BAB 5. │ASSISTEN OR BABU

1960 Words
Sabtu yang ditunggu-tunggu Nika adalah nanti siang ia bisa pulang kerumah, bertemu dengan orangtuanya dan adiknya, rasanya senang sekali bisa pulang bertemu dengan keluarga dan tentu saja nanti ia juga akan bertemu dengan kirei sahabatnya, bertemu dengan kirei adalah untuk melepas penat setelah seminggu ia disibukkan dengan segala pekerjaan barunya dengan bosnya. Pagi itu Nika memang siap-siap apa yang akan ia bawa pulang, untuk baju ia tak perlu membawa pulang karena disini ia bisa mencuci dan paling Nika akan membawakan sedikit oleh-oleh untuk kedua orangtua dan adiknya. Mood yang dibuat Nika sebagus mungkin malah meluncur dengan apik. Nika menggrutu hari sabtu yang cerah ini harus di rusak karena mood Rama yang juga sama-sama menyebalkan, pasalnya Rama meminta pada Nika untuk pulang besok kerena siang ini Rama membutuhkan bantuan Nika. Dan sekarang Nika sudah berada diruang wardrobe untuk menyiapkan beberapa kebutuhan Rama untuk syuting mendadak, kali ini syuting Rama berada dibogor mau tak mau Nika memang harus mengudurkan kepulangannya. “Nik, gue nggak mau pake kemeja ini, cari yang lain.” “Ya yang mana? Mas Rama pilih sendiri sih—dari tadi enggak ada yang cocok yang ngerubah isi koper mulu nih.” “Tugas lo kan asissten ngapain marah-marah sama gue, cariin!” Tampak Nika menghela nafas lelahnya, ini masih pagi dan dirinya belum mengisi perutnya sedang kepalanya semakin terasa pusing. “Ya ini gimana?” tanya Nika akhirnya mencoba bersabar. “Oke, lo atur—gue mau makan.” pinta Rama seenaknya. Setelah kepergian Rama tampak Nika menjatuhkan tubuhnya, ia lelah sudah pasti apalagi kepalanya terasa nyeri, perutnya lapar tapi bosnya tak akan membiarkan Nika bisa makan sebelum pekerjaannya selesai, memang kampret. “Gapapa Nik, sabar—itung-itung lo lagi puasa.” gumam Nika. Selesai memberesi ruang wardrobenya Nika turun ke bawah bermaksud untuk makan, disana masih ada Bi Inah dan juga bosnya tentunya, ia mendekati Bi Inah untuk meminta makan namun masih ada Rama disana jadi ia hanya mengambil minum. “Lo makan dulu deh, abis tuh ikut gue ke Bogor—pulang besok pagi aja.” titah Rama sembari menyuap nasi ke mulutnya. “Iya Mas, emang harusnya begitukan.” Tak lama Rama pergi setelah meletakan piringnya ditempat cuci piring, tampak Nika memandang kesal Rama yang mendapatkan kikikan dari Bi Inah, ART itu sepertinya sudah sangat hapal dengan tabiat majikannya yang memang mengesalkan namun baik itu. “Makan dulu Nik, Bibi bikin sayur asam nih ada tempe goreng sama ikan asin.” “Wahhh—mantap banget Bi—sambelnya ada nggak? Hehehe” Bi Inah memberikan secawan kecil berisi sambal terasi. “Makasih Bibi Inah yang paling baik..” “Sana makan, yang banyak kerjaanmu butuh tenaga ekstra.” Dengan lahap Nika memakan masakan Bi Inah, Nika beruntung sekali ada Bi Inah disini ia bisa mengobati rindunya dengan sang Ibu melalui makanan yang dibuat oleh Bi Inah ini, taka pa ia tak pulang hari ini toh besok ia bisa melepas rindu dengan kedua orangtuanya Suara sendawa membuat Nika membungkam mulutnya malu, ia makan seperti setahun tak memyentuh nasi tapi percayalah masakan Bi Inah ini memang enak. “Maaf Bi hehehe—enak banget soalnya.” Bi Inah hanya menggelengkan kepalanya. “Iya nggak apa-apa, sini piringnya katanya suruh siap cepet-cepetkan?” Nika mengangguk. Baru saja Nika ingin meneguk minumannya suara Rama sudah mengudara. “Nika, buruan lama amat sih!” teriak nyaring Rama. “Tuh udah dipanggil sana, semangat kerjanya nih Bibi bawain minuman.” “Aahh—makasih Bi Inah, Aku pamit dulu ya.” Bi inah hanya mengangguk dan membiarkan Nika untuk bergagas menghampiri majikannya. Tampak Rama tengah menunggu Nika di ruang tamu dengan ponsel berada ditangannya, Nika tampak menarik koper berisi keperluan Rama kemudian dirinya menghampiri Rama bahwa ia sudah siap mengingat jam sudah semakin siang. “Mas Rama mau berangkat sekarang apa nanti?” “Tahun depan!” ujar Rama tak acuh. ♣♣♣ Dapat bekerja lagi itu rejeki, tapi kalo mendapat bos layak setan juga nasib. Semenjak tadi setelah mereka sampai ditempat mereka syuting yang memang lokasinya berada dioutdoor dan memang hari ini cuacanya amat sangat panas menyengat membuat mood Rama anjlok. “Nik, kipas buruan panas banget!” ngoceh Rama membuat Nika langsung siaga dan sigap. “Ini Mas—Mas Rama mau minum?” tawar Nika. “Nggak!” Nika menghela nafasnya kesal, memiliki bos seperti Rama memang harus tahan banting, apa semua artis akan begini pada asisstennya karena baru kali pertama ia bekerja bersama artis jadi ia memang sedikit kaget. “Nika gue mau minum.” teriak Rama setelah selesai melakukan take satu. Nika dengan cekatan langsung membawa botol minuman untuk Rama, sementara Rama minum dengan telaten Nika mengelap keringat Rama yang menetes kemana-mana. Hingga seterusnya Rama tak henti-hentinya meneriaki nama Nika untuk melayani keinginannya. Sungguh bekerja dengan Rama membutuhkan tenaga ekstra, ia kira bekerja dengan artis laki-laki tak serumit ini kenapa Rama malah mirip sekali dengan perempuan. Rama tak henti-hentinya memanggil Nika untuk menginginkan ini dan itu, seperti Nika minta tissue, Nika lapin keringat gue, Nika gue mau minum, Nika payungin gue, Nika bla-bla tanpa sepengatahuan Rama Nika benar-benar mendengus kesal, sepertinya dirinya bukan lagi asissten tapi melainkan babu eh bukannya asissten itu nama kerennya dari babu? “Gempor jug ague lama-lama kalo begini,” bisik hati Nika yang sudah sangat gondok berharap syuting kali ini segera usai. Namun ternyata syuting membuat video klip membutuhkan waktu yang tak singkat alias harus seharian penuh, apalagi sore ini bogor diguyur hujan lebat membuat semua kru dan para artis terburu-buru menyelamatkan barang-barang mereka dan untungnya saja ujan mengguyur disaat kegiatan syuting dialam terbuka itu usai. “Payungin gue dulu oon,  gue kena air ini.” “Ini juga udah dipayungin Mas, kan airnya muncrat.” jawab Nika dengan berani “Jawab teroosss!” Nika akhirnya memilih untuk diam. Sampai di mobil tanpa babibu Rama langsung melepas kemejanya yang memang basah dilengan bagian kanannya, bukan hal yang baru lagi untuk pemandangan Nika bila bosnya ini memang suka ngadi-ngadi membuka bajunya sembarang tempat. “Kaos Nik.” pinta Rama dan dengan cekatan Nika memberikan kaos yang memang sudah ia siapkan tanpa perlu membuka kopernya lagi. Karena hari ini Donna tak ikut dengan mereka jadi hari ini hanya ada Rama dan Nika tentu dengan sopir yang setia menemani Rama—Pak Yanto. Rama tampak diam saja sembari memejamkan mata sedang Nika yang duduk dibagian belakang menatap hujan yang tengah mengguyur rasanya ia benar-benar ingin pulang. “Nik, pijetin kepala gue.” suara Rama membuyarkan lamunan Nika. “Iya bos!” “Mari ngebabu lagi, Nik..” ♣♣♣ Hari Minggu cepat berlalu dan sekarang dipagi sekali Nika sudah berada dirumah rama lagi hingga seminggu kedepan, berharap hari ini pekerjannya ringan-ringan saja karena semalam dirinya masih merasakan demam ditubuhnya sesaat dirinya hujan-hujan kala sabtu kemarin. Namun sayang sekali harapan Nika benar-benar ditolak oleh sang maha kuasa, pasalnya rumah Rama benar-benar seperti kapal pecah, bila hari Minggu memang Rama meliburkan semua orang yang bekerja dengannya. Entah baru saja ada goncangan gempa bumi atau apa yang pasti rumah Ra,a benar-benar seperti kapal pecah, gelas-gelas berceceran dimana-dimana, bekas makanan tergletak begitu saja, remahan bekas kulit kacang berceceran dimana-mana. Nika saja yang melihat ingin berkata kasar apalagi Bi Inah yang harus membersihkan disetiap sudut rumah Rama itu. “Loh Nika kenapa enggak masuk kamu?” suara Bi Inah membuat Nika mengalihkan pandangannya. “Biiii—aku tuh lagi syok lihat rumah Mas Rama udah kaya kapal pecah, emang selalu begini Bi?” “Oallah, udah biasa Nik—nanti biasanya Mas rama nyewa home cleaning servis kok jadi Bibi enggak ikut bantuin bersihin cuman ngarahin doang—sudah sana masuk.” “Oh gitu—eh iya Bi.” Sungguh baru kali ini Nika melihat dengan mata kepalanya sendiri ada beberapa artis yang ia kenal meski hanya namanya ia tahu, apalagi bekerja dengan Rama membuatnya ia kenal dengan beberapa rekan artis dan sekarang ia melihat sendiri bagaimana para artis itu tanpa ada malu itu masih terlentang terlelap ada yang tidurnya sembari dengan wanita, beginikah dunia artis. Tak ingin lebih lama disana Nika pergi ke lantai tiga, dimana kamarnya berada. Karena ia tak membawa apa-apa hanya beberapa baju ganti yang ia bawa dari rumah. Kamar Nika memang berada di lorong paling pojok bersebelahan dengan kamar Donna dan sebelum ia mencapai kamarnya ia harus melewati kamar milik Rama sebelum mencapai tangga yang menyambungkan ke lantai tiga, baru saja ia terengah menaiki tangga telinganya mendengar suara ribut-ribut dari kamar milik Rama. Sebenarnya Nika tak ingin ikut campur dengan keributan itu bahkan ia ingin segera sampai dilantai tiga tapi sayang sekali netranya terlambat malah mendapati manusia berjenis wanita dan laki-laki tengah adu mulut—yeah dua wanita dan satu laki-laki tepatnya sedang dua-duanya hanya memakai dua baju dalaman, Nika yang yang tak ingin semakin berfikir negative lebih baik ia segera menuju ke kamarnya. Memang dasar Nika memang perempuan ceroboh, kakinya yang ia paksa untuk berlari cepat malah menendang meja kecil sisi tangga membuat vas bunga yang manjadi pemanis meja tersebut jatuh dan berakhir memang pecah. “hadeuhhhh—segala nyandung meja lagi ini kaki, g****k banget lo sih Nik!” umpat Nika dalam hati dan ia tak berani mengedarkan pandangannya kemana-mana ia fokus membersihkan vas bunga yang pecah. Selain itu suara yang tadinya amat ribut kini berganti menjadi suara hening. “Masuk kalian berdua, gue urus dia dulu—jangan ada yang keluar dari kamar sebelum gue balik ke kamar ini.” Suara bisik-bisik itu samar-samar Nika dengar, pastilah setelah ini ia kana mendapati bosnya itu mengamuk padanya, sungguh hari senin yang biadab dan sial. Harusnya ia tadi harus lebih hati-hati bukan bukan malah menjadi manusia ceroboh. Namun dengan begitu Nika tetap membersihkan sisa-sisa pecahan vas, menyingkirkan kesisi pinggir agar yang berjalan nanti tak terkena pecahan vas bunga ini. Seperti inilah hal yang paling Nika kesal ikecerobohannya dari dulu tak pernah bisa sembuh ada saja tingkahnya. “Bangun!” suara berat itu membuat Nika tersentak. “Lo budge?! Bangun gue bilang—cepatan Shanika!” ulang Rama lagi. “I—iya Mas—maaf sa—saya enggak seng—sengaja mas, sungguh.” Nika memberikan dua jarinya tanda sumpah. Tanpa babibu lagi Rama langsung menarik pergelangan tangan Nika dan membawanya ke lantai tiga dimana letak kamar Nika berada, Nika sudah merasa takut dan menyesali. “Mas—Mas Rama, sakit Mass..” rintih Nika ketika pergelangan tangannya ditarik kuat oleh Rama. Sayang sekali Rama menulikan telinganya ia tetap menarik pergelangan tangan Nika hingga mereka berada didepan kamar Nika, Rama membuka pintu kamar Nika dengan gerakan kasar tak lupa ia juga mendorong Nika masuk. “Mass maafff—“ ♣♣♣ Nika tampak mengelus pergelangan tangannya ada bekas merah disana, sungguh baru kali ini ia melihat seseorang marah dan mungkin level marah sudah berada diubun-ubunnya. “Lo lancing banget tiba-tiba ada disana—kenapa lo enggak langsung lari kesini!” marah Rama. “Maaf Mas—sa—saya enggakk senagaja dan enggak tahu.” Nika menjawab dengan menundukkan kepala. “Lihat apa lo tadi hah!” Nika menggeleng mantap. “Jawab, bukan malah diem.” “Sumpah Mas saya enggak lihat apa-apa, saya cuman denger suara ribut saya mau naik ke lantai ini tapi malah saya nyandung meja tadi, maaf mas.” Rama menghembuskan nafas leganya, Nika jangan sampai tahu kalo kelakuannya sebagai artis memang amat sangat b***t, sepertinya lain kali dirinya memang harus ekstra hati-hati, mengingat Nika ini orang baru. “Inget, apapun yang entah lo lihat tanpa sengaja atau lo dengar keributan tadi lupain aja, ngerti lo!” Nika mengangguk lagi. Lantas Rama pergi begitu saja, membuat Nika menatap pintu kamarnya yang terbanting tanpa ada salah itu. Kenapa Rama mesti marah toh dirinya tak melihat apapun, ia tampak seperti istri yang menatap basah suaminya yang tengah berselingkuh. “Emang dasar artis, sukanya bebas-bebas. Abis kena penyakit nanti nangess..” ♣♣♣
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD