Tif menghubungi Anton belasan kali. Namun, pria itu tidak mengangkat panggilannya. Nampaknya Tif harus merasa puas dengan taksi bandara. Sebelum lepas landas, Anton menghubungi Tif dan bertanya kapan ia akan kembali. Setelah Tif jawab ia sedang dalam perjalanan pulang, pria itu menawarkan bantuan untuk menjemputnya ketika ia sampai karena Anton mungkin masih berkumpul dengan beberapa teman sekantor pada saat ia tiba di bandara. Sepanjang perjalanan Tif menangis dalam tidurnya, merutuki dirinya sendiri karena telah bertindak bodoh dan menghancurkan masa depannya sendiri. Ia terlalu sombong dan pongah pada dunia, merasa bahwa dirinya bisa mengahadapi segala situasi yang akan terjadi. Mungkin setelah ini, seisi dunia akan tertawa di atas kebodohannya. Saat tiba di apartemennya ia melihat pa

