“Henrik!” Athes berteriak begitu menggelegar memanggil assistantnya kala memasuki ruang kerjanya. “Iya, Tuan?” Henrik berlari cepat kala melihat Athes memanggilnya. Raut wajah Henrik tampak ketakutan. Terlebih melihat amarah yang meledak-ledak begitu terlihat jelas di wajah Athes. “Cari keberadaan Miranda sekarang! Aku hanya memberi waktumu tidak lebih dari dua jam mencari keberadaan Miranda!” seru Athes dengan geraman tertahan. Iris mata cokelatnya menggelap, penuh dengan amarah. Rahangnya mengetat. Berkali-kali dia mengumpat dalam hati. “M-Maaf, Tuan. Sebelumnya ada hal yang ingin saya sampaikan pada anda,” ucap Henrik tampak begitu gugup dan ketakutan. “Katakan, ada apa?” Athes menatap tajam Henrik yang berdiri di hadapannya. “T-Tuan, tadi saat anda pergi setelah mengetahui keb

