Kim tak punya cara lain, yang ada dalam pikiran Kim adalah bagaimana caranya ia bisa kabur untuk saat ini.
"Ya, tentu. Aku akan membayar dua kali lipat." Ucap Kim mencoba agar Aric segera melepaskannya.
"Baiklah dua kali lipat." Kata Aric mengelus punggung Kim, dan melepas ikatan di tangan dan kakinya.
"Tapi setidaknya beri aku sedikit kepuasan, ini adalah hukuman karena kau telah melanggar perjanjian kita." Ucap Aric mencakar paha kanan Kim dengan sedikit keras.
"Aaaahhhhhh.... Aric...." Teriak Kim menjambak rambut Aric.
Aric benar-benar mencakar paha itu dengan erat, membuat bekas cakaran terpampang begitu saja dan membekas berwarna merah.
Kuku-kuku yang Aric tancapkan di paha Kim membuat paha mulus wanita itu terluka dan mengeluarkan sedikit darah, hanya sedikit.
Aric menghirup leher Kim dengan penuh nafsu, dan menyesap nya hingga meninggalkan bekas merah.
"Lepaskan aku!" Teriak Kim.
Kim menendang alat vital Aric begitu kasar, "aaahhhh....... Sial kau Kim." Teriak Aric terjatuh di lantai.
"Aku sudah bilang lepaskan aku, tapi kau malah menciumku." Balas Kim menutup bajunya yang robek.
"Aku pergi, tenanglah... Aku akan mengembalikan uang mu dua kali lipat." Ucap Kim melempar wajah Aric dengan tissu kotak lalu pergi meninggalkan Aric yang tergeletak disana.
"Lihat saja kau Kim, aku takkan mengampuni mu jika kau tidak mengembalikan uangku, atau tubuhmu adalah imbalannya." Teriak Aric namun tak di hiraukan oleh Kim.
***********************************
Dengan langkah tertatih tanpa alas kaki, Kim turun dari taksi yang tepat berhenti di apartemennya.
Ia memeluk tubuhnya sendiri merasa kedinginan, Kim menggenggam erat uang hasil kerjanya tadi malam.
Ia terus melangkah tanpa alas kaki, dengan pakaian yang sudah berantakan.
Ia adalah wanita player, ia juga pembohong, ia juga tersadar bahwa dirinya tidaklah melakukan hal yang baik.
"Semua lelaki sama saja, ia hanya menginginkan kecantikan dan kecantikan." Ucap Kim kesal.
Kim terus berusaha menutupi baju yang robek tepat di bagian dadanya, tampilan Kim benar-benar kacau saat ini.
Kim terus berjalan menuju lobby apartemen, ia memasuki lift dan segera menuju lantai kamarnya.
"Sial, kunci kamarku, dompetku? Dimana dompetku? Astaga Aric telah mengambil nya." Decak Kim sangat kesal, ia meninju dinding kamar apartemennya.
Kim mencoba turun kembali ke lantai dasar untuk menghubungi resepsionis. Namun ada seseorang memanggil namanya.
"Kim." Ucap pria dari belakang, ya, tentu saja itu adalah Roger, siapa lagi?
"Roger?" Kim mencoba menutup erat bagian dadanya yang hampir terlihat.
"Astaga Kim, apa yang telah terjadi?" Tanya Roger menatap Kim penuh kebingungan.
"Emmm." Kim hanya menggelengkan kepala.
"Dompetku hilang, kunci kamarku tidak ada, aku akan ke bawah untuk menghubungi resepsionis." Ucap Kim memeluk tubuhnya sendiri.
"Jika kau tidak keberatan, kau bisa tinggal sebentar di kamarku, tapi aku tidak memaksa mu Kim." Tak tega melihat kondisi Kim seperti itu, Roger mengajak Kim untuk menumpang di kamarnya.
"Baiklah." Balas Kim mengangguk.
Beberapa menit kemudian.......
Kim baru saja selesai dari kamar mandi, ia memakai kaos dan boxer milik Roger, walaupun sangat besar, namun Kim telah mengikatnya dengan tali karet.
"Terima kasih." Ucap Kim bersama Roger di depan televisi dan memakan beberapa snack ringan dengan sangat rakus.
"Ada luka lebam di wajahmu, siapa yang memukulmu?" Tanya Roger begitu iba terus melihat wajah Kim.
Kim menghentikan aksinya memakan snack yang tadi ia pegang.
"Aku.... Aku di tampar." Ucap Kim tertunduk.
"Apaaaa? Siapa yang telah menamparmu?" Tanya Roger begitu histeris.
"Aku berhutang pada seorang pria, aku tak bisa membayarnya, lalu aku di sekap, aku di tampar, dia mengancam ku akan melakukan hal yang tidak-tidak jika aku tidak segera membayar utang itu." Kata Kim mulai menangis di depan Roger.
"Berapa jumlah hutang mu Kim?" Tanya Roger menatap Kim begitu serius.
"Dua ribu dollar." Balas Kim lemas tertunduk, dan mengapa bodohnya Kim berjanji akan mengembalikan dua kali lipat.
"Aku berhutang padanya seribu dollar, tapi aku berjanji akan mengembalikan dua kali lipat, dan itu adalah kebodohan ku." Ucap Kim kini penuh sesal.
"Apakah dia pria?" Tanya Roger memijat keningnya.
"Dia adalah seorang pria Roger, aku........" Kim tak bisa melanjutkan perkataannya.
"Kau? Kau kenapa?" Tanya Roger tak sabar ingin mendengar.
"Aku adalah seorang wanita penghibur Roger di sebuah bar dan cafe, dia mencoba membeli, aku menerima uang itu, dan perjanjian kita adalah......" Lagi-lagi Kim tam mampu melanjutkan.
"Perjanjian apa Kim?" Bisakah kau katakan padaku." Ucap Roger tak sabar ingin mendengar.
"Aku harus memberikan keperawanan ku untuknya." Ucap Kim menangis di pundak Roger.
"Kiiiimmmmm." Ucap Roger langsung memeluk tubuh Kim dengam erat dan mengelus punggung Kim.
"Kimmmm......." Roger memegang bekas luka tamparan Kim, ia benar-benar tak tega akan hal ini.
"Tenanglah aku akan mengobati mu Kim." Ucap Roger mengelus pipi Kim.
"Kau tak perlu mengutang pada siapapun itu Kim, jika kau membutuhkan sesuatu, aku akan siap membantumu." Ucap Roger tersenyum.
"Aku harus memberikan keperawanan ku, jika aku tidak melunasi hutangku." Ucap Kim menangis.
"Tenanglah Kim! Aku akan membayar semua hutang itu, aku takkan membiarkan pria itu menyentuhmu lagi." Ucap Roger menenangkan Kim.
Roger tak ingin seorang wanita yang ia temui diperlakukan buruk seperti Grace, wanita yang pernah Roger perlakukan tidak pantas, bahkan Roger sempat ingin memperkosa Grace berulang kali, namun kejadian itu tak pernah Roger dapatkan, bahkan sampai detik ini, Roger selalu menyesali perbuatannya.
"Roger?" Ucap Kim benar-benar tak percaya.
"Kau membayar semua hutangku? Apakah kau yakin?" Ucap Kim dengan tatapan sayu.
Roger berdiri mengambil sekotak alat obat, ia menuangkan cairan penenang di kapas lalu ia tempelkan pada luka lebam Kim.
"Aaasshhh." Teriak Kim.
"Tenanglah, sakitnya hanya sesaat." Ucap Roger terus menekan.
"Roger jawab pertanyaan ku, apakah kau benar-benar akan melunasi hutangku?" Ucap Kim menahan rasa sakit.
"Ya, aku akan membayar semu hutangmu Kim, besok pertemukan aku dengan lelaki itu." Ucap Roger dengan yakin.
"Terima kasih Roger, kau begitu baik." Ucap Kim tersenyum menatap Roger, sedangkan Roger masih begitu serius mengobati luka-luka di wajah Kim.
"Kau pasti menginginkan kecantikan ku, kau pasti juga sama dengan pria lain, rupanya kau kaya raya Roger, aku akan memanfaatkan semua uangmu untukku." Batin Kim namun tetap dengan ekspresi sedih.
__________***************"___________
Haii..
Baca sampai selesai yaa..
Mampir di cerita lainku..
Aku tunggu komen kalian..
Ig: Hes_Ree