Athes membanting seluruh pajangan yang ada di ruang kerjanya. Amarah dalam dirinya tidak mampu lagi tertahan. Athes menggeram. Ingatannya terus memikirkan tentang Miranda yang sudah berselingkuh darinya. “Sialan! Brengsekkk!” Athes mengumpat kasar. Dia mengambil guci yang ada di hadapannya, dan membantingnya hingga terbentur ke dinding. Pranggggg Pecahan guci tergeletak di lantai. Kini ruang kerja Athes tampak begitu kacau dan berantakan. Ya, Athes tidak bisa lagi menutupi amarahnya. Kilat matanya menajam. Meski letupan amarahnya tertuang, Athes masih tidak puas akan itu. Kebencian begitu terlihat jelas diiris mata cokelatnya. “Tuan Athes.” Henrik masuk ke dalam ruang kerja Athes. Seketika tubuhnya membeku menatap pecahan guci yang berserakan di lantai. Ditambah dengan ruang kerja

