Pusaran Maut

1498 Words
Dinginnya air laut menusuk hingga ke tulang, mematikan saraf-saraf Maya yang sudah kepayahan akibat sisa obat bius. Di atas permukaan, kobaran api dari ledakan gudang menyinari air dengan warna jingga kemerahan yang mengerikan. Maya mencoba menggapai permukaan, namun gelombang besar akibat runtuhnya bangunan gudang menciptakan pusaran yang menariknya ke dasar. Paru-parunya mulai terasa terbakar karena kekurangan oksigen, dan pandangannya perlahan mulai mengabur di dalam kegelapan air. "Dirga..." batin Maya, suaranya tenggelam bersama gelembung udara terakhir yang keluar dari bibirnya yang membiru. Ia merasa tenaganya habis, pasrah pada tarikan arus yang seolah ingin menjadikannya bagian dari dasar laut yang sunyi. Tiba-tiba, sebuah tangan yang kuat mencengkeram lengannya dengan sangat erat, menariknya paksa dari tarikan pusaran maut tersebut. Maya tidak bisa melihat dengan jelas, namun ia mengenali kehangatan yang mengalir dari sentuhan itu meski di dalam air yang membeku. Dirga muncul seperti bayangan hitam di tengah kekacauan bawah air, menarik tubuh Maya ke arah permukaan dengan sisa tenaga yang ia miliki. Mereka memecah permukaan air tepat saat dentuman ledakan kedua meruntuhkan sisa-sisa dermaga di belakang mereka. Maya terbatuk-batuk hebat, menghirup udara malam yang tajam sambil bersandar sepenuhnya pada bahu Dirga yang kokoh. "Jangan menyerah, Maya, tetaplah bernapas dan ikuti gerakanku!" perintah Dirga dengan suara yang parau dan tersengal-sengal. Dirga berenang menjauh dari area ledakan, menuju sebuah sekoci kayu tua yang terombang-ambing tidak jauh dari lokasi dermaga. Ia mengangkat tubuh Maya ke atas sekoci tersebut dengan susah payah sebelum akhirnya ia sendiri merangkak naik dengan napas memburu. Mereka berdua terkapar di dasar sekoci yang basah, menatap langit malam yang kini tertutup asap hitam pekat dari kebakaran hebat. Maya menoleh ke arah Dirga dan terbelalak melihat darah segar kembali merembes dari luka di bahu suaminya. "Dirga! Lukamu terbuka lagi, kau harus menekan pendarahannya!" teriak Maya dengan suara yang serak dan penuh kecemasan. Ia merobek bagian bawah gaun satinnya yang sudah compang-camping untuk digunakan sebagai perban darurat bagi luka Dirga. Dirga meringis kesakitan saat Maya menekan luka tersebut, wajahnya kini sepucat kertas di bawah sinar rembulan yang redup. "Jangan cemaskan aku, yang penting dokumen itu... apakah masih ada padamu?" tanya Dirga dengan suara yang nyaris tak terdengar. Maya meraba saku gaunnya yang basah kuyup dan merasakan map plastik kecil yang sempat ia rebut kembali dari Sisca di gudang tadi. "Ada, dokumennya aman, tapi kau harus tetap sadar demi aku dan anak-anak panti," sahut Maya sambil menahan tangis. Dirga tersenyum sangat tipis, sebuah senyuman yang mengandung rasa lega sekaligus keletihan yang sudah mencapai puncaknya. Ia meraih tangan Maya dan menggenggamnya dengan jari-jari yang bergetar hebat karena kedinginan dan kehilangan banyak darah. "Maya, jika aku tidak berhasil kembali ke mansion, pergilah ke bank pusat dan temui Pak Haris," bisik Dirga dengan nada yang sangat serius. Ia menyebutkan serangkaian kode angka rahasia yang harus diingat Maya untuk membuka brankas penyimpanan dokumen asli kecelakaan sepuluh tahun lalu. "Jangan bicara seolah kau akan pergi, kau yang membawaku ke neraka ini, jadi kau yang harus membawaku keluar!" protes Maya. Dirga tidak menjawab, matanya perlahan mulai terpejam dan genggaman tangannya pada tangan Maya mulai melonggar perlahan-lahan. Maya panik, ia mengguncang bahu Dirga berulang kali agar pria itu tidak jatuh pingsan di tengah laut yang antah-berantah ini. "Bangun, Dirga! Kau berutang penjelasan padaku tentang rem mobil orang tuaku! Kau tidak boleh mati sebelum menjawabnya!" Tiba-tiba, dari arah kegelapan laut, sebuah lampu sorot yang sangat terang menyapu posisi sekoci mereka dengan intensitas yang menyilaukan. Maya menutupi matanya, merasa takut jika itu adalah anak buah Nyonya Widya yang datang untuk menyelesaikan tugas mereka yang tertunda. Namun, suara sirine yang familiar mulai terdengar, menandakan bahwa kapal patroli polisi dan tim medis akhirnya sampai di lokasi kejadian. Maya melambai-lambaikan tangannya sekuat tenaga, berteriak meminta tolong di tengah deru angin laut yang semakin kencang. Beberapa petugas segera melompat ke sekoci mereka dan memberikan pertolongan pertama kepada Dirga yang sudah tidak sadarkan diri. Maya ditarik ke atas kapal patroli, ia melihat Dirga dipasangi masker oksigen dan ditandu dengan sangat terburu-buru oleh tim medis. "Dia kehilangan banyak darah, detak jantungnya sangat lemah!" teriak salah satu petugas medis kepada rekannya melalui alat komunikasi. Maya duduk di sudut kapal dengan tubuh yang dibungkus selimut tebal, matanya tak lepas dari sosok Dirga yang sedang diperjuangkan nyawanya. Sesampainya di daratan, ambulans sudah menunggu untuk membawa Dirga ke rumah sakit terbaik di Jakarta dengan pengawalan ketat kepolisian. Maya dipisahkan dari Dirga karena ia juga harus menjalani pemeriksaan kesehatan dan memberikan keterangan awal kepada pihak berwenang. Di dalam ruang pemeriksaan polisi yang dingin, Maya duduk dengan diam sambil terus mendekap map dokumen tanah panti asuhannya. Seorang detektif masuk dan meletakkan segelas teh hangat di depan Maya, menatapnya dengan pandangan yang penuh rasa simpati namun menyelidik. "Nona Maya, kami menemukan bukti bahwa ledakan di gudang pelabuhan adalah sebuah sabotase yang direncanakan dengan sangat rapi," ujar detektif itu. Ia menunjukkan foto satelit yang memperlihatkan mobil Nyonya Widya meninggalkan lokasi sesaat sebelum ledakan terjadi secara beruntun. Maya mengangguk pelan, pikirannya masih tertuju pada kondisi Dirga yang entah bagaimana nasibnya saat ini di ruang operasi. "Dia... suamiku, apakah ada kabar terbaru dari rumah sakit?" tanya Maya dengan nada yang sangat memohon. Detektif itu terdiam sejenak, ia tampak ragu untuk menyampaikan kabar yang baru saja diterimanya melalui pesan singkat di ponselnya. "Tuan Dirga sedang menjalani operasi darurat untuk mengangkat proyektil peluru yang nyaris mengenai katup jantungnya, Nona." Dunia Maya seolah runtuh mendengar kabar tersebut, ia menyadari betapa tipisnya batas antara hidup dan mati bagi pria yang baru saja ia benci itu. Ia merasa bersalah karena telah menuduh Dirga tanpa mendengar penjelasan lengkap tentang kejadian sepuluh tahun yang lalu. Tiba-tiba, pintu ruang pemeriksaan terbuka dengan kasar, dan seorang pengacara keluarga Arlangga masuk dengan wajah yang sangat tegang. "Nona Maya, Anda harus ikut saya sekarang juga, ada situasi darurat di rumah sakit terkait wasiat Eyang Wiryo." Maya mengerutkan kening, merasa ada sesuatu yang tidak beres karena Eyang Wiryo seharusnya masih dalam perawatan di mansion. "Apa maksud Anda? Bukankah Eyang Wiryo sudah aman bersama tim medis pribadinya?" tanya Maya dengan penuh kecurigaan. Pengacara itu tidak menjawab secara langsung, ia hanya memberi isyarat agar Maya segera berdiri dan mengikutinya menuju mobil yang sudah menunggu. "Nyonya Widya sedang mencoba meyakinkan dewan direksi bahwa Tuan Dirga sudah meninggal dalam ledakan tersebut." Maya mengepalkan tangannya, amarah kembali membakar dadanya saat menyadari kelicikan ibu tiri Dirga yang tidak ada habisnya itu. Ia harus sampai di rumah sakit dan menunjukkan bahwa Dirga masih hidup, serta ia adalah pemegang sah hak suara di perusahaan. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Maya memeriksa isi map yang diberikan Dirga dan menemukan sebuah surat kecil yang terselip di dalamnya. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan Dirga yang tegas, ditujukan khusus untuk Maya jika sesuatu yang buruk menimpanya malam ini. “Maya, jika kau membaca ini, artinya aku telah gagal menjagamu dari dekat. Tanah panti itu adalah permintaan maafku atas dosa masa lalu yang tidak bisa kubatalkan, maafkan aku karena telah menyeretmu ke dalam kegelapan ini.” Maya memeluk surat itu erat-erat, air matanya jatuh membasahi kertas yang kini menjadi satu-satunya penghubung emosionalnya dengan Dirga. Ia bersumpah akan mempertahankan Arlangga Group dari tangan Nyonya Widya, apa pun risikonya, demi pria yang telah menjadi tameng nyawanya. Sesampainya di rumah sakit, suasana tampak sangat kacau dengan puluhan wartawan yang mencoba menerobos masuk ke lobi utama. Maya keluar dari mobil dengan dagu terangkat, mengenakan jas milik pengacara yang menutupi gaun compang-campingnya untuk menjaga wibawa. Ia melangkah menuju ruang rapat darurat yang berada di lantai teratas rumah sakit, tempat di mana Nyonya Widya sedang berpidato di depan para direktur. Maya menendang pintu ruangan itu hingga terbuka lebar, menghentikan seluruh pembicaraan yang sedang berlangsung di dalam sana. "Berhenti bersandiwara, Nyonya Widya! Dirga Arlangga masih hidup dan saya adalah saksi atas segala kejahatan yang Anda lakukan malam ini!" teriak Maya. Nyonya Widya menoleh dengan wajah yang pucat pasi, namun ia segera menguasai diri dan tersenyum sinis ke arah Maya. "Siapa yang akan percaya pada kata-kata seorang gadis panti yang tidak memiliki bukti apa pun?" tantang Nyonya Widya dengan sangat angkuh. Ia memberi isyarat kepada penjaga keamanan untuk menyeret Maya keluar dari ruangan rapat yang sakral tersebut secara paksa. Namun, sebelum para penjaga sempat menyentuh Maya, sebuah suara berat yang sangat familiar terdengar dari arah pintu masuk yang lain. Pintu itu terbuka, menampakkan Dirga yang duduk di kursi roda dengan selang infus yang masih menempel di tangannya dan dikawal ketat oleh polisi. "Aku yang akan menjadi buktinya, Ibu," ucap Dirga dengan suara yang lemah namun penuh dengan wibawa yang mampu membungkam seluruh isi ruangan. Seluruh direktur berdiri dengan wajah terkejut, sementara Nyonya Widya jatuh terduduk di kursinya dengan tatapan yang penuh dengan ketakutan. Dirga menatap Maya dengan pandangan yang dalam, seolah memberikan isyarat bahwa mereka telah memenangkan pertempuran pertama ini bersama-sama. Namun, tiba-tiba Dirga memegangi dadanya dan wajahnya berubah menjadi membiru saat ia mulai kesulitan bernapas kembali secara mendadak. Seorang dokter berlari mendekat, namun sebelum ia sampai, lampu di ruangan rapat itu padam secara misterius seperti kejadian di gudang pelabuhan. Di tengah kegelapan, suara letusan tembakan tunggal terdengar sangat nyaring, diikuti dengan suara benda berat yang jatuh menghantam lantai marmer. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD