Sore itu Hans dan Ara memulai sandiwara mereka. Mereka saling berbalas pesan.
“Sayang lagi ngapain?”
“Lagi santai saja nih. Kamu ngapain?” Balas Ara.
“Aku lagi mau nemenin Mama jalan – jalan. Kamu mau ikut?”
“Jalan – jalan kemana?”
“Jalan – jalan deket sini saja.”
“Aku banyak tugas nih. Maaf ya, lain kali saja.”
“Iya deh, kamu semangat ya ngerjain tugasnya.”
“Iya, kamu hati – hati ya. Salam ke mama ya.”
“Iya nanti aku sampaikan. Aku berangkat dulu ya. Dah.”
Ara membalas pesan Hans dengan tertawa ngakak. “Nggilani” ucapnya saat membaca lagi isi sms nya dengan Hans.
Hans menuju hotel, menjemput Ibunya untuk jalan – jalan. Benar saja, belum juga turun dari mobil, Ibunya sudah bertanya soal menantu.
“Gimana Hans? Sudah punya pacar? Kalau masih belum, nanti mama kenalkan sama anak teman mama.”
“Ga usah Ma. Hans sudah punya pacar kok.”
“Serius?”
“Iya Ma.”
“Mana mama mau lihat fotonya.”
Deg. Hans kaget mendengar ucapan Mamanya. Foto siapa yang harus dia tunjukkan. Sementara galeri hapenya saja masih sedikit foto. Dan semua itu hanya foto tentang warung baksonya. Semua foto masa lalu ada dihapenya yang lama. Karena dia ingin mengubur masa lalunya. Ditinggalkannyalah hape itu di rumahnya, Palangkaraya.
“Hans ga punya fotonya Ma. Dia pemalu.”
“Masa ga punya satupun fotonya?”
“Iya Ma, anaknya ga suka difoto.”
“Kamu ga sedang bohongi Mama kan?”
“Enggak Ma. Tadi aku juga sudah ngajak dia buat jalan – jalan sama mama. Eh dianya ga bisa.”
“Gak bisa kenapa?”
“Banyak tugas katanya.”
“Dia masih sekolah Hans? Kamu pacaran sama anak SMA hah?” tanya Mamanya.
“Eh enggak kok Ma. Dia sudah kuliah kok.”
“Kuliah di tempar Ara?”
“Iya Ma.”
“Ara kenal?”
“Ara belum tahu Ma. Belum Hams kenalin.”
“Bagus, harusnya memang Mama dulu yang tahu pacarmu. Yang lain belakangan saja.”
“Iya Ma.”
“Hans, Mama mau lihat ke toko itu dong.” Ibu Hans menunjuk salah satu butik terkenal di kota itu.
“Iya Ma.”
Mereka pun turun. Ibu Hans segera melesat masuk ke dalam toko. Hans hanya nyender di samping pintu masuk.
“Ada yang bisa saya bantu pak?” ucap pelayan toko itu.
“Bantu Mama saya saja mbak. Tuh yang disana.” Ucap Hans sambil menunjuk ke arah mamanya.
“Oh, Ibu itu sudah ada yang melayani pak. Bapak silahkan lihat – lihat.” Ucapnya lagi.
“Iya terima kasih. Saya disini saja.” Jawab Hans.
“Tapi nanti saya yang kena tegur atasan Pak, kalau Bapak cuma berdiri disini.” Ucapnya memelas.
“Baiklah. Sebagai gantinya, kamu temani aku lilat – lihat.”
“Baik Pak. Bapak mau beli apa buat istrinya?”
“Weh, istri. Saya masih belum nikah mbak.”
“Oh maaf Pak. Saya kira sudah. Hehe.”
“Belum ada calon mbak. Emangnya mbak mau jadi istri saya?”
Pelayan toko itu tersenyum “Maaf, saya sudah punya pacar Pak.” Jawabnya pelan sambil malu – malu.
“Yah, patah hati deh saya. Hahaha.” Ucap Hans sambil tertawa. Pelayan itu juga ikut tertawa.
“Ini adalah produk terbaru dari toko kami Pak. Bapak bisa belikan ini untuk calon istrinya.”
“Kalau mbaknya mau, beli saja mbak. Tapi jadi istri saya dulu. Hahaha.”
“Bapak nih bisa saja. Tapi saya ga mau ah jadi istri Bapak. Nanti kalau lagi ga sama saya, malah godain pelayan toko.” Ucapnya sambil tertawa pelan.
“Bisa saja kamu. Saya banyak uang loh. Yakin ga mau sama saya?”
“Semakin Bapak begini, semakin saya ga mau. Takut saya pak punya suami kaya, nanti malah gampang nyeleweng.” Ucapnya lempeng saja.
“Jadi ga mau nih punya suami kaya?” goda Hans.
“Bukannya ga mau, tapi takut.”
“Berarti mau sama saya?”
“Engga pak. Makasih. Bapak jadi beli yang mana, ayo saya ambilkan.”
“Hahaha. Iya deh iya, ambil tas itu boleh deh.”
“Siap pak” pelayan itu segera membawa tas tersebut ke kasir. Hans mengikutinya.
“Sekalian di bungkus ya mbak. Saya kesana sebentar.”
“Baik pak.”
“Gimana Ma? Sudah ada yang cocok?” Tanya Hans pada mamanya yang masih sibuk memikih pakaian.
“Sudah dong. Sudah dibawa ke kasir sama pelayannya.”
“Yang di kasir tadi punya Mama semua?”
“Iya memangnya kenapa? Mau ngomel lagi?” ucap Ibunya, membuat Hans tak berani lagi ngomel.
“Sebahagia Mama saja deh.” Ucapnya sambil melipir ke kasir.
“Ini sudah dibungkus pak.” Ucap si kasir.
“Berapa mbak?”
“Dua juta delapan ratus sembilan puluh ribu rupiah pak.” Jawabnya.
“Itu sudah sama bungkusnya?”
“Bungkusnya gratis pak.”
“Oh oke. Pakai debet bisa kan?”
“Bisa pak. Barang Ibunya sekalian juga pak?”
“Jangan mbak. Duitnya banyak, biar dibayar sendiri saja. Hehe.”
“Baik pak.”
Kasir itu segera memberikan barang Hans. Kemudian dia terburu – buru membuka bagasi mobil dan menaruhnya disana. Lalu dia kembali masuk ke dalam toko.
“Hans, bayarin punya Mama dong.” Ucap Mamanya yang sudah ada di meja kasir.
“Lah Mama kan banyak duitnya.”
“Sini kamu.” Ucapnya sambil menjewer Hans.
“Bayarin gak. Kalo ga dibayarin mama ga lepasin ini.” Lanjutnya.
“I iya Ma, iya Hans yang bayar.” Ucapnya sambil memegangi telinganya yang dijewer.
“Gitu dong.”
“Ma, Hans besok sudah buka warung lagi. Mama gapapa di hotel sendirian? Atau Mama mau ke rumah tante Sari saja?”
“Mama mau keliling kota besok. Bilang pacarmu ya, temeni Mama besok.”
“Dia kuliah Ma. Mana bisa.”
“Mama ga mau tahu. Mama pokoknya mau keliling kota besok.”
“Mbak, mau nemenin Mama saya keliling kota ga besok?” ucapnya pada pelayan yang tadi melayaninya.
“Apaan sih Hans. Kok malah nyuruh orang. Mama maunya pacar kamu.”
“Kalo gitu biar ditemenin Ara deh. Nanti Hans yang bilang.”
“Coba telpon pacarmu sekarang. Mama mau nanya dia besok kuliah apa enggak.”
“Di mobil sajalah telponnya Ma, udah mau magrib ini.”
“Yaudah iya.”
Hans segera mengirim pesan pada Ara. “Ra, Ibu Ratu mau telpon pacarku. Gimana dong?”
“Kok tiba – tiba sih kak?” balas Ara.
“Kamu bilang saja ga bisa kalo diajak jalan, bilang sibuk kuliah atau apalah. Jangan balas lagi. Bentar lagi aku telpon.”
Ara membacanya. Dia mulai latihan mengubah suaranya. “Aaaa.” Belum juga Ara fokus mengubah suara Hans sudah meneleponnya.
“Halo sayang. Lagi apa?”
“Iyuh kak. Hahaha.”
“Oh lagi belajar ya. Besok ujian?”
“Alasan yang bagus.”
“Mama aku mau ngobrol nih sama kamu.”
“Halo tante.” Ucap Ara.
“Iya halo nak. Ini Mamanya Hans, nama kamu siapa?”
“Namaku Rebeca tante. Tante gimana kabarnya?”
“Alhamdulillah baik. Kamu besok bisa temani tante jalan – jalan gak?”
“Aduh maaf tante, Saya besok ada Ujian. Jadi ga bisa nemani tante.”
“Ujian? Kamu sekampus sama Ara kan?”
“Ara siapa tante?”
“Adik sepupunya Hans, dia bilang kalau kalian sekampus.”
“Oh Ara yang itu. Iya tapi beda fakultas tante.”
“Bukannya sekarang lagi libur semester? Ara ada di rumah saja tuh seharian.”
“Uhuk – uhuk.” Ara tersedak. Dia lupa kalau sekarang sedang masa liburan semester. “Iya tante memang libur, tapi saya ada ujian besok. Ujian buat ikut lomba.”
“Wah kamu rajin sekali. Gak seperti Ara tuh yang kerjanya di rumah saja. Yasudah, semoga lancar ya besok.”
“Makasih tante. Semoga perjalanan tante menyenangkan.”
Tut. Ara segera menutup teleponnya. Dia sebal, karena dia merasa digibahin sama tantenya sendiri. Bisa – bisanya gibahin ponakan ke orang yang belum dia kenal, pikirnya.