Sehari pertama saja, Ley mampu menjungkirbalikkan dunia Amren. Membuat laki-laki itu terangsang hebat dengan sikap manja serta suka menempel pada Amren. Belum lagi, kalau Ley mengibarkan bendera perang ketika pekerjaan Amren menumpuk dan gadis itu mengganggu hanya untuk menggoda Amren. Catat. MENGGODA.
Sebulan berselang, Amren lebih sigap menyesuaikan diri. Meski tidak secara langsung, mampu menghadapi Ley secara keseluruhan sikap yang gadis itu punya jelas belum masuk akal Amren sepenuhnya.
Kebiasaan gadis itu ketika hendak tidur adalah yang paling riskan. Ley seperti menempatkan Amren menjadi papa yang dia rindukan. Memeluk Amren begitu kuat, hingga lelaki itu tidak bisa bergerak kemana-mana.
Korban dari semua itu adalah pekerjaan Amren. Dia tidak bisa memiliki waktu se-fleksibel seperti saat masih sendiri.
Waktu paginya, sekarang digunakan untuk mengantar Ley serta mengurus perintilan yang harus dia siapkan ke kantor. Menjadi pemilik sekaligus CEO di perusahaan sendiri, menjadikan Amren gila kerja, sebenarnya. Belum lagi, bisnis perkebunannya bersama Anomali(rekannya) yang tidak sedikit jumlahnya dan akan berkembang menjadi bisnis kafetaria yang mengandalkan hasil perkebunan tersebut.
"Sudah siap?" tanya Amren sembari berusaha mengancingkan bagian pergelangan kemeja.
"Sudah, Om ganteng." Ley menarik bekal buatan mbok Haryu.
"Ayo, berangkat."
Amren yang hendak berjalan mendahului dicegat oleh Ley. Kedua tangan gadis itu sengaja direntangkan lebar-lebar guna menghadang Amren.
"Kenapa lagi?"
"Om ganteng belum sarapan!"
Perilaku Ley memang terlalu remeh, sampai hal remeh bisa dia besarkan dan yang terlihat riskan bagi Amren justru Ley abaikan.
"Saya bisa sarapan di kantor, Ley." Dengan suara setenang mungkin Amren meladeni.
Gelengan tegas Ley menambah panjang durasi waktu yang terulur untuk mengerjakan hal lebih penting lainnya.
"Oke. Oke. Saya sarapan sekarang!" seru Amren, mengalah.
Dengan begitu, senyuman Ley kembali memancar indah.
"Gitu, dong. Om ganteng makin ganteng, deh!"
Ley mencubit pipi kanan Amren yang sedang digunakan untuk mengunyah. Meski memaki dalam hati, Amren tetap sabar menghadapi Ley yang sebenarnya agak membuatnya kesal sejak menunjukkan sisi kekanakan yang sebenarnya. Kesabaran Amren belum setangguh itu.
"Ooommm ganteeeeeng," panggil Ley dengan nada genit.
Amren tersedak mendengar panggilan itu, matanya menderap ke sekeliling untuk melihat keadaan apakah ada mbok Haryu atau tidak di dekat mereka.
"Ley... kamu... kenapa?"
Bukannya menjawab, Ley malah segera mengambil lembaran tisu dan membersihkan bagian mulut Amren.
"Om ganteng, kalau makan enggak boleh berantakan, Om." Ley benar-benar menakutkan dalam pandangan Amren saat ini.
"Ley––"
"Nanti Ley kasih tahu ke Om ganteng, ya. Tapi nanti malem aja. Soalnya..." Ley menjeda dan membuat kerlingan misterius. "... Ley malu."
Amren mengamati pergerakan Ley yang langsung berlari meninggalkan ruang makan, membuat Amren termenung sendiri. Dia tidak mengerti, kenapa firasatnya mengatakan ada yang tidak beres dan itu mengarah menuju hal aneh atau tepatnya... buruk.
*
"Pokoknya nanti malem Om ganteng enggak boleh nyuekkin Ley. Soalnya nanti malem, tuh spesiaaaaaaaaalll banget! Ley mau ngomong sesuatu ––"
"Ngomong sekarang saja, Ley. Saya dengarkan, kok. Karena nanti malam, mungkin saya pulang telat."
"Hngggg... ENGGAK BOLEH!!!" protes Ley. Gadis itu sudah mulai mengeluarkan jurusnya; menangis.
"Hey, hey, Ley... aduh, jangan nangis, dong."
Mau tidak mau Amren menepikan mobil. s**l. Bisa telat, nih. Hendak marah, tapi tidak tega melakukannya pada Ley. Meski menepi untuk memperingatkan Ley, yang terjadi malah sebaliknya.
Amren tiba-tiba saja berinisiatif memeluk gadis itu. Menenangkan Ley adalah hal wajib baginya sejak menerima gadis itu dititipkan padanya.
"Ley..."
"Om... Om ganteng... enggak... enggak boleh... pulang... terlambat." Sembari sesenggukan, Ley menyandarkan kepalanya di d**a Amren.
Entah Amren saja yang merasakan aneh dengan sikap Ley atau memang Ley sengaja melakukan itu. Ndusel-ndusel seperti kucing yang ingin dimanja.
"Ley––"
Ucapan Amren terhenti karena terkejut dengan tindakan Ley yang dengan berani melayangkan sebuah ciuman pada Amren. Bukan dipipi, tapi benar-benar menempelkan bibirnya pada bibir Amren.
*
Suasana kantor tidak membantu Amren untuk berpikir lurus. Bayangannya melayang pada kejadian tadi pagi, membekas dalam ingatan Amren hingga membuatnya ingin memaki diri sendiri.
"Bang kopinya," ucap asistennya, Dian.
Karena perusahaannya belum terlalu besar, dan tidak ada orang-orang yang dituntut berlebih dalam memanggil atasan, khususnya pada Amren.
"Makasih, Di."
"Eumm... Bang."
Amren mendongak, "Kenapa?"
"Saya boleh enggak ambil cuti?"
Cuti. Amren memang agak mempersulit Dian untuk bisa mengambil cuti seenaknya. Karena Dian memang cekatan untuk mengurus pekerjaan yang Amren tangani.
"Kok tiba-tiba, Di?"
Dian berdecak, sudah terbiasa ditahan-tahan oleh Amren agar bisa mempertahankan rekor cuti tak terpakainya.
"Bang Amren parah, nih! Saya, kan bilang begini itu artinya enggak tiba-tiba tahu!" protes Dian.
Lelaki dengan perawakan tinggi itu mengacak rambut bingung. Pikirannya bercabang ke lain tempat, tapi Dian meminta cuti, bisa keteteran dia tanpa Dian yang mensiasati untuk menyelesaikan segala urusan di kantor.
"Kalau kamu enggak ada... saya gimana, dong, Di?" pelas Amren.
"Halah! Bang Amren suka begini, nih! Saya mah kalah, deh kalau sudah ditahan begini." Dian memicing. "Tapi kali ini saya enggak mau ngalah, Bang."
Rasa lega Amren seketika saja musnah. Dia pikir, caranya yang dari tahun ke tahun bisa dia gunakan pada Dian bisa berhasil lagi, tapi ternyata kali ini tidak.
"Kok kamu tega, sih, Di sama saya? Semenjak kamu punya pacar bule itu, saya jadi korban."
"Ihhh! Enak saja Bang Amren kalau ngomong. Yang ada saya yang jadi korban sama Bang Amren. Gara-gara enggak pernah cuti, pacar saya yang dulu kabur. Jadi, daripada nanti Prince saya kabur, saya mau ambil cuti!"
Amren menutup telinganya, berlaga seperti seorang anak yang kena marah ibunya.
"Jangan curhat pakai suara keras gitu, dong, Di. Kamu enggak malu––"
"Bodo! Saya enggak peduli. Pokoknya kalau Bang Amren enggak ngasih izin saya cuti, saya bakalan bilang ke seluruh divisi kalau Bang Amren punya gebetan anak kinyis-kinyis!"
Mata Amren membelalak lebar. Dia segera berdiri dan mendekati Dian. Buru-buru dia tutup mulut Dian agar tidak semakin menyebarkan rumor yang salah kaprah.
"Oke, oke... saya kasih izin."
Pada akhirnya Amren mengalah. Ketimbang harus mengatasi celotehan penuh pertanyaan karyawannya mengenai Alaia.
"Nah... gitu, dong!" ucap Dian senang tepat setelah Amren melepaskan bekapannya. Akhirnya dia bisa membalas Amren juga.
"Kamu tahu dari mana soal Ley?" tanya Amren segera.
"Ooooohhh, namanya Ley?" pekik Dian. "Iiiihhh, Bang Amren. Kok jadi p*****l, sih. Saya tahu, jomblo itu enggak enak, tapu jangan incar anak ingusan juga, dong. Masa dicium di depan gerbang sekolah begitu diem aja? Ley itu gercep juga, ya, Bang. Dia sengaja nunjukkin ke banyak orang kalau Bang Amren itu punya dia, ya. Oiya, tadi ponakan saya aja sampai melongo, loh, Bang. Dia bilang, kenapa bisa Ley itu dapetin hot duda kayak Bang Amren––"
"Dian!"
Perempuan itu langsung diam. Suasana mencekam langsung Dian rasakan dari cara Amren menatap tajam perempuan itu.
"Dengar. Ley bukan perempuan yang seperti itu buat saya. Dia... dia anak mantan atasan saya yang terpaksa dititipkan ke saya."
Takut-takut, Dian membalas, "Tapi... kenapa... cium-cium––"
"Karena dia yang masih kekanakan. Dia anggap saya seperti papanya sendiri, makanya dia berani begitu!" nada ngotot Amren justru membuat Dian yakin, apa yang diungkapkan Amren tidaklah diyakini lelaki itu.
"Yaudahlah, Bang. Lagian bukan urusan saya juga. Santai aja. Yang penting... jatah cuti izinnya lancar, rahasia aman, Bang."
Dian berjalan cepat menuju tempatnya sendiri, tapi tetap mendengar suara Amren yang gemas diancam begitu.
"SAYA ENGGAK PUNYA RAHASIA APA PUN!"
Yaaaa... mungkin memang bukan rahasia lagi jika Amren dan Ley mulai disebut sebagai pasangan beda usia yang jauh, alias, age-gap.
*
Amren tidak tega jika harus pulang terlambat seperti yang dia katakan pada Ley hingga membuat gadis itu menangis tergugu. Namun, Amren tidak siap melihat Ley dengan segala tingkah antimainstream gadis itu nantinya.
Sedari tiga puluh menit yang lalu Amren sudah memarkirkan mobilnya di depan rumahnya. Dia belum bersedia masuk ke sana, karena memang dia masih enggan berurusan dengan Ley dan spontanitasnya.
Gadis itu mengatakan ingin menyampaikan sesuatu malam ini. Ley bilang dia malu mengungkapkannya ketika pagi tadi. Lalu, dalam sekejap Amren bisa menebak bahwa gadis itu akan mengungkapkan perasaan kagumnya pada Amren. Sebab, ditilik dari sisi manapun, Ley sudah menunjukkannya secara gamblang tadi pagi.
"Apa yang harus gue lakuin???"
Dia turunkan kursi kemudi, lalu merebahkan diri di sana dengan mesin mobil menyala dan sunyi menyapa. Tidak ada rangkaian nada dan bicara dari radio. Amren merenungi keadaan, antara keberuntungankah atau justru kesialankah dirinya menerima Ley.
Amren memandangi ponselnya yang sudah mati sejak dia berangkat dari kantor tadi. Ley memang memiliki ponsel, tapi Amren tidak memberikan nomornya pada Ley. Semua itu dia lakukan agar tidak ada teror dari gadis itu.
25 menit kemudian, setelah tidur ayamnya, Amren akhirnya membuka gerbang sendiri dan memarkirkan mobil ke garasi. Seluruh ruangan sudah temaram, termasuk kamar Alaia.
Derap langkah Amren ternyata sudah dinanti oleh Ley. Bahkan tidak disangka Amren ketika dirinya disambut dengan isak yang sumbernya dari kamar Ley.
Kalau saja Amren tidak menyadari suara tangis itu adalah Ley penyebabnya, mungkin dia akan lari ketakutan masuk ke kamar.
Rasa lelah Amren ternyata hilang dan terganti dengan rasa pilu yang Ley berikan. Posisi gadis itu sungguh memilukan. Ley memerangkap dirinya sendiri di dalam lemari dan menangis di sana, ditumpukan baju yang menutupinya dan bisa saja membunuhnya secara perlahan karena kekurangan oksigen.
"Sial."
Kali ini. Kecemasan Amren tidak main-main. Alaia bisa menangis dalam keadaan mata terpejam dan terkunci. Untung saja suaranya menggema hingga ke lantai bawah, bagaimana jadinya jika Amren tidak naik ke sana dan enggan mengecek Ley karena mengira gadis itu baik-baik saja.
Apa Amren harus menemukan Ley kehilangan nyawa karena ulah aneh gadis itu sendiri?
"Ley! Bangun." Amren membuat gerakan teratur dengan memberi bau menyengat disekitaran hidung gadis itu.
Wajah pucat dengan warna merah yang hanya menghias di kelopak serta pucuk hidung Ley, menjelaskan pada Amren bahwa Ley memang tidak baik-baik saja jika ditinggal tertidur sendiri.
"Ada apa dengan kamu, Ley?"
Gadis itu melantur memanggil papa dalam tidurnya. Tangisan Ley tidak terhenti, bahkan tangannya dikepalkan kuat. Amren yang sudah berkali-kali mencoba membuka kepalan itu sampai dibuat frustasi. Ada kenyataan yang tidak Amren ketahui dari Ley.
Amren yakin, ada pemicu kenapa gadis itu yang seharusnya bersikap sok dewasa layaknya anak 16 lainnya malah menunjukkan diri sebagai sosok anak-anak. Padahal, Ley bisa mengambil kesempatan dengan berani mencium bibir Amren.
"Papa... tolong, Ley. Papa... papa... mama jahat... papa...."
Bulir keringat dingin Ley semakin menambah kekhawatiran Amren.
Tidak mempan membuat Ley bangun dengan minyak angin, Amren segera menelepon kawannya yang memang seorang dokter. Menanyakan apakah kawannya masih berada di klinik 24 jam untuk praktik.
Satu-satunya yang ada dipikiran Amren saat ini adalah Ley. Alaia. Gadis 16 tahun yang dia katakan menciumnya karena menganggap dirinya selayaknya ayah, bukan lawan jenis pada orang lain yang sudah terlanjur mengetahui keberadaan Ley.
Lalu, beranikah Amren untuk menghadapi Ley ketika gadis itu menyatakan opini yang berbeda mengenai ciuman yang dia berikan untuk Amren?
*
Klinik 24 jam memang tidak menjamin Ley bisa terbangun dari kacaunya kalimat yang sedari tadi muncul dari bibirnya. Yahya, tidak mengatakan apa pun dengan keadaan Ley. Karena jelas, bukan sakit fisik yang gadis itu rasakan, tetapi jiwanya.
"Sorry sebelumnya, Ren. Gue penasaran sama... cewek ini. Siapa lo? Ponakan?"
Amren menggeleng jelas. Yahya menjadi bingung harus menimpali apalagi, karena sejak tadi, yang Amren perhatikan hanya gadis di ranjang klinik yang minim itu.
"Ren. Gue enggak berminat ikut campur, apa pun masalah lo sama cewek ini, lo harus bawa dia tenaga yang lebih paham. Gue yakin, dia enggak punya luka fisik."
"Thanks, Yahya. Gue izin pake ruangan ini dulu, ya. Sampai Ley bangun," ucap Amren.
Yahya mengangguki. Senyuman maklum Yahya sudah cukup menyiratkan bahwa kawan Amren itu tidak mau lebih jauh keingintahuan mengenai hubungan apa yang diemban antara Amren dan perempuan bernama Alaia itu.
*
Sekitar jam 2 malam, Amren mendapati Ley terbangun dengan isak yang tidak juga berhenti. Gadis itu sempat terkesiap dan terbatuk-batuk tepat saat pertama kali matanya terbuka.
Setelah menenangkannya, Amren tidak mau buru-buru bertanya. Tentu saja itu bukan ranah Amren.
"Mau pulang sekarang?"
Ley menjawab dengan anggukan. Tangisan yang sudah berhenti tapi menyisakan bekas dengan napas yang tersendat-sendat, Ley tidak banyak bicara.
Selama perjalanan pun, Ley tidak memandang ke arah Amren barang sedikit pun. Dia termenung pada sisi kiri, dan menempelkan dahi di jendela mobil. Meski sesekali terdengar suara pertanda akan hujan, rintik-rintik air belum muncul juga.
Kini, ada kemajuan juga dari kebiasaan lama Ley. Gadis itu mau membuka pintu sendiri dan lebih sigap mengintili Amren tanpa harus disuruh atau dilayani.
"Om ganteng!" seru Ley. Gadis itu juga dengan kencang menarik tangan Amren untuk berhenti.
"Kenapa?"
"Ley... mau tidur di kamar om ganteng aja. Boleh?"
Jika Amren mengatakan tidak boleh, apa berpengaruh pada mood gadia itu dan membuatnya kembali menangis?
"Boleh."
Setelah menjawab, Amren langsung berjalan kembali menuju kamarnya. Dia biarkan Ley yang melihat sekeliling di kamar tersebut di belakangnya.
"Saya mau mandi dulu, ya. Kalau kamu mau langsung tidur––"
"Om ganteng!" sela Ley mengejutkan Amren.
"Y–ya?"
"Temenin Ley ambil baju di kamar atas, ya? Soalnya... Ley... takut."
Amren menghembuskan napas perlahan, lalu menyanggupi permintaan Ley. Dia semakin tidak tega dengan gadis itu. Karena semakin lama tinggal bersama, semakin banyak hal yang Amren dapati dalam diri Ley. Bukan lagi sifat kekanakan, tapi hal yang diam-diam Ley simpan dan diganti dengan watak polosnya.
Menunggu Ley yang mengambil baju tidur, Amren memejamkan mata dengan kepala tertunduk. Dia tekan pelipisnya sendiri agar tidak kembali tergoda dengan Ley nantinya.
"Ayo, Om ganteng."
Amren mendongak, mendapati Ley yang masih menggunakan baju sebelumnya.
"Kok belum ganti?"
"Ley mau ganti di kamar om ganteng aja," jawab Ley.
"Tapi saya mandinya lama––"
"Ley ganti di kamar mandi tamu aja. Om ganteng mandi di kamar om."
Amren menurutinya saja. Badan dan pikirannya sudah lelah. Berdua, Amren dan Ley mengisi rumah itu selayaknya pasangan. Lama-lama pun, dalam renungannya, Amren merasa nyaman-nyaman saja dengan keberadaan Alaia disisinya. Lama-lama juga, Ley mau untuk beradaptasi pada hidup yang dibentuk oleh Amren.
Mampukah Amren terlepas dari semua kebiasaan yang akan dia, mau tidak mau, untuk diterima selama waktu berbulan-bulan ke depan dan tidak bisa ditentukan, sebab Hafriz malah asik menghilang dan membiarkan putrinya menumpang layaknya benalu pada Amren.
*
Berselang banyak waktu terlewati. Kebiasaan di rumah yang begitu nyaman itu kian berubah secara perlahan. Alaia tidak memusingkan seberapa lama waktu yang sudah dia emban selama dititipkan pada Amren, tapi tidak bagi laki-laki itu. Amren jelas lebih memedulikan segalanya.
Disilangnya oleh Amren dengan spidol berwarna biru pada kalender yang ada di ruang kerjanya. Genap empat bulan dia menjalani hari-hari bersama Ley.
Usaha masih Amren kerahkan untuk mendapat jawaban dari Hafriz. Mengapa pria itu pergi menitipkan Ley begitu saja, hanya basa basi tepat dihari Ley tinggal di rumahnya. Hanya itu. Tidak ada lagi basa basi dari Hafriz mengenai kelangsungan hidup Ley.
Berkas mengenai kependudukan, akta, kartu keluarga, dan apa pun yang berhubungan dengan perintilan sekolah Ley yang beberapa bulan lagi tinggal menunggu ujian kelulusan gadis itu sudah tersedia. Hafriz menitipkannya pada salah seorang sekretaris di perusahaan dan mengantarkannya pada Amren.
Tidak ada jawaban pasti dari bibir sekretaris tersebut. Informasi yang Amren dapat adalah kemelut perusahaan Hafriz yang sedang membelit sisi financial perusahaan, dan mengancam keberlangsungan bisnis Hafriz tersebut.
Amren bisa membaca beberapa situasi dengan adanya kabar itu. Hafriz pasti sedang lari dari beberapa pihak yang bersangkutan untuk menyokong perusahaannya dan meminta pertanggung jawaban dari pria itu. Sampai Hafriz mau menitipkan putrinya, itu berarti Hafriz memanfaatkan Amren dengan balas budinya untuk mengurus Ley.
Sekarang, Amren perlu meniti apalagi rencananya mengenai Ley.
"Om ganteng!" seru Ley.
Amren perkirakan gadis itu sedang mencarinya.
Agak risih sebenarnya, dipanggil dengan sebutan itu. Amren akan memikirkan waktu yang tepat untuk membahas seluruh pandangannya mengenai Ley. Semuanya.
"Om––"
"Ruang kerja, Ley!" teriak Amren.
Sengaja lelaki itu tidak menutup pintu keseluruhan, karena sudah hafal kebiasaan Ley ketika libur di rumah. Semuanya harus serba Amren temani, karena mungkin Ley merasa hanya memiliki Amren.
Senyum merekah Ley terlihat setelah gadia itu membuka lebar pintu ruang kerjanya. Dress bermotif bunga yang Amren belikan beberapa hari lalu ternyata cocok dan pas sekali dengan tubuh Ley.
Bicara mengenai Ley. Setelah malam yang menyebabkan gadis itu melindur, Amren memilih lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Pekerjaan dia bawa ke rumah. Mereka tidak membahas apa-apa lagi. Hingga sekarang, hubungan mereka memang semakin dekat, bahkan Ley sudah sangat berani memeluk dan mencium Amren, tapi lagi-lagi Amren tidak bisa menindak tegas dengan spontanitas Ley satu itu.
"Kenapa?"
"Ley mau ngomong, Om ganteng."
Tidak tahu apa yang akan gadis itu bahas, Amren menimpali, "Kebetulan kalau begitu. Saya juga mau bicara sama kamu, Ley."
Ley tidak sungkan masuk ke ruang kerja Amren. Namun, ada yang berbeda kali ini. Ley mengunci pintu, merapikan diri, dan berjalan dengan aneh menuju Amren.
Amren hanya memandangi Ley, membiarkan langkah gadis itu meski merasa ada yang aneh.
"Mau ngomong di sini?" tanya Amren disela langkah Ley.
Gadis itu mengangguki seraya menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
Amren berdiri dari kursi kebesarannya, tidak menoleh pada Ley yang diam-diam membuka kancing dress bermotif floral-nya.
"Kamu––ya ampun!" pekik Amren ketika Ley sudah berada di hadapannya dengan setengah kancing terbuka dan berusaha membuka lainnya.
"Apa yang kamu lakuin, Ley?!"
Amren buru-buru maju dan menahan tangan Alaia. "Apa-apaan kamu?!!"
"Ley suka, Om ganteng. Ley... Ley mau jadi milik Om ganteng!"
Oh, tidak. Kenapa malah Ley melakukannya dengan cara seperti ini?
"Ley cinta sama Om––"
"ALAIA!!!"