Peluru di Balik Kegelapan

1430 Words
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang rapat lantai teratas rumah sakit setelah letusan tembakan itu memekakkan telinga. Maya merasakan embusan angin dari peluru yang melesat hanya beberapa sentimeter dari bahunya, diikuti suara erangan tertahan yang menyayat hati. "Dirga!" teriak Maya dengan suara melengking, mengabaikan kegelapan yang membutakan matanya. Ia meraba-raba lantai, mencari sosok suaminya yang baru saja muncul seperti pahlawan namun kini terancam oleh maut yang belum juga jenuh mengejar. Tangan Maya menyentuh sesuatu yang hangat dan kental; bau karat darah segera menusuk indra penciumannya dengan sangat tajam. Detak jantungnya berpacu liar saat ia menyadari bahwa genangan darah itu berasal dari tubuh seseorang yang baru saja ambruk di depannya. Lampu darurat berwarna merah redup tiba-tiba menyala, memberikan pencahayaan remang-remang yang justru menambah kesan mengerikan di ruangan itu. Maya terbelalak melihat Dirga masih terduduk di kursi rodanya, namun pengawal pribadinya tersungkur di lantai dengan d**a bersimbah darah. "Tuan... lari..." bisik pengawal itu sebelum matanya terpejam, ia telah menjadi tameng hidup bagi Dirga untuk kesekian kalinya malam ini. Maya segera menghampiri Dirga, memeluk leher pria itu dengan tubuh gemetar hebat karena rasa syukur yang bercampur dengan kengerian. "Kau tidak apa-apa? Katakan padaku kau tidak terluka!" tanya Maya sambil memeriksa sekujur tubuh Dirga dengan tangan yang berlumuran darah pengawal tadi. Dirga menggeleng lemah, wajahnya tampak sangat kaku dan matanya menatap tajam ke arah sudut ruangan yang gelap. Di sudut itu, Nyonya Widya berdiri dengan tangan gemetar, memegang sebuah pistol kecil yang asapnya masih mengepul tipis dari moncongnya. Wajahnya yang semula cantik kini tampak seperti monster yang kehilangan akal sehat karena ambisi yang sudah di ujung tanduk. "Kenapa kau tidak mati saja, Dirga! Kenapa kau selalu menghalangi jalanku untuk memiliki Arlangga Group!" teriak Nyonya Widya dengan suara melengking histeris. Ia kembali mengarahkan pistolnya, kali ini sasarannya adalah Maya yang sedang berlutut di samping kursi roda Dirga. "Ibu, hentikan kegilaan ini sebelum kau benar-benar tidak bisa kembali lagi ke jalan yang benar!" tegas Dirga dengan suara yang berat dan parau. Ia mencoba berdiri dari kursi rodanya meski luka di dadanya mulai mengeluarkan darah kembali akibat tekanan emosi yang luar biasa. "Jangan bergerak, Dirga! Jika kau maju satu langkah lagi, aku akan melubangi kepala gadis panti ini sekarang juga!" ancam Nyonya Widya. Jari telunjuknya sudah mulai menekan pelatuk, namun tiba-tiba pintu belakang ruangan itu didobrak paksa oleh pasukan kepolisian bersenjata lengkap. "Jatuhkan senjatanya, Nyonya Widya! Anda sudah dikepung!" teriak komandan polisi sambil menodongkan laras panjang ke arah wanita yang sudah kalap itu. Nyonya Widya menatap sekeliling dengan pandangan liar, menyadari bahwa pelariannya telah berakhir di ruangan yang dingin ini. Dengan gerakan putus asa, Nyonya Widya mengarahkan pistolnya ke pelipisnya sendiri, namun dengan sigap seorang detektif menembak lengan wanita itu. Pistol terlepas dari tangannya, dan Nyonya Widya jatuh tersungkur sambil mengerang kesakitan sebelum polisi meringkusnya dengan borgol besi. "Bawa dia pergi, aku tidak ingin melihat wajahnya lagi di rumah ini maupun di perusahaanku," perintah Dirga dengan nada dingin yang mematikan. Polisi menyeret Nyonya Widya keluar, meninggalkan suasana ruangan yang kini dipenuhi oleh para direktur yang tampak sangat pucat dan ketakutan. Maya membantu Dirga untuk kembali duduk dengan nyaman di kursi rodanya, ia menyeka peluh yang bercucuran di dahi suaminya dengan penuh kelembutan. "Semua sudah berakhir, Dirga, dia tidak akan bisa menyakitimu lagi," bisik Maya untuk menenangkan detak jantungnya sendiri. Dirga meraih tangan Maya, menggenggamnya erat seolah takut jika gadis itu akan menghilang lagi seperti kejadian di pelabuhan tadi. "Belum berakhir, Maya, ada satu hal lagi yang harus kita selesaikan sebelum fajar menyingsing di Jakarta," ucap Dirga dengan penuh teka-teki. Ia meminta asistennya untuk membawa sebuah koper hitam kecil yang sejak tadi dijaga ketat oleh tim pengacara pribadinya. Dirga membuka koper itu di depan Maya dan para direktur, menampakkan sebuah rekaman suara digital dan tumpukan foto-foto lama. "Sepuluh tahun lalu, kecelakaan orang tua Maya bukanlah sebuah kebetulan, melainkan rencana sistematis yang melibatkan lebih dari satu orang," ungkap Dirga. Ia memutar rekaman suara tersebut, dan suara yang terdengar di sana membuat seluruh ruangan menjadi sunyi senyap seketika. Itu adalah suara Eyang Wiryo, kakek yang selama ini sangat dihormati oleh Dirga, sedang memberikan instruksi rahasia kepada Nyonya Widya. "Lenyapkan mereka, tanah itu mengandung mineral langka yang akan membuat Arlangga Group menjadi penguasa energi di Asia," bunyi rekaman itu. Maya menutup mulutnya dengan tangan, air matanya tumpah mendengar suara pria tua yang baru saja ia temui di kamar rumah sakit tadi. Ternyata, selama ini Dirga bukan hanya melindungi Nyonya Widya, melainkan juga menutupi dosa besar kakek kandungnya sendiri. "Maafkan aku, Maya, aku menyimpan rahasia ini karena aku tidak ingin melihat Eyang menghabiskan masa tuanya di penjara," aku Dirga dengan penyesalan mendalam. Ia menundukkan kepala, membiarkan harga dirinya jatuh di depan wanita yang kini telah menjadi bagian dari hidupnya yang paling rapuh. Maya terdiam, ia merasa dunia di sekelilingnya menjadi sangat asing dan penuh dengan kebohongan yang berlapis-lapis seperti bawang. Ia tidak tahu harus membenci siapa lagi, karena orang yang ia sayangi ternyata adalah cucu dari pembunuh orang tuanya yang sebenarnya. "Lalu, apa rencanamu sekarang? Apakah kau akan tetap menutupi rahasia ini demi nama besar keluargamu?" tanya Maya dengan nada yang sangat menuntut. Dirga mendongak, matanya yang tajam kini memancarkan kepastian yang tidak pernah Maya lihat sebelumnya selama kontrak pernikahan mereka. "Tidak, aku akan menyerahkan semua bukti ini ke kepolisian, termasuk pengakuan tertulis yang sudah kutandatangani sebagai saksi kunci," jawab Dirga tegas. Keputusan itu berarti Dirga akan menghancurkan reputasi Arlangga Group dan mungkin akan kehilangan jabatannya sebagai CEO muda yang prestisius. "Kau akan kehilangan segalanya, Dirga, apakah kau siap untuk memulai hidup dari nol bersamaku dan anak-anak panti?" tanya Maya lagi. Dirga tersenyum, kali ini senyumnya terasa sangat nyata dan hangat, ia menarik Maya ke dalam pelukannya tanpa memedulikan tatapan mata orang lain. "Aku sudah kehilangan segalanya sejak sepuluh tahun lalu, Maya, memilikimu adalah satu-satunya keberhasilan yang pernah kuraih," bisik Dirga di telinga Maya. Momen romantis itu membuat Maya merasa beban di pundaknya sedikit terangkat, namun ketenangan itu tidak berlangsung lama di gedung rumah sakit itu. Tiba-tiba, suara alarm kebakaran berbunyi dengan sangat nyaring di seluruh lantai, diikuti dengan kepulan asap tebal yang muncul dari bawah pintu ruangan rapat. Seseorang telah membakar lantai di bawah mereka, mencoba menjebak semua orang di dalam ruangan yang tinggi ini tanpa jalan keluar. "Sisca... dia pasti masih berkeliaran di gedung ini!" teriak Maya teringat wanita licik yang sempat melarikan diri saat penggerebekan di gudang tadi. Dirga segera mencoba menggerakkan kursi rodanya, namun asap yang semakin pekat mulai membuat penglihatan dan pernapasan mereka terganggu hebat. "Semua keluar lewat balkon! Ada helikopter penyelamat yang sedang menuju ke sini!" perintah Dirga kepada para direktur yang mulai panik berlarian. Maya membantu mendorong kursi roda Dirga menuju balkon, sementara api mulai menjilat dinding kayu di belakang mereka dengan suara menderu yang sangat seram. Sesampainya di balkon, angin malam yang kencang menyambut mereka, namun api di dalam ruangan semakin membesar dan menghalangi jalan masuk kembali. Mereka terjebak di ketinggian ratusan meter dengan kobaran api yang siap melahap apa pun di belakang mereka dalam hitungan menit saja. "Dirga, lihat itu!" tunjuk Maya ke arah langit, di mana sebuah helikopter hitam tanpa identitas tampak mendekat namun tidak terlihat seperti milik polisi. Helikopter itu menurunkan sebuah tangga tali, namun seorang pria berpakaian hitam di pintu helikopter justru mengarahkan senjata laras panjang ke arah mereka. Pria itu melepas helm taktisnya, menampakkan wajah yang sangat familiar bagi Maya; dia adalah pengacara pribadi Eyang Wiryo yang selama ini sangat dipercaya. "Maafkan saya, Tuan Dirga, tapi Eyang Wiryo tidak ingin rahasia ini keluar dari gedung ini hidup-hidup malam ini," ucapnya dingin. Senjata itu mulai menyalak, memuntahkan peluru ke arah balkon tempat Maya dan Dirga berdiri tanpa perlindungan apa pun dari serangan udara tersebut. Dirga dengan sisa tenaganya menarik Maya untuk melompat ke arah unit pendingin ruangan yang menonjol di sisi gedung untuk menghindari tembakan. Mereka bergantung di tepian gedung yang sangat sempit dengan ketinggian yang mematikan di bawah kaki mereka yang gemetar karena takut. Maya mencengkeram tangan Dirga sekuat tenaga, sementara helikopter itu mulai berputar posisi untuk menembak mereka dari sudut yang lebih akurat. Tiba-tiba, tangan Maya yang licin karena keringat mulai tergelincir dari pegangan besi yang panas akibat suhu api dari dalam gedung yang semakin membara. "Dirga! Tanganku licin! Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi!" teriak Maya dengan wajah yang penuh dengan keputusasaan yang mendalam. Dirga mencoba meraih pinggang Maya, namun sebuah peluru mengenai bahu kirinya membuat pegangannya pada besi penyangga menjadi goyah secara mendadak. Tubuh mereka berdua mulai miring ke arah jurang aspal yang gelap di bawah sana, sementara helikopter musuh siap melepaskan tembakan terakhirnya. Apakah Maya dan Dirga akan jatuh dari ketinggian lantai 20, ataukah ada keajaiban yang akan menyelamatkan mereka dari eksekusi udara ini? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD