Bab 18

1153 Words
  Westminster City, West End. Oxford Street, London—Inggris 12:40   Christina Hendrick berjalan memasuki toko kue yang biasanya dia datangi hanya untuk memakan sepotong roti kesukaannya, ditemani secangkir kopi latte tanpa gula.             Hari ini, dia ke luar dari rumahnya dengan perasaan kesal yang menumpuk. Hetshin, orang kepercayaan ayahnya malah membuatnya kesal setengah mati.  Bagai mana tidak, setelah ayahnya kembali dari perjalanan bisnis dan bertemu dengan Hetshin, dia jadi malah kehilangan kebebasannya. Hetshin semakin membatasi gerakannya, bahkan sekarang Hetshin melarang dirinya untuk pergi ke toko  kue kesukaannya ini.             “Selamat datang.” Sapa hangat salah satu pelayan toko saat Christina membuka pintu toko kue.             Seperti sudah hafal wajah Christina, pelayan toko kue itu langsung membawa Christina masuk ke salah satu meja kosong di sudut ruangan dan kembali ke posisinya tanpa menawarkan daftar menu di toko mereka, dia seperti sudah cukup hafal dengan pesanan Christina yang selalu sama di sana. Jadi, dia hanya perlu membawakan makanan yang sama tanpa harus bertanya terlebih dulu.             Sambil mengusap wajahnya frustrasi, Christina benar-benar mengutuk harinya yang menyebalkan. Dia bersumpah kalau dia akan memecat Hetshin kalau dia bisa menemui ayahnya setelah dia bisa bertemu lagi dengan ayahnya.   Tapi bagai mana caranya? Bagi Vastar Al Rasyid, Hetshin adalah orang kepercayaan dan sudah seperti tangan kanan baginya, hanya saja, jika Hetshin terus-terusan membatasi gerakannya maka dia akan benar-benar kehilangan kebebasannya.             “Nona, silakan pesanan anda.”  Ucap pelayan yang sama,  membawakan Christina  sepotong roti karamel dan secangkir teh panas. Setelah itu, pelayan tadi kembali membiarkan Christina sendirian.             Christina menatap makanan di atas mejanya. Dia tidak bisa melupakan bagai mana hari ini dia melarikan diri dari rumahnya dan juga dari pengawalan seorang Hetshin Zoax.  Dan jika dia ingat, rumahnya memang tidak memiliki terlalu banyak penjaga tapi, rasanya dia seperti memiliki banyak sekali orang yang memata-matainya di sana.             Christina mengambil napkin yang disediakan oleh pelayan bersama sepiring kue yang dia pesan. Dia membuka lembaran napkin tadi dan menaruhnya di atas pangkuan lalu  mulai menyantap kue favoritenya.             Dia cukup menikmati rasa kue yang hampir setiap hari dia makan dan tak pernah merasa bosan untuk itu. Bahkan bagi Christina, suasana di toko ini lebih menyenangkan daripada rumahnya sendiri. Pandangan Christina mengedari seluruh ruangan toko, cukup sepi dari biasanya, meski beberapa pembeli ke luar-masuk untuk membeli beberapa potong roti. Sementara di luar sana, ada banyak sekali orang berlalu-lalang, mereka berjalan sambil mengobrol dan tertawa bersama teman mereka, tapi suara mereka benar-benar tidak terdengar hingga ke dalam sini, ruangan toko ini benar-benar kedap suara dan itu pula yang membuat dia betah berada di sini, menghabiskan sepotong roti dan secangkir teh panas.             “Selamat datang.”  Sapa hangat pelayan toko terdengar di telinga Christina saat seorang pria masuk ke dalam sana.   Sambil mengunyah, Christina melihat seperti apa pria yang baru datang itu. Dia pria tinggi dengan sebuah kaos berwarna gelap dan jas kelabu cerah yang membalut tubuhnya, selain itu ... Christina juga melihat pria itu memegang sebuah buku di tangannnya. Terlihat sangat kontras dengan wajahnya yang lumayan tampan. Iris zamrud pria itu terlihat berkilau, terpadu indah dengan rambut gelapnya yang tidak tersisir terlalu rapi.  ‘Siapa orang itu?’ Dia baru pertama melihatnya ada di toko ini, duduk setelah memesan sesuatu di kasir. Tersenyum, Christina rasa kalau dia mulai menyukai pria itu. Tapi, kenapa pria itu duduk begitu jauh darinya?             Menghentikan kegiatannya, Christina memanggil seorang pelayan untuk datang, membisikkan beberapa kalimat pada pelayan tersebut kemudian  berdiri dan mendekati pria tersebut.             “Boleh bergabung?”  tanya Christina dengan senyum manis yang dia bisa berikan setelah berada di depan pria tersebut.             Tanpa jawaban, pria beriris zamrud itu hanya mengangguk, memandang Christina sejenak lalu kembali memperhatikan buku di tangannya.             “Apa aku mengganggumu?” tanyanya penasaran, karena perhatian pria itu hanya terarah pada buku di tangannya.             “Apa aku terlihat seperti terganggu saat ada gadis secantikmu duduk di sini?”  jawabnya mengalihkan pandangannya dari buku di tangannya.             “Kurasa tidak...,”             “Kalau begitu kau sangat beruntung.” Jawabnya halus. Membuat Christina semakin tersipu.             Tanpa basa-basi, Christina langasung menjulurkan tangannya, kemudian memperkenalkan diri dengan sumringah,  “Christina Hendrick.” Ucapnya tanpa ragu sedikitpun, yang tentu saja itu dijawab antusias oleh pria di hadapannya tersebut, dia meraih uluran tangan Christina dan memperkenalkan dirinya,             “Neo Arguandral.”             “Nama yang cukup jarang dimiliki orang lain.”             “Benarkah? Itu adalah nama yang diberikan oleh seseorang.”             “Seseorang? Maksudmu, orang tuamu?”             Tersenyum, Neo mengangguk sambil berkata, “Katakan saja begitu.”             Christina mengangguk, dia tersenyum seperti tak peduli dengan yang dibicarakan pria bernama Neo ini. Yang jelas, dia punya teman mengobrol sekarang       .             “Silakan,”  ucap seorang pelayan sambil menaruh secangkir kopi hitam tepat ke hadapan Neo juga sepotong roti karamel dengan sedikit ice cream vanila.             “Apa ini?” tanya Neo heran sambil menaruh buku miliknya di atas meja, karena singatnya, dia hanya memesan secangkir kopi  tanpa tambahan apa pun.             “Itu hadiah perkenalan dariku,” Christina menjawab pertanyaan yang ditujukan Neo tapi bukan padanya.             “Perkenalan?” Christina mengangguk, “kalau begitu, kuberikan ini sebagai tanda pekerkenalan juga padamu.”             “Kenapa?”             “Aku tidak terlalu menyukai makanan manis, jadi ... kurasa makanan manis, hanya boleh dimakan oleh wanita cantik sepertimu.”  Mendengar hal seperti itu dari seorang pria setampan Neo, adalah hal yang tidak mungkin tidak membuat wanita manapun tersipu karenanya, dan itupula yang dirasakan Christina sekarang. Sepasang pipinya merona merah dengan senyum canggung yang terukir malas.             Sama seperti Christina, Neo pun tersenyum. Tapi bukan senyum penuh sipu malu seperti yang dilakukan Christina. Senyum itu lebih ke sesuatu yang terkesan congkak dan arogan. “Kau duduk di sini bersamaku, apa tidak ada yang akan cemburu?” tanya Neo sambil meraih cangkir kopi miliknya di atas meja. “Aku? Tentu saja tidak,” jawab Christina setengah tertawa, memalukan sekali ditanya demikian oleh pria yang sedang dia taksir, “bagai mana denganmu? Kenapa kau hanya datang sendirian ke tempat ini?” “Hanya menghabiskan waktu.” “Dengan secangkir kopi pahit?” Neo mengangguk, “Apa lagi yang kupunya selain secangkir kopi dan sebuah buku, di tempat yang nyaman seperti ini?” “Apa ini pertama kalinya kau datang ke sini?” Neo mengangguk, “Seorang teman memberitahuku kalau ada tempat nyaman di tengah keramaian Oxford Street di West End.” “Begitukah...?” Chritina kembali tersenyum, jemari lentik dengan kuku yang terpoles kuteks berwarna bening miliknya bergerak perlahan menghampiri tangan Neo. Menggelitik punggung tangan pria itu sambil mencubitnya halus sesekali, “Apa, kau mau sesuatu yang lebih menarik dari sebuah buku dan secangkir kopi pahit?” “Oh ya, apa itu?” Neo penasaran, membuat Christina mendekatkan wajahnya ke arah Neo dan membisikkan sesuatu di telinga pria beriris zamrud tersebut. “Kau yakin mau melakukannya?” tanya Neo meragukan, namun dijawab anggukan pasti oleh Christina. “Ayo!” Christina menarik tangan Neo, mengabaikan kopi yang baru disesap sekali oleh pria tersebut. Membawanya ke luar dari toko dan terus bergerak—berbaur—di tengah para pejalan kaki yang memenuhi Oxford Street.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD