Sebelum mengenal apa itu cinta, Amren sudah lebih dulu mengenal wanita. Sebelum dia memutuskan menikah muda, dia sudah lebih dulu jatuh cinta. Namun, setelah merasakan bahagia Amren mulai memahami derita. Bahwa menyatukan perbedaan bukan hal yang mudah. Apalagi dengan situasi yang serba menuntut.
Mantan istrinya, Shasa. Sudah lama tidak berjumpa lagi dengan Amren. Kontak mereka putus, setelah sidang perceraian resmi memutuskan tali pernikahan keduanya. Amren merasa begitu gagal, malu, dan kecewa pada dirinya sendiri. Di usia muda sudah menyandang status duda.
Bertemu dengan Shasa jelas berbeda dengan pertama kali bertemu Ley. Usia Amren yang kini tidak lagi muda, sedangkan Ley terlalu dini untuk dipandang seperti wanita oleh Amren. Yang Amren lakukan saat ini adalah berusaha mengurus Ley dan tidak melenceng dari prinsipnya sendiri. Amren akan menjaga Ley seperti seorang ayah pada putrinya.
"Jangan pakai baju yang tipis begitu kalau tidur, Ley. Kalau kamu enggak bisa tidur tanpa baju itu jangan minta saya nemenin."
Amren menyuruh gadis itu mencatat setiap hal yang Amren kehendaki dan tidak. Semuanya dijelaskan dan Ley mencatat begitu detil seperti sedang mendapat teori kimia. Sedikit saja terlewati, maka takdir nilai yang dinanti tidak bisa dihindari. Tidak bisa dihindari betapa buruknya nilai akhir.
Setiap minggu, Amren membuat aturan baru untuk Ley. Semakin maju perkembangannya, meski Ley belum bisa melepas kebiasaan seperti anak-anak.
"Tidur sendiri. Kamu harus mulai berani tidur sendiri, Ley. Ada batasan antara perempuan dan laki-laki. Kalau papa kamu nggak pernah mengajarkan, saya ajarkan kamu mulai sekarang. Paham?!"
Kalau hanya ucapan yang Ley catat tanpa dibiasakan, sudah pasti terlupakan. Jadilah tugas Amren bertambah seiring waktu untuk meluruskan pemahaman Ley. Perlahan.
Ini, itu, di sini, di situ... semua Amren perbaiki. Sesuai pemahaman Ley. Balik lagi, pelan-pelan. Sebab Amren mulai memahami bahwa Ley tidak bisa diatur dengan cara keras. Tegasnya Amren ada nada lembut yang membuat Ley nyaman dan tidak takut untuk Amren atur.
Seiring waktu juga, Ley mulai memanggil Amren dengan nama 'Reren', tanpa embel-embel 'Om'. Meski awalnya bingung, tapi lama-lama Amren juga terbiasa.
Sampai satu hari, pertanyaan dari Ley yang sama sekali tidak Amren duga akhirnya datang.
"Reren," panggil Ley. Kepala gadis itu menyembul dari balik pintu. Meminta persetujuan Amren untuk masuk.
"Kenapa, Ley?"
Ley tidak langsung mengutarakan. Amren bisa melihat kalau kedua tangan Ley menggenggam sesuatu dibalik tubuhnya. Entah benda apa yang disembunyikan Ley.
"Reren... Ley boleh tanya?"
Agak aneh, meski begitu Amren tetap menjawab melalui anggukan.
"Apa yang mau kamu tanyain, Ley?"
Ley menyodorkan sebuah foto yang dibingkai rapi berukuran sedang. Dari sorot mata Amren, apa yang Ley bawa sangat tidak masuk akal. Rasa tidak percaya itu hadir.
"Kamu dapat dari mana... foto ini, Ley?"
"Kamar, Ley." Dengan nada polos seakan tidak mengerti apa-apa, Ley menjawab.
Debaran jantung Amren terasa begitu cepat.
"Kamu ambil dari mana?!" tekan Amren.
"Kamar, Ley, Rereeeeen. Ih!" kesal Ley. "Reren enggak denger, ya?"
Amren hanya bisa menarik dan menghembuskan napas menahan rasa kesal. Kepolosan Ley menjadi hal yang mengesalkan, walau dari awal Amren sudah merasa sangat kesal dengan seenaknya Hafriz menitipkan gadis manja nan super polos padanya.
"Reren?"
"Keluar, Ley!" ucap Amren.
"Tapi Reren belum jaw—"
"KELUAR!"
*
Hanya mencoba bertanya, dan ini yang Ley dapat. Sungguh Amren semakin membuat Ley takut dengan sikapnya yang terlalu tegas itu. Bahkan bukan lagi tegas, Amren terlihat begitu marah. Ley tidak suka dibentak, tidak suka dijadikan pelampiasan akan kemarahan. Kenangan itu muncul beberapa saat begitu mendapati wajah mengeras Amren.
Napasnya memburu dan tidak mau berada di dekat Amren. Ley berlari menuju kamarnya yang perlahan mulai membuatnya betah tidur sendiri. Dia tidak bisa menghentikan tangis begitu pintu tertutup rapat. Terlalu menakutkan. Ley menjadi melihat kembali kenangan masa lalu yang membuatnya enggan menjadi sosok dewasa. Membuatnya keras diri bahwa dia hanya anak-anak yang perlu dilindungi dan disayangi, bukan pelampiasan amarah.
"Ley benci... Ley benciiii!" gumam gadis itu.
*
Amren tidak bisa mengontrol dirinya sendiri ketika melihat foto yang menampilkan pose dirinya bersama sang mantan istri. Tidak menyangka kalau Ley akan gegabah mencari-cari bukti kisah lalu Amren. Bodohnya setelah emosi mereda dia tersadar kalau kemungkinan kecil sekali Ley berniat mencari-cari fakta kisah lalu Amren.
"s**t!" maki Amren pada dirinya sendiri.
Sudah tahu Ley sulit dibentuk menjadi pribadi dewasa, malah membuat sesi sulit dengan membentak gadis itu. Baru dia menelaah kalau Ley justru ingin tahu apa maksud dari isi foto tersebut. Kenapa Amren harus semarah itu?
Pelan, dia keluar dari ruang kerja. Menuju kamar Ley yang dulunya adalah kamarnya bersama mantan istri. Jika masih setengah-setengah move on seperti ini, Amren yakin hidupnya pasti tidak akan maju. Tanpa istri, Amren memang lebih giat bekerja, tapi hatinya lama-lama bisa saja menjadi seperti robot-hilang, habis, tak tersisa-kalau tidak ada pemicu seperti Ley.
Ley? Kenapa di otak gue jadi nyebut tuh anak manja, sih?
Masih berpikir keras apakah dirinya harus segera mengetuk atau menunggu esok pagi saja ketika memulai aktivitas lagi untuk membuka pembicaraan. Labilnya Amren kini seperti membuka peluang kemungkinan pendapat lain. Ya, apalagi kalau bukan mengenai perasaannya.
Fokus, Ren! Dia cuma anak mantan bos lo yang nggak sengaja dititip. Khusyuk merapal kalimat menenangkan diri sampai memejamkan mata, menarik napas, memukul dadanya sendiri, membuat pria itu tidak sadar kalau mbok Haryu sudah berdiri memandang dengan heran kelakuan majikannya.
Mbok Haryu hendak membuka mulut, tapi langsung terbungkam lagi ketika Amren memekik terkejut dan hampir membuat segelas s**u tumpah.
"Mbok ngapain?!"
"Mau nganterin s**u buat non Ley," jawab mbok Haryu.
"s**u? Sejak kapan mbok Haryu masih di rumah saya dan bikinin s**u buat Ley?"
Mbok Haryu mendecak. "Bapak lupa, ya? Saya kan yang selalu disuruh buat jagain non Ley selama bapak enggak di rumah. Setiap sebelum tidur non Ley harus minum s**u dulu biar tidurnya nyenyak."
Amren tidak paham. Bagaimana bisa dia yang baru mengungsi tiga hari dan sudah kembali ke rumah baru menyadari kebiasaan baru Ley? Apa karena terlalu fokus mendorong Ley berubah menjadi lebih dewasa Amren sampai tidak memikirkan hal lainnya? Diam-diam malah mbok Haryu yang lebih perhatian dan paham kebiasaan Ley.
Berdeham pelan, Amren bertanya, "Mbok mau masuk ke dalam?"
"Yaiyalah, Pak. Masa saya mau diam saja, kapan non Ley minum susunya kalau gitu."
Amren sudah memikirkan siasat baru selain datang tanpa alasan apapun untuk meminta maaf pada Ley.
"Biar saya saja mbok yang ngasih susunya."
*
Pemandangan yang pertama kali Amren tangkap adalah Ley yang meringkuk di sudut ranjang. Dari gemetar tubuh Ley, insting Amren mengatakan jika dia sudah begitu keterlaluan pada Ley. Meskipun Amren tidak menyangka, hanya dengan membentak gadis itu efeknya akan parah begini.
"Ley," panggil Amren.
Meletakkan gelas s**u, Amren duduk mendekati Ley. Terpampang jelas jika Ley takut untuk berdekatan dengan Amren. Batin Amren terus memunculkan spekulasi, ini yang dibilang Yahya? Apa Ley harus diperiksa dokter jiwa? Berbagai pertanyaan melintas di kepala Amren. Karena sikap aneh yang ditunjukkan Ley benar-benar semakin parah. Sudah pasti semua ini bukan hanya karena Amren yang membentak gadis tersebut, tetapi juga masalah keluarga. Kalau bukan keluarga siapa lagi? Ley bukan murid yang pandai bergaul, Amren tahu teman-teman Ley hanya membodohi gadis itu saja.
"Ley... jangan nangis sambil merem gitu. Saya takut kamu seperti waktu itu." Amren sudah cemas. Sangat cemas. Melihat Ley yang tidak menanggapi malah semakin kuat menangis dan tubuhnya tidak berhenti bergemetar.
Memberanikan diri mengusap kepala Ley, lalu melontarkan kalimat penenang. Amren juga berkali-kali meminta maaf agar gadis itu berhenti menangis.
"Reren jahaaat... Ley benci. Reren bikin takut Ley...." Alaia terus menggumamkan kalimat tersebut, membuat Amren kebingungan, tapi tidak melepas Ley sampai gadis itu tenang.
"Maaf, Ley. Maaf, ya. Saya nggak bermaksud bikin kamu takut. Maaf."
Amren semakin terdorong untuk ikut berbaring di belakang Ley, memeluk gadis itu, dan mencium puncak kepalanya. Menurut Amren itu bisa menenangkan Ley.
Masih belum berhenti menangis sepenuhnya, Amren membawa gadis itu untuk berbalik dan dipeluknya erat. Otomatis saja Ley mengeratkan cengkeramannya pada pakaian yang dikenakan Amren. Bahkan Amren kadang merasakan Ley seperti mencakarnya karena cengkeraman yang terlalu kuat itu. Bagi Amren hal itu sungguh tidak wajar.
"Ley..."
Gadis itu terus merengkuhkan diri pada Amren, tidak peduli kalau pria yang awalnya memberikan segala sentuhan yang begitu dekat tersebut hanya ingin menenangkan.
Keduanya dalam posisi yang sama selama kurang lebih dua puluh menit. Amren diam saja mengikuti kemauan Ley yang perlahan terlelap karena lelah menangis. Meski begitu, cengkeraman Ley masih menguat. Gadis itu takut ditinggal Amren.
Mengendurkan pelukan, Amren mengamati wajah Ley yang begitu cantik dan polos. Ketika Ley tertidur ada sisi lain yang tidak bisa Amren jelaskan. Spontan saja pria itu mengelus pipi Ley, mengecup kening Ley berkali-kali.
Seperti tidak sadar dengan ucapannya sendiri sebelum ini. Apakah ada seorang ayah yang gemas ingin menciumi wajah anaknya yang sudah gadis? Mungkin iya, tapi tidak akan segemas seperti Amren melakukannya. Sebab yang Amren lakukan adalah insting prianya.
Tanpa sadar, Amren mulai membandingkan kecantikan mantan istrinya dan Ley. Memiliki kadar yang berbeda, Ley memang lebih menawan, Amren harus akui itu. Yang membedakan, Ley sangatlah polos hingga Amren enggan berhadapan dengan gadis itu. Berbeda jika mantan istrinya, sudah pasti wanita itu handal dalam bergaul dan paham berbagai macam kehidupan di luaran sana. Ya, mana ada perceraian jika seandainya mantan istri Amren mau untuk diatur.
Dipikir lagi, Amren menyukai sifat Ley yang begitu penurut. Bahkan Amren berpisah tiga hari saja terlalu mencemaskan Ley... apa itu artinya dia memiliki jenis perasaan antara pria dan wanita kepada Ley?
*
Ada perasaan gamang dan senang dalam satu waktu. Yaitu ketika Amren menyadari dirinya tidak tertidur di kamar sendiri, melainkan tidur di kamar yang Ley gunakan dalam keadaan memeluk gadis itu. Seperti merasakan kisah cinta klasik, dimana rasa canggung itu menyeruak begitu keduanya sama-sama membuka mata dan mendapati diri dalam posisi yang biasanya jarang—hampir tidak pernah—terjadi.
"Reren ngapain tidur di sini?" Celetuk Ley. "Reren lagi marah, 'kan? Ngapain tidur sama Ley?"
Ucapan gadis itu menyadarkan Amren bahwa belum ada penjelasan apapun yang bisa Ley dapatkan untuk memaafkan Amren.
"Kamu belum maafin saya, Ley? Semalam, kan saya sudah minta maaf."
"Reren jahat!" Ucap Ley yang jauh dari pembahasan.
"Oke. Maafin saya, Ley. Saya marah karena saya pikir kamu sengaja nyari foto itu." Amren menatap Ley yang berjarak sangat dekat dengannya. "Kamu sengaja nyari foto itu, Ley?" Tanya Amren ragu-ragu.
"Orang Ley enggak sengaja nemu, kok!" Balas gadis itu. "Ley mau ngasih tahu ke Reren, tapi malah diomelin. Ley juga pengen tahu itu foto apa. Tapi Reren marah-marah. Bikin Ley takut aja," jelas Ley.
"Saya enggak bermaksud bikin kamu takut sama saya, Ley. Saya marah karena—"
"Reren jangan marah lagi." Ley memotong ucapan Amren. "Pokoknya Reren enggak boleh marah-marah lagi. Ley takut."
Tentu saja Ley takut, karena terlalu sering dimanja oleh ayahnya. Dalam benak Amren, banyak spekulasi yang berkeliaran. Kalau tidak dicari tahu dia yang akan semakin kebingungan nanti. Maka Amren putuskan akan mengerahkan lebih banyak orang terpercaya untuk mencari tahu latar belakang keluarga Alaia—Ley.
*
Mbok Haryu hanya melirik sekilas pada majikannya yang turun dengan pakaian rapi. Rasa penasaran mbok Haryu sebagai ibu-ibu tentu saja tidak bisa dilepas. Melihat gelagat Amren yang begitu tenang dari arah kamar Ley memunculkan kecurigaan mbok Haryu.
"Mau anterin sekolah non Ley juga, Pak?"
Amren menyesap kopinya lebih dulu. "Iya."
"Pak Tamil sudah siap ngantar padahal, Pak."
Amren memasang wajah tak suka. Keputusannya untuk mengantar Ley adalah urusan dirinya, bukan sudah terlanjur atau tidaknya sopir yang Amren pekerjakan siap mengantar Ley.
"Memangnya pak Tamil yang bayar kamu, mbok? Kayaknya sinis sekali saya mau antar Ley."
"Bukannya begitu, Pak. Biasanya, kan bapak pasti malas ngantar non Ley. Seringnya nyuruh saya bilang pak Tamil buat nyiapin mobil nganterin non Ley yang manja. Bapak, kan nggak suka ngurusin non Ley. Tumben aja tuan mau anterin non Ley—"
Ucapan menyerocos mbok Haryu terhenti karena suara cukup keras benda jatuh. Amren tentu saja ikut menoleh ke arah dari mana sumber suara itu berasal.
Mbok Haryu dan Amren sontak saja melotot terkejut dengan Ley yang berusaha berdiri karena lututnya membentur lantai. Yang terjatuh adalah Ley. Begitu kembali berdiri, Ley melirik sekilas ke arah meja makan berada.
Amren menangkap pertanda bahaya dari wajah memerah Ley juga sorot mata gadis itu.
"Ley..."
Yang dipanggil oleh Amren langsung berlari keluar dan menghindar. Amren memaki pelan lalu memandang tajam mbok Haryu.
"Lain kali jangan sembarangan mbok kalau ngomong!"
Buru-buru Amren mengejar Ley yang sudah pasti mendengar ucapan mbok Haryu. Gadis itu pasti berpikir yang macam-macam, apalagi urusan kemarin malam belum sepenuhnya selesai.
Amren merasa sangat marah karena ada saja cerita drama yang terjadi antara dirinya dan Ley. Kenapa juga dia harus mengejar Ley yang marah? Kenapa juga Amren merasa sesak karena wajah sedih Ley? Kenapa?
"Ley! Ley!"
Gadis itu sudah masuk mobil, menyuruh pak Tamil mengemudi cepat. Namun, Amren melarang keras dengan menyerukan nama pak Tamil dan menyuruh sopir itu keluar dari mobil. Ley juga tidak mau kalah, dia ikut berteriak agar pak Tamil menuruti keinginannya.
Amren dengan sigap menarik lengan pak Tamil agar keluar dari kursi kemudi. Amren menutup pintu depan dan membuka pintu belakang dimana Ley berada. Mendorong gadis itu meski mendapat penolakan. Lalu menyudutkan Ley yang sudah menangis.
Memejamkan mata perlahan, Amren juga menarik napas panjang. Dia tidak mau membujuk Ley dengan kata-kata, dia lelah meminta maaf. Jadi, sebelum Ley tersadar Amren menarik dagu gadis itu dan memberikan lumatan pada bibir Ley.
Ini gila. Tapi jelas menyenangkan bagi keduanya yang kebingungan mencari rasa yang ada.
*
Ley kebingungan. Dia tidak tahu sedang berada dalam situasi seperti apa. Melihat wajah Amren yang begitu berbeda dari biasanya, membuat Ley tidak bisa berpikir. Waktu itu, Ley yang mencium Amren bukan sebaliknya. Ternyata rasanya malah lebih mengejutkan serta membuat degup jantungnya lebih cepat. Ley merasa sakit dibagian d**a karena terlalu merasakan campur aduk.
"Re—Ren?" lirihnya.
Begitu ciuman terlepas, Ley tidak mampu berkata ceriwis lagi. Bahkan menatap Amren saja dia merasa canggung. Itu ciuman yang sangat... berbeda dari bayangannya. Ley hanya tahu ciuman yang menempelkan bibir satu sama lain, bukan ciuman yang sampai memasukkan lidah seperti yang Amren lakukan tadi.
"Kenapa?" sahut Amren.
"Itu... itu tadi... apa?"
Amren tidak menjawab, justru mengamati wajah Ley. Shock, pastinya. Anak gadis seperti Ley mana mungkin tidak terkejut. Namun, sekarang bukan waktunya Amren menjelaskan mengenai adegan ciuman mereka. Sekarang saatnya menjelaskan mengenai ucapan yang tidak sengaja Ley dengar dari mbok Haryu.
"Ley dengar. Saya mau ngomong serius."
"Tapi Ley mau sekolah," balas gadis itu dengan polosnya.
"Iya, saya tahu—"
"Nanti Ley ketinggalan materi akhir buat ujian Nasional."
"Ley..."
"Kalau Reren ngajak ngomong serius sekarang, nanti Ley ketinggalan pelajaran, terus Ley enggak lulus gimana...?"
"Ley..."
"Pokoknya Ley nggak mau gara-gara Reren jadinya kacau. Ley masih marah sama Reren..."
"Alaia!"
Ley tersentak. Sisi menakutkan Amren hadir lagi. Meski tak separah yang kemarin, Ley jelas tidak suka dengan Amren yang suka membentak dan marah.
Ley berniat keluar dari mobil. Mode merajuknya kembali muncul. Bukan Amren namanya jika membiarkan Ley keluar dari mobil dengan begitu mudahnya, terjadilah adegan yang membuat pak Tamil penasaran apa yang dilakukan majikannya dan gadis SMA di dalam mobil tersebut. Bahkan ada pergerakan yang terlihat dari mobil.
"Kok mobilnya bergoyang?" gumam pak Tamil.
Tentu saja kedua orang di dalamnya tidak peduli. Terlebih Ley yang terlalu polos, mana peduli dengan tatapan aneh pak Tamil di luar mobil.
"Lepasin Ley! Ley enggak mau sama Reren! Reren galak!"
"Kalau kamu enggak bisa diam saya akan cium kamu kayak tadi lagi! Atau mau saya cium lebih ganas lagi, Ley?"
Karena bagi Ley ciuman yang Amren berikan tadi bukanlah ciuman yang wajar, menurutnya, Ley mau tidak mau menuruti Amren.
"Sudah? Saya bisa bicara sekarang?"
Ley tidak membalas, membiarkan saja apa yang Amren ingin katakan.
"Ley. Saya duda. Saya pernah punya istri, dan biasanya istri saya yang mengurusi saya ketika kami menikah. Sewaktu saya kenal kamu, sudah pasti saya harus ngurus dan jaga kamu. Kamu adalah gadis yang beda dari kebanyakan gadis SMA lainnya. Saya enggak tahu kenapa kamu melakukan sikap seperti anak-anak begini, tapi yang pasti saya—awalnya saya ngerasa kamu itu membebani saya, Ley. Kamu enggak bisa melakukan apapun sendiri, selalu minta orang lain yang melakukan. Saya juga marah dengan hal itu, kamu... kamu gadis super manja."
"Ya udah suruh papa Ley jemput sekarang! Reren nggak suka sama Ley, kan?! Suruh papa Ley jemput sekarang!"
"Dengar! Bukan gitu caranya menyelesaikan masalah! Ley, saya sudah ajari kamu sedikit demi sedikit supaya lebih dewasa. Jangan suka langsung kabur gitu kalau punya masalah."
Ley mencebik. Sebenarnya gadis itu paham apa yang Amren nasihatkan. Hanya saja Ley belum mau keluar dari bayang-bayang masa kecilnya. Ketika dia berusaha dewasa dan mengerti disekelilingnya, yang ada malah perlakuan kasar dari ibunya.
Ya. Ibunya yang gila. Jika Ley berubah menjadi dewasa, Ley takut akan menjadi seperti ibunya. Apakah Ley bisa menceritakan itu pada Amren?
"Terus, tentang foto yang kamu bawa kemar—"
"Anterin Ley ke sekolah! Ley udah telat, Rereeeeen!"
Jadilah cerita panjang itu terpotong karena memang Ley harus segera berangkat ke sekolah.
Sial. Susah banget ngomong serius sama anak sekolah! Amren tanpa sadar mengeluh. Padahal dia sudah niatkan untuk merawat Ley setulus mungkin, karena... karena diam-diam Amren ingin Ley tidak salah paham tapi juga ingin Ley mengerti sesuatu. Sesuatu yang sebenarnya mereka berdua ingini.