Ara mencibir saat Hans memintanya untuk menemani Mamanya berkeliling kota.
“Aku bukan guide ya kak. Cari saja yang lain ah. Aku mesti urus kegiatan kampus nih. Laporan juga sudah diminta sama Kaprodi (Ketua Program Studi).”
“Ayolah Ra. Nanti kamu mau apa saja bakal aku turutin deh.” Rayu Hans.
“Kamu kan tahu sendiri gimana cerewetnya Tante Maya. Bisa puyeng aku kak.”
“Iya aku tahu Mama memang bawel, cerewet, judes, dan masih banyak lagi. Tapi tolonglah Ra, sehari saja.” Rengeknya.
“NGGAK MAU.”
“Pelit ah.”
“Biarin.”
“Ayolah Ra.”
“Tanteeeeee, Ara ga mau bantuin Hans nih.” Hans berganti merengek pada tantenya.
“Sudah – sudah, ga usah berdebat. Memangnya kak Maya minta kemana?”
“Keliling kota katanya tan.”
“Di kota sini mana ada tempat bagus. Palingan ya ke taman atau pelabuhan. Deket tuh dari sini Hans.” Jawab Tantenya.
“Pokoknya Ara nggak mau bu, titik.”
“Ra, ayolah. Bantuin aku.”
“Udah ya, kemarin aku uda cukup sebel dibilang ga ngapa – ngapain sama tante Maya.”
“Terus Mama keliling sama siapa dong?”
“Sama kamu sendiri saja sana kak.”
“Tan bantuin dong.”
“ Kalau Ara sudah begitu, tante nggak bisa bantu Hans.”
Ara kemudian masuk ke kamarnya, mengambil hape dan mengecek notifikasi. Ada beberapa chat dari teman – temannya untuk ketemuan di kampus.
Nesa
“Ra, nanti ke kampus kan? Laporan menanti nih.”
“Okay, jam sembilan nanti berangkat.” Balas Ara.
Dita
“Ra, kang cilok kok ga keliatan ya di kampus dari kemaren?”
“Meneketehe. Dikira aku tukang absen kang jualan di kampus apa.” Balasnya kesal.
(Tanpa nama)
“Selamat pagi, masih bersama saya Luffi. Bagaimana kabar anda hari ini? Apa menyenangkan? Atau mengesalkan? Jangan lupa sarapan, biar kuat menghadapi kenyataan.”
Ara terbahak membaca chat dari Luffi. Kemudian dia membalas.
“Hari ini cukup menyebalkan. Dimintai tolong nemenin Ibu Ratu yang super cerewet. Oh saya tidak akan tergoda dengan sogokan dalam bentuk apapun.” Balasnya.
“Siapa Ibu Ratu?”
“Tanteku. Lagi mantau anaknya yang kabur dari rumah, dan ga nikah – nikah. Hahaha.”
“Eh yang mana?”
“Oh aku belum pernah cerita ya?”
“Belum.”
“Jadi Mamaku punya kakak laki – laki, dia merantau di Palangkaraya. Dan menikahi orang sana. Nah Om ku ini punya anak namanya Hans. Gara – gara dia selalu dapet cewek matre. Dia ahirnya kabur kesini, alesannya mau buka cabang warung bakso. Tapi sebenernya mau nyari pacar yang ga tau siapa dia. Yang ga mandang dia dari harta.”
“Oooh. Terus – terus?”
“Apanya yang terus?”
“Ya itu tadi kesel nemenin Ibu Ratu tuh kenapa?”
“Ibu Ratu tuh Mamanya dia. Orangnya cerewet, males aku.”
“Kok gitu? Kan dia tantemu?”
“Mau tante kek, kalau nyebelin ya ogah.”
“Nyebelin gimana?”
“Pokoknya nyebelin deh. Bikin emosi kalau inget – inget dia.”
“Hahaha yasudah, sekarang lagi apa?”
“Mau mandi.”
“Ikut dong.”
“Mandi?”
“Iya, sama nih aku juga mau mandi.”
“Yeeee. Yaudah mandi sono.”
“Yaudah ayo video call.”
“Heh dasar m***m!”
“Hahahaha. Sudah lama ga turun kapal nih. Tiap hari liatnya cowok mulu. Sepet ini mata.”
“Yeeee, mandi sono.”
“Mandiin dong.”
“Halah. Kek bayi aja.”
“Sabunin, nanti gantian aku yang nyabunin kamu.”
“Ogah!”
“Loh kan enak, sambil dipijit. Tapi aku maunya mijit yang empuk – empuk saja. Hahaha.”
“Kayanya emang lagi geser nih otaknya, kelamaan ngeliat batang. Hahaha. Kapan turun kapal?”
“Bulan depan.”
“Oh ya?”
“Tapi.”
“Tapi apa?”
“Tapi bohong. Hahaha.”
“Tau ah. Aku mau mandi.”
Bukannya mengahiri percakapan, Luffi malah melakukan panggilan video ke Ara.
“Apa? Kok video call?”
“Katanya mau mandi?”
“Ya ini mau berangkat. Kamu malah video call.”
“Yaidah berangkat sana.”
“Ya matiin dulu lah.”
“Lah, aku kan video call kan buat mastiin, kamu beneran mandi apa enggak.”
“Halah. Alesan. Dasar mesum.”
Ara mematikan panggilan video itu. Lalu meninggalkan hapenya di kamar. Biar ritual mandinya tidak terganggu oleh Luffi. Saat Ara baru keluar kamar tiba – tiba
“Ayolah Ra bantu aku.”
“GAK.”
Ara menutup pintu kamar mandi dengan kencang.
“Pelan – pelan ra, nanti jebol.” Ucap Ibunya.
“Suruh dia pulang Bu, Ara mau ke kampus. Awas saja kalau dia masih disini. Ku bongkar semua rahasianya ke Ibu Ratu.” Ancam Ara.
“Kamu denger sendiri kan Hans. Kamu pergi deh, kamu temenin saja Mamamu mau kemana. Tau kan kalau Ara ngamuk kaya gimana?”
“Iya deh tan. Aku balik dulu.”
Hans pun menyerah. Dia pergi dengan segala kegalauan. Apa yang harus dia katakan pada Ibunya nanti.
***
Di kampus.
Ara memarkirkan motornya dan mengambil tas berisi berkasnya. Dia melihat kampus cukup sepi hari itu. Tak lama dia berjalan menuju basecamp, terdengar ada yang memanggilnya.
“Raaaaa.”
Dia pun menoleh ke arah suara tersebut. Ternyata Dita.
“Apa?” jawabnya.
“Tunggu. Aku bareng.” Dita membenarkan posisi rambutnya yang sudah acak – acakan terkena angin. Kemudian mengecek lipstiknya dan barulah menenteng tas nya.
“Lamaaaaa. Aku tinggal nih.”
“Bentar dong.” Ucap Dita sambil berlari kecil menuju Ara.
“Ra, kang cilok kemana ya?”
“Napa? Kangen?”
“Aku penasaran deh sama dia Ra.”
“Kenapa penasaran sama kang cilok sih? Gara – gara hapenya bagus?”
“Halah, palingan itu cuma casing.”
“Bukannya dulu kamu yang paling kekeh itu asli?”
“Hehe. Jadi gini, kemarin pas aku lagi beli baju di butik. Aku lihat ada orang yang mirip banget sama kang cilok.”
“Dimana?”
“Butik Allix.”
“Yakin kamu? Kan itu butik mahal. Mana ada kang cilok beli baju disana?” Ara mulai kehabisan alasan menghindari ucapan Dita.
“Tapi mirip bangey loh Ra.”
“Terus ga kamu hampiri itu kang cilok?”
“Engga, hahaha. Dia sama Ibu – Ibu sih. Apa jangan – jangan kang cilok itu...”
“Apa lagi?”
“Pacaran sama Tante – Tante.”
“Hahahaha. Ada – ada saja kamu Dit.”
“Ya sapa tahu kan dia butuh duit?”
“Imajinasimu terlalu gawat. Sudah ah, laporan sudah menanti.”
“Tapi Ra.”
“Sudah nanti lagi. Ayo sudah ada Nesa tuh. Mau disemprot sama dia?”
“Yaudah ayo.” Dita ahirnya menuruti Ara untuk segera mengerjakan laporan kegiatan.
Baru saja Ara menata berkas yang akan di cek. Tiba – tiba Hans menelponnya.
“Ra bantuin aku dong. Pleaseeeee.”
“Kak, aku lagi ngerjajn laporan nih. Gak bisa.”
“Mama ngomel nih. Bantuin dong.”
“Bentar aku nanya temenku dulu.”
“Nes, laporan bisa ditunda gak?” tanya Ara.
“Ada apa Ra?”
“Kamu mau gak jalan – jalan sama aku?”
“Kemana?”
“Sesukamu deh kemana. Gratis.”
“Aku gak diajak juga nih Ra?” sahut Dita.
“Iya diajak. Kau Nesa mau.”
“Ayo deh Nes. Kalan lagi jalan – jalan gratis.” Rayu Dita.
“Tapi laporannya?”
“Besok deh. Gimana?”
“Boleh deh.”
“Ada syaratnya loh kak.”
“Apapun deh. Boleh.”
“Siapin kartu kreditnya. Aku ga mau tekor. Semua harus kamu yang bayar. Dan aku sama dua temanku.”
“Heh siapa? Dita bukan?”
“Iya haha. Mau gak?”
“Iya deh boleh. Duh Mama ngomel mulu nih. Cepet ke hotel. Nanti kartu kreditnya aku titipin supir. Jangan sampai Dita tahu loh Ra.”
“Beres.”
Ara menutup teleponnya. Lalu segera merapikan basecamp. Mereka pergi ke parkiran dan mengambil motor mereka masing – masing.
“Loh sudah mau balik mbak?” tanya satpam di parkiran.
“Iya pak, ada keperluan.” Jawab Ara sekenanya.
Mereka bergegas menuju hotel tempat Ibu Hans menginap. Sesampainya disana Ara menelpon Hans.
“Tante masih di kamar kak?”
“Iya, sebentar lagi turun kok. Supir juga sudah menuju kesana. Inget jangan sampai Dita tahu.”
“Beres.” Ara menutup telepon dan mengajak kedua temannya untuk menuju lobi hotel. Tak lama supir yang Hans suruh sudah sampai.
“Mbak Ara ya?” tanyanya.
“Iya pak.”
Supir itu memberikan kartu kredit milik Hans pada Ara.
“Sudah siap mbak?”
“Belum pak, masih nunggu Ibu Ratu. Eh tante saya.”