Sebuah langkah awal untuk Shanika memulai pekerjaan barunya sebagai asissten artis yang tak begitu pro. Ini pekerjaan baru untuknya dulu ia bekerja di PT, PT, dan PT hingga akhirnya ia mendapatkan pekerjan lain dari sebelumnya, pengalaman pertama untuk Shanika merabah dalam pekerjaan ini. Meski baru asissten lama Rama—Anna tak melepas Shanika begitu saja ia akan membantu Shanika mengatur dan mengikuti kemana saja kegiatan Rama semuanya dari yang terkecil hingga terpaling penting.
Shanika berharap pekerjaan ini membuat ekonomi keluarganya terbantu meski sekarang ia hanya dibolehkan pulang satu kali dalam seminggu, berharap pekerjaannya ini lebih baik dari yang sudah-sudah. Pengalaman pertama Nika juga bekerja dengan seorang artis yang multitalenta.
Saat ini Nika tengah menunggu Rama sedang melakukan syuting on air dengan salah satu stasiun televisi tentunya bersama dengan Anna dan sekarang wanita itu tengah asik bersanda gurau dengan para orang-orang dibalik layar sedangkan ia duduk disalah satu kursi sesekali mendengarkan perbincangan orang-orang itu.
“Nika, sini dong! Ikutan ngomong-ngomong begini biar nanti aku udah beneran resign kamu sendiri enggak kagok, mereka enggak julid kok, sini.” Anna mengajak Nika untuk bergabung dalam lingkaran mereka.
“Iye sini aja nek, kita ngomong-ngomong sini, kenalan biar you kenal kita-kita.” Suara lain yang dibuat-buat.
Nika yang diajak gabung akhirnya beranjak dari kursi yang ia duduki tadi, meski terasa canggung ia harus tetap bersosialisasi dengan mereka.
“Nama ye siapa, kenalin sini.”
“Saya Shanika, Mas—eh Mbak—“ kikuk Nika karena yang bertanya seorang laki-laki nmaun berpenampilan seperti perempuan.
Semua orang yang berada diruangan itu tertawa dengan sebutan yang Nika katakana. “Panggil aja dia Juminten, Nik.” Sahut Mbak-mbak dengan kepala berhijab.
“Hehehehe—iya Mbak..”
“Enak aja panggil gue Juminten bagus-bagus gue ada nama panggilan Rose.”
“Bunga bangkai kale, Rose-Rose!” sahut Mbak-Mbak dengan rambut pirang.
“Gini deh Nik suasana orang-orang dibalik layar si artis kalo enggak ada kerjaan kita ngerumpi, nanti kalo udah enggak ada aku kamu mesti berbaur begini ya, enggak apa-apa orang-orangnya baik.” Anna menjelaskan pada Nika agar kecanggungannya disisikan lebih dulu.
“Bener, jangan sungkan—berbaur aje, enggak akan di gigit kok ye.” Sahutan tertawa mengudara.
“Iya Makasih Mbak Rose.”
“Lama-lama juga ntar kamu terbiasa, Nik.”
“Iya Mbak Anna.”
Beberapa jam kemudian acara on air Rama selesai, Rama masuk kembali ke ruang wardrobe, dengan cekatan seperti yang diajarkan oleh Anna, Nika memberikan botol minum pada Rama dan Rama menerimanya segera meneguknya sedang Nika membantu mengelap ringan keringat Rama.
“Donna, abis ini gue ada acara kemana lagi?”
“Kosong Ram, jam empatan lo ada janji ketemu sama Andre buat bahas musik lo.” Donna membacakan agenda Rama hari ini.
“Oke—Nik kaos gue dong gue mau ganti.” pinta Rama kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan keruang ganti.
Nika yang dimintapun menurut meski ia sedikit merasa aneh, masalahnya saat Rama ganti baju ia harus melayani laki-laki itu juga, meski tak ikut masuk dalam bilik ganti sama saja rasanya aneh.
“Tenang sih Nik, cuman suruh nunggu didepan biliknya doang kenapa jantung ikutan bertalu!” cerca batin Nika saat mengikuti Rama ke ara ruang ganti.
“Eh lo ngapain bengong, kerja lo ngurusin gue bukan buat begong!” sindir Rama kemudian mengabil kasar kaosnya.
Nika menatap pungung lebar itu dengan kesal, kan yang bikin dia tidak fokus juga dirinya. “Lo mau bengong sampai kapan?” Rama menyindir Nika lagi.
“Eh—saya, ikut masuk Mas? Jangan deh saya nunggu disini aja kalo ada yang susah saya bantuin.”
Tampak Rama memutar bola matanya kesal, seperetinya asisstennya ini beda dari yang lain, sepertinya juga Nika ini satu spesies dengan Anna. Dulu pertama kali Anna bergabung dengannya Rama juga melakukan aksi menjahili seperti ini, ia akan menguji Nika apakah ia meminta ikut masuk perempuan ini juga akan masuk.
“MASUK!”
“Eh tapi Mas—“
♣♣♣
Kesal sekali rasanya dipaksa untuk melakukan hal yang tak Nika inginkan, selain ngeselin, abang dari sahabatnya ini memang tukang maksa. Tiga hari lalu Nika bekerja dengan Rama baik-baik saja bahkan laki-laki yan duduk didepannya ini tak melakukan hal yang membuat Nika kesusah tapi hari ini sepertinya sikap dajjal laki-laki ini keluar dari singgahsananya.
Menahan kesal Nika lebih baik diam dan mencoba memejamkan matanya, baru beberapa menit ia bisa santai memejamkan mata bayangan kurang ajar menghatam sel-sel kepalanya, pahatan tubuh Rama yang terbentuk apik melintas dikepala polos Nika membuatnya seketika membuka matanya menggerutu kesal dalam hatinya.
“Sialan banget sih, juga baru kerja sama artis gini amat, masak gue yang polos nan sholehah begini disuruh lihat badan terpahat oke begitu, kan jadi mau ngelus—eh sadar Nika!” bengong Nika semnbari menyandarkan kepalanya pada kaca mobil.
“Eh mau makan dimana Ram?” tanya Donna selaku teman mengatur jadwal Rama.
“Di pantai.” jawab asal Rama tanpa mengalihkan pandangan matanya dari ponsel pintarnya.
“Ngaco lo! Mau dimana?”
“Biasa aja.” jawab Rama tanpa beban.
Makan siang selesai, di sisi lain Nika juga bersyukukr bosnya ini tak banyak menuntut ingin makan apa saja, hanya saja jiwa kurang ajar dan jahilnya mendominasi selebihnya Rama artis yang tak banyak mau. sampai dirumah Rama, yang pertama melenggang keluar adalah si Rama dan kemudian menyusul Nika, Anna, serta Donna.
“Jangan kaget kalo bos lo begitu ya Nik, ntar lo sama gue, Mbak Anna seminggu lagi benar-benar resign.” Donna menepuk bahu Nika.
Nika mengangguk, mau tak mau setelah ini ia juga harus mandirikan. “Siap Mbak Donna, doain semoga aku betah sama Bos Rama ya hehehehe—“ gurau Nika.
“Udah ayo masuk dulu, nanti aku jelasin apa aja tugasmu, Nik.”
Menjadi Assisten Artis seperti Nika ini mendapat fasilitas memadai yang bagus, ia diberikan kamar yang amat sangat layak bahkan kamar yang diberikan Rama padanya itu jauh lebih baik dari kamarnya, kamar mandi didalam kamar mandi dan ia ditempatkan dilantai tiga, kamar yang Nika pakai itu kamar yang dipakai oleh Anna dulu dan bersebelahan dengan kamar Donna.
Berbeda dengan Donna, Donna bisa kapan saja pulang dan menginap tapi tidak dengan Shanika yang bisa saja dibutuhkan Rama 24jam. Nika masuk kedalam kamarnya setelah ini waktunya kosong jadi bisa gunakan untuk merebah sebentar atau mandi dan mencuci kepalanya untuk menghilangkan bayangan lekukan tubuh Rama.
Nika melepas kaosnya dan menyisakan tanktop dengan tali spaggeti menggantung dibahunya dan tersisa celana jeans yang masih melekat, maksud hati ingin melepas pintu kamarnya terbuka dan menampilkan Rama yang masuk kedalam kamarnya.
“Nika—“
“Arggghhhh—keluarrrr!!!”
♣♣♣
Rama memang gila, sudah lama bila Rama gila. Bukannya keluar sesuai permintaan Nika laki-laki dengan tubuh tinggi tegap itu malah membekap bibir Nika agar teriakan Nika tak membuat gaduh seluruh rumahnya.
“Diem!” pinta Rama. “Gue lepas asal jangan teriak lagi.” janji Rama.
“Emmm—eemmm—“ angguk Nika ia manut saja.
Rama benar melepas tangannya yang ia gunakan untuk membekam bibir Nika, setelah itu Nika menyahut kemejanya yang ia lepas tadi untuk menutupi bagian tubuh atasnya. Meski Nika masih memakai tanktopnya tetap saja itu tidak pantas dilihat oleh bosnya ini.
“Ngapain dipake?” Rama membuka suara.
“Mata Mas mau saya colok ya?!”
“Santai-santai—makanya lain kali kalo lo mau ganti baju atau lepas baju, pintu dikunci, gue nggak salah dong tadi.”
“Seenggaknya Mas punya tangan buat ketuk pintu dulu kan? Apa susahnya ketuk pintu?”
“Rumah-rumah gue, kenapa lo yang repot!” sembur kesal Rama.
“Saya tahu kok ini rumah Mas Rama sendiri, tapi orang yang menghormati orang lain itu baik kok Mas, meski ini benar rumah Mas.” Nika membalas dengan ucapan memohok setelah itu meninggalkan Rama.
“Sialan!”
Rama cepat-cepat menarik pergelangan tangan Nika, ia ke kamar Nika ingin mengatakan sesuatu malah berdebat tak jelas. Terdengar suara hembusan nafas sepertinya assistennya ini beneran kesal dengannya.
“Gue ada perlu sama lo, kenapa lo yang pergi?”
“Ada apa Mas Rama? Butuh bantuan saya apa?” Nika tak ingin membuat suasana semakin menyebalkan maka ia lebih baik mengesampingkan kejadian tadi.
“Siapin baju gue buat nanti sore sama ntar malam—lo enggak usah ikut biar gue sendiri.” pesan Rama.
“Eh—tapi Mas dalam perjanjian kan kemanapun Mas Rama ada acara saya juga tetep ada.” Nika mengingat isi perjanjian pekerjannya.
“Gue bilang enggak usah, ya nggak usah lo budeg apa bolot!” Nika yang disembur begitu oleh Rama lantas menunduk takut.
“I-iya Mas, saya paham.” setelah itu Rama keluar dari kamar Nika sedangkan dirinya menghembuskan nafas beratnya.
Nika keluar dari kamarnya bermaksud untuk menenangkan dirinya dengan segelas air dingin sepertinya akan mengobati rasa terkejut di jantungnya. Ia masuk ke area dapur dan mendapati Donna dan juga Anna tengah berbincang tentu dengan Bu Innah tengah memasak.
“Mbak Donna, Mbak Anna—lagi ngapain?”
“Ini lagi ngeteh—kalo Donna jangan nanya dia manusia haram.”
“Haram banget nggak tuh.” sindir Donna. “eh sini Nik, gabung—lo mau minum apa ambil sendiri deh, kalo ini jangan lo keliatan anak polosan.” Kekeh Donna.
“Emang itu apa mbak?” kepo Nika.
“ini—eum bahasa gampangnya amer Nik, ada alkoholnya jangan deh.”
“Enggak ah es sirup lebih enak.” Kekeh Nika juga.
Mereka berempat saling berbincang, membicarakan apapun yang bisa mereka bicarakan, ternyata berkenalan dengan orang baru membuat Nika mendapat banyak pengetahuan juga, selagi mereka mengobrol ngalor-ngidul Anna juga menyelipkan beberapa tugas yang akan Nika emban.
Dulu Nika bekerja di PT banyak sekali mendapat tekanan dari teman yang iri hingga mendapatkan komplen dari atasan, maka dari itu dari sana hati Nika terbentuk menjadi hati yang kuat dan kokoh bak semen.
“Eh mbak, aku penasaran nih—boleh ngerasain enggak.” dasar memang Nika anaknya suka coba-coba.
Mata Donna tampak melotot. “Lo jangan main-main Nika, ini Amer bukan sembarang amer tahu.”
“Dikit doang Mbak, ya boleh ya—lagian aku enggak akan kenapa-kenapa kan kalo cuman coba sedikit aja.”
“Lo masih ada kerjaan sama Rama, Nik—jangan macem-macem deh!” Donna menolak keinginan Nika.
“Dikit aja Mbakk—aku abis ini cuman nyiapin keperluan Mas Rama doang kok enggak ikut dia pergi.”
Donna tampak mengimbang-imbang dan meminta pendapat Anna dari sorot matanya. “Dikit aja ya tapi sama ini pertama dan terakhir lo coba-coba ini.” Nika tampak mengangguk mantap.
♣♣♣
Rama tak sengaja melihat Nika tengah meneguk cairan yang ia tau itu adalah sejenis minuman yang berakohol mengingat ada botol vodka disana. Rama masuk ke dapur namun sayang Nika sudah terlanjur menelan minum itu.
“Nika, ikut gue sekarang ke ruang wardrobe, pilihin baju gue.” pinta Rama tiba-tiba disela-sela Nika tengah menegak minuman berakohol.
“Eh iyaa Mas—“
Antara kasihan dan lucu Donna dan Anna menertawai Nika yang baru saja menegak minuman berakohol itu. “Sana, ikutin bos lo.” usir Donna lantas Nika pun menyusul Rama ke ruang wardrobe.
Rama tampak menunggu Nika di ruang wardrobenya dengan ia menyederkan tubuhnya didinding bahkan ia sudahh melepas kaos oblong yang ia pakai tadi, baru saja Rama ingin memanggil Nika untuk segera ke kamar wardrobe namun perempuan itu sudah lebih dahulu masuk.
Mata Nika melotot tajam mengetahui bosnya sudah tanpa pakaian lagi, bosnya ini memang benar-benar suka sekali membuat jantungnya berjempalitan, bukan apa-apa seharusnya bosnya ini tahu tempat apalagi dirinya ini wanita yang tak pernah sama sekali melihat laki-laki bertelanjang d**a tepat didepannya.
“Mas Rama mau pakai baju yang mana?” Nika membuka percakapan.
“Apa aja yang penting oke, kaya tadi pagi gue maunya kaos jangan kemeja—bawain satu kemeja warna gelap aja sama jeans buat gue pakai ntar.”
“Oke siap.”
Nika kembali fokus pada tugasnya, memilih dan memilah baju yang bagus untuk Rama kenakan, setelah selesai Nika menunjukkan pada Rama dan Rama pun meyetujui sekarang gantian ia memilihkan kemeja hitam untuk Rama.
Disaat ia tengah memilah kemeja mana yang akan dikenakan Rama, sebuah remasan kuat Nika rasakan dipinggangnya dan ia merasakan hembusan nafas tepat dileher terbukanya, salahkan Nika yang tadi lupa tak melepas cepolan rambutnya.
“Jangan lagi lo coba-coba minum-minuman itu, atau lo akan tahu akibatnya, ngerti!” Nika terpaku terdiam dan ia hanya bisa mengangguk menurut, Nika kira setelah itu Rama akan pergi tapi tidak Nika mendapatkan rasa sakit berupa gigitan dari Rama. “jawab! Lo enggak bisukan?”
“I—iya Mas, saya ngerti..”
“Bagus—gue mau mandi, siapin baju gue sama anter ke kamar gue.”
Dan sekarang, nyawa Nika diambang batas ubun-ubunnya remasan dipegangnya dan juga gigitan kuat dilidahnya membuat Nika terdiam terpaku.
“Nika bodoh!” maki Nika sendiri.
♣♣♣