"Roger." Ucap Kim kembali memanggil.
"Kim? Kau sudah bangun?" Tanya Roger tersadar dari lamunannya.
Kim terus berjalan semakin dekat dengan Roger, "maaf aku merepotkan mu, kau sangat baik padaku." Kata Kim tersenyum.
"Tak apa Kim, ayo kemarilah duduk!" Perintah Roger dan Kim menuruti.
Mereka berdua duduk bersama di kursi saling berhadapan, dengan memandang langit yang cerah.
"Aku tak tega melihatmu pusing kemarin, jadi aku membawamu ke kamarku, maaf, mungkin ini sangat lancang, tapi aku bersumpah aku tidak menyentuhmu semalam." Perjelas Roger sembari menyalakan rokok.
"Terima kasih." Ucap Kim menundukkan kepala.
"Dia sangat baik dan kaya, sepertinya aku bisa memanfaatkannya." Batin Kim.
"Apa kau marah padaku?" Tanya Roger dengan lembut.
"Ah.. tidak." Balas Kim mengeleng cepat.
"Roger aku harus kembali, aku harus bekerja hari ini, terima kasih atas tumpangan mu." Ucap Kim berdiri dan pergi secepatnya dari hadapan Roger.
Kim berjalan dengan cepat melewati kamar Roger, dimana ia mengambil tas dan barang lainnya yang tertinggal di kamar Roger, ia segera berlari menuju kamarnya.
"Pria tampan yang bodoh, bagaimana jika aku memanfaatkan nya, dan mengambil semua uangnya." Ucap Kim saat melangkah masuk ke dalam kamar apartemen.
"Tidak... Tidak... Dia hanya melihat kecantikan ku, dia tidak benar-benar tulus, semua lelaki sama saja." Umpat Kim lagi-lagi berpikir tidak-tidak.
*********************************
Roger pergi berjalan-jalan, ia sedang mencari sebuah tempat untuk lokasi bisnis selanjutnya, tempat yang Roger kunjungi adalah sebuah pertengahan kota yang letak nya begitu strategis.
"Hai, kau sedang apa? Sepertinya kau sedang sibuk mengamati sebuah tempat." Suara seorang pria dari belakang.
"Oh... Hai." Balas Roger menoleh.
"Namaku Felton, siapa namamu?" Ucap Felton mengulurkan tangan.
"Roger, namaku adalah Roger." Balas Roger juga ikut mengulurkan tangan.
Felton pun mengajak Roger untuk duduk bersama di sebuah kursi besi yang panjang.
"Kau bukan orang sini? Kau tampak kesusahan dalam melihat jalanan kulihat." Tebak Felton sambil tertawa.
"Kau benar, aku baru beberapa hari disini." Ucap Roger mengaruk keningnya.
"Apa yang kau cari di sini? Di kota metropolitan ini?" Tanya Felton kini memberi sebuah rokok dan korek api kepada Roger.
"Aku sedang membangun sebuah bisnis, dan sekarang aku sedang mencari sebuah tempat yang tepat." Ucap Roger menerima rokok dan korek api pemberian Felton.
"Aku bisa membantumu Roger, karena aku sudah lama tinggal disini, aku juga mempunyai banyak teman disini, pasti dia bersedia juga membantu ku." Ucap Felton dengan benar, dan semua itu membuat Roger berpikir dua kali, tapi tentu Roger tidak bisa percaya orang yang baru ia kenal begitu saja.
"Senang bertemu denganmu Felton, aku sangat berterima kasih jika kau ingin membantuku." Ucap Roger memperhatikan semua orang yang berlalu lalang.
"Bisakah kita berbagi nomor telpon? Aku akan segera menghubungi mu jika aku sudah menemukan tempat yang kau cari." Ucap Felton mengeluarkan ponsel.
"Tentu." Balas Roger yang juga mengeluarkan ponselnya.
Di sisi lain....
Seperti biasa, Kim memakai baju seksi memasuki bar tempatnya bekerja.
Kali ini Kim dandan dengan sedikit tebal, berharap banyak tamu yang akan ia layani, tentu semakin banyak uang yang ia dapatkan.
"Kim aku sudah menunggumu dari tadi," ucap Pyan salah satu tamu langganan Kim.
"Hai Pyan, beri aku uang seratus dolar, aku akan melayani mu dengan baik." Ucap Kim membujuk Pyan.
Karena untuk malam ini, Kim harus benar-benar membawa uang banyak, untuk biaya sewa apartemen dan biaya kuliah semester adiknya yang bernama Alexa.
"Servis, bagaimana dua ratus dollar jika dengan oral, ciuman, dan d**a mu Kim?" Bujuk Pyan merangkul pinggang Kim.
"Tiga ratus dollar, aku akan menerima tawaran itu." Ucap Kim berlagak seksi.
"Mahal sekali, kita tidak bersetubuh, ayolah Kim, jika kau tidak mau aku tidak masalah, aku akan cari wanita lain." Ucap Pyan hendak pergi.
"Baiklah Pyan, dua ratus dollar." Balas Kim dengan cepat
Kim tak punya pilihan lain, yang Kim lakukan sekarang adalah, mencari tamu sebanyak mungkin, tak perduli sampai larut malam, Kim akan melakukan semua itu.
Pyan memeluk tubuh Kim dari belakang, namun kaki mereka berjalan menuju sebuah ruangan karaoke tempat biasa Kim dan Pyan bersama.
Pyan langsung mencium bibir Kim dengan cepat, mendorong tubuh Kim untuk ditidurkan di atas sofa.
"Emmpppppp." Desah Pyan.
Pyan mengambil remote dan menyalakan sebuah lagu dengan sangat kencang.
Pyan memasukkan tangannya ke dalam baju Kim, meremas p******a Kim dengan sangat lihai.
"Aaahhhhh....." Desah Kim.
Pyan kembali mencium bibir Kim, melumat bibir Kim sesekali menariknya.
"Sial Kim, kau membuatku horny." Ucap Pyan.
Mendengar kata h***y Kim sedikit ketakutan, namun selama keperawanan nya utuh, Kim takkan bertindak apapun, atau kabur dari situasi ini.
Pyan mengeluarkan batang k*********a tepat di wajah Kim, lalu menyodorkan seperti sebuah lollipop.
"Eeeggggggmmmmm." Suara bibir Kim.
"Ayo Kim seperti itu, kau harus menjilat nya, ayolah Kim lagi!" Ucap Pyan menjambak rambut Kim dan terus memaksa mulut Kim untuk mengulumnya.
____________**************___________
Haii.. masih baca kan?
Baca terus yaaa..
Ig: Hes_Ree