“Nona Miranda.” Langkah Miranda terhenti kala dia baru saja keluar dari kamar, dia berbalik dan mengalihkan pandanganya, menatap pelayan yang berdiri tidak jauh darinya. “Ada apa?” tanya Miranda dingin. “Maaf, Nona. Tapi Tuan Ryhan baru saja kembali dari Singapore. Dia menunggu anda di ruang kerjanya,” jawab sang pelayan memberitahu. Miranda membuang napas kasar. “Katakan pada ayahku, aku harus ke kantor. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Nanti aku akan menghubunginya kalau aku sudah tiba di kantor.” “Nona, Tuan Ryhan tadi berpesan beliau ingin langsung anda bertemu dengannya,” jawab sang pelayan itu lagi. Miranda berdecak tak suka. Hal yang membuat Miranda kesal adalah sifat ayahnya itu terlalu egois dan tidak suka dibantah. Seperti saat ini, dirinya harus ke kantor t

