Bagian 3 : Penjelasan

3212 Words
Suara Amren menggelegar, sukses mengejutkan Ley hingga wajah gadis itu pias. Tidak menyangka, mungkin. Sebab Amren tidak pernah membentaknya selama kurang lebih empat bulan ini. "Om ganteng...?" lirih Ley. Terlebih dahulu Amren mengatur ritme napasnya untuk kembali normal. Kepalanya penuh dengan pertanyaan membludak. Tidak hanya bingung dengan kelakuan Ley, tapi juga tangan serta pemandangan yang tanggung-tanggung terlihat dan terasa. Amren merentangkan sedikit jarak, guna membenarkan kancing dress Ley. Terlalu cantik. Bahkan kalau Ley bisa bersikap dewasa dan normal, mungkin Amren akan memperhitungkan kesempatan yang dia miliki. "Alaia. Kamu harus menjelaskan semua ini pada saya dan kamu harus mendengarkan penjelasan saya setelah itu. Mengerti?" Gadis itu sudah terbaca akan menangis. Amren tahu Ley terlalu cengeng untuk menghadapi kenyataan yang ada. Semua ini membuat Amren muak, tapi paham, bahwa selama ini Hafriz selalu menghalangi Ley menjalani kehidupan yang sesungguhnya. Sekarang. Mulai saat ini. Amren akan mengambil alih perannya untuk menyadarkan Alaia. Bahwa hidup, tidak setenang, seaman, dan senyaman kehidupannya saat ini. * "Sekarang. Bisa kamu cerita yang sebenarnya? Kenapa kamu berani melakukan hal nekat begitu, Alaia?" Gelas yang berisi s**u putih itu digenggam Ley dengan erat. Dia tidak mau memandang wajah Amren. Jemari gadis itu bahkan bergetar jika terlepas dari gelas yang menjadi sasaran untuk mengalihkan tremor Ley. "Ley... nanya sama teman." "Nanya teman?" Amren memajukan wajahnya dengan ekspresi tak percaya. "Maksudnya nanya gimana, Ley? Mereka enggak akan ngasih tahu kamu hal yang enggak benar kalau kamu nanya hal yang benar juga!" Ley tidak sempat mengeluarkan suara tangisnya karena Amren membentaknya kembali, "Jangan nangis! Jawab, Alaia!" Mulut gadis itu kembali terbungkam. Entah kenapa Amren benar-benar tidak bisa menahan emosinya kali ini. Kelakuan Ley sungguh keterlaluan. Hampir saja Amren melihat Ley t*******g di ruang kerjanya. Jika mengingat itu, Amren hampir saja membandingkan halusnya kulit d**a Ley dengan mantan istrinya. Gue udah fix gila! Mata Amren-pun selalu mencuri kesempatan melirik ke arah d**a Ley. Gadis itu bukan lagi anak-anak yang dadanya rata ketika disentuh. Sudah ada jendolan nyata dan memengaruhi Amren untuk semakin penasaran bagaimana penampakan di dalamnya. "Ley... suka sama om ganteng. Makanya... Ley... nanya ke teman. Mereka bilang, Ley harus ikutin cara mereka, kalau Ley mau dapetin cowok yang Ley suka." "Dan apa caranya, Ley?" Amren memelankan suaranya. "Lepas perawan sama cowok yang disuka, Om ganteng." Melongo. Satu reaksi alami yang pasti akan dilakukan oleh banyak orang yang mendengarnya. Ya. Siapa pun. Ini adalah pembahasan serius. Lepas perawan. Apa yang gadis itu tahu mengenai lepas perawan? "A–apa... teman––oh, ya ampun!" Amren memijat pelipisnya yang kian terasa sakit di dalamnya. Tidak henti-hentinya Amren menghembuskan napas. Ada yang sedang berdentum dalam dirinya. Entah adrenalin yang sudah lama tidak dia rasakan, yaitu menyentuh lawan jenis, atau dentuman yang begitu nyeri dan menariknya untuk menjadi seorang––yang pantasnya menjadi bapak––mencintai gadis muda dihadapannya. Sial. Gue? Ada rasa sama Ley? Anak ingusan? Ini sudah tidak normal. Begitu kira-kira kalimat Amren sebelum dia mengambil keputusan, bahwa Ley harus dipisahkan dari dirinya sendiri agar tidak ada yang salah kaprah. Namun, sebelum dia memikirkan rencana pemisahan itu. Amren akan memberikan penjelasan pada Alaia. * Penjelasan yang Amren lontarkan adalah batasan-batasan yang sudah seharusnya Ley tahu. Dari pandangannya, Ley memang mendengarkan apa yang Amren ungkap, tapi dia tahu ada yang salah dengan gadis itu. Ley pasti mengerti dengan apa yang diucapkan Amren, hanya saja... akan berbeda eksekusinya. "Ley. Saya mau kamu tinggal pisah dari saya––" "Om ganteng ngusir Ley?" Amren hendak membalas, tapi tertahan karena dia tidak bisa mengungkapkan apa-apa untuk Ley cerna jika menggunakan emosi. Sejenak dia memejamkan mata, menghela napas, lalu berdiri dengan tangan di masing-masing pinggang. "Kamu bisa berubah supaya saya enggak ngusir kamu dari sini?" Oh. Sekarang Amren menggunakan siasat ancaman pada Ley. "Be–berubah apa, Om ganteng?" dengan nada mencicit Ley bertanya. "Bersikap lebih dewasa!" jawab Amren tanpa basa basi. "Kamu itu sudah besar, Ley. Sebentar lagi lulus, kamu juga bakalan legal membuat kartu penduduk! Usia kamu bukan anak-anak lagi. Kamu bahkan... berani nyium laki-laki yang bukan keluarga kamu! Anak-anak enggak akan tahu rasa suka ke lawan jenis!" "Tapi–tapi Ley memang begini, Ooommm...." Wajah gadis itu kembali memerah. Gelengan berulang kali gadis itu kerahkan. Seolah menolak kenyataan, bahwa dia memang sudah dewasa, dan seharusnya bersikap dewasa. Sialan Hafriz! Kenapa nge-didik anaknya asal begini, sih! Lagi-lagi Amren membatin. Tidak tega pada Ley, akhirnya dia mendekat dan membiarkan Ley memeluknya, lebih tepatnya memeluk pinggangnya. Karena posisi mereka yang tidak sinkron; Amren berdiri, Ley duduk. "Om, jangan usir Ley. Pliiiiisss." Suara hidung Ley yang menarik cairan kuat-kuat membuat Amren bergerak cepat mengambil tisu. Gadis itu dengan cepat menerima dan membuat bunyi yang sebenarnya menjijikan, tapi Amren tidak memedulikan itu. Dipikirannya saat ini adalah rencana memisahkan diri dari Ley. "Enggak. Saya enggak akan mengusir kamu, Ley." Amren tidak akan mengusir gadis itu dari rumahnya, tapi dia yang akan pergi dari sana. * "Tapi, Pak... saya enggak tahu caranya ngurusin anak gede rasa anak kecil. Non Ley persis seperti cucu saya sikapnya, Pak. Cuma badannya saja yang bongsor." Amren terus mencoba membujuk Mbok Haryu. Dia mau, selama tinggal terpisah, Ley tetap ada yang menjaga. Terlebih, gadis itu tidak bisa tidur sendiri. Setidaknya kalau yang menemani adalah seorang wanita, lebih bagus. Amren juga bisa membiasakan Ley untuk menjaga jarak darinya. "Bisa, Mbok. Pasti bisa! Mbok itu wanita, pasti lebih gampang mengurus anak." Wajah bingung Haryu membuat Amren cemas dengan keputusan wanita itu. "Memangnya bapak mau pergi ke mana, sih?" "Ck. Mbok... saya enggak bisa tinggal berduaan sama Ley. Kasihan dia. Saya mau nyari papanya juga, sudah empat bulan ini enggak bisa dihubungi. Pokonya, selama saya enggak ada mbok Haryu harus menjaga Ley dengan baik. Kalau nanti papanya sudah ada kabar, saya pasti tinggal lagi di sini." "Bapak enggak enak, ya sama mantan nyonya? Kan ada perempuan tinggal di sini tanpa sepengetahuan mantan nyonya, nanti manta––" "Mbok kalau bicara jangan yang aneh-aneh! Enggak ada yang begitu. Ley tanggung jawab saya selama papanya belum kembali. Jangan mikir yang aneh-aneh. Paham?!" Mbok Haryu meringis tak enak. "Yaudah. Mbok mau atau enggak? Saya tambahin, kok gajinya, tenang saja, Mbok. Lima puluh persen, deh saya tambah." Mata Haryu langsung hijau menghitung uang yang bisa dia dapatkan. "Yaudah, deh. Saya mau, Pak. Tapi kalau saya enggak sanggup, jangan pecat saya buat cuci gosok, ya, Pak?" "Iya, iya, tenang saja, Mbok." Oke. Satu rencana Amren terlaksana. Dia bisa menetralkan pikiran tanpa Ley. Segalanya akan kembali normal tanpa adanya Ley. Pastikan saja kebutuhan rumah, sekolah, dan jajan Ley terpenuhi, dengan begitu tugas Amren beres. Disamping itu, Amren akan mencari tahu, apa yang sedang direncanakan oleh Hafriz dengan perusahaannya yang sudah diambang kehancuran. Amren akan pastikan, Ley kembali pada papanya secepatnya. Ya, secepatnya. * Sudah tiga hari Amren memilih mengungsikan diri di apartemen yang sengaja dia sewa untuk setengah bulan. Dia tidak membelinya, karena tidak merasa membutuhkan apartemen lagi. Walau sebenarnya dia bisa mengungsi di kantor. Ruangan paling atas adalah miliknya pribadi, tapi memang situasinya serba dadakan, Amren belum bisa bolak balik ke sana dengan ruangan yang belum terurus. Sebagai seorang laki-laki yang berusia matang, Amren merasa aneh dengan segala perbedaan perasaannya kali ini. Delapan tahun adalah rentang waktu yang lama. Jadi, dia mencerna, apakah wajar jika menggilai seorang gadis lagi? "Ya, wajarlah. Lo laki-laki normal, kan." Ya. Amren sudah menanyakan pertanyaan itu pada Gavin. Kawan semasa mereka masih jadi kacung di perusahaan Hafriz. "Normal, tapi masalahnya..." "Apaan masalahnya?" Gavin menikmati secangkir kopi buatan OB. "Masalahnya... ini anaknya mantan atasan kita." Sudah tiga tahun lebih Gavin dan Amren tidak bekerja bersama. Jadi, dia agak bingung ketika mengingat mana mantan atasan yang dimaksud Amren. "Siapa, sih? Gue lupa, Ren." Gavin yang pada dasarnya doyan sekali makan, melihat ada setoples kacang almond di meja mengambil dan mengunyah dengan santai. "Hafriz Gideon Keagra." "Uhkkk––" Amren tahu kalau kawannya itu tetap akan tersedak dengan ekspresi yang begitu kurang ajarnya membuat Amren semakin tertekan. "Pak Hafriz? Hafriz yang itu?" Dengan kepala tertunduk lemas, Amren mengangguki. Tidak ada yang salah dengan umur dan segala metamorfosa yang bisa saja berubah seiring berubahnya keadaan di sekitar. Namun, Gavin juga pasti merutuki kesialan Amren. "Dia percaya sama lo, Ren?" tanya Gavin masih tak percaya. "Dia nitipin anak gadisnya yang sebentar lagi sweet seventeen sama laki-laki kayak lo?" Sedikit tersinggung Amren menimpali, "Kenapa laki-laki kayak gue?" Meski santai, tapi nada dingin Amren yang kentara membuat Gavin ingin menjelaskan ucapannya. "Lo bukan laki-laki yang suka manfaatin kesempatan, gue tahu itu. Masalahnya... status lo yang duda dan punya masa lalu kelam untuk urusan cewek itu... so weird. Sorry. Gue rasa, Ren. Dia manfaatin lo buat ikut ke masalahnya." Amren juga sempat berpikir begitu. Bukan seperti Gavin yang memikirkan kemungkinan ke arah bisnisnya, tapi Amren kacau jika saja bisnisnya akan terpengaruh oleh keberadaan Ley sebagai putri dari Hafriz Gideon Keagra. "Lo tahu, kan, Ren. Zaman kita ikut jadi kecebongnya dia, yang selalu datang cuma masalah dan masalah. Ujung-ujungnya lo yang handle pas dia kabur." Amren terlalu cuek pada kehidupan Hafriz setelah mundur dari sana. Walaupun dia masih sering dihubungi oleh Hafriz untuk basa basi, tapi tentunya Hafriz hanya ingin menjalin hubungan yang baik agar Amren tidak macam-macam pada perusahaan Hafriz yang sudah terlalu banyak campur tangan. "Ren. Dia kabur sekarang. Dia sengaja nitipin anaknya ke lo, supaya perusahaan lo enggak bisa ngalahin––" "Ley enggak tahu apa-apa mengenai bapaknya yang bisa licik begitu, Vin." Lelaki itu mendesah cemas. "Dan sekarang gue masuk dalam masalah yang lebih besar, Vin." Gavin tidak ingin membuat Amren terlalu pusing pada mantan atasan mereka pun ingin memutar arah pembicaraan. "Gimana kalau entar malem kita hangout?" Hembusan napas Amren sampai membuat kopi di cangkir depannya bergerak. "Kenapa gue harus ikutin saran lo, Vin?" Tawa Gavin meremehkan Amren. "Lo tahu seberapa cemennya lo menghadapi dunia malam, bro." "Mulut lo lebih juga, ya, Vin. Kenapa Vea bisa percaya sama pemilik mulut lebih kayak lo, Vin? Kenapa gue malah ditinggalin dengan sikap cemen gue di dunia malam? Apa laki-laki kayak gue kelihatan cupu? Gue enggak bad boy, dan itu artinya gue enggak keren, Vin?" "Wah, wah, wah... ngelantur parah lo, Ren. Fix. Nanti malem lo harus ikut biar uneg-uneg lo keluar." Oke. Walaupun Amren tidak merasa perlu datang ke tempat seperti itu, tapi sepertinya Amren perlukan untuk melupakan sejenak wajah dan tampilan seorang gadis yang sukses menghantuinya sejak tiga hari dia meninggalkan rumah. Alaia Pelita Keagra. * Langkah Amren tidak sebebas Gavin. Jelas. Karena bukan tipikal Amren untuk mendatangi kelab malam seperti Gavin yang suka berlangganan di sana. Dipikiran Amren, bagaimana bisa Gavin sebegitu hebatnya meraup wanita-wanita—bukan psk— untuk menemaninya di ranjang, sedangkan ada Vea yang menunggu di rumah mereka. "Lo santai banget, Vin." Decap dari bibir Gavin menandakan bahwa laki-laki itu tak menyukai sisi cupu Amren. "Relaks, Ren. Lo enggak punya tanggungan apa-apa, bini lo udah lama ninggalin lo yang cupu ini. Kenapa lo enggak bisa sesantai gue?" Amren mengendik bahu. "Vea tahu lo begini?" Tawa Gavin menggelegar, tapi tetap kalah dengan deru musik menghentak. "Vea gue enggak perlu tahu. Cukup dia jadi tempat gue pulang, semua beres." Giliran Amren yang berdecak. Tak mengerti akan sikap gila kawannya itu. Padahal, berhubungan dengan Vea saja sudah delapan tahun lebih berjalan. Namun, Gavin masih asik saja dengan dunia malamnya. "Pesan sana! Gue turun dulu," ucap Gavin sebelum meninggalkan Amren menuju lantai dansa. Kepala Amren terisi oleh nama seorang gadis, tapi memang betul dia membutuhkan sesuatu yang dapat meluruhkan nama itu. Walau sesaat. Agenda malam ini, Amren hanya akan mencari pelarian yaitu berupa minuman agar tidak teringat Ley. Itu saja. Belum sempat habis Amren meneguk minuman, ponselnya sudah berdering keras. "Hallo––" "Pak! Ru–rumah kebakaran. Saya... saya enggak sengaja, Pak. Kompornya lupa saya matikan... terus... terus semuanya terbakar." Amren menjauhkan ponselnya, walau panik dia masih menelaah nomor siapa yang menghubunginya. "Ini siapa?" "Ini mbok Haryu, Pak! Cepat pulang, Pak. Ya allah...." Tidak menunggu penjelasan lagi. Amren menarik kunci mobil dan ke luar dari sana. Gavin yang sibuk mencari mangsa hanya tertegun melihat Amren bergerak cepat, tapi tidak Gavin pedulikan. Dia tahu, dirinya sudah kembali jatuh hati. * Amren tahu jika akan ada masalah besar ketika dia memutuskan membiarkan Ley tanpa pengawasannya secara langsung. Masalah sekolah, Amren tidak cemas sama sekali. Sebab Ley memang cerdas untuk urusan satu itu. Bahkan kelulusannya saja bertepatan dengan legalnya dia mendapat KTP. Entah memang pandai, atau kebetulan usia dimulainya Ley sekolah terlalu dini. Namun, masalah besar itu datang dari setiap kecerobohan Ley terhadap sesuatu. Walau mungkin saja bukan hanya Ley yang ceroboh. Seperti kejadian malam ini, yang sukses membuat Amren mengumpat keras di kelab malam. Belum sempat dia menghabiskan cecapan dari minuman yang dipesan Gavin, ponsel pintarnya riuh meminta diperhatikan. Ketika sapaan halo pertama Amren terlontar, teriakan panik mbok Haryu membuat jantungnya serasa dipaksa mencelos keluar dari tubuhnya sendiri. "Mana Ley?!" sergah Amren begitu kakinya menapak di depan rumahnya yang sudah ramai tetangga serta pemadam. "P–Pak..." "Ley dimana sekarang, Mbok??!!" Tidak mau ada pembahasan basa basi, Amren menuntut Haryu menjawab. "Hm... Non Ley... masuk rumah sakit." Amren kembali mengumpat di depan wajah Haryu. Dia sama sekali tidak bermaksud berkata kasar pada pembantu rumah tangganya itu, hanya saja Amren tidak sempat mengalihkan pandangan sebelum kata u*****n itu keluar dari mulutnya. "Maaf, Mbok." Amren tetap meminta maaf. "Saya mau tahu keadaan Ley. Nanti, saya tetap akan meminta penjelasan sama mbok." Tak menunggu lama Amren berlari kembali guna meraih pintu mobilnya, tapi keinginan Amren tidak secepat itu terkabul. "Bapak Amrenolas Hangkara?" Pandangan Amren teralih, dan menjawab, "Betul, Pak. Ada apa, ya?" "Bisa bicara sebentar? Kami dari kepolisian..." Sialan. Amren jelas kalang kabut sekarang. Rumahnya terbakar. Bukan jenis kebakaran biasanya, dalam artian tidak merambat ke rumah lain dan tidak terlalu besar bagian yang terbakar, karena petugas lebih cepat datang serta menangani. Untungnya, perumahan di sana berjarak. Tidak Amren pikirkan properti yang dia rugikan, sekarang, ada Ley yang dia cemaskan. Belum lagi jika permasalahan ini diusut ke ranah hukum, mbok Haryu akan terseret karena lalai. Oh. Amren ingin mengakhiri semuanya dan segera melihat keadaan Ley. "Bisa, Pak." Sudah Amren putuskan. Mengurus dulu kerumunan serta beberapa polisi yang turun lapangan. Amren berikan penjelasan segala macamnya. Meski dipikirannya kini diisi dengan wajah Alaia. * Merutuki musibah bertubi-tubi yang terjadi, Amren tahu bukan seharusnya dia mendumal dalam hati. Seharusnya Amren sadar, kalau dia terselamatkan untuk tidak berbuat hal buruk lainnya jika saja tidak ada kejadian ini. "Ruangan Alaia Pelita Keagra." Amren langsung bertanya pada resepsionis dan segera berjalan cepat menuju nama kamar yang disebut. Jantungnya berdebar semakin keras, antara penasaran atau malah takut dengan keadaan Ley yang akan didapatinya. Ini semua memiliki andil dari sikap Amren yang ingin lepas tangan menghadapi Ley. Sekarang, yang pantas dirutuki tentu saja diri Amren sendiri. "Ley––" "Ooommm Reeennn, huhuhu." Amren melepas napas lega. Betul-betul lega. Mendapati Ley yang masih bisa menangis dan meraung dengan suara keras sangat Amren syukuri. Dalam pelukan Amren, tangisan Ley agak teredam suaranya. Untung saja Mbok Haryu paham untuk tidak memesankan kamar kelas biasa, karena Amren jamin, semua orang yang dirawat di sana bisa saja memprotes. Atas nama Amren, rumah sakit memberikan segalanya dengan uang yang bisa cair begitu cepat. "Tangan kamu sakit?" tanya Amren. Perlahan Amren ingin menyentuh lengan yang sempat terkena luka bakar milik Ley, tapi tidak terealisasikan karena gadis itu sudah memekik lebih dulu dalam pelukan Amren. "Kenapa? Apa yang sakit?" panik Amren. Ley mendongak, wajahnya sudah tidak karuan walau masih menggemaskan. "Jangan dipegang, Om Reeeen. Ley... Ley... sakit." Amren tidak suka mendengar tangisan Ley. Dia eratkan pelukan pada gadis itu. Prinsipnya sudah mulai goyah, dia mengubah haluan dengan mengizinkan Ley masuk dan mempengaruhinya. Alaia Pelita Keagra. Dia akan menerima bagian dimana Ley memang menyukainya sebagai lawan jenis. Amren akan menerima itu. "Sssttt. Maaf, oke? Maaf." Amren dengan berani mengecup kening Ley. Dia hantarkan ketenangan pada Ley melalui sebuah kecupan, Amren akan membuat keputusan baru. Alaia Pelita Keagra. Nama itu yang terus Amren derukan dalam hati. * Perawatan intensif terus Amren tujukan untuk Ley. Beberapa kali, Amren mendapati gadis itu menjaga jarak ketika rasa sakit tidak menyerang begitu terasa. Walau seringnya Ley lupa kalau sedang belajar sesuatu. "Mbok Haryu bilang apa saja ke kamu, selama saya enggak di rumah?" Pada akhirnya Amren tidak tahan untuk bertanya. Dia penasaran, sekaligus ingin kejelasan apa saja yang berhasil dilakukan oleh pembantunya tersebut. Mengigat mbok Haryu, Amren jadi sempat terpikirkan mengeluarkan biaya untuk kerusakan rumahnya yang mulai diganti dan diurus mulai hari ini. Amren menyuruh tukang yang handal agar cepat selesai. Sembari menyuapi Ley buah apel yang sudah dipotong dadu, Amren menunggu dengan sabar akan jawaban Ley. "Uhm... enggak bilang apa-apa." "Ley...." Amren menekan suaranya lebih dalam. "Iya, iya." Ley memang tidak bisa disikapi lebih keras. Dia takut. "Mbok Haryu bilang, Ley enggak boleh deket-deket sama Om. Manggilnya juga harus berubah. Soalnya, Ley sudah besar. Mbok juga bilang, om enggak mau tinggal di rumah karena Ley kayak anak TK." Anak TK, ya? Kalau dipikirkan kembali, sudah tentu Amren menyetujui opini mbok Haryu yang mendefinisikan Ley seperti anak TK. Namun, Amren tahu bukan waktunya menghakimi. Amren harus segera bergerak untuk menjelaskan pada Ley apa yang harus gadis itu ubah secara perlahan. "Kamu ngerasa seperti anak TK, enggak?" Diangguki oleh Ley, gadis itu juga melanjutkan, "Tapi Ley memang begini, Om Ren. Temen-temen Ley enggak pernah protes. Mereka malah ngasih tahu Ley kalau Ley pengin tahu" "Mereka membodohi kamu, Ley." Amren sigap mengambil segelas air saat Ley tersedak. "Kok gitu, Om Ren?" "Iya. Kamu dibodohi sama mereka, karena kamu terlalu polos. Menyatakan perasaan itu enggak harus menyerahkan keperawanan kamu. Selama sekolah, kamu pasti belajar, hubungan badan itu bisa menyebabkan kamu hamil. Apa kamu enggak takut?" Ley diam. Tidak ada yang paham dengan apa yang dipikirkan oleh gadis itu. Menurut Amren, gadis itu menyetujui ucapannya dengan diam. Tidak ada yang perlu dia cemaskan jika mulai sekarang Ley dapat diatur sedemikian rupa. "Kamu betah di rumah sakit?" Ley menggeleng. "Ley enggak suka baunya. Aneh. Ley juga enggak suka lihat dokter-dokternya, semuanya... bikin Ley inget mama." Ah. Amren kembali mengingat mengenai Hafriz yang benar-benar lost contact. Perusahaannya yang ditinggal dan dialihkan tanggung jawab pada asisten Hafriz sendiri pasti sedang kelimpungan menghadapi orang-orang yang datang mencari pria itu. "Papa kenapa belum pulang, ya, Om?" Amren menghela napas. "Papa kamu belum bisa dihubungi juga. Jadi, saya enggak tahu dia pulang kapan." "Ley... enggak suka papa yang mau jemput mama." Haruskah Amren mengorek informasi dari Alaia sekarang? "Kenapa? Memangnya kamu enggak rindu mama kamu, Ley?" Bibir gadis itu mengerucut. Ada keraguan yang Amren dapati dari mata dan hembus napas gadis itu. "Ley kangen mama, tapi Ley enggak suka kalau mama ada dan cuma marah-marah di rumah. Mama juga suka jahat sama Ley kalau papa enggak ada, padahal... Ley enggak bikin masalah apa-apa." Amren melihat bulir bening dari mata cantik Ley. Sepertinya, kenangan Ley tentang ibunya tidak seindah yang Amren rasakan sejak kecil. "Hei," ucap Amren seraya menggenggam tangan Ley yang baik-baik saja. "Saya ada di sini, untuk kamu. Kenapa malah bersedih seperti itu?" Ley menggeleng lemah. "Om Ren enggak suka sama Ley. Buktinya, Om Ren enggak mau tinggal bareng Ley. Om Ren pasti mau marahin Ley kayak mama jahat sama Ley dulu––" "Ley! Jangan bicara sembarangan!" Kini Amren sadar jika Ley terlalu rapuh, dan gadis itu juga selalu menunjukkan sisi rapuhnya. Itu alasannya, mengapa Hafriz tidak sanggup bersikap keras pada putrinya. Sebab ada hal mengganjal yang terjadi antara Ley dan ibu kandungnya sendiri.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD