“Tuan Athes,” Henrik menyapa kala Athes baru saja keluar dari ruang meeting. “Ada apa?” Athes menatap dingin Henrik yang berdiri di hadapannya. “Tuan, di ruang kerja anda ada Tuan Besar Aaron yang menunggu anda sejak tadi,” ujar Henrik memberitahu. Athes mengembuskan napas kasar. Raut wajahnya berubah mendengar ayahnya datang. Athes mengumpat dalam hati. Ya, tentu dia tahu tujuan ayahnya ke sini hanya ingin membicarakan tentang Valerie. Tidak ada pilihan lain, mau tidak mau Athes harus menemui ayahnya itu. Bisa saja dia langsung pergi, tapi Athes tahu, ayahnya itu akan membuat keributan. Dengan raut wajah begitu dingin dan sepasang iris mata tajam, Athes melangkah masuk ke daalm ruang kerjanya. Seketika Athes terdiam kala melihat Aaron duduk di kursi kerjanya. Ayahnya itu tampak b

