Amnesia

1449 Words
Sosok itu menoleh, menampakkan wajah yang sangat familiar, itu adalah Alex, anak panti asuhan yang selama ini sangat disayangi Maya. Alex menatap Maya dengan pandangan dingin yang tidak pernah ia perlihatkan sebelumnya selama tinggal di panti asuhan. "Maafkan aku, Kak Maya, tapi orang tua Dirga adalah alasan mengapa ayahku mendekam di penjara sampai mati." Api dari korek itu mulai menyentuh ujung dokumen tanah panti asuhan, menciptakan lubang hitam kecil yang mulai membesar perlahan. Maya mencoba menggapai kaki Alex, namun sebuah sepatu bot hitam besar tiba-tiba menginjak tangan Maya dengan sangat keras. "Kerja bagus, Nak, sekarang biarkan gadis ini melihat mimpinya menjadi abu sebelum dia menyusul suaminya," ucap suara berat yang muncul. Maya mendongak dan melihat seorang pria dengan seragam perawat yang ternyata adalah kaki tangan rahasia Nyonya Widya yang paling setia. Di saat dokumen itu hampir habis terbakar, sebuah bayangan melompat dari balik semak-semak dan langsung menerjang pria berseragam perawat itu. Maya tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang itu, namun ia mendengar suara teriakan kesakitan yang sangat memuaskan di telinganya. "Jangan sentuh milik istriku dengan tangan kotormu itu!" teriak suara yang sangat Maya kenali, meski terdengar sangat lemah dan parau. Maya tersenyum dalam tangisnya, menyadari bahwa maut sekali lagi gagal menjemput pria yang sangat keras kepala tersebut. Namun, Alex yang ketakutan justru berlari membawa sisa dokumen yang sudah terbakar sebagian menuju arah danau buatan di tengah taman. Dirga yang terluka parah mencoba mengejar, namun ia kembali terjatuh sambil memegangi dadanya yang terus mengeluarkan darah segar. Maya merangkak di atas rumput yang basah, berusaha menjangkau Dirga sementara api dari ledakan helikopter mulai merembet ke arah mereka. "Alex, berhenti! Jangan hancurkan masa depan teman-temanmu hanya karena dendam masa lalu!" teriak Maya dengan sisa kekuatannya. Alex berhenti di tepi danau, menatap dokumen di tangannya dan wajah Maya yang penuh luka dengan ekspresi yang sangat bimbang. Tiba-tiba, sebuah tembakan dari arah kegelapan hutan taman menghantam bahu Alex, membuat bocah itu terjatuh ke dalam air danau yang dalam. Maya menjerit ngeri melihat bocah itu tenggelam bersama dokumen tanah panti asuhan yang kini hanyut terbawa arus air danau. Dirga mencoba bangkit berdiri, namun ia hanya bisa menatap air yang tenang dengan pandangan yang penuh dengan keputusasaan yang mendalam. Air danau yang tenang seketika berkecamuk saat tubuh Alex tenggelam bersama dokumen yang menjadi napas panti asuhan. Maya menjerit parau, mencoba merangkak menuju tepian dermaga kayu yang sudah mulai rapuh dimakan usia. "Alex! Lepaskan kertas itu dan segera berenanglah ke atas!" teriak Maya dengan sisa tenaga yang nyaris habis. Namun, permukaan air hanya menyisakan riak kecil yang perlahan menghilang, menelan bocah itu ke dalam kegelapan dasar danau yang dingin. Dirga berusaha bangkit dengan bertumpu pada pohon besar, meski wajahnya kian memucat akibat pendarahan hebat di bahunya. "Jangan mendekat ke air, Maya, penembak itu masih mengawasi kita dari balik bayang-bayang hutan!" peringat Dirga tegas. Ia menarik Maya menjauh dari tepian, menyembunyikan tubuh gadis itu di balik batang pohon yang kokoh sebagai perlindungan terakhir. Maya terisak hebat, hatinya hancur melihat anak yang ia besarkan dengan kasih sayang justru menjadi duri dalam daging. "Kenapa Alex melakukan ini, Dirga? Dia anak yang baik, dia tidak mungkin sekejam ini!" tangis Maya pecah seketika. Dirga hanya terdiam, matanya menyisir kegelapan dengan waspada untuk mencari posisi sniper yang baru saja melumpuhkan Alex. Sebuah laser merah kembali menari-nari di atas tanah, mencari mangsa baru di tengah kekacauan taman rumah sakit yang terbakar. Dirga menarik napas panjang, ia tahu satu-satunya cara menyelamatkan Maya adalah dengan menjadi umpan bagi sang penembak misterius. "Dengarkan aku, saat aku berlari ke arah berlawanan, kau harus melompat ke danau dan cari Alex," bisik Dirga pelan. Maya menggeleng keras, ia tidak ingin kehilangan Dirga setelah semua pengorbanan yang pria itu lakukan malam ini. "Kau akan mati jika keluar dari persembunyian ini, luka di bahumu tidak akan sanggup menahannya!" tolak Maya dengan suara bergetar. Dirga tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kepasrahan yang membuat hati Maya seolah diremas oleh tangan raksasa yang dingin. "Hidupku sudah lama mati, Maya, setidaknya biarkan aku memastikan masa depanmu tetap utuh malam ini," ucap Dirga tulus. Tanpa menunggu jawaban, Dirga melesat keluar dari balik pohon, memancing perhatian sang penembak dengan gerakan yang sengaja dibuat mencolok. Duar! Suara tembakan kembali mengguncang kesunyian taman, menyambar lengan kanan Dirga hingga pria itu terpental ke arah semak-semak. Maya memejamkan mata sesaat, lalu dengan keberanian yang muncul dari rasa putus asa, ia melompat ke dalam air danau. Dinginnya air langsung menusuk pori-pori kulitnya, namun Maya terus menyelam lebih dalam menuju cahaya redup dari dokumen yang tenggelam. Ia melihat Alex terjepit di antara akar pohon tua di dasar danau, wajah bocah itu tampak sangat ketakutan. Maya meraih tangan Alex, mencoba menariknya ke permukaan dengan kekuatan cinta seorang kakak yang tak pernah luntur oleh pengkhianatan. Mereka muncul ke permukaan sambil terengah-engah, menghirup oksigen yang terasa seperti anugerah terbesar dalam hidup mereka yang berantakan. "Maafkan aku, Kak Maya... aku hanya ingin ayahku kembali ke rumah," rintih Alex sambil terbatuk-batuk mengeluarkan air danau. Maya tidak menjawab, ia segera memeluk Alex dan menyeretnya menuju sisi danau yang tertutup oleh rimbunnya tanaman teratai. Di daratan, Dirga masih mencoba bertahan meski peluru kedua telah melukai kakinya hingga ia tidak bisa lagi berdiri tegak. Sosok penembak misterius itu akhirnya muncul dari balik kegelapan, mengenakan jubah hitam dengan topeng perak yang menutupi wajahnya. "Kau sangat sulit dibunuh, Dirga Arlangga, persis seperti ayahmu yang keras kepala itu," ucap sang penembak dengan suara yang disamarkan. Dirga mendongak, menatap moncong senjata yang kini diarahkan tepat ke jantungnya dengan jarak yang sangat dekat. "Siapa kau? Kenapa kau begitu terobsesi menghancurkan keluargaku setelah sepuluh tahun berlalu?" tanya Dirga dengan sisa kekuatannya yang menipis. Penembak itu tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat familiar namun sulit untuk diingat di tengah rasa sakit. "Aku adalah bayangan dari dosa yang kau simpan rapat-rapat di bawah lantai Mansion Arlangga," jawab pria bertopeng perak itu. Ia perlahan membuka topengnya, menampakkan wajah Haris, pengacara kepercayaan Dirga yang seharusnya menjemput Maya di bank pusat tadi. "Haris? Kenapa kau melakukan ini? Kau sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri selama bertahun-tahun!" teriak Dirga dengan penuh kekecewaan. Haris tersenyum sinis, ia menekan laras senjatanya ke kening Dirga hingga meninggalkan bekas kemerahan yang sangat jelas. "Saudara? Kau hanya menjadikanku pelayan untuk membersihkan kotoran keluargamu sementara kau menikmati kemewahan!" maki Haris dengan penuh dendam. Ternyata, Haris adalah anak dari saksi kunci kecelakaan sepuluh tahun lalu yang dihilangkan secara paksa oleh Eyang Wiryo. "Selamat tinggal, Tuan Muda dan Istri tercintanya," ucap Haris sambil menekan pelatuk senjata laras panjangnya dengan kekuatan penuh. Namun, tepat pada detik yang sama, Maya muncul dan melempar balok kayu hingga tembakan itu meleset dari jantung Dirga. Dirga berhasil meraih pisau lipat dari sakunya dan melemparkannya ke arah leher Haris dengan akurasi yang luar biasa mematikan. Pisau itu menancap tepat di tenggorokan Haris, membuat pengacara pengkhianat itu terjatuh sambil memegangi lehernya yang memancurkan darah segar. Haris tewas seketika di atas rumput taman, sementara Dirga jatuh pingsan karena kehilangan terlalu banyak darah dan kelelahan hebat. Maya segera memeluk tubuh Dirga, mencoba menekan luka-lukanya dengan sisa kain gaunnya yang sudah basah dan sangat kotor. "Dirga! Bangunlah! Jangan tinggalkan aku sekarang di tempat ini!" tangis Maya pecah di tengah kesunyian taman yang mulai dipenuhi petugas. Petugas segera mengangkat Dirga ke atas tandu, sementara Maya terus memegang tangan pria itu hingga mereka masuk ke ambulans. Tiga bulan berlalu, Maya kini mengelola panti asuhan yang sudah dibangun kembali menjadi bangunan yang jauh lebih indah dan modern. Setiap sore, ia mengunjungi rumah sakit untuk duduk di samping tempat tidur Dirga yang masih terbaring kaku dalam koma. "Dirga, bangunlah, anak-anak panti merindukan pria dingin yang sok tahu sepertimu," canda Maya sambil menggenggam tangan Dirga yang hangat. Tiba-tiba, jemari Dirga bergerak sedikit, memberikan kejutan listrik kecil yang membuat jantung Maya berdegup kencang karena harapan yang muncul. Mata Dirga terbuka lebar, namun sorot matanya tampak sangat kosong dan asing, seolah ia tidak mengenali siapa pun di hadapannya. "Di mana aku? Dan... siapa kau yang berani menyentuh tanganku?" tanya Dirga dengan suara yang sangat datar dan dingin. Maya membeku, rasa sakit yang lebih hebat dari ledakan gedung tadi merayap di hatinya saat menyadari suaminya telah kehilangan ingatan. Dirga menepis tangan Maya dengan kasar, wajahnya menunjukkan ketakutan dan rasa curiga yang sangat mendalam kepada wanita itu. "Jangan menyentuhku! Aku tidak mengenalmu! Pergi dari sini sekarang juga!" teriak Dirga dengan nada yang sangat kasar dan penuh kemarahan. Di saat yang sama, Sisca masuk ke dalam kamar rawat dengan senyum yang sangat manis namun penuh dengan kelicikan. "Selamat pagi, Dirga sayang, syukurlah kau sudah bangun dari tidur panjangmu," ucap Sisca yang entah bagaimana bisa menghirup udara bebas. Sisca menoleh ke arah Maya dengan pandangan kemenangan, ia merangkul lengan Dirga yang kini tampak sangat bergantung padanya. Sisca telah memanipulasi ingatan Dirga, namun mampukah Maya membangkitkan kembali memori yang pernah mereka lalui bersama?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD