di matanya. Tidak bisa dipungkiri lagi, Thomas sangat yakin kalau Agnes masih sangat mengingatnya.
“Buat rapat secepatnya. Saya ingin pergantian ini segera diketahui,” titah Thomas.
“Baik, Pak.”
“Kamu harus mempertanggungjawabkannya, Agnes. Keluar dari sini atau kembalikan semua uangku!” gumam Thomas pelan.
Beni sedikit melirik ke arah atasannya, lewat pantulan bayangan di pintu lift. Dia tidak mengerti, apa yang sedang direncanakan atasannya itu pada Agnes.
Selama mengikuti Thomas, baru kali ini pria tampan di belakangnya itu, tidak bergerak cepat untuk menangkap orang yang membuat masalah dengannya. Padahal biasanya Thomas tidak akan membiarkan sedetik pun orang itu bergerak bebas, meski hanya seorang wanita malam.
Tapi dengan Agnes, Thomas bahkan masih bisa mengukir senyum. Seolah pria itu sedang menikmati permainan manis dengan wanita 7 tahun silam itu.
Sementara itu, Agnes yang masih di depan pintu lift, masih berdiri di sana dengan wajah pucat. Tangannya berpegangan di dinding, sambil berusaha mengatur napasnya.
“Ya ampun, ngeri banget. Kenapa dia masih di sini sih?” ucap Agnes mengungkapkan kekesalannya.
“Eh tunggu dulu. Dia tadi kok diem aja ya. Bahkan asistennya pun diem aja. Apa mereka beneran lupa ama aku ya?” Agnes berusaha menyadarkan diri.
“Ih, bego amat sih kamu, Nes! Ngapain coba kamu gugup kayak tadi. Kalo mereka curiga kan malah bahaya. Ihhh! Bego banget sih aku!” geram Agnes, menyesali tindakannya tadi.
“Nes, kamu kenapa?” tanya Doni yang melihat Agnes bicara sendiri.
Mendengar ada yang menyapanya, Agnes langsung mengangkat pandangannya. Dia melihat ada Doni, sedang melihatnya dengan tatapan khawatir.
“Eh, Pak Doni,” sapa Agnes sambil berusaha tersenyum.
“Kamu gak papa?” tanya Doni ingin memastikan.
“Gak papa, Pak. Saya gak papa kok.”
“Tapi kamu agak pucet. Kamu yakin gak papa?”
“Gak papa, Pak. Cuma agak darah rendah. Iya, darah rendah,” bohong Agnes.
“Darah rendah? Kamu istirahat dulu, Nes. Jangan sampe sakit “
“Gak papa kok, Pak. Saya gak papa. Udah enakan kok.”
“Beneran?”
“Iya, Pak. Pak Doni mau ke mana?” Agnes mengubah pembicaraan.
“Mau ke lobi. Mau ketemu klien. Kamu sendiri mau ke mana?”
“Mau ke atas, Pak. Mau ke sekretariat.”
Doni mengangguk sambil tersenyum. Wanita di depannya itu masih sangat cantik, tidak berubah, meski dia sudah melihatnya selama 3 tahun.
“Oh ya Nes, akhir pekan ini kan libur panjang. Saya pengen ajak Kenzo berenang boleh gak?”
“Berenang ya, Pak. Pasti dia seneng banget. Tapi liat nanti ya, Pak. Takutnya nanti ada acara lain.”
“Iya, santai aja. Kabari saya ya.”
“Baik, Pak. Kalo gitu, saya duluan ya, Pak,” pamit Agnes saat lift yang dia tunggu tiba.
Agnes masuk ke dalam lift yang akan mengantarkannya ke tujuannya. Dia akan memberikan dokumen proposal yang sudah dirancangnya sejak beberapa minggu ini.
Agnes menyapa beberapa pegawai yang berpapasan dengan dia di koridor kantor. Dia segera masuk ke ruang sekretariat untuk meminta persetujuan.
“Mau ditunggu apa di tinggal?” tanya pegawai sekretariat.
“Ditunggu bisa gak? Mau sekalian ke manajer senior soalnya.”
“Boleh. Tunggu dulu bentar ya.”
Agnes duduk di kursi panjang yang ada di sana. Dia memilih berselancar di dunia maya, sambil menunggu berkasnya selesai.
“Eh, ada pengumuman apa ini,” gumam Agnes saat dia melihat ada pesan masuk di grup para manajer muda yang baru dia ikuti.
“Rapat? Baru tadi diangkat, udah main rapat aja. Hmm ... ya udah lah.”
Agnes kembali berselancar di dunia maya. Dia sekalian ingin mencarikan baju untuk pangeran kecilnya.
“Eh, dah denger kabar belum. Katanya bos kita ganti loh.”
“Hah, seriusan. Baru tadi pagi dilantik, udah ganti lagi?”
Topik pembicaraan yang didengar Agnes mampu membuat perhatian Agnes teralihkan. Dia melihat ke dua pegawai yang sedang berbincang, di bangku lain.
“Presdir ganti lagi? Seriusan ganti lagi?” gumam Agnes bermonolog sendiri.
“Lucu amat. Pagi dilantik, siang di ganti. Siapa ya yang berhasil kudeta presdir.”
Agnes terkekeh pelan saat dia mengatakan hal itu. Tapi sedetik kemudian, senyumnya hilang dan berganti wajah cemas.
“Jangan bilang dia yang gantiin pak presdir?!” ucap Agnes yang teringat pertemuannya dengan Thomas tadi.
“Duh, mati aku. Moga aja dia gak inget aku selamanya. Amnesia kalo perlu,” keluh Agnes sambil memejamkan mata. Frustrasi membayangkan akan satu kantor dengan Thomas.
Sementara itu, Beni masuk ke ruang kerja atasannya. Dia membawa sebuah berkas di tangannya lalu dia serahkan pada atasannya.
“Ini semua identitas Agnes, Pak,” lapor Beni.
Thomas tidak menjawab. Dia membaca profil Agnes yang ada di tangannya.
“Baru 3 tahun kerja tapi udah dapet 2 kali promosi. Cepet banget,” ucap Thomas.
“Menurut kabar, katanya kinerjanya bagus, Pak. Kliennya juga banyak.”
“Hmm ... rapat jam berapa?”
“10 menit lagi, Pak.”
“Kita jalan sekarang.”
Beni kaget dengan apa yang dikatakan oleh Thomas. Padahal biasanya dia tidak bersemangat seperti ini tentang rapat.
Tapi kini, malah Thomas langsung berdiri dan berjalan ke ruang rapat yang sudah dia tentukan.
Setelah membaca berkas profil Agnes, Thomas jadi sangat bersemangat untuk segera bertanya pada wanita itu. Dia paling tidak suka, kalau pekerjaan dilakukan dengan cara kotor, mengingat dulu dia punya pengalaman panas dengan Agnes.
Thomas masuk ke dalam ruang rapat. Langkahnya sempat terhenti, saat dia melihat seseorang ternyata sudah ada di dalam sana.
Agnes yang sedang bersantai sambil menunggu rekan kerjanya yang lain datang, kaget saat dia melihat Thomas dan Beni masuk.
Tubuh Agnes mendadak kaku lagi dan napasnya menjadi sangat sesak. Tatapan Thomas yang tajam dalam matanya yang dalam itu membuat Agnes takut dan langsung menundukkan kepalanya.
“Batalkan rapatnya sekarang!” titah Thomas.
“Batal?” ucap Agnes kaget dengan perintah Thomas.
“Beni, tunggu di luar. Saya ada urusan dengan dia!”