Bagian 6 : Ceria

2865 Words
Mereka bersenang-senang. Tidak memedulikan dunia orang lain disekitar. Bagi mereka kini adalah warna cerah yang mereka ciptakan sendiri tanpa adanya warna kelabu dari pihak lain. Bahkan Amren seperti tidak merasakan kecemasan apa yang akan dirinya dapat setelah semua yang sekarang dia sedang jaga ternyata ditentang banyak sisi. "Ley cantik enggak pakai ini, Reren?" Sudah keberapa kalinya Ley mengambil banyak aksesoris yang dijual dalam sebuah store khusus dekat dengan vila milik Amren. Mereka sedang kurang kerjaan saja memilih berkunjung ke sana padahal niat membeli juga tidak. Bahkan Ley juga hanya iseng mencoba dan menggunakannya untuk menarik perhatian Amren. "Ley, kamu sudah banyak merusak dagangan orang. Kamu berantakin dari tadi." Ley menoleh ke arah pegawainya berada, memang benar, sedari tadi Ley dilirik dari jarak yang tidak terlalu jauh. Setelah merasa malu, barulah Ley berpindah mendekati Amren menggandeng lengan pria itu. Sontak saja Amren tertawa. "Malu, Ley?" Mendongak, Ley memicingkan matanya pada Amren. "Issshh! Reren jangan gitu, dong!" Merengek karena digoda Amren akhirnya mereka memutuskan pergi, tapi sebelum itu Amren tetap mengambil salah satu barang untuk dibeli. Agak tidak enak hati juga karena Ley secara tidak langsung sudah menambah pekerjaan si pegawai dengan mengacak-acak aksesoris di sana. Ley lebih dulu keluar, karena merasa begitu malu. Amren menyusul setelah selesai membawa bungkusan tas kertas. "Reren beli apa?" "Rahasia," jawab Amren. Sengaja menggoda Ley tentunya. "Issshh! Reren...." Bukannya menjawab, Amren justru semakin menertawakan Ley. Gemas sekali melihat Ley dengan mode merajuk seperti itu. Ingin rasanya Amren mencium Ley, tapi mengingat berada di tempat umum dan terbuka Amren menahannya. "Mau cari camilan enggak sebelum balik ke vila? Biar nanti malam kita enggak kelaparan, Ley." Gadis seperti Ley mana tahan untuk tidak mengangguk-angguk kepala kalau diajak untuk mencari makanan, dan rasa senang Amren bertambah berkali lipat hanya dengan Ley yang mengangguk mantap untuk membeli makanan saja. Sederhana untuk mendapatkan keceriaan bersama Ley. * Seperti biasa, sudah tiga hari ini Ley akan sibuk dengan kameranya ketika baterai sudah penuh. Tadinya Ley berniat membawa kamera, tapi karena lupa mengisi daya, jadilah keluar tanpa merekam apapun. Walau sebenarnya bisa dikatakan yang Ley rekam dari hari-hari lalu sudah lebih dari cukup. "Memorinya enggak kepenuhan, Ley kamu rekam terus?" Gadis itu dengan serius merekam tumbuhan pot dekat jendela kamar Amren. Menggeleng sebagai jawaban. "Berarti enggak usah beli memory card, ya. Kapasitasnya besar ternyata." Amren menaruh camilan plastik besarnya di karpet depan tv. Pria itu meluruskan kaki seraya mengambil kaleng minuman yang dibeli. Tak lama Ley ikut duduk di sisi Amren. Jatah minuman kaleng Ley adalah s**u beruang rasa greentea, walau tetap membeli banyak yang rasa original. Amren mengamati setiap pergerakan gadis itu, tidak ada ruang untuk tidak merasa gemas. Mengingat lagi keinginannya di dekat toko tadi, Amren mendekatkan tubuh pada Ley dan menggigit gemas pipi gadis itu. Ley tidak merespon, membiarkan Amren melakukan apa yang ingin pria itu lakukan. Bahkan ketika pipi Ley sengaja dijilat Amren, gadis itu tidak mengelapnya, malah bertanya, "Laptop Reren di mana?" "Hm?" Amren berpikir sejenak. "Di nakas dekat ranjang, tuh. Atau di ranjang, saya lupa, Ley. Kenapa memangnya?" Amren kembali asyik mengeksplor wajah Ley. "Nanti videonya jangan dihapusin, ya. Mau Ley edit." Kali ini Amren benar-benar melepaskan wajah Ley. "Gimana?" tanyanya. "Iya. Video yang dari kemarin-kemarin Ley rekam ada di laptop Reren semua, memorinya kosong hari ini. Makanya Ley mau ambil yang banyak nanti. Terus mau Ley edit, deh!" Jadi, laptop yang berisi data-data pekerjaan Amren sudah dipenuhi dengan video asal rekam yang Ley ambil sedari awal liburan mereka? Amren hanya mampu menepuk jidat. Ley... Ley. * Kepala seseorang terasa menumpang di d**a Amren. Bahkan lehernya terasa kebas karena tidak bisa menoleh kemana-mana. Ternyata oh ternyata, inilah kejutan yang Amren dapatkan dengan membiarkan Ley tidur bersamanya. Mereka tidak melakukan apa-apa, kecuali semakin seringnya berciuman. Amren tentu saja tahu batasan yang harus dirinya ambil untuk bersama Ley. Menarik napas, Amren merentangkan tangannya sedangkan tubuhnya masih dikuasai Ley yang nyaman saja bertengger sangat rapat padanya. Mungkin semua euforia ini Amren dapatkan karena sudah lama menduda, sebab dia tidak memilih dekat lagi dengan perempuan semenjak lepas dari Shasa. Bukan karena cinta yang tak terlupa, tapi lebih kepada tak percaya. Begitu melihat jam dinding, Amren terkejut. Sudah hampir jam dua belas siang dan mereka masih asik di atas kasur. Efek tidur dengan rasa lelah memang luar biasa. Yang Amren pikirkan adalah mencari makan siang, walau pastinya dia malas untuk keluar. Juga menjamin Ley tidak kelaparan tentunya. "Ley..." Tidak ada jawaban. Memutuskan untuk tidak memanggil lagi, karena percuma, Ley sulit dibangunkan dengan cara seperti itu. Kini Amren memiliki cara yang lebih ampuh untuk membangunkan Ley. Perlahan dia geser kepala Ley menjadi kembali di bantal, lalu mengusap pipi gadis itu. Amren mengecup-ngecup dalam hingga biasanya Ley terganggu. Namun, sepertinya hari ini berbeda. Ley tidak menunjukkan rasa terganggu seperti biasa, justru malah mengganti posisi tidur. Amren tidak mau kalah dari Ley yang terus menghindari cara Amren membangunkannya. Dengan cepat Amren menghidu sisi wajah Ley, kembali mengecup, lalu merambat pada bibir Ley. Bukan hanya kecupan lagi, tapi bentuk ciuman lembut di pagi hari. Amren bisa mendengar lenguhan Ley, walau samar. "Eughh—Reren...!" Amren tidak peduli, dia terus melakukannya hingga Ley megap-megap kehabisan napas. Rasa kesal Ley dilampiaskan dengan memukul d**a, bahu, dan apapun yang bisa gadis itu pukul. Ley akan uring-uringan ketika berhasil dibangunkan. "Kok saya dipukulin?" Mata agak terpejam Ley dijadikan momentum oleh Amren dengan mengambil ponsel dan memfoto gadis itu. Ley langsung membuka mata begitu mendengar suara kamera. "REREEEEEN!" * Apa makanan kesukaan Ley? Amren tahu sekarang, yaitu makanan yang tidak bersantan. Ley paling suka sayur sup ayam dan bakso. Ley tidak suka sup yang diberi sayur oyong di dalamnya, karena bagi Ley oyong berbau tanah dan Ley benci itu. Apa makanan kesukaan Amren? "Ley enggak tahu." Begitu jawaban Ley ketika Amren sengaja memancing bertanya. Jawaban yang lugas dan tidak basa basi, lalu gadis itu mulai asik menghabiskan makanannya lagi. Tidak ada harapan lagi bagi Amren, dia memilih diam ketimbang meneruskan perdebatan. Karena jelas, Ley bukan tipikal gadis yang biasa Amren temui. "Reren... sambel, dong." Mereka berdua makan soto ditengah suasana dingin. Puncak memang cocok bagi pasangan yang sedang kasmaran, seperti Amren dan Ley. "Jangan pedes-pedes! Nanti perut kamu sakit, Ley." Gadis itu menatap kecewa pada Amren, lalu menghela napas terang-terangan, dan harus menurut pada ucapan Amren yang satu itu karena memang ada benarnya. Ley suka asal ketika makan, maka dari itu Amren selalu mengingatkan. Siapapun yang ada saat Ley makan, Amren akan menyuruh mereka untuk mengawasi cara makan Ley yang suka sembrono. "Abis ini beli jagung rebus, dong, Reren." Ini salah satunya lagi, Ley tidak suka jagung yang dibakar. Gadis itu lebih suka jagung rebus entah untuk alasan apa. Amren jelas menambah perbendaharaan makanan favorit Ley, dan itu... menyenangkan. * Alaia jelas bukan gadis bodoh, dia hanya polos karena alasan yang belum ingin dijelaskan saja pada Amren. Sekolah nilainya bagus, sistem belajarnya juga tertata bukan tipikal yang terlalu memforsir, kecuali ketika menjelang ujian akhir kemarin itu. Bahkan Amren baru tahu kalau Ley bisa mengedit video yang biasanya hanya digemari anak-anak hits zaman sekarang. Kadang malah yang memang hits belum tentu bisa mengedit sendiri. "Kamu belajar dari mana edit video?" "Papa beliin komputer buat Ley di rumah." Oh. Tentu saja Hafriz akan melakukan itu, fasilitas apa saja akan Hafriz berikan untuk Ley agar bisa fokus belajar juga mengerjakan tugas sesuai yang diinginkan dengan fasilitas canggih. Amren juga cukup paham yang dimaksud komputer adalah semua yang ber-merk Apple. Amren mundur ke belakang, dia lelah melihat Ley yang fokus mengerjakan editannya. Karena faktor Amren kurang paham juga, makanya pria itu memilih mundur. "Nanti ingetin Ley, ya kalau laptopnya mau dipake." Kalau sudah fokus begitu Ley tidak akan mempan diberi candaan seperti apapun. Jadilah Amren berguling ke sana ke mari di atas ranjang. Rasa bosan menyerang karena tidak ada kawan sekaligus lawan untuk diajak bercanda. Gerakan Amren terhenti ketika bunyi krucuk~ krucuk~ terdengar. Siapa lagi sumbernya kalau bukan Ley, gadis super innocent yang tidak tahan lapar. Kepala Ley menoleh ke belakang dan menyematkan kedua tangannya di pinggir ranjang. Amren berpura-pura sibuk dengan ponselnya tanpa menghiraukan wajah memelas Ley. "Reren..." "Hm." "Ley laper." "Makanlah." "Enggak ada makanan. Habis. Ini s**u beruang Ley aja habis." Suruh siapa lupa waktu ngedit video! Cibir Amren dalam hati. Pria itu sepertinya cemburu dengan video-video yang diedit Ley. "Sana cari." Ley terkejut karena tanggapan Amren sangat singkat dan cuek. Padahal biasanya pria itu yang lebih semangat mengajak Ley makan. Apalagi sore tadi keduanya memang belum keluar dari vila. Hanya sisa camilan yang mereka makan untuk mengisi perut. Tidak melanjutkan lagi, Ley berbalik, enggan melihat Amren yang tidak memperhatikannya. Ley bergerak mematikan laptop, lalu segera berdiri mengambil jaket dan dompetnya sendiri. Benar-benar sepi, Ley seperti membiarkan Amren berbuat semaunya dan Ley berperan menuruti semua kata pria itu. Secepat Ley keluar dari kamar, Amren mendadak panik sendiri. Biasanya Ley akan merengek, tapi tiba-tiba saja dihadapkan dengan sikap Ley yang seperti itu Amren cemas. Buru-buru Amren memakai pakaian hangat untuk menyusul Ley di luar sana. Malam-malam begini gadis itu mau ke mana tanpa mobil pribadi? "Ley!" serunya. Berharap Ley masih berada—paling tidak di teras—vila. Bodoh memang. Amren berniat membuat Ley kelimpungan membujuknya, malah terbalik menjadi Amren yang kelimpungan sendiri ketika dihadapkan dalam situasi seperti ini. Sejak memiliki ponsel sendiri juga, Ley jarang menggunakannya. Gadis itu bilang lebih nyaman main komputer ketimbang ponsel, otomatis saat Amren siap menghubungi ponsel yang masih terbilang baru milik Ley, nada deringnya menggema di ruang tamu. "s**l!" maki Amren. Rasa cemas itu semakin menjadi ketika Amren tidak menemukan keberadaan Ley di dekat vilanya. Bahkan ketika mengendarai mobil dan tidak menemukan tanda-tanda Ley ketakutan lain muncul. Hari sudah malam, toko saja jaraknya cukup jauh, udara semakin dingin, dan kabut mulai menghalangi pandangan. "Kemana kamu Ley... please. Maafin saya yang sembarangan bicara sama kamu, Ley." Amren hanya bisa meracau di dalam mobil dengan mengendari pelan-pelan. Dia tidak mau malah mencelakai diri sendiri dan gagal mencari Ley. Melihat jam ditangan, Amren mendesah kuat. Ini sudah terlalu larut untuk meneruskan mencari Ley. Hampir dua jam Amren berkeliling mencari kemungkinan gadis itu berada, tapi nihil. Amren putuskan menghubungi orang kepercayaannya dan menyuruh mencari Ley, Amren kembali ke vila untuk menunggu gadis itu siapa tahu Ley memang bisa mandiri pergi dan kembali sendiri. Ketika lampu mobilnya menyorot halaman depan vila, ada mobil lain yang terparkir, Amren berpikir kemungkinannya adalah anak buahnya. "Secepat itu?" tanya Amren pada diri sendiri. Ketika turun dan menuju teras, Amren dikejutkan dengan keberadaan Ley yang menangis dan seorang laki-laki tak dikenal di sampingnya. Amren bergerak cepat dan langsung memukul wajah laki-laki tak dikenalnya itu. "Reren?!" * Jelas lelaki yang Amren pukul bukanlah siapa-siapa. Lelaki yang tiba-tiba menjadi korban hantaman brutal Amren hanyalah orang yang tidak sengaja menabrak Ley dan membuat beberapa bagian tubuh Ley memar dan luka kecil. Ley menangis juga bukan karena ditabrak lelaki tak bersalah tersebut, melainkan mengingat sikap Amren yang membiarkannya begitu saja. "Reren enggak boleh mukul sembarangan!" seru Ley begitu wajah si lelaki itu dilepaskan oleh Amren. "Dia yang sembarangan bikin kamu luka, Ley. Bikin kamu nangis—" "Bukan Kak Tio yang bikin Ley nangis! Tapi Reren!" bentak Ley begitu kencang. Tidak peduli apakah vila lain terisi orang atau tidak. Yang jelas Ley ingin meluapkan juga rasa kecewanya. "Kok saya, Ley? Dia yang—" "Kak Tio yang bantuin Ley! Kak Tio juga bawa Ley ke apotek, soalnya Ley enggak mau ke klinik, Ley takut." Lalu pandangan Ley menajam lagi pada Amren. "Kenapa Reren mukul kak Tio!? Reren jahat!" Setelah puas, Ley bergerak masuk tanpa menghiraukan Tio maupun Amren yang kebingungan sendiri di teras. Suasana canggung sudah pasti terasa. "Jadi, kamu yang bantu Ley?" Tio mengusap sudut bibirnya yang terasa tidak nyaman setelah dipukul beberapa kali oleh Amren. "Besok-besok, Om, kalo mau mukul orang lebih hati-hati, ya. Nanti enggak cuma si korban yang rugi, hati anak Om juga rugi karena lihat sikap kasar Om begini." Amren membelalakkan mata. Tidak terima dengan nada songong si lelaki yang bisa dipastikan lebih muda darinya. "Jangan sembarangan, ya. Ley bukan anak saya!" Tio mengibaskan tangan pertanda tidak ingin mendengar lebih jauh, dia memberikan bungkusan—sepertinya dari apotek—pada Amren. Berjalan santai sesekali mengusap pipi dan bibirnya menuju mobil dan segera melajukan mobil tanpa menghiraukan Amren. Perasaan tak terima Amren tentu masih ada, tapi prioritasnya bukan merusuh si lelaki tak dikenalnya itu, melainkan Ley yang sedang marah padanya. Ini akan membutuhkan usaha yang sangat keras untuk menarik kembali maaf serta perhatian Ley pada Amren. * Amren tahu dirinya sudah salah. Selain salah mengambil tindakan terhadap Ley, juga salah sangka terhadap orang lain. Ucapan Ley yang menyebutkan bahwa dirinyalah penyebab mengapa Ley menangis, sukses membuat Amren kecewa pada diri sendiri. "Ley... maaf." "Hhuhuuu... Reren... sana aja! Ley... enggak... mau lihat... Reren... huwaaaa!" Agak lega rasanya karena Ley tidak menangis seperti waktu lalu. Amren tidak terlalu cemas karena Ley sekarang menangis masih dengan membuka mata dan tetap mau membalas ucapannya. "Ya udah, iya. Nanti saya pergi, tapi diobati dulu luka kamu, ya? Jangan dibiarin, nanti infeksi." "Biarin! Huhu...." "Jangan, dong, Ley. Infeksi itu, kan banyak kumannya. Kamu mau masuk rumah sakit terus diope—" "Enggak!" gadis itu langsung menegakkan tubuh tidak mau sampai masuk rumah sakit seperti ucapan Amren. Tidak terlalu sulit membujuk Ley sekarang ini. Sebab gadis itu lebih penurut. Pelan-pelan Amren mencari baskom atau apa saja yang ada di dapur untuk wadah air bersih guna membersihkan luka serta wajah Ley yang kusam akibat terlalu banyak menangis. Dengan penuh kehati-hatian Amren membersihkan luka Ley, sembari memberikan ketenangan agar gadis itu berhenti menangis juga tak lupa ucapan permintaan maaf. Begitu selesai, Amren menangkup wajah Ley. "Maaf, Ley. Jangan menangis lagi karena saya, ya. Kecuali kalau kamu menangis karena saking senangnya karena saya." Gadis itu tentu saja hanya diam karena efek senggukan yang masih ada meski airmatanya tak lagi merebak. Ley benar-benar menjadi fasih, hapal di luar kepala apa yang harus dilakukan ketika ingin memberikan rasa tenang satu sama lain. Ya, apalagi kalau bukan berciuman. * Liburan mereka sudah berada di penghujung waktu. Ley perlu mengurus segala urusan kelulusannya ke sekolah, lalu menatap masa depannya. Amren sudah siap kembali mengurus pekerjaannya yang selalu bertambah meski sudah sengaja lebih awal diselesaikan. Ya ampun. Diam-diam sesi penuh ceria itu menimbun banyak PR. Bahkan Ley mau meminta tambahan waktu di sana, bisa gila Amren kalau tidak segera mengurus perusahaannya. Ley masih terlelap cantik—ala kadarnya—ketika Amren sudah bangun dan hanya memutuskan mengamatinya saja. Sesekali memang tangannya gemas jadi dialihkan untuk membenarkan helai rambut Ley yang menghalangi Amren melihat wajah gadis itu secara penuh. Kalau dipikir, tingkah Amren sudah persis anak remaja yang kadar kasmaran alaynya itu diambang batas normal. Apalagi mengingat usianya yang sudah bukan remaja lagi... Amren mendesah. Dia dan Ley jelas tidak cocok dari segi usia. Bagaimana bisa dia bernapsu sekali mencium dan menarik gadis itu kemana-mana selayaknya kekasih? Sial. Efek segera kembali ke rumah membuatnya memikirkan banyak hal rumit mengenai dirinya dan Ley. Padahal dia bisa saja melupakan dan menjalani saja apa yang terjadi kini. Toh, mereka berdua memang saling menyukai. Lalu, bagaimana jika pertentangan itu tidak dapat Amren urai? "Rereeeen..." Gadis itu langsung mencari keberadaan Amren, tapi masih mempertahankan pejaman mata. Gerakan tangan Ley yang mencari dibiarkan oleh Amren sendiri. Ketika telapak Ley berhasil menemplok di wajah Amren, barulah kekehan dari bibir Amren muncul. Ley tersenyum masih dengan terpejam. Semangat untuk berbagi kecupan di pagi hari tidak luntur, mungkin akan semakin besar dan rutin ke depannya. Amren ingin sekali membawa hubungan yang serius, tapi mengingat usia Ley, dia kembali meragu. Pemikirannya adalah Ley bisa diatur, jika ingin mengarah ke hubungan yang serius tidak akan terlalu sulit bagi Amren untuk membimbing Ley. Lalu, bagaimana dunia yang meneriakan ketidaksetujuan bagi mereka? "Ley capeeeeek, Reren. Pulang besok aja, ya?" Kepala Ley menyundul d**a Amren, menyusup erat hingga deru napasnya bisa Amren rasakan. Menepuk-nepuk lembut kepala Ley, lalu menyematkan kecupan di kepala gadis tersebut. "Ley, jangan lupa ngurus kelulusan kamu. Sebentar lagi juga kamu wisuda, enggak mau nyari kebaya? Nanti kamu mau dandan di salon mana? Biar saya booking buat kamu." Ley mendongak, merenggangkan pelukan. "Reren dandaninlah! Ngapain ribet." Lah? Enak saja gadis itu berucap. Enteng sekali mulutnya menyuruh Amren mendadani. Gemas, Amren cubit hidung Ley hingga gadis itu memekik. "Reren!" "Lagian ngasal aja kalau ngomong. Laki-laki mana ada yang bisa dandan, Ley?" "Ada. Papa Ley bisa. Waktu kecil Ley selalu dikepangin papa, terus dibedakin, abis itu dipakein lipstik punya mama, tapi jangan sampe ketahuan mama. Papa Ley juga laki-laki, kan, Reren?" Yaiyalah, Ley. Kalau bukan laki-laki kamu ini bibit dari mana? Walau gemas mendengar betapa polosnya balasan dari Ley, tapi Amren agak cemburu karena Ley jelas sangat membanggakan Hafriz yang dimata Amren pria itu hanya bisa mengacau dan pergi untuk meredakan suatu masalah. Ternyata, Hafriz memiliki Ley yang begitu sayang sampai hal kecil saja masih mengingatnya. Lebih parahnya, Ley benar-benar tidak pandai memuji ibunya, tapi mudah sekali memuji papanya—Hafriz. "Beda. Papa kamu waktu itu dandani buat anak kecil. Sekarang kamu sudah besar, biar makin cantik harus dandan di salon, Ley." "Gitu? Reren suka, ya, kalo Ley cantik?" "Suka-lah! Sini, saya cium dulu kamu yang masih cantik ini tanpa didandani." Ley menurut dan terkikik karena janggut Amren yang mulai tumbuh. Keduanya bahkan tidak keluar vila sampai jam menunjukkan pukul satu, berguling, bermalas-malasan di atas kasur berdua. Mereka bersiap langsung pulang sembari mencari makan di perjalanan. Sejalan dengan itu, liburan ceria mereka selesai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD