Briyan mengusap kasar wajahnya. Hans masih tidur lelap setelah meminum obatnya dua jam yang lalu. Ini untuk ke dua kalinya Hans dilarikan ke rumah sakit. Pertama waktu Briyan masih duduk di bangku SMA, waktu itu mereka bertengkar hebat gara-gara Hans tak mengizinkan dia untuk ikut pesta ulang tahun gadis yang disukainya. Masih kelas di ingatan Briyan, bagaimana paniknya dia waktu itu, Hans hampir saja kehilangan nyawanya jika saja dia tak segera dibawa ke rumah sakit. Bayang-bayang hidup sendirian menghantui Bryan waktu itu. Sungguh! Hanya Hans yang dia punya. Jika laki-laki itu mati, dia tak punya siapa-siapa lagi. Sejak saat itu, Briyan tak berani lagi menentang kehendak Hans. Hans mengatur segalanya, melarang dia bermain musik dan memasukkannya ke Universitas di luar negri, mengamb

