Bab 03

1733 Words
Saat ku rasakan hatiku naik ke nirwana, jiwaku malah terjun ke dasar neraka | | | Tahun 2016 South Bank Tower London—Inggris. 12:45     Pria ini menceburkan dirinya ke dalam air jernih setelah dia melepas sepatu tanpa melepaskan sehalai pun pakaian yang melekat di tubuhnya. Tak ada pemandangan lain di sana kecuali marmer putih yang berubah bening terkena pantulan air oleh matahari. Meski matahari sedang berada pada titik tertingginya di atas sana, tetap saja teriknya tidak sedikit pun menghalangi keinginan pria itu untuk berenang. Sementara teriknya siang yang mengganggu di atas sana, di dalam air malah terasa sangat sejuk menyentuh kulit, membuat nya ingin menenggelamkan diri sedalam yang dia bisa untuk menyembunyikan diri. Kaki dan tubuh pria ini bergerak luwes, membawa dia masuk terus hingga ke dasar hingga menyentuh marmer di dasar sana, membuat nya terdiam seolah enggan melakukan apa pun selain itu. Dia bahkan membiarkan tubuhnya terombang-ambing oleh beriak air yang dia buat di awal. Di dasar kolam itu pula iris zamrud indahnya dapat melihat dengan jelas awan di atas sana, beriring membentuk seperti gumpalan kapas lembut yang bergerak sangat pelan. Perlahan, dia membuka sedikit mulut nya, membiarkan gelembung udara ke luar perlahan dari dalam sana. Dia tahu paru-parunya sudah tidak kuat bertahan lebih lama lagi, tapi dia tetap ada di sana. Membiarkan dirinya terselimuti oleh air. Dia lalu mengangkat sebelah tangan nya dalam kehampaan. Meregangkan jemarinya, berharap bisa menggapai gumpalan kapas itu. Tapi tidak bisa, sama hal-nya dengan waktu, sesuatu yang tidak dapat dia putar untuk kembali dia raih dalam genggamannya. Sesuatu yang  sudah lenyap bersama gumpalan lain yang sering dia sebut sebagai kenangan. Mengalir seperti air, namun tak bisa ia rasakan kesejukan setiap kenangan itu menyeruak ke dalam ingatannya. Asyik berada di dasar kolam, dia melihat  seseorang  berjalan di bibir kolam seperti sedang berteriak memanggil sesuatu. Dia mengenal orang itu, tapi memilih untuk tidak memedulikannya. Dia masih ingin berada di dasar sana dan membiarkan tubuhnya berada di dalam air selama yang dia inginkan. Tapi tidak dengan orang di atas sana. Sadar kalau orang yang sedang dicarinya berada di dasar kolam, tanpa pikir panjang orang itu segera menceburkan diri ke dalam air dan menyelam hingga ke dasar. Menarik tangan pria yang lebih dulu ada di dalam sana untuk naik ke permukaan bersama nya. “Fuah!”   keduanya mengambil napas bersamaan setelah mereka mencapai permukaan. “Anda ini sedang apa?” bentak lelaki itu sesaat setelah membawa naik pria yang dia cari sejak tadi. Namanya Ash. Pemuda berparas tampan itu bicara sambil memelotot  ke arah pria tadi. Ash sangat kesal pada orang yang ada di hadapan nya sekarang ini. Seharusnya setengah jam yang lalu mereka ada rapat dan mereka juga harus pergi menemui klien lain setelah nya. Tapi orang yang dia butuhkan untuk menyelesaikan schedul hari ini malah tidak ada. Melarikan diri entah ke mana, dan sekarang ... dia malah menemukan orang yang dia cari sedang berendam di dasar kolam menggunakan pakaian lengkap. “Berenang, apa lagi?” jawab pria itu tenang, meski sekarang paru-parunya sedang memompa lebih banyak udara untuk membuat jantungnya stabil. “Berenang? Bisa-bisanya anda berenang saat kontrak yang harusnya kita tanda-tangani hilang begitu saja!” Suara Ash si pria dengan warna rambut hitam legam itu keras terdengar. Tak ada jawaban. Pria ini hanya melirik dengan manik zamrud indahnya ke arah Ash dan kembali berenang menjauh. Membiarkan dirinya kembali mengapung di atas air.  Menyebalkan.  Ash bukan tidak tahu kenapa pria ini bisa seperti itu, tapi dia terus mencoba bersabar untuk kelakuan buruk pria beriris zamrud di hadapan nya tersebut. “Hei, Ash! Aku lapar.” ucap pria itu pada Ash. “Bisa-bisanya Anda masih memikirkan tentang makanan?” tanya Ash tak percaya. “Scholizcyeck tidak akan menerima kontrak yang kita tawarkan begitu saja tanpa kesepatakan yang dia inginkan. Sia-sia saja jika kita memaksa berurusan dengan nya.” Dia, pria beriris zamrud itu angkat bicara setelah cukup mendengar Ash memakinya seperti anak kecil yang tidak mau makan paprika. “Bukankah semua yang dia minta sudah ki—“  suara Ash seperti tertahan sesuatu, detik selanjut nya dia mengembuskan napas nya berat saat sesuatu yang terlewat olehnya tiba-tiba terlilntas dan mengganggunya, dia baru sadar kalau yang dikatakan pria di hadapanya sekarang mungkin ada benarnya,   “kalau begitu ... sekarang apa yang akan kita lakukan?” tanyanya pada pria yang sekarang mencoba berenang ke tepian kolam. “Buatkan aku makanan. Aku lapar.” Ucap pria itu lagi kemudian ke luar dari dalam kolam. Melihat kelakuan pria dengan iris zamrud indah itu, Ash hanya bisa menggeleng sambil mengela napas nya berat lalu mengikuti pria tersebut untuk ke luar dari dalam air.  Seluruh pakaiannya yang basah tak dia pedulikan, dia terus berjalan menyusul pria yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah dan setiap langkahnya membuat genangan air yang cukup mengganggu.              “Anda mau makan apa?” tanya Ash pada dia yang terus berjalan menuju ke kamar nya. Tapi tak ada satupun jawaban untuk pertanyaan yang dike luarkan oleh Ash,  “kalau begitu saya akan membuatkan makanan seperti biasa nya, saya harap anda tidak tidur sebelum saya menyelesaikan masakan.” Ujar Ash meski tak mendapat jawaban yang dia inginkan kemudian berjalan ke arah dapur. Tiba di kamar nya, pria ini langsung melepaskan baju yang dia gunakan untuk berenang tadi saat kaki nya menginjak lantai kamar mandi. Kemeja yang dia pakai, dia lempar begitu saja,  pun  dengan celana yang dia pakai. Selesai membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya, pria ini kemudian membuka keran  shower, membiarkan air yang ke luar dari benda itu mengguyur kepala nya yang sudah basah terendam air kolam, Di bawah guyuran air shower, pria ini berusaha memejamkan matanya, dia mencoba merasakan butiran air yang turun menyentuh kulit. Pikirannya kosong, dia tidak ingin memikirkan apa pun juga tidak ingin melakukan apa pun. Gestur tubuh pria itu sangat indah, penuh oleh otot yang terbentuk sempurna, hanya saja tubuh sempurna itu memiliki sebuah cacat. Sebuah cacat yang terlukis sangat jelas di pinggang paling bawah bagian kirinya, sebuah luka bakar yang membentuk deret empat angka yang nyaris hilang oleh luka lain yang menimpal di atasnya. Bekas guratan yang terlihat cukup dalam namun telah tertutup sempurna meninggalkan bekas luka tebal dan mengganggu siapa pun yang melihat bagai mana sempurnanya tubuh itu. Lima belas menit dia di dalam sana, membiarkan air dari shower mengguyurnya. Setelah puas, dia mengambil handuk yang tergulung di rak khusus handuk yang tersedia di sudut kamar mandi. Dengan handuk itu, dia mulai mengeringkan tubuhnya asal baru kemudian mengambil handuk baru dan melingkarkannya di pinggang, juga satu handuk lain yang lebih kecil untuk mengeringkan rambutnya yang masih terasa basah. “Jadi ... Anda tidak ingin kembali ke kantor?” Dia mengangkat wajah nya saat suara Ash menyambutnya setelah dia ke luar dari kamar mandi. Dia melihat Ash sudah berdiri dengan pakaian rapi dan sebuah setelan pakaian lain yang sudah Ash siapkan untuk dipakai olehnya. Pria itu berjalan mendekat ke arah Ash yang berdiri tepat di sebalah kasur milik nya, di mana ada setelan pakaian yang sudah Ash siapkan di sana.  Dia duduk tepat di sebelah pakaian yang sudah disiapkan Ash, menggosok rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil lagi yang kemudian diambil alih oleh Ash. Berbeda saat dia menggosok rambutnya sendiri, dia tidak peduli apakah itu akan terasa sakit karena dia terlalu keras mengggosoknya atau tidak, tapi berbeda dengan Ash, ptia itu melakukannya dengan sangat lembut hingga dia tidak bisa merasakan kalau kepala nya sedang digosok dengan handuk oleh seseorang.  Setelah Ash selesai menggosok kepala Neo dengan handuk, Neo melihat sebuah undangan berwarna hijau tergeletak di atas setelan pakaian yang disiapkan Ash barusan, awalmya dia tidak melihat apa pun di sana tapi sekarang malah ada sebuah undangan tergeletak apik di sana. Undangan itu berwarna hijau lumut yang ditulis dengan tinta emas dan terlihat sangat elegan.  Selain tinta emas yang mencolok, undangan itu juga diikat oleh simpul pita berwarna senada yang membuat undangan fomal itu terlihat sangat mewah. Jelas terlihat kalau tidak sembarang orang bisa membuat undangan semahal itu. “Apa itu?” Tanyanya enggan membuka surat tersebut dan memilih mendapatkan jawaban dari orang yang memberikan undangan tersebut padanya. “Anda diundang ke pesta ulang tahun pernikahan Mr. Rudolf Hans yang akan diadakan malam ini.” Jelas Ash. “Rudolf Hans?” ulangnya untuk pernyataan Ash,  “apa aku mengenal orang itu?” “Dia pemilik properti Hansel yang memegang saham di dua puluh  perusahaan jasa yang tersebar di seluruh London, Anda mengenalnya karena sebulan lalu kalian pernah terlibat kegiatan bersama, waktu kau mengunjungi Mr. Jack O’Cail  di Skandinavia.” “Maksudmu ... pengusaha properti yang menawariku kokain waktu itu?” ingatnya pada seorang pria bertubuh buntal yang menawarinya satu koper berisi Kokain berharga milyaran dolar. Mengingat nama yang disebutkan Ash, pria ini mencoba mengambil undangan itu, membolak-baliknya sejenak tanpa membaca ataupun berniat membuka isi undangan itu. Ash mengangguk. “Iya, dan dia hanya mengundang segelintir orang untuk datang ke acara yang dia adakan malam ini.” “Aku tidak tertarik.” Neo melempar undangan itu sembarangan setelah mengatakan apa yang perlu dia katakan. Ash hanya diam melihat pria itu melakukan hal yang tidak pernah dia pikirkan  sebelum nya. Karena biasa nya, pria itu akan dengan mudah menerima ajakan apa pun yang berhubungan dengan uang dan potensi-potensi yang bisa menghasilkan banyak uang dalam waktu singkat tanpa resiko. Selesai mengeringkan kepala pria itu, Ash membantunya berpakaian. Mengancingkan kemeja yang sudah melekat  di tubuhnya hingga menutup otot tubuh yang terbentuk sempurna milik nya. Selesai dengan kemeja, Ash melanjutkan dengan celana, gesper, dan yang terakhir dasi. Telaten, Ash menyimpul dasi yang berwarna senada dengan warna kulit pria di hadapan nya, memakaikannya apik meski tanpa obrolan di antara mereka. “Anda yakin tidak akan datang ke acara Rufolf  Hans?” “Sudah kubilang kalau aku tidak tertarik.” “Kalau begitu, Anda akan kesulitan mendapatkan informasi mengenai Lucifer.” Pria ini mengangkat wajah nya. Iris zamrudnya yang indah tak berkedip saat dia menatap lurus ke arah Ash. Menatap lelaki yang sudah menjadi pelayan setianya selama bertahun-tahun itu tanpa pertanyaan yang terlontar, sementara Ash yang melihat perubahan ekspresi Tuannya pun melakukan hal yang sama. Tak ada percakapan di antara keduanya sampai Ash memilih bergerak untuk memungut undangan yang dibuang majikannya itu sembarangan di lantai. “Saya harap anda segera ke luar, makanan anda akan keburu dingin kalau anda terus di kamar.” Ujar Ash sambil memberikan kembali undangan berwrna hijau dengan tinta emas tadi pada pria di hadapan nya sebelum Ash memutuskan untuk ke luar dari kamar tersebut. _
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD