BELENGGU
Bab 8
“Aksa, kau ingat janji kita makan malam kan?” Jovanca meraih tasnya dan bersiap keluar dari ruang kantornya.
“Tentu, aku sudah selesai. Apa Demian akan menjemput?” Tanya Aksa berjalan di belakang Jovanca.
“Tidak, kita bertemu saja di sana. Kau akan ikut mobilku atau bawa saja mobilmu?”
“Aku bawa sendiri saja, nanti kau repot kalau harus mengantarku kembali ke sini.”
“Oke, kita bertemu di sana. Kalau kau sampai duluan, tunggu aku di depan restoran.” Jovanca masuk ke dalam mobilnya, tersenyum manis dan melambaikan tangan.
............
Jovanca berusaha menghubungi Demian, namun ponsel suaminya itu tidak aktif. Jovanca berusaha meninggalkan pesan tapi tetap tidak ada jawaban. Sampai pada menit ke tiga puluh Jovanca menghentikan mobilnya di depan restoran itu. Aksa melambaikan tangan, pria itu sudah berada di sana lima menit sebelum Jovanca.
Setelah memberikan kunci mobil kepada seorang penjaga restoran, Jovanca berjalan ke arah Aksa dengan wajah sedikit kesal.
“Ada apa? Kau terlihat kesal, Jovanca?” tanya Aksa.
“Aku berusaha menghubungi Demian, tapi ponselnya tidak aktif. Di mana sebenarnya dia?”
“Mungkin dia sedang di jalan dan low batt?”
“Sudahlah, kita tunggu saja dia di dalam. Aku sudah reservasi.” Ujar Jovanca.
“Oke.”
Jovanca dan Aksa melangkah masuk, menuju meja yang sudah ia pesan beberapa jam sebelumnya. Melihat menu dan memesan sebotol anggur. Berkali – kali Jovanca melihat jam tangan, lima belas menit sudah berlalu. Namun tanda – tanda kedatangan Demian belum terlihat. Aksa berdeham, mengerti apa yang sedang dirasakan Jovanca saat ini. Wanita di hadapannya itu terlihat cemas dan juga kesal.
“Ehm apa sebaiknya kita tunda dulu makan malam hari ini?” tanya Aksa dengan hati – hati.
“Eh, tidak perlu. Kita sudah memesan anggur. Sebaiknya kita pesan beberapa makanan. Aku rasa Demian terlalu larut di dalam kesibukannya. Kau mau pesan apa, Aksa?”
Aksa tersenyum kecil, meraih buku menu dan hanya memesan sepotong daging dengan saus tomat. Ia kemudian memandang Jovanca yang tampak melamun di depan buku menunya.
“Ehm, tolong bawakan saja menu yang sama dengan pesananku, kami akan pesan lagi jika membutuhkan lebih.” Kata Aksa kepada pelayan restoran itu.
Jovanca terkejut dan melihat pelayan itu sudah menjauh, “Eh, aku..”
“Sudah kupesan, maaf kalau kau tidak suka.” Jawab Aksa dan menuang anggur ke dalam gelas Jovanca, “minumlah.”
Jovanca menyesap anggurnya, merasa sedikit tenang ketika rasa hangat memenuhi tenggorokannya itu.
“Dia tidak pernah begini sebelumnya.” Jovanca menarik napas panjang. Benar – benar kesal karena ia merasa Demian tidak akan datang.
“Kau bisa bertanya setelah sampai di rumah nanti, sekarang kita makan saja dulu.” Aksa menoleh ke luar dan terkejut ketika ia melihat Demian, ia berniat berteriak memanggil sahabatnya itu, namun segera diurungkan niatnya karena di belakang Demian berjalan wanita yang tidak asing baginya. Zea. Mantan kekasih Demian. Sebuah pemandangan yang sangat mengejutkan Aksa.
“Ehm, Jovanca apa kau sudah tidak sibuk hari ini?”
“Tidak, bukankah pekerjaan kita sudah selesai?” jawab Jovanca.
“Atau kau punya kesibukan lain? Atau sebaiknya kita segera pergi, aku bosan di sini. Bagaimana kalau kita minum di bar?”
“Tapi kita sudah memesan anggur, kita bahkan baru minum sedikit.”
“Atau kau mau kita....”
“Demian?” Aksa terkejut ketika Jovanca menyebut nama itu. Dan ia menoleh, mengikuti mata Jovanca yang menatap Demian di ujung restoran ini. Demian sedang berbicara dengan Zea, sesekali tersenyum sambil menunjuk buku menu.
“De...Demian?” Aksa mengulang kalimat Jovanca.
“Aksa, itu Demian!” Jovanca meninggikan suaranya.
“Ah, kau benar. Aku rasa Demian sedang ada janji dengan kliennya. Sebaiknya kita jangan menganggu. Kau bisa bertanya saat di rumah.”
“Tapi kenapa dia tidak menjawab telepon? Dia sudah janji akan malam bersama kita. Aksa, apa sebaiknya aku menyapa mereka?” Jovanca hampir berdiri dari kursinya, namun Aksa menahan lengan wanita itu. Aksa menggelengkan kepala memberi isyarat agar Jovanca tidak menghampiri suaminya.
“Jovanca, wanita itu mungkin hanya klien, bukankah kau bilang jika Demian akan mengadakan show?”
Jovanca menatap Aksa dan mengangguk.
“Kalau begitu mungkin saja wanita itu modelnya. Mungkin Demian sedang mengurus kontrak?”
“Tapi di tempat ini?” Jovanca mengerutkan keningnya. Tampak aneh dengan analisa Aksa,
“Ya, bisa saja. Semua itu mungkin.”
“Oke. Aku akan bertanya di rumah, setidaknya aku lega karena dia baik – baik saja.”
Aksa menarik napas lega, mengambil ponselnya dan diam – diam mengirim pesan kepada Demian.
Jovanca melihatmu, apa yang kau lakukan?
Ah, sial. Pending. Gerutu Aksa di dalam hati.
“Aku sudah selesai, kita pergi sekarang?” tanya Aksa sambil mengeluarkan beberapa dollar dan meletakkannya di atas bil.
“Ah, jangan. Aku saja yang bayar.”
“Biar saja, lain kali kau yang bayar.” Aksa tersenyum, ia berusaha secepat mungkin membawa Jovanca keluar dari sana.
Di sepanjang jalan Aksa terus berpikir apa yang sebenarnya terjadi dengan Demian, bagaimana ia bisa melupakan janji makan malam bersama istrinya dan pergi dengan wanita lain? Ah, apa yang akan terjadi jika Jovanca mengetahui siapa wanita itu?
“Aku tidak menyangka Demian melakukan hal ini, padahal aku sudah merelakan Jovanca untuknya. Tapi jika dia menyakiti Jovanca maka aku tidak akan tinggal diam.” Gerutu Aksa di dalam mobilnya.
Setelah acara makan malam itu, Jovanca memutuskan untuk kembali ke rumahnya, ia menolak ajakan Aksa untuk minum. Jovanca memilih menunggu Demian di rumah.
Aksa meraih ponselnya, dan ternyata pesan yang ia kirimkan untuk Demian masih pending. Rasa kesal mulai meliputi hati Aksa, sahabatnya itu benar – benar keterlaluan.
.............................
Sementara itu di dalam restoran yang sama Demian menatap Zea dengan penuh simpati. Tubuh Zea yang terlihat lebih kurus dari dulu membuat Demian berpikir jika mantan kekasihnya ini sedang hidup di dalam tekanan. Namun apa yang bisa dia lakukan sekarang?
“Demian, terimakasih untuk makan malam ini.” Zea tersenyum, menyesap anggur dan menyeka bibirnya dengan perlahan. Sebuah kebiasaan yang selalu dilakukan Zea sejak dulu.
“Zea, bolehkah aku bertanya?” Suara Demian serak.
Zea mengangguk, “Tentu, selama aku bisa menjawabnya.”
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan pria itu? maksudku pria yang pergi denganmu di hari itu?”
Zea menarik napas panjang, menatap Demian tajam, “Seperti yang pernah kukatakan waktu itu. Aku tidak tahu kalau dia sudah menikah, dia melamarku dan kami hidup dalam satu rumah yang sama. Dia berencana menikahiku beberapa bulan kemudian. Tapi semua itu gagal karena tiba-tiba seorang wanita datang dan mengaku sebagai istrinya. Wanita itu melaporkanku dengan tuduhan perzinahan. Dia mempermalukanku di depan publik. Karirku sebagai model di sana hancur seketika, aku menerima ribuan hujatan dari semua orang. Kau tahu, Demian? Aku bahkan tidak berani meninggalkan rumahku. Mereka seperti singa yang seolah siap menerkam tubuhku. Jika begini terus maka aku bisa mati. Sampai akhirnya aku bertekad mengurus paspor dengan sisa uang yang kumiliki, kembali ke London dan membeli rumah itu. pria itu meninggalkanku begitu saja demi istrinya. Aku sangat membencinya, Demian.”
Demian tertegun, beberapa kali memijit kepalanya yang berdenyut. Sebagai seorang mantan yang ditinggalkan, seharusnya dia gembira dengan cerita itu. Setidaknya rasa sakit hatinya sudah terbalaskan dengan apa yang menimpa Zea. Namun nyatanya tidak demikian, Demian justru merasa kasihan padanya. Demian ingin Zea bersandar padanya.