Bab 10

1067 Words
iya ma, jadi gini, mama tadi udah ketemu bang Fandi kan? dia bersedia bantu aku buat bayar semua utang-utang papa, dia juga kasih uang buat modal mama buka rumah makan, mama gak keberatan kan"ucap Jani. "mama sih gak keberatan sayang., tapi kenapa bisa begitu, utang papa mu itu hampir 2 milyar nak, emangnya dia mau bantu sampe sebesar itu, " "mama tenang aja, bang Fandi udah transfer uang nya ke rekening aku, sekarang mama siap-siap terus kita selesaikan utang-utang papa dulu, abis itu kita belanja buat persediaan 2 minggu ke depan, jadi selama Jani ke luar kota mama sama adek udah aman, biar aku tenaang kerja nya. "ucap Jani sembari memeluk mamanya. "Jani janji gak bakalan pernah ngecewain mama"seru Jani "ya sudah mama siap- siap dulu ya, abis itu kita pergi buat selesaikan urusan kamu sama pihak bank. "ujar mama Lastri dan beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian. *** "mas,, kalo malam ini mas gak bisa pulang kesini aku gak apa- apa mas, beneran. "kata Susan pads suami sirinya itu. "iya, nanti mas pulang ke rumah mala dulu, abis itu kesini lagi, kasian anak-anak udah nelpon dari semalam, mas kan dari kalimantan langsung kesini. "jawabnya tegas pada susan.Susan pun merapikan kembali dasi suaminya. dan seraya mencium punggung tangan Rian dengan khidmat. "Jani tadi katanya pulang dulu buat ambil beberapa barang dari rumah mamanya, nsnti sore baru balik. "ucap Rian "kok mas rian tau? " "ya jelas tau lah sayang, mas sama Fandi hari ini ada janji ketemu pak Gubernur jadinya dia kirim pesan kita ketemu di kantor karena dia harus nganter Jani ke Rumah mama nya dulu, gitu sayang!"ucap Rian "ooh... ya udah mas, buruan jalan nanti telat, nanti siang aku sama Jani janjian mau nyalon ya,, boleh ya mas? "bujuk susan dengan manja. "iya sayang, boleh kok,, oh ya,, tadi malam mas sudah transfer uang bulanan mu ya,, udah di cek belum? "tanya Rian. "uang ku bulan lalu aja masi ada mas,, Kenapa di kirim lagi? mas kan lagi butuh biaya besar buat raisa dan raina,mereka mau masuk asrama lho mas,, " "kamu meragukan mas sayang?,, biar pun aku udah gak jadi pegawai pemerintah, tapi perusahaan yang aku rintis dari nol itu, bahkan bisa membiayai keluarga kita tujuh turunan sayang. "ujar rian sambil memicingkan matanya ke arah susan. "gak gitu mas,, maksud aku ya kalo aku minta ato butuh gitu baru dikirim,, lha ini transfer terus,, nanti kak mala gimana,, aku terus yang di perhatikan, "ucap susan sambl mengusap lengan rian. "udah ya sayang,, kamu jangan banyak protes,, aku udah kirim uang buat kamu buat mala sama buat anak-anak sekalian, gaji suster juga udah aku transfer ya,, sudsh puas sayang? "tegas Rian. sambil melirik ke arah arloji yang digunakannya, lalu mengambil jas dan tas kerja nya dan menuju pintu di ikuti oleh Susan. "mas jalan ya sayang, gak enak kalo telat, Fandi udah nyampe kantor soalnya. " "iya mas hati-hati di jalan, kalo kamu mau pulang kesini hubungi aku dulu ya, takutnya aku masi di luar sama Jani. "ucap Susan sembari mencium punggung tangan Rian. *** Bus yang akan membawa para siswa itu ke jogjakarta itu kini telah menepi di salah satu pemberhentian, agar para siswa yang mungkin ingin buang air, ato sekedar menghirup udara segar.Indra pun segera membangunkan Dinda yang sedang terlelap di kursi sebelah. "Din.. din.. dinda.. ayok bangun barangkali ada yang mau di beli ato mau buang air,, mumpung semua bus lagi menepi. " "whoooammmmh,ia makasih In," ucap Dinda sembari menguap dan menggeliatkan tubuhnya. "tuh teman- teman kamu udah pada nunggu,, turun gih, keburu bus nya jalan lagi. "ujar Indra "ya udah, aku turun dulu ya, kamu gak turun? ato mau nitip sesuatu apa gitu?"tanya Dinda. "gak usah, aku udah turun tadi, gak usah repot - repot din" "oke,, aku turun dulu ya. "ucap Dinda ia pun bergegas menuju pintu bus untuk turun karena teman - teman nya sudah menunggu. "cie.. cie... ehemm.. ehem.. bentar lagi udah ada yang mau jadian nih,, perlu dirayain dong kalo sampe jadian"ujar Kania yang lagi-lagi menggoda dinda. "apaan sih kania,, udah jangan berlebihan, belum tentu juga Indra mau sama aku kan, udah ah jangan bikin malu,, "ujar dinda. "ya udah deh maaf ya maaf,, kan kalo kata orang tua,, kalo sudsh jodoh gak kemana,, pasti di pertemukan lagi. " ucap Kania mengalah dan tidak mengganggu dinda lagi "udah selesai belum, ayo naik, keburu bus jalan, entar di tinggalin baru tau rasa lho. "cetus mirma salah satu anggota geng modis. "ia aku udah selesai" "aku juga udah selesai" "Kania kamu gimana,, udah dapet yang mau kamu beli, kalo udah ayo kita naik bus lagi. "ucap "udah kok,, ini belanjaan ku udah lengkap ayo naik." "lets go bestie. "ujar mer eka serempak dan satu persatu mulai naik di bus. *** Jani dan mama Lastri serta Adira kini sudah berada di dalam bank, mereka pun di sambut dengan baik oleh manager bank tersebut, dan kini mereka sudah di dalam ruangan sang manager.Mama Lastri pun menyalami manager itu, dilanjutkan dengan Jani. "selamat pagi pak Willy, maksud dan tujuan saya datang ke sini, untuk mengurus berkas hutang - hutang papa saya ini, dan saya berniat untuk melunasi nya. "ujar Jani yang tidak ingin bertele- tele. "ia baik mba Jani, saya akan siapkan berkas pelunasannya, mau cash atau transfer?"tanya pak Willy sang manager bank. "transfer saja pak, kebetulan saya belum ambil uang cash tadi. " "baik mba Jani,bu Lastri, silakan menunggu sebentar, sambil menunggu staf saya menyiapkan berkas nya, silakan di minum dulu"ucap pak willy sambil menyodorkan 3 botol air mineral pada jani dan mama Lastri. tak lama kemudian staf yang disebutkan pak willy tadi masuk dengan membawa berkas yang harus mereka tanda tangani untuk melengkapi berkas pelunasan atas hutang - hutang almarhum papa nya. "ini berkas nya semua sudah lengkap,tinggal mba Jani selaku ahli waris dari pak Agung Laksono menandatangani nya, dan secara resmi perusahaan pak Agung akan menjadi milik ibu Lastri dan mbak Jani kembali. silakan di pelajari dulu mbak, baru di tanda tangani."ucap pak willy, ia menyodorkan berkas di dalam map itu kepada Jani. Jani mempelajari berkas tersebut dengan seksama, tidak terasa air mata nya mengalir begitu saja, tatkala ia mengingat kala sang papa bangkrut karena di tipu oleh sahabatnya sendiri, hal itu pula yang membuat Jani dan keluarga nya harus hidup berkekurangan karena perusahaan harus di tutup sementara waktu,Jani sangat mengingat jelas dalam ingatan nya. "Aku udah berhasil mengambil kembali milik kita pah,, "gumam Jani sembari menyeka air matanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD