Bagian 5 : Duda

2728 Words
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Ley tidak mau menoleh ke arah Amren. Bahkan bibirnya masih mengerucut tanda merajuk. Amren yang disuguhi hal seperti itu hanya bisa mendesah lelah. Ternyata jujur mengenai banyak hal tidak memengaruhi Ley untuk cepat memberi maaf, atau memang Ley sedang tidak merasa baik karena merasa disalahkan dengan sikap kekanakannya. "Ley..." Amren menahan tangan Ley sebelum membuka pintu mobil. Gadis itu hanya menoleh kaget saja pada genggaman Amren yang tiba-tiba. "Pulang sekolah saya jemput, ya?" "Nggak usah! Ley pulangnya nggak tentu sekarang, sudah kelas dua belas, jadi beda kayak dulu." Amren tersenyum, akhirnya si Ley mau bicara lebih panjang padanya. Kalau begini Amren tidak terlalu canggung. "Enggak apa-apa, saya bisa jemput kamu. Nanti hubungi aja—" "Ley enggak bawa hape!" sahut Ley kencang. "Lagian... Ley enggak punya hape, Reren." Ah, iya. Amren bahkan lupa memberikan ponsel pada anak itu. Terlalu banyak pertimbangan jika memberikan Ley ponsel. Bisa saja Ley nekat mencari tahu keberadaan papanya dengan ponsel tersebut. Zaman sudah canggih, tidak mungkin Ley melupakan nomor telepon papanya atau surel untuk berkomunikasi dengan papanya. Amren tidak masalah kalau Hafriz tidak menghilang begitu saja tanpa jejak seolah dia enggan mengurus putrinya lagi, tapi bagimana dengan Ley? Apa gadis itu tidak akan menangis kalau papanya sama sekali tidak bisa dihubungi? "Ya udah, nanti pak Tamil nunggu di sini. Kita nanti keluar cari makan dan beli hape buat kamu." Jadi, Amren sudah memutuskan. Memberikan fasilitas alat komunikasi pada Ley dia juga harus siap jika Ley bertanya mengenai kenapa Hafriz tidak bisa dihubungi. * Seperti yang Amren ucapkan tadi pagi sebelum Ley turun dari mobil, bahwa setelah Ley dijemput pak Tamil, Amren akan mengajak Ley makan dan membeli ponsel. Sengaja memang Amren tidak menyuruh Ley pulang lebih dulu tapi malah membawa gadis itu ke kantornya—yang berujung diperhatikan detil oleh para karyawan—untuk menunggu sebentar dan setelahnya Amren bisa membawa Ley ke mall. "Makan apa kita?" "Terserah, Reren." Meski terlampau polos, Ley tetaplah perempuan, dan perempuan mempunyai jurus sendiri ketika ditanya dengan menjawab terserah hanya perempuan yang seperti itu, kalau ada laki-laki yang menjawab terserah maka dia layaknya perempuan. "Kamu suka menu apa, Ley? Atau kepingin makan apa?" "Hmmm..." Amren menepuk jidat, dia salah bertanya. Kalau memberikan Ley kesempatan berpikir maka akan semakin menghabiskan waktu. "Kita makan masakan khas Indonesia aja, ya. Ada di lantai atas. Langganan saya dulu sama mantan istri." Ley membalas, "Enak?" "Hm? Rasanya enak, kok, apalagi—" "Maksud Ley enak makan sama mantan istri?" "Hah?" Amren tidak tahu harus menimpali seperti apa. Ley tiba-tiba saja menunjukkan sisi posesif. Amren bisa melihat itu, karena ekspresi wajah Ley sudah beralih keruh. Menghela napas perlahan, Amren menyiapkan jawabannya. "Ley. Waktu itu kami belum pisah, jadi bukan mantan istri. Ya... kalau kamu tanya enak atau enggak makan sama dia... ya... namanya juga makan bareng istri sendiri... ya..." "Kalau gitu jangan makan di sana!" seru Ley. "Ley enggak mau makan di sana!" "Tadi... kata kamu terserah?" "Itu tadi! Sekarang Ley mau makan... hmm... itu! Pizza." Amren tahu gadis itu tidak benar-benar ingin makan pizza, tapi hanya asal menunjuk yang terdekat darinya saja. Walau begitu, senyum dibibir Amren terbit melihat tingkah Ley yang menggemaskan. Jangan mulai lagi, Ren! Lagi, batinnya berperang sendiri. * "Pelan-pelan aja makannya." Amren melihat betapa rakusnya Ley melahap piza ukuran besar sedari tadi. Bahkan cara makan Ley bisa disebut ajang balas dendam ketimbang menikmatinya. Lucu saja rasanya, ada gadis yang sebentar lagi baru menginjak usia tujuh belasnya dan bertingkah mencemburui Amren seperti ini. "Ley... saya bilang pelan-pelan." "Terserah Ley, dong!" protes gadis itu. Entah kenapa dari kemarin sampai hari ini rasa kesal Ley malah makin bertambah pada Amren. Mereka berdua seperti tidak pernah akur secara benar. Kalaupun tidak begini, Amren merasa mereka memang tidak pernah benar-benar akur. Walau tidak selalu bertengkar hebat, sih. Namun, anehnya mereka malah semakin dekat dengan banyaknya ketidakcocokan tersebut. "Nanti keselek, tenggorokan kamu sakit, nanti ngeluh–" "Terus Ley nyusahin Reren. Iya, kan!?" "Ley?" Diam-diam Amren memandangi sekitar. Tidak mungkin mereka akan bertengkar di tempat umum seperti ini. "Kan bener! Reren tuh memang enggak suka sama Ley!" Semakin dibiarkan, Ley akan semakin menarik banyak perhatian dari orang-orang di sana. Selain Amren yang malu, tanpa sadar itu akan memalukan bagi diri Ley sendiri. "Ayo, pulang. Makanannya pesan yang bungkus saja. Kamu masih lapar, kan? Piza enggak akan bikin kamu kenyang, cari nasi aja." Amren membiarkan Ley yang cemberut dan berjalan lebih dulu keluar. Tidak memedulikan Amren yang meminta sisa piza untuk dibungkus. "Ley!" Entah kenapa semakin hari Ley semakin membangkang. Apa karena banyak ucapan Amren yang menyinggung dan keterlaluan? Atau mbok Haryu memberi masukan yang salah selama Amren tidak di rumah? Pusing kepala Amren. Bukan hanya tentang Ley, pekerjaan yang menuntutnya untuk profesional menjadi pemimpin, dan tentu saja kabar Hafriz yang tidak kunjung kejelasannya. "Anaknya ngambek, ya, Pak?" bagian kasir bertanya sembari memberikan pesanan dan menerima uang. "Hah?" "Itu sampai jalan ninggalin bapak begitu. Ngambeknya parah, ya, Pak." Amren hanya memberi senyuman canggung. Anak? Kenapa dia merasa tersinggung bukannya tersanjung. Amren merasa begitu tua sampai orang lain memang mengira Ley sebagai anaknya. Namun, itu adalah yang benar. Walau usianya belum setua Hafriz, tapi Ley memang lebih pantas menjadi anaknya ketimbang pasangannya. Terlintas dalam benak Amren untuk menjadikan Ley pasangan? * Tidak sia-sia Amren berlari untuk segera menuju basement. Ley menunggu di dekat mobilnya terparkir. Sudah berapa lama? Ley pasti kepanasan selama menunggu di sana. Karena basement jelas panas. "Kenapa ngambek, sih? Saya ngelakuin yang salah lagi?" Ley bersedekap, membiarkan Amren bicara. "Ley. Saya enggak bermaksud menyakiti kamu dengan ucapan saya. Jujur, saya enggak bermaksud menyinggung kamu kalau kamu itu menyusahkan. Saya cuma khawatir, karena saya enggak terbiasa mengurus anak gadis seperti kamu. Kalau nanti salah penanganan gimana?" Karena ekspresi Ley yang sudah terlihat lebih tenang, Amren mengusap rambut gadis itu dengan sayang. Kantong piza ditangan kirinya mungkin sudah membuat bentuk makanan di dalamnya tidak karuan. "Ley... Ley takut Reren benci Ley. Jangan benci Ley, Reren." Bibir gadis itu bergetar. Amren tidak ingin membiarkan orang lain melihat airmata Ley, dengan gerakan cepat Amren merengkuh tubuh Ley dan mendekapnya erat. "Ssshhh... saya enggak membenci kamu, Ley. Enggak akan." Ley menangis. Mengeratkan pegangan di kemeja Amren. "Jangan benci Ley... jangan benci Ley kayak mama. Jangan..." "Ley... tenang, oke? Tenang." Amren tidak bisa berhenti memikirkan ini. Semakin hari tingkah Ley yang menyebut mama malah semakin aneh. Apa yang terjadi dibalik ketakutan Ley pada mamanya, dan segala perilaku Amren yang berhubungan dengan itu diam-diam direkam kuat oleh dirinya sendiri. Amren membutuhkan banyak informasi untuk itu. Karena menjaga Ley, mulai terasa candu baginya. * Ley terlelap. Setelah puas menangis di basement mall dalam pelukan Amren, gadis itu mungkin merasa kelelahan sampai tertidur selang beberapa menit Amren mengendarai mobil. Melihat Ley yang ringkih sekali, menggugah Amren untuk selalu siap siaga untuk gadis itu. Memiliki Ley, tidak seperti memiliki Shasa dahulu. Shasa bukan perempuan yang membutuhkan bantuannya dalam segala hal, Shasa bahkan tidak suka jika Amren memberikan perhatian berlebih. Semenjak Ley datang, jelas saja kebiasaan itu berubah. Amren bisa menuangkan perhatian serta segala bentuk penjagaannya untuk Ley. Memarkir mobil di garasi, Amren lebih dulu turun, lalu membukakan pintu Ley dan menggendong gadis itu. Begitu pintu rumah terbuka, mbok Haryu menatap terkejut. "Non Ley kenapa, Pak?" Mbok Haryu panik sendiri. Mungkin karena tadi pagi sudah merasa bersalah akan ucapannya yang tidak sengaja didengar Ley. "Tidur. Kecapekan dia." "Alhamdulillah. Saya kirain..." Amren menatap tajam mbok Haryu. "Lain kali jangan bicara sembarangan dan jangan suka mikir macam-macam, mbok. Tolong jaga Ley seperti mbok menjaga anak mbok sendiri." Mbok Haryu hanya bisa mengangguk. Dia merasa bersalah karena selalu membicarakan tingkah kekanakan Ley, padahal Ley selalu mencoba tidak menyusahkan mbok Haryu. Apa-apa selalu bertanya lebih dulu, meminta izin mbok Haryu dahulu, walau sikap kekanakannya mengental dalam darah Ley. Berjalan dan menaiki tangga tanpa merasa menggendong Ley adalah beban yang sangat berat, Amren dengan santainya membawa tubuh Ley selamat sampai di ranjang tidur. Sebelum meninggalkan kamar, Amren lebih dulu mengamati wajah terlelap Ley. Lebih terlihat tenang, tidak seperti saat bangun tadi. Bahkan Amren juga sama cemasnya ketika gadis itu menangis dan takut jika Amren akan membencinya. Senyum Amren tersungging, ketimbang membenci, Amren jelas semakin menyukai serta terbiasa dengan tingkah laku Ley. Amren merasa kurang jika tidak melakukan satu hal. Bergerak sepelan mungkin agar Ley tidak terbangun, Amren mengusap pipi gadis itu, menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi Amren guna melihat bebas wajah Ley. Dikecupnya kening Ley, turun ke pucuk hidung, dan bibir Ley. Seperti rasa ketagihan yang menyenangkan, Amren melakukannya. Dia mungkin akan langsung dibilang c***l jika ketahuan oleh mbok Haryu. Rasa lega menghampiri hati Amren ketika sudah selesai dan Ley tidak terganggu sama sekali. "Ley... maafkan saya. Karena sepertinya, saya tidak bisa menahan diri." * "Yang saya minta mengenai Hafriz sudah segini saja?" Amren menekuri dokumen perihal fakta mengenai perusahaan Hafriz. Kesimpulannya, semua perusahaan Hafriz benar-benar bermasalah. Amren bisa menyimpulkan semua rentetan ini dengan dititipkannya Ley pada Amren. Ley memang akan aman bersama Amren, karena Amren tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan Hafriz. Kenapa kekerabatan? Karena ternyata, semua ini berhubungan dengan keluarga istri dari Hafriz yang tinggal di luar negeri. "Sial." Amren memaki. "Tolong cari informasi mengenai istri dari Hafriz. Kalau perlu hubungan terperincinya. Saya tidak mau ada yang tertinggal, semuanya. Kamu harus dapatkan semua informasinya." Amren tidak main-main kali ini. Bukan hanya info mengenai Hafriz, bahkan dia ingin tahu ada apa dengan keluarga istrinya sampai hanya tinggal berdua saja dengan Hafriz. Bagaimana keadaan istri dari Hafriz, dan apa yang keluarga istri Hafriz lakukan sampai usaha pria itu sangat berantakan dan menuju ambang kehancuran seperti itu. Amren ingin tahu semuanya sampai pada akar terdalam. * Berlalunya waktu tidak terasa menuju ulang tahunnya Ley. Begitu juga mendekati hari kelulusan gadis itu. Amren benar-benar merealisasikan ucapannya untuk menjaga Ley, begitu juga mbok Haryu. Setiap hari Ley mendapat asupan makanan dan camilan sehat yang Amren ajukan pada mbok Haryu dan disiapkan oleh pembantu rumah tangga tersebut. Begitu ujian Nasional dilaksanakan, Amren hanya mengatakan pada Ley bahwa mereka akan jarang bertemu dan berinteraksi di rumah karena Amren ingin gadis itu fokus belajar dan tidak terpengaruh keberadaan Amren. Untungnya Ley langsung mengerti dan tidak menggunakan sesi merajuk. Mungkin bagi Amren ujian yang dilakukan sebelum benar-benar mendapatkan kelulusan bukanlah hal spesial sebelum Ley hadir dalam kisah hidupnya yang sudah menduda lama, tapi ternyata sekarang sudah berbeda. Ley membawa dampaknya tersendiri karena buktinya, Amren juga ikut larut dalam kecemasan Ley akan nilai akhirnya. "Udah selesai, kan?" tanya Amren. Sengaja dia mengajak Ley untuk keluar rumah dan berlibur setelah melewati ujian berhari-hari. Amren tahu gadis itu pintar, tapi bukan berarti tidak stres karena begitu keras belajar. "Udah." Ley memasukkan satu lagi kebutuhannya ke dalam tas. Wajah bahagia Ley tidak luput dari pengamatan Amren. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain membuat orang yang kita jaga dengan sangat menunjukkan rasa bahagianya karena hal kecil begini. "Kita cuma liburan ke puncak, Ley. Kenapa tas kamu penuh banget begitu?" Ley sepertinya benar-benar merasa bahagia, buktinya, Amren mengatakan hal tersebut Ley buru-buru membuka isi tasnya dan bertanya pada Amren apa yang harus dikurangi. Sebenarnya Ley sudah mulai menuruti apa yang Amren ucapkan karena semenjak keseringan bertengkar dan Ley selalu menangis serta menyebut mamanya, Amren putuskan untuk memberi perhatian lebih besar lagi. "Udah enggak usah, Ley. Kelamaan. Ayo berangkat supaya enggak terlalu kejebak macet." Amren menarik lagi zipper tas Ley dan menutupnya rapat. "Reren nyetir mobil sendiri?" tanya Ley mengikuti langkah Amren seraya mendekap bantal kecil berbentuk sapi. "Iya." "Enggak sama pak Tamil? Nanti Reren capek, loh. Papa aja kalau ajak Ley jalan-jalan pasti capek kalau nyetir sendiri." "Itu karena papa kamu sudah tua, Ley." Amren yang membuka pintu terhenti karena celetukan Ley. "Reren juga udah tua." Memutuskan menunda melanjutkan gerakan tangannya, Amren berbalik, melihat Ley dengan wajah polosnya. "Kamu bilang apa, Ley?" "Reren udah tua." Tidak menyangka sefrontal itu, Amren menarik leher Ley memitingnya walau tidak serius. Mereka malah bercanda di depan pintu agak lama. Tawa dari bibir Ley berhenti ketika diberikan ciuman oleh Amren. Ya. Bahkan keduanya diam-diam semakin sering berciuman, tentu saja disaat tidak ada orang di rumah. Bantal sapi Ley sampai dibiarkan terjatuh dan membebaskan Ley untuk melingkarkan kedua tangannya di leher Amren. Sukses sudah Ley menjadi good kisser karena Amren menuntunnya pelan-pelan setiap ada kesempatan. Ciuman itu terhenti saat Ley mengeluh sesak napas dan pundaknya terasa pegal karena tas yang dibawa. Amren terkekeh, perlahan membantu menurunkan tas milik Ley dan berganti dipundaknya. "Suka?" tanya Amren. "Apa?" "Ciumannya." Pipi Ley semakin merona malu. Gadis itu menggigit bibir bawahnya dan menunduk karena tidak siap menatap Amren. Namun, tidak Amren biarkan gadis itu menunduk. "Hei, Alaia. Saya nanya sama kamu. Jawab." Perlahan Ley mengangguk dengan bibir terkatup. Amren memandangi ekspresi wajah penuh salah tingkah Ley. Menggemaskan dan Amren tak tahan untuk tidak menyematkan satu ciuman lagi pada gadis itu. Amren tidak peduli sekarang jika dirinya terlihat seperti p*****l. Tidak karena dia menyukai ini. Menyukai gadis yang membalas ciumannya dengan hikmat. * Senyuman lebar tidak lepas dari bibir Ley, itu juga yang menjadi alasan kenapa Amren tidak berhenti sama melebarkan kedua sudut bibirnya. Ini memang gila, Amren belum pernah selepas ini. Mengerti bahwa ada beberapa orang yang memang didekatkan untuk memberikan tinta baru pada hidup seseorang yang lain. Amren mensyukuri ini sebagai rezeki. Iya, kan? Ini rezeki, kan? Walau tidak sempurna kebahagiaan tersebut, Amren mencoba menyempurnakannya bersama Ley. "Kamera Reren mana?" tanya Ley. Sedari berangkat, gadis itu tidak berhenti mengoceh. Karena saking semangatnya Ley bahkan tidak tertidur selama perjalanan. Bahkan baru hendak turun, Ley sudah menanyakan kamera. "Di tas kamera. Tuh di kursi belakang." Buru-buru Ley melenturkan badannya untuk mengambil kamera digital. "Pelan-pelan, Ley. Enggak ada yang bakalan ngambil kamera kamu." Ley menatap Amren yang mendongak ke arahnya, karena Ley setengah berdiri hingga kepalanya mentok di bagian langit mobil. "Hehehe." Hanya itu, lalu Ley membungkuk untuk memberikan kecupan manis di bibir Amren. "Ley seneng bangeeetttt, Reren!" pekiknya senang. Siapa yang tidak ikut senang melihat Ley memekik kegirangan dengan wajah memerah akibat rasa senangnya. "Ley..." "Iya?" "Sini." Amren senang sekali melihat wajah ceria Ley, begitu juga mendapat kecupan-kecupan manis dari Ley. Menyuruh gadis itu kembali membungkuk, Amren memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperdalam ciuman mereka. Lama mereka terlarut, Ley yang pertama terkekeh ditengah ciuman mereka. Seperti tidak ada puasnya saling melumat bibir masing-masing. "Emh— hehe...." Amren ikut terkikik karena Ley. Hembusan napas keduanya saling menerpa wajah satu sama lain. "Reren." Panggil Ley setelah melepas tautan bibir. "Hm?" "Boleh Ley bilang kalo Ley cinta sama Reren?" Meski Amren sendiri belum meyakini perasaannya ini bentuk cinta, juga belum memercayai bahwa Ley memang mencintainya, Amren tidak melarang gadis itu mengucapkannya. Kalaupun hanya sebatas first crush Amren bisa mengerti, tapi sekarang sudah saatnya dia mengungkapkan fakta bahwa dirinya juga tidak bisa dibilang tidak tertarik pada Ley. "I love you, Reren." * Begitu diizinkan Amren untuk merekam apa yang Ley ingin rekam, gadis itu langsung menyerbu wajah Amren yang selalu menghindari kamera. "Ley. Saya enggak mau direkam, Ley." Ley tertawa, malah semakin mengejar dan bersemangat mendapatkan momen dengan wajah Amren. "Reren ganteng, kok. Kenapa enggak mau direkam, sih?" Ley berdiri agak jauh dari Amren, seolah dirinya adalah campers yang sedang berusaha mewawancarai artis YouTube. Sedangkan Amren berusaha mengalihkan wajah dari kamera dengan membereskan isi tasnya, memainkan ponsel, berubah posisi menjadi duduk di tepi ranjang dan sebagainya, walau tetap berusaha menjawab Ley. Ley menaruh kameranya di meja, menghampiri Amren yang langsung rileks karena Ley tidak merekam-rekam lagi. Gadis itu duduk dihadapan Amren yang menyandarkan punggung di kepala ranjang. Bicara kamar, keduanya memang akan tidur terpisah, tapi memang Ley saja yang iseng mengikuti kemana Amren ada. "Kenapa?" Amren menatap Ley yang melihatnya lekat tanpa bicara. Gelengan kecil Ley membuat Amren penasaran. "Kenapa, Ley? Kamu laper? Diem begitu." Lagi-lagi Ley menggeleng. "Terus apa, Ley?" Ley tidak mau membuka mulutnya untuk bersuara, jadilah Amren mendekat dan menggelitik pinggang gadis itu. "Awas, ya... kalau ketawa, Ley." Amren terus menggelitiki Ley sampai pada akhirnya Ley tertawa karena tidak kuat. "Kalah kamu." Posisi keduanya sangat intim, dengan Amren yang berada di atas tubuh Ley. Masih dengan sisa tawa keduanya saling bertatapan. "Karena kamu kalah, harus dapat hukuman." "Apa hukumannya?" Amren berlaga berpikir, padahal dia sudah menyiapkan taktik iseng untuk Ley. "Kiss me." Tanpa ragu dan banyak bicara Ley mencium bibir Amren. "Lagi." Ley menuruti kembali. "Lagi." Amren terus mengerjai Ley untuk memberikannya kecupan hingga Ley memekik, "Leher Ley pegel naik turun terus, Reren!" Sontak saja Amren tertawa. Dia berhasil mengerjai Ley. Begitu senang karena tidak ada batasan selama berada di puncak, bahkan vila yang keduanya tempati memang milik Amren. "Ayo keluar. Cari makan, saya lapar, Ley." "Ayo!"  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD