Regan berdiri di luar sana dengan koper di tangan kirinya. Pria itu mengetuk pintu kembali dan menekan bel. Dia akan membuat seisi penghuni kamar di lantai ini terbangun karena aksinya sehingga membuat Tif terpaksa membuka pintu. Tif tidak mengira pria itu akan datang kemari karena yang ia tahu jadwal penerbangan mereka adalah besok, bukan malam ini tapi nyatanya pria itu ada di sini sekarang. “Kenapa kamu kabur?” Tanya Regan tanpa basa-basi. Matanya meneliti Tif dari atas hingga ke bawah untuk mencari apakah ada tanda-tanda wanita itu sakit atau tidak. “Well, sepengetahuan saya,” jawab Tif sambil melipat tangannya di depan d**a. “keberadaan saya di sana tidak begitu penting. Jadi tidak ada bedanya jika saya kembali ke sini malam ini ataupun besok.” “Kamu harus bisa membedakan pekerjaa

