Wajah Maya tampak cemas saat Naira memasuki ruang kerjanya. Naira pun dapat menangkap adanya hal janggal itu. Ia segera mendekati Maya. "Kenapa? Masih pagi udah suram aja. Soal mantan kamu lagi?" tanya Naira. Pupil mata Maya melebar. Ia seolah sudah menunggu Naira sejak tadi. Ia pun segera menarik Naira menuju ke toilet yang ada di lantai tempat kerja mereka. "Kenapa, sih?" bingung Naira. Nada bicara gadis itu sedikit meninggi karena kesal dengan sikap aneh sahabatnya. “Pak Cakra nggak bilang ke kamu? Dia nggak ada pesen apa-apa?” tanya Maya. Naira mengernyitkan alisnya. Ia merasa jika apa yang akan Maya katakan bukanlah hal sepele. Tampaknya, sahabatnya itu memiliki informasi yang sangat penting. “Ada apa sih, May? Jangan bikin aku takut ah!” desak Naira, agar Maya mau segera bicara

