Hari ini mereka pulang, ketiganya telah sampai dibandara, tidak ada pembicaraan apapun diantara ketiganya hanya Dara dan Marvel yang sesekali bercanda namun ketika Xia melirik kearahnya dengan tatapan dingin Dara langsung diam dan menunduk seperti merasa bersalah.
"Sayang gimana honeymoonnya," Seru Teresa setelah memeluk Xia dalam dekapannya.
"Kamu punya hutang cerita sama mama." Bisiknya lirih sebelum melepaskan pelukanya membuat Xia menghela nafas malas.
"Udah udah, biarin anak anak istirahat dulu pasti mereka capek banget."
Darren menengahi, yang langsung dipatuhi semuanya. Yang ikut menjemput Xia dan Marvel ada Dean dan juga istrinya yang sedang mengandung.
"Gimana ponakan gue? " Tanya Xia pada iparnya, Nana.
"Baik xi, cuma ya masih mual dan masih sering pusing aja,"
Meskipun Xia terkenal judes dan galak, Mana tetap menyayangi iparnya itu, dia. Tau Xia orang yang baik hanya saja terlalu ambisius dalam hal apapun dan terlihat seperti si antagonis.
"Makanya jangan tidur mulu, jalan jalan kek, ponakan gue juga butuh olahraga, nanti lu kelamaan tiduran di ranjang makin pusing tau rasa."
Semua orang hanya mnghela nafas medengarnya, sedikit heran sudah capek masih saja bisa mengomel.
"Oiya Ra, kamu mau dianterin supir apa ..."
"Enggak nyonya saya sudah pesan taxi dan sebentar lagi datang, terima kasih atas tawaranya."
Dara membungkuk hormat pada Teresa yang sudah berbaik hati menawarkanya tumpangan meskipun itu terdengar aneh karna supir yang ada akan membawa anak dan menantunya pulang kerumah apa artinya dia akan membiarkan mereka berada dalam satu mobil lagi?.
"Oh baiklah, hati hati kalau begitu Dara, soalnya tidak ada yang menjagamu."
Ucapan sinis dan dingin itu dari Xia yang hendak masuk kedalam mobil, semua yang ada tak menghiraukan ucapan Xia hanya Marvel yang masih terdiam belum masuk, dia menatap kekasihnya iba dan merasa bersalah dengan sikap Xia yang seolah mempermalukanya didepan keluarga besarnya.
Dara hanya membalas pandangan Marvel dengan senyum yang seolah tidak terjadi apa apa, setelahnya Marvelpun masuk bertepatan dengan taxi yang dipanggil dara datang.
Sesampainya didalam rumah Marvel menahan lengan Xia yang akan naik ketangga dimana kamar mereka berada.
"Apa apaan anda bicara begitu didepan orang orang? Sengaja mempermalukan Dara?"
Xia menghela nafas sejenak sebelum menatap Marvel balik "Aku males berdebat Marvel, capek seenggaknya biarin aku istirahat dulu."
Setelah melepaskan tangan Marvel, Xia bergegas naik. mengabaikan Marvel yang menahan kekesalannya, namun setelahnya diapun menyusul Xia kekamar.
Sesampainya didalam kamar, Marvel malah mendapati Xia yang langsung tiduran diatas ranjang, sebenarnya dia ingin menegur namun dia memilih tak perduli dan masuk kekamar mandi untuk bebersih.
Beberapa saat setelahnya, Marvel terlihat lebih segar, namun ketika melihat keranjang dia sedikit heran ketika melihat Xia merubah posisinya menjadi meringkuk dan sedikit merintih tipis namun masih bisa didengar meskipun samar.
Baru saja akan mengecek apa yang dilakukan wanita itu bunyi ponsel membuat tak jadi dan memilih mengambil ponselnya, terlebih ketika melihat nama Dara disana Marvel segera mengangkatnya dan berjalan menuju balkon untuk telfonan bersama sang pujaan hati.
Setelah sekitar 1 jam Marvel kembali masuk, dia mendapati Xia yang juga keluar dari kamar mandi dengan kondisi yang sudah segar, namun ketika Marvel tak sengaja menatap wajah Xia dia mendapat wajahnya yang sedikit pucat, namun dia tak perduli dan memilih langsung tidur karna memang cukup capek.
Sedangkan Xia, dia mengangkat telfon dari sang mama ketika dia hendak turun mengambil air, alhasil dia membawa turut serta ponselnya.
"Kenapa ma?"
"Kamu belum cerita, kenapa pas kamu masih liburan kamu tiba tiba matiin ponsel mama dan mama lihat ada bekas merah seperti tamparan dipipi kamu, Marvel nampar kamu?"
"Mama cerewet sekali, gimana Xia mau jawab kalau pertanyaan mama segitu,"
"Ish kamu ini, pipi kamu kenapa merah?"
"Kejedok tembok." Jawab Xia asal.
"Ck, kamu pikir, mama anak kecil yang bisa kamu bohongi?"
Xia mendesah, menuangkan minuman didalam gelas dan mengapit ponselnya dengan kepala miring.
"Disana Xia ketemu Sarah, kita berantem gue nampar Sarah dan sarah balik nampar gue."
Xia beralibi demikian karna malas nanti jika dia jujur akan berbuntut panjang, dia tau teresa tak akan tinggal diam, tapi dia juga tak ingin masalahnya dengan Marvel menjadi panjang dengan adanya mamanya yang cerewet dan dia juga tak yakin dengan dara yang akan baik baik saja.
"Sarah? Sarah selingkuhan Nicko? Mantan kamu?"
Xia berdehem singkat, hingga tak lama suara umpatan sang mama terdengar memekakkan telinganya.
"Kurang ajar w************n itu, masih aja belum kapok dengan apa yang terjadi sama dia."
"Eh tapi kok pas kamu belum matiin telfon mama denger Marvel minta maaf sama kamu? Mama kira Marvel yang udah apa apa in kamu, kalau sampai itu terjadi udah mama tampar bolak balik, dia boleh ga suka sama kamu tapi kalau udah main tangan, tangannya sendiri yang mama patahin."
"Iya Marvel minta maaf karna ga bisa lindungin aku pas sarah nampar aku."
"Marvel makin baik kan disana? Ga berduaan sama dara mulu kan?"
"Nggak. "
"Syukur deh mama udah was was disana kamu malah sakit hati karna ada Dara diantara kalian,"
Xia diam, namun hatinya merenung dia memainkan es batu kristal didalam gelasnya yang memgambang dengan sedotan.
'Gue yang ada diantara mereka kayaknya'
"Ya nggak lah, Marvel tetep milik aku ma, nggak ada yang bakal misahin aku selalipun Dara."
"Hm yaudah, kamu istirahat aja dulu pasti capek, jangan lupa makan."
"Hm."
Setelah panggilan terputus, Xia kembali memfokuskan pandanganya didalam gelas yang esnya tinggal kecil karna mencair, baru saja akan meminumnya kembali sebuah dering panggilan membuatnya lagi lagi menghela nafas lelah terlebih ketika nama Nicko yang ada dilayar depan.
Karna malas Xia tak mengangkat namun sampai dering ketiga panggilan Nicko sepertinya tak menyerah.
Alhasil Xianpun mengangkatnya.
"Udah sampai?"
"Hm"
"Kok belum istirahat, nggak capek?"
"Loe yang gak capek gangguin gue mulu?"
Nicko terdengar terkekeh disebrang sana "Nggak sih, aku kan lagi merjuangin jodoh aku jadi ya nggak bakalan capek, malah semangat."
"Gue udah ada suami kalau loe lupa."
"Suami gitu mah ga bisa diharepin, mending harepin aku aja."
Karna Xia tak membalas ucapannya nicko mencoba mencari bahan obrolan lain.
"Besok ketemuan yuk."
"Loe diindonesia?"
"Yess."
"Loe ngikutin gue??"
"No baby, kebetulan papa aku ada bisnis disini, dan aku yang minta gantiin perusahaannya yang disini."
"Tapi salah satu tujuannya sih, biar deket sama kamu."
"Ck menyebalkan."
Xia cukup nyaman ngobrol banyak hal dengan Nicko, meskipun pernah berbuat salah dengan berani Nick mengakui kesalahanya dan meminta maaf, itu cukup membuat Xia terkesan. Namun untuk balikan atau menjalin hubungan dengan Nick, dia tak sampai memikirkan sejauh itu.
****