Marvel kembali bekerja setelah seminggu lebih cuti pernikahan , dia kembali disibukkan dengan pertemuan client menemani dean.
"Wah saya nggak nyangka loh mas marvel anda yang bisa dapetin mbak xia desainer terkenal, cantik banget lagi." Celetuk salah satu rekan bisnis Dean.
Mereka telah membahas masalah kerjaan, dan dilanjutkan makan santai bersama.
Marvel hanya tersenyum simpul mendengarnya dan dean hanya menjadi pendengar.
"Saya aja pas mau kenalan diketusin, tapi itu sih yang bikin penasaran, judes tapi manis banget saya aja sampai jatuh cinta pandangan pertama, eeehh malah mas marvel yang dapet," goda orang itu lagi, umurnya memang sedikit lebih muda dari marvel dan dean namun kepintarannya membuatnya menjadi pengusaha sukses "pasti karna mas marvel orang dalem nih."
Marvel tak banyak menanggapi, hanya tersenyum kecil saja, membuat pria bernama briyan itu mendengus padahal ingin sekali mendengar kisah percintaan orang yang pernah membuatnya jatuh cinta.
"Oiya mas Marvel bukanya udah pacar yah, namanya kalau nggak salah dara? Dari divisi pemasaran kan? Udah putus ya mas?" Briyan kembali berceloteh, karna memang sifatnya yang kepo dan ceria.
Namun pertanyaan itu membuat suasana menjadi canggung terlebih dean yang merasa tak nyaman, dan marvel pun sama apalagi briyan sudah membahas kekasihnya disaat dia sudah menjadi suami orang lain.
"Oh pasti karna pesona mbak Xia yah, mas Marvel jadi klepek klepek? Nggak heram sih.. Hehe" tebak briyan diakhiri kekehan hebohnya sendiri, sedangkan sekertaris Briyan hanya bisa menhela nafas, dia menyadari sesuatu dan suasana menjadi sangat amat canggung.
"Ehemm, sepertinya ada keperluan lain lagi setelah ini kami pamit dulu briyan."
Setelah berpamita Marvel maupun dean kembali kekantor, hubungan keduanya memang baik meskipun sempat bersitetang saat dulu menyangkut Xia yang dijelekkan bahkan dilecehkan marvel dengan kata kata.
"nanti ada meeting jam berapa vel?"
"Jam 2 siang pak."
Dean melihat jam ditangannya menujukan angka 12 kurang 15 menit sebentar lagi waktu makan siang tiba.
"Kamu boleh istirahat lebih dulu, saya tau kamu tadi tidak makan dengan nyaman."
Tanpa menunggu jawaban dari Marvel dean melenggeng pergi keruangannya, Marvelpun menuju kantin menunggu sang kekasih.
Memang kabar Marvel telah menikah dengan Xia sudah diketahui seantero kantor bahkan luar kantor, namun jika dara dan Marvel masih menjalin hubungan hanya keluarga Xia dan Marvel yang tau. Orang orang hanya tau jika marvel dengan dara sekarang hanya teman dan mereka pun tak menaruh curiga tiap kali Marvel dan Dara jalan bareng ataupun makan siang bersama.
Karna mereka mempercayai mantan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, terlebih jika putus dengan baik baik.
Marvel memainkan ponselnya selagi menunggu jam istirahat tiba, tadi dia telah mengabari Dara jika dia menunggunya dikantin tepatnya tempat biasa mereka duduk.
"Hay sayang."
Baru saja akan menoleh Xia duduk dengan anggun disamping Marvel memang posisi meja dikantin kotak dengan 4 kursi yang melingkar.
Marvel menaikkan sebelah alisnya heran, lalu mengedarkan pandangan sudah ada beberapa orang yang masuk kantin namun bagian divisi pemasaran sepertinya belum.
"Ngapain anda disini? Saya rasa butik dengan kantor lumayan jauh jika hanya untuk mampir makan siang."
"Aku mau menemani suamiku makan siang, apakah ada yang melarang?"
"Tap—"
"Eh mbak Xia,"
Baru saja Marvel akan menjawab, sesorang dari arah belakang membuat keduanya menoleh, Xia yang melihat dari ujung matanya hanya mendengus malas.
"Yang loe lihat aja." Balas Xia dengan malas.
Xia memang selalu bersikap ketus dengan semua orang, terlebih pada orang yang ingin caper padanya, apalagi disamping orang yang menyapaya ada salah satunya ada orang yang amat Xia benci.
Dara.
"Mbak xia makan siang disini juga? Mau makan apa mbak biar saya pesankan," suara lembut Dara mengalun merdu, namun bagaikan petir yang membuatnya sakit di dengar telinganya.
"Terserah, yang penting makan." jawab Xia ketus, Marvel yang melihat itu menghembuskan nafasnya lelah dengan sikap tak sopan Xia.
"Em kalau mas Marvel? Seperti biasa? Bakso tanpa sayuran?"
"Gausah Dara, biar saya pesan sendiri."
"Sepertinya loe sangat tau kebiasaan dan kesukaan suami gue Dara," Sela Xia dengan nada sinis, bahkan tatapan tak sukanya tidak disembunyikan demi menjaga nama baiknya.
Belum sempat Dara menjawab, bahkan wanita itu gelagapan memilih jawaban yang tepat teman Dara lagi lagi menyela.
"Karna mereka emang pacaran udah lama mbak, apa mbak nggak tau?"
"Selama apa? Apakah selama itu sampai harus terang terangan memperhatikan suami orang didepan istrinya?"
Bela, teman Xia yang awalnya cerewet itu mendadak mati kudu dan hanya bisa menggaruk tengkuknya bingung dengan jawaban Xia yang dirasa memang benar, tak ingin berada disituasi canggung dia segera menarik Nisa, temannya yang sejak tadi diam.
"Yaudah sepertinya teman saya sudah kelaparan, saya cari tempat duduk dulu mbak Xia, permisi."
"Loe disini saja Dara, bukankah biasanya loe juga yang temenin suami gue makan siang?" suara Xia yang tiba tiba membuat langkah Dara yang akan mengikuti teman temannya terhenti, namun Bela dan Nisa sepertinya ingin segera kabur dan jauh jauh dari Xia.
"Tapi mbak —"
"Udah disini aja, oiya tadi kamu nawarin mau pesanin makanan saya, sekalian mas Marvel ya, saya pesan salad buah saja sama jus lemon."
"Biar saya sa—"
"Nggak usah mas, biar saya saja." Sela Dara ketika Marvel akan menolak usulan Xia, lebih baik dia yang pergi daripada berlama lama berhadapan dengan Xia yang memiliki aura begitu mengintimidasi terlebih tatapan beberapa karyawan yang melihat kearahnya membuatnya tak nyaman.
Setelah kepergian Dara. Marvel menatap Xia dingin, Xia yang menyadari itu tersenyum miring.
"Ingat Marvel ini disekitar kantor, kamu salah pilih langkah saja bisa membuat semuanya hancur, termasuk dara, dia akan dicap perusak rumah tangga orang, karna mereka taunya kamu nikah sama aku karna sama sama mau dan udah putus sama Dara."
Marvel mengepalkan tangannya dibawah meja dengan erat, memang perkataan Xia benar jika dia salah bersikap dan lebih memperhatikan Dara daripada Xia didepan banyak orang pasti orang orang mengiranya Daralah yang salah karna sekarang dia suami Xia anak dari pemilik perusahaan.
Apalagi setelah membuat image baik dia dan Dara telah putus baik baik dan kini menjadi teman.
Beberapa saat kemudian Dara datang dengan nampan berisi makanan dan menaruhnya dengan hati hati dimeja lalu kembali lagi untuk mengambil minuman.
Setelahnya ketiganya asik menikmati makanan, hingga tiba tiba saja ponsel Xia terjatuh diapun segera mengambilnya namun tanpa dia duga sesuatu membuatnya tersenyum miring dengan wajah kecut.
Dia duduk kembali dengan anggun, namun beberapa saat kemudian ujung sepatunya menghantam ujung meja depan Dara membuat bakso dan minumannya tumpah mengenai baju dara, sontak membuat wanita itu terperanjat juga Marvel yang terkejut.
Orang orang disekitarpun nampak kaget dengan kejadian.
Dara berjingkat karna kuah baksonya masih panas, untung saja jusnya tak juga mengenai tubuhnya juga.
"Dara kamu nggak papa?
"Marvel ikut bangkit disusul Xia yang menampilkan wajah terkejut.
Dara tak menjawab namun buru buru pergi ketoilet, Marvel yang panik nyaris menyusul hingga sebuah tangan menahannya.
"Sayang, bajuku juga basah kena jus Dara,"
Alhasil Marvel hanya bisa menelan sulivanya karna banyak orang orang yang menatap kearahnya.
Dia melihat tempat dimana dara sudah tak terlihat lagi dan Xia yang memang bagian pinggangnya terkena jus dara yang tumpah.
Akhirnya Marvelpun kembali duduk dan ikut membantu Xia membersihkan noda dibaju Xia dengan hati yang was was keadaan Dara.
Xia yang melihat Marvel seperti tak berdayapun tersenyum miring.
'Siapa suruh pegangan tangan seolah dunia ini milik kalian, apa kalian buta untuk melihatku disini.'
****