"Astaga Esme, kakak baru kemarin mentransfer uang untuk biaya kuliah mu, dan sekarang kau meminta lagi? Apa maksudmu?" Ucap Kim pada adiknya yang bernama Esme.
"Kakak, uang itu habis untuk pengobatan ibu." Balas Esme dari telepon.
"Darimana aku harus memberimu uang lagi Esme, mengertilah kondisi kakak saat ini." Ucap Kim pusing memegang kepalanya.
"Baiklah aku akan berhenti kuliah kak, aku tidak ingin merepotkan kakak." Balas Esme menangis.
"Tidak, kau harus tetap kuliah, tunggu saja, aku akan berusaha secepat mungkin mentransfer uang itu Esme." Ucap Kim lalu mematikan telepon tanpa menunggu ucapan balasan dari Esme.
"Astaga... Uang lagi.. uang lagi..." Teriak Kim melempar ponsel di atas kasur.
"Sial, aku lelah jika harus meng-oral banyak pria, tapi aku tak punya pilihan lain." Decak kesal Kim kini semakin pusing.
"Roger.. kuharap Roger bisa membantuku." Ucap Kim seolah menemukan titik terang.
Kim berjalan keluar menuju kamar apartemen Roger.
Ia memencet bel pintu agar Roger segera keluar untuk membukakan pintu.
"Kim?" Tanya Roger hanya mengenakan boxer dan membukakan pintu.
"Roger." Ucap Kim dengan lembut.
"Apa aku boleh masuk?" Tanya Kim.
"Ada temanku, apa kau tak keberatan?" Tanya Roger menoleh belakang melihat Felton dan Fellix sedang terkulai lemas tak berdaya di atas kasur akibat mabuknya.
Ingin rasa Kim menghindari ini, namun tak bisa, Kim benar-benar membutuhkan Roger untuk saat ini.
Kim memasuki kamar Roger, ia melihat dengan jelas bahwa kedua temanya sudah tak sadarkan diri.
Sedangkan Roger sedikit tak sadar karena efek mabuknya yang sedikit berat.
"Roger......." Ucap Kim memeluk langsung Roger dan sedikit berpura-pura menangis.
"Haiii... Kau kenapa Kim?" Tanya Roger dengan setengah sadar.
"Rogeeeeerrrrrrr...." Ucap Kim masih memeluk tubuh Roger dengan erat.
"Perlahan, katakan semua itu pelan-pelan." Ucap Roger menepuk pundak Kim berulang kali.
"Roger aku benar-benar membutuhkan uang, bisakah kau meminjamiku? Aku benar-benar butuh biaya ini Roger."
"Tenanglah Kim, aku akan membantumu, berapa yang kau butuhkan?" Tanya Roger walaupun dia sendiri tak sadar akan minuman.
"Hanya seribu dollar." Ucap Kim dengan wajah sedih.
"Seribu dollar? Hanya seribu dollar?" Ucap Roger meremehkan.
"Kau yakin hanya seribu dollar? Bahkan aku bisa memberikan mu lebih dari seribu dollar." Ucap Roger tak sadar memojokkan tubuh Kim di tembok dan mencium leher Kim.
"Roger kau mabuk." Ucap Kim menolak cumbuan Roger.
"Harum... Kau sangat harum Kim." Ucap Roger berganti mencium rambut Kim.
"Rogeerrrr!" Ucap Kim ketika Roger berhasil menyesap lehernya.
Roger seketika menaikan kedua tangan Kim di atas, "katanya kau minta seribu dollar, beri aku ciuman Kim, kau sangat cantik malam ini." Ucap Roger sedikit tak sadar dan nafsu karena melihat kecantikan Kimberly.
"Kau sama saja, sama-sama menjijikkan dengan pria di luar sana yang menginginkan tubuhku, jika bukan aku membutuhkan uangmu, aku takkan mau melakukan ini." Batin Kim saat Roger menjelajahi leher jenjangnya.
"Ssssppppp." Roger menyesep leher itu terlalu kencang.
PLAK!
"Roger stop! Kau sudah keterlaluan!" Teriak Kim menampar Roger, membuat Fellix dan Felton kini menatap mereka berdua.
"Assss.... KIM!" Balas Roger memegangi kepala.
"Keterlaluan! Kurang ajar!" Ucap Kim mendorong tubuh Roger dan pergi dari sana.
"Wanita.... Heii!! Ayolah! Kau tak perlu malu-malu seperti ini." Teriak Roger melihat kepergian Kim yang memegangi lehernya sendiri.
"Sinting!" Teriak Kim.
"Kemarilah Roger! Kau tak perlu mengurusi wanita itu, di dunia ini ada banyak wanita, lupakanlah dia! Kita bisa tidur dengan wanita lain." Ucap Fellix yang menyahut melihat perdebatan tadi.
"Kemarilah! Kita harus melanjutkan ini bukan?" Sahut Felton meminum kembali cairan keemasan.
"Dasar wanita, begitu saja sudah tak terima, cih...." Ucap Roger yang teler dan berjalan di kasur.
Mereka bertiga kembali meminum, hingga tak terhitung berapa banyaknya tegukan.
Keesokan hari...........
Minggu ini Kim dan Carol ingin mencari udara segar, mereka berdua berjalan-jalan menuju taman bunga mawar untuk menyegarkan pikiran.
"Aku tidak bisa bekerja nanti Carol, aku masih belum bisa membayar hutang pada Aric." Tutur Kim berjalan di samping Carol membawa se-cup es krim blueberry.
"Tidak Kim! Ini adalah hari minggu, pelanggan mu sangat ramai." Balas Carol tak ingin jika harus bekerja tanpa Kim.
"Aku tahu, tapi aku akan bertemu Aric, dia pasti memukul ku." Ucap Kim tak sanggup jika membayangkan.
"Kau tidak bisa seperti itu Kim, ingatlah! Adikmu Esme membutuhkan biaya kuliah, ibumu membutuhkan biaya pengobatan." Nasihat Carol.
"Kau benar, aku masih harus bekerja, haaaffffff." Ucap Kim mendongak ke atas menatap langit-langit.
_____________**********_____________
Aku tadi udah nulis banyak.. terus kehapus.. kwkwkkw.. jadi terpaksa update sisanya :( ..
Besok update lagi..
Ditunggu komentar dan vote nya..
Terima kasih..
Ig; Hes_Ree