1 - Start Planning

1586 Words
Tiff tidak habis pikir bagaimana kakaknya bisa menjadi manusia paling sempurna. Selain cantik dan cerdas,  Emily Lestari juga dapat menghadapi situasi gila ini dengan santai, sementara dirinya memaki-maki sambil berjalan hilir-mudik didepan TV. “Baik, pak. Tidak apa-apa.” Ucap Em, panggilan akrabnya, dengan santai pada lawan bicaranya. “Saya bisa mengurus pembatalan semuanya.” Setelah Em mendengar orang itu berbicara beberapa kalimat dia mengucapkan salam dan menutup teleponnya. “Lo kok bisa tenang gitu sih ngomong sama dia?” Tanya Tiff dengan emosi. Em mengangkat bahu sambil berjalan menuju kulkas dan mengambil kaleng soda, lalu menghempaskan tubuh pada sofa dan mengangkat kakinya ke atas meja. “Ya gimana lagi, bapaknya Gilang kan ga salah apa-apa.” “Tapi anaknya itu kan berengsek, Em.” “Anaknya kan yang berengsek, bukan bapaknya?” Tif menggeleng-gelengkan kepalanya dan berdecak, “Kalo gue jadi lo, gue pasti akan mencak-mencak sama beliau karena ga bisa didik anaknya dengan benar.” “Kalo gitu untung banget lo bukan gue.” Ujarnya santai sambil memejamkan matanya. Tiff sengaja mengambil cuti selama satu minggu karena kakak satu-satunya akan menikah. Namun tiga hari sebelum hari H alias dua hari yang lalu, si Gilang s***h mantan calon kakak iparnya itu memutuskan hubungannya dengan Em dan mundur dari pernikahan karena ia mengaku belum siap untuk membangun rumah tangga. Belum siap, my ass! Semudah itu dia memberikan alasan terhadap kemundurannya. Sementara Em harus merasakan malu sendirian walaupun tidak harus menanggung biaya apapun karena pihak keluarga Gilang bersikeras ingin mengganti dan menanggung semua pengeluaran yang telah dikeluarkan. Syukurlah keluarganya tidak seberengsek pria itu. Karena jika keluarganya tidak ingin bertanggung jawab maka Tiff sendiri yang akan menuntut keluarga mereka. Em jelas tidak akan melakukannya karena sifatnya yang memang terlalu baik pada semua orang. Yah, orangtua mereka sudah tenang di surga sehingga tidak dapat melakukan apapun untuk membela Emily. Maka Tiff lah yang akan memastikan bahwa Em tidak akan mengalami kerugian apapun. Selain waktu dan perasaannya yang sudah Em buang sia-sia saat berpacaran dengan cowok itu. Tentu saja. Tiff mondar-mandir sambil memikirkan sesuatu yang sudah ia pertimbangkan sejak kemarin malam. Matanya menerawang ke seluruh ruangan apartemen mencari sesuatu. Gotcha! Dia menemukan foto Em bersama Gilang disebuah figura yang tergantung di dinding. Em tipe yang sangat perfeksionis. Di dalam apartemen ini tidak banyak foto terpajang seperti rumah lain. Hanya dua foto yang ia gantung di dinding, fotonya bersama gilang dan satu foto bersama mama, papa dan Tiff saat ia masih berumur tujuh tahun. Berbanding terbalik dengan Tiff yang memiliki setengah dinding berisi kumpulan foto-fotonya bersama keluarga dan teman terdekat di kamarnya. Tiff melirik Em yang sudah terlelap dengan tenang. Dia mengeluarkan ponselnya dan memotret wajah Gilang agar tidak lupa bagaimana penampilan mantan pacar kakaknya itu. Selama lebih dari satu tahun kakaknya berpacaran dengan pria b******k itu, Tiff belum pernah diperkenalkan atau bertemu dengan Gilang. Bukan karena Em malu memiliki adik seperti dirinya, namun lebih karena pekerjaannya di Singapur menyita banyak waktunya hingga tidak sempat pulang ke Jakarta selama dua tahun setelah lulus dari kuliahnya di UI dan mendapatkan pekerjaan disana. Tiff menggigit bibirnya dan membuka laptop berwarna rosegold yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi karena khawatir akan mendapat tugas mendadak disela-sela kegiatannya. Ia membuka aplikasi browser dan mencari informasi mengenai perusahaan tempat Gilang bekerja yang pernah Em sebut sambil lalu tempo dulu. Setelah puas mendapatkan yang ia butuhkan, Tiff membuka aplikasi pengolah kata lalu mengetikkan beberapa kalimat dan mencetaknya menggunakan printer yang terletak dikamar Em. Tiff memastikan semuanya tersusun rapi di dalam amplop cokelat, kemudian ia mengetik alamat sebuah pusat perbelanjaan pada aplikasi angkutan online yang laris digunakan penduduk Jakarta. Setelah aplikasinya memberikan notifikasi bahwa ia sudah mendapat driver, ia pun langsung menyambar sling bag Kate Spadenya dan mengenakan riasan tipis natural. Tiff lalu membangunkan Em untuk menawarkan apakah ia ingin menitip kopi Starbucks atau tidak, hanya sebagai alasan, yang untungnya dijawab dengan gelengan kepala dan usiran halus tangannya yang menyuruh ia pergi saja. Di dalam mobil ia mengirim beberapa email pada atasan dan juga rekan kerjanya. Ia menuliskan sebuah surat pengunduran diri lewat email pada atasannya dan pesan untuk meng-handover pekerjaannya pada rekan kerjanya itu. Ini ide tergila yang pernah Tiff lakukan. Paling tidak, salah satu dari ide gila lainnya. Toh ia terbiasa melakukan hal-hal gila sebelumnya. Tiff berdoa semoga Gilang tidak mengenali siapa dirinya. Karena sepengetahuannya, Em belum memperlihatkan fotonya pada Gilang karena dulu ia selalu berharap mereka bertiga bisa bertemu langsung untuk memperkenalkan diri masing-masing. Setengah jam kemudian, sang supir menurunkannya didepan sebuah bangunan megah berisi jajaran butik terkenal. Tiff masuk ke toko pakaian pertama yang ia lihat dan segera memilih sepasang baju formal yang akan ia kenakan hari ini. Sebuah kemeja berwarna biru muda dengan motif garis vertikal dan rok selutut berwarna hitam. Ia bisa saja meminjam baju Em karena ia tidak membawa satu pun baju formal. Namun kakaknya itu pasti akan curiga dan banyak bertanya. =Heartless= Supir taksi menurunkannya didepan sebuah gedung mewah yang menjulang tinggi. Pada sisi kanan paling atas gedung itu terdapat tulisan Blythes.Co yang terlihat maskulin. Menurut informasi yang ia dapat di internet, perusahaan ini adalah perusahaan ritel terbesar di Indonesia dan sudah lama mengembangkan sayapnya di negara lain, seperti Malaysia, Singapur, dan Hongkong. Diam-diam Tiff mengucapkan syukur pada Tuhan karena memberikan kapasitas otak yang luar biasa untuk mengingat. Jika tidak, ia tidak akan ingat saat Em menceritakan setiap detil mengenai Gilang termasuk tentang dimana ia bekerja saat kakaknya berkunjung tahun lalu. Tiff juga mengingat bahwa Gilang adalah wakil direktur utama perusahaan ini yang mana adalah sepupu Gilang sendiri. Yah, Brythons adalah perusahaan milik sepupu si pria b******n itu. Tiff menghembuskan napas dengan keras, merapikan bajunya dan mulai melangkah menuju resepsionis yang sudah siap menyambutnya dengan senyuman terukir lebar. Tangan kirinya masih menenteng sebuah paperbag berisikan baju yang ia kenakan dari apartemen sebelum membeli baju formal itu. “Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” Sapanya dengan ramah dan professional. Tiff tiba-tiba merasa bodoh dengan idenya saat akan menjawab resepsionis itu. Tapi ia tidak mungkin mundur pada saat-saat terakhir. Dia bahkan sudah masuk pada sarang musuh. Gilang, maksudnya. “Saya ingin melamar pekerjaan di perusahaan ini.” Entah tuhan merestui idenya ini atau bagaimana, yang jelas, lowongan pekerjaan yang tertulis di website resmi perusahaan ini adalah posisi yang sesuai untuknya sesuai dengan gelar sarjana komunikasi yang ia miliki dan dengan pengalaman bekerjanya sebagai brand executive di perusahaan tempat ia bekerja di Singapur. “Saya akan memberikan lamaran anda kepada divisi HRD.” Ucapnya. Tiff tersenyum dan memberikan amplop cokelat berisi CV dan surat lamarannya. “Jika anda sesuai kualifikasi yang perusahaan ini cari maka pihak HRD akan menghubungi anda untuk interview lebih lanjut.” Jelas resepsionis yang belakangan ia tahu namanya Sinta, dari nametag yang dikenakan wanita itu. “Biasanya butuh waktu sekitar dua minggu untuk menyeleksi lamaran yang baru masuk.” Aku mengangguk, kemudian.. “Apa?” Mata Tiff terbelalak. “Dua minggu?” Sinta tersenyum sopan, “Lamaran yang masuk sangat banyak mengingat ini perusahaan ternama.” Hatinya mencelus. Itu waktu yang sangat lama. Baiklah, itu normal tapi, keadaannya kan darurat. Ia tidak bisa menganggur selama dua minggu tanpa membuat Emily curiga. Apa yang akan ia katakan pada Em? Bahwa ia menganggur karena sedang menunggu panggilan interview padahal dirinya punya pekerjaan mantap dengan gaji lumayan tinggi di negeri tetangga? Itu tidak masuk akal. Tapi ia tidak dapat melakukan apa-apa dan mengangguk lesu sambil mengucapkan terimakasih pada resepsionis itu. Perutnya memprotes karena belum mendapatkan asupan karbohidrat sejak pagi, efek terlalu sibuk memarahi Em sepanjang hari. Akhirnya ia memutuskan untuk mengisi perutnya di kafe sebrang bangunan ini. Bersamaan dengan para karyawan yang baru saja keluar gedung, Tiff menyebrangi dan memasuki kafe bernuansa minimalis itu. Ia memesan carbonara dan segelas lemon tea pada pelayan yang memakai kaus berlogo kafe itu di d**a kirinya. Tiff memandang berkeliling dan mendapati hampir setengah kursi diruangan ini baru saja terisi penuh. Ternyata ini jam makan siang dan kafe tempatnya makan sekarang adalah salah satu kafe favorit para pegawai Brythons. Setelah pesanannya datang ia segera melahap makanan itu dengan khidmat. Namun pendengaran supersoniknya sayup-sayup mendengar nama Gilang disebut, ia memelankan aktifitas mengunyah dan mendengarkan lebih seksama obrolan di sebrang mejanya. Bisa saja Gilang yang mereka bicarakan adalah Gilang yang ia kenal juga. Walaupun sudah pasti banyak pria bernama Gilang di gedung itu. Dua wanita yang mengenakan nametag seperti yang dikenakan Sinta, sang resepsionis, berada tidak jauh dari mejanya. “Pak Gilang emang sering berada di Harshmead, sudah pasti Pak Regan juga ada.” Ucap wanita berbaju marun yang sedang menaburkan merica diatas makanannya. “Kok lo tahu sih mereka sering berada disana?” Kali ini temannya yang berbaju tosca bertanya dan memusatkan perhatian pada lawan bicaranya tanpa menyentuh makanannya sedikitpun. Sudah jelas mereka sedang membicarakan subjek yang membuat mereka tertarik. Entah itu Gilang atau pria bernama Regan yang disebut wanita itu. “Gue selalu kesana setiap hari.” Jawab si marun dengan cengiran. “Ngapain lo kesana setiap hari?” Kali ini ia bertanya dengan tangan menangkup dagu. “Apa lagi? Gue berusaha dipilih oleh Pak Regan buat jadi teman tidurnya walaupun untuk semalam.” Wanita berbaju tosca itu memutar matanya dan berhenti bertanya lalu mulai memakan hidangan didepannya. Informasinya tidak cukup valid untuk membuat Tiff mendatangi Harshmead, tempat yang disebutkan wanita tadi. Saat ia hendak melanjutkan menyantap makanannya kembali ia mendengar salah seorang wanita itu berkata, “Yah kalo ga dapet pak Regan, pak Gilang pun boleh lah.. Kan katanya dia batal married besok.” Senyum terkembang diwajah cantik Tiff lalu ia pun dengan tenang menghabiskan makanannya dan pergi meninggalkan kafe itu setelah membayar tagihannya.        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD