Angin malam di ketinggian lantai dua puluh menderu liar, mencambuk rambut Maya yang kusut dan penuh debu. Tangannya yang gemetar kini hanya bertumpu pada jemari Dirga yang licin karena peluh dan noda darah yang belum mengering. Di bawah kaki mereka, aspal jalanan Jakarta tampak seperti jurang tak berdasar yang siap menelan raga siapa pun yang terjatuh.
"Dirga, lepaskan aku! Jika kau terus memegangiku, kita berdua akan jatuh!" teriak Maya di tengah bisingnya baling-baling helikopter. Suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin yang mendekat, menciptakan pusaran angin yang membuat pijakan sempit mereka di unit pendingin ruangan semakin goyah.
Dirga menggeleng keras, rahangnya mengatup rapat menahan perih yang menyengat dari luka tembak di bahu kirinya. "Diam, Maya! Aku sudah bersumpah tidak akan membiarkanmu jatuh lagi!" balas Dirga dengan suara parau yang penuh determinasi. Darah merembes cepat dari balik kemejanya, menetes jatuh ke kegelapan di bawah sana seolah menghitung sisa waktu yang mereka miliki.
Di atas mereka, pengacara pengkhianat itu kembali mengarahkan laras senjatanya, membidik tepat ke arah kepala Dirga dengan dingin. Cahaya laser merah dari senjata itu menari-nari di kening Dirga, menandakan maut hanya terpaut hitungan detik dari tarikan pelatuk. Maya bisa melihat kilatan kebencian di mata pria di helikopter itu, sebuah loyalitas buta pada Eyang Wiryo yang telah menjadi racun.
"Selamat tinggal, Tuan Muda. Eyang menitipkan salam terakhirnya," ucap sang pengacara melalui pengeras suara yang terpasang di helikopter. Namun, tepat sebelum jarinya menekan pelatuk, sebuah kilatan cahaya dari gedung seberang menghantam kaca kokpit helikopter tersebut dengan akurasi yang luar biasa.
Suara dentuman keras bergema, dan helikopter itu mendadak oleng ke samping, membuat tembakan sang pengacara meleset dan menghantam dinding beton di atas kepala Maya. Seseorang dari gedung seberang sedang melepaskan tembakan perlindungan menggunakan senapan runduk (sniper) jarak jauh.
"Itu tim bantuan! Maya, bertahanlah sedikit lagi!" seru Dirga sambil mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa untuk menarik tubuh Maya ke atas langkan beton. Maya merayap naik dengan sisa kekuatannya, jemarinya mencengkeram tepi beton hingga kuku-kukunya mulai berdarah karena tekanan yang terlalu besar.
Mereka berhasil naik kembali ke balkon yang kini sudah hangus terbakar, namun api di dalam ruangan rapat sudah mulai menjilat pintu kaca. Suhu udara di sekitar mereka meningkat drastis, membuat oksigen terasa semakin tipis dan menyakitkan untuk dihirup ke dalam paru-paru.
"Kita tidak bisa masuk lagi, apinya terlalu besar!" teriak Maya sambil menunjuk ke arah kobaran si jago merah yang sudah memenuhi seluruh ruangan. Satu-satunya jalan adalah tangga tali dari helikopter bantuan yang baru saja muncul dari balik kepulan asap hitam di sisi utara gedung.
Helikopter bantuan itu berlogo kepolisian khusus, dengan lampu sorot yang sangat terang membedah kegelapan malam yang mencekam. "Tuan Dirga, pegang tali ini! Kami akan mengevakuasi Anda berdua sekarang juga!" teriak petugas melalui interkom yang sangat nyaring.
Dirga meraih ujung tangga tali yang berayun-ayun ditiup angin kencang, lalu ia melingkarkan tali pengaman ke pinggang Maya dengan sangat sigap. "Kau duluan, Maya! Cepat naik dan jangan pernah menoleh ke bawah!" perintah Dirga sambil mendorong Maya ke arah tangga tali tersebut.
"Bagaimana denganmu? Kau terluka parah, Dirga!" Maya menolak untuk naik sendirian, ia memegang tangan Dirga dengan tatapan yang penuh dengan kekhawatiran. Dirga hanya tersenyum getir, sebuah senyuman yang menyiratkan bahwa ia sedang menyembunyikan rasa sakit yang amat sangat di dadanya.
"Aku akan menyusul tepat di belakangmu, sekarang cepat naik sebelum helikopter pengkhianat itu kembali menyerang!" gertak Dirga dengan nada memerintah. Maya akhirnya mengalah dan mulai menaiki tangga tali itu setapak demi setapak, sementara angin terus berusaha mengempaskan tubuh kecilnya ke samping.
Tiba-tiba, suara ledakan dahsyat kembali terdengar dari dalam ruang rapat, menghancurkan kaca balkon sepenuhnya dan melemparkan api ke arah tangga tali. Goncangan itu membuat helikopter polisi terangkat naik dengan mendadak, menarik Maya yang masih bergantung di tangga tali tersebut ke angkasa.
"Dirga!" jerit Maya saat ia melihat balkon tempat Dirga berdiri mulai runtuh akibat ledakan yang sangat hebat dari tangki oksigen rumah sakit. Dirga tampak berusaha melompat untuk menggapai ujung tangga, namun kakinya terpeleset oleh lantai yang licin akibat tumpahan oli dan darah.
Maya melihat dengan ngeri saat tubuh Dirga terseret jatuh bersama reruntuhan beton balkon yang terbakar hebat menuju kegelapan di bawah sana. "TIDAAAAK!" teriak Maya sekuat tenaga, suaranya pecah di tengah deru angin dan suara sirine yang memekakkan telinga di seluruh penjuru kota.
Petugas di dalam helikopter segera menarik Maya masuk ke dalam kabin dengan paksa agar ia tidak ikut terjatuh dalam kepanikan yang melanda. Maya meronta, ia ingin melompat turun mengejar suaminya, namun pelukan kuat petugas medis menahannya di atas lantai helikopter yang dingin.
"Lepaskan aku! Dirga jatuh! Kalian harus menolongnya sekarang juga!" tangis Maya pecah, ia memukul-mukul lantai helikopter dengan perasaan hancur yang tak terlukiskan. Di bawah sana, kobaran api di gedung Arlangga Medical Center tampak seperti kawah gunung berapi yang baru saja meletus.
Namun, saat helikopter polisi mulai berputar untuk mencari posisi evakuasi di bawah, sebuah bayangan hitam melesat dari arah dinding gedung yang terbakar. Seseorang telah memasang tali rappel darurat di pinggangnya sesaat sebelum balkon runtuh dan kini bergantung di sisi gedung yang curam.
"Tunggu! Seseorang masih hidup di sana!" teriak pilot helikopter sambil mengarahkan lampu sorot ke arah sosok yang sedang bergantung tersebut. Sosok itu adalah Dirga, yang ternyata telah mengantisipasi keruntuhan balkon dengan mengaitkan tali pengaman ke pipa besi yang tertanam di dinding.
Dirga tampak lemas, kepalanya tertunduk dan tangannya hanya memegang tali dengan satu tangan yang gemetar hebat karena kelelahan. Darah terus menetes dari luka-lukanya, membuat tali tersebut menjadi licin dan sangat berbahaya untuk terus dipegang dalam waktu yang lama.
"Turunkan tali lagi! Cepat, sebelum dia kehilangan kesadarannya!" perintah Maya kepada petugas penyelamat dengan mata yang kembali berbinar karena harapan. Helikopter mendekat secara perlahan, mencoba memposisikan diri tepat di atas Dirga yang kini berada di posisi yang sangat sulit dijangkau.
Tiba-tiba, helikopter pengkhianat yang sempat menjauh kini kembali muncul dari balik bayangan awan, melakukan manuver bunuh diri dengan menabrakkan diri ke arah helikopter polisi. Pilot polisi berusaha menghindar, namun benturan sayap belakang tidak terelakkan lagi, membuat helikopter yang membawa Maya berputar liar di udara.
"Kita jatuh! Semua pegangan!" teriak sang pilot saat mesin helikopter mulai mengeluarkan asap tebal dan alarm kegagalan mesin berbunyi nyaring. Maya terlempar ke arah pintu yang terbuka, dan ia hanya bisa melihat Dirga yang masih bergantung di dinding gedung semakin menjauh dari pandangannya.
Helikopter polisi itu jatuh dengan cepat menuju taman rumah sakit yang luas, sementara helikopter pengkhianat meledak di udara setelah menabrak menara komunikasi. Di tengah pusaran maut itu, Maya hanya bisa mendekap map dokumen di dadanya sambil membisikkan doa terakhir untuk pria yang telah mengubah hidupnya.
Benturan keras terjadi saat helikopter menghantam pepohonan besar di taman, menciptakan guncangan yang mematikan bagi siapa pun yang ada di dalamnya. Kesadaran Maya kembali meredup, namun hal terakhir yang ia rasakan adalah sepasang tangan yang menyeretnya keluar dari reruntuhan sebelum mesin meledak.
Saat Maya membuka matanya sedikit, ia melihat sosok misterius dengan jubah hitam berdiri di atasnya, memegang dokumen tanah panti asuhan yang jatuh dari pelukannya. Sosok itu tidak menolong Maya, melainkan justru mengeluarkan sebuah korek api dan bersiap membakar dokumen yang menjadi satu-satunya harapan bagi masa depan anak-anak yatim tersebut.
"Jangan... tolong jangan..." rintih Maya dengan suara yang nyaris tak terdengar di antara kobaran api di sekelilingnya. Sosok itu menoleh, menampakkan wajah yang sangat tak terduga itu adalah salah satu anak panti asuhan yang selama ini sangat dipercaya oleh Maya.
Siapakah pengkhianat di dalam panti asuhan itu, dan apakah Dirga masih bisa menyelamatkan Maya sebelum dokumen itu benar-benar menjadi abu?