“Ra!” Ara tersentak ketika Jenny dengan seenaknya menepuk punggung tangannya dengan keras. “Ada apa? Sakit tahu!” Ara mengusap pelan punggung tangannya yang sedikit memerah. “Habisnya dari tadi aku perhatikan kamu melamun terus sih. Makanannya jangan di biarin aja nanti di hinggapi lalat baru tahu rasa. Cepat di makan.” tegur Jenny untuk kesekian kalinya, karena saking seringnya ia mendapati Ara yang lagi-lagi melamunkan sesuatu. “I-iya ini juga mau makan.” jawab Ara lalu meraih sendok dan garpu untuk mulai menyentuh makanannya. “Kamu mikirin apa sih dari tadi? Mikirin Devan?” “Uhukk ... uhukk ....” “Eh, eh minum dulu nih Ra,” Jenny panik lalu bergegas memberikan air putih dan Ara segera meneguknya. “Maaf ya, kamu kenapa bisa kesedak gitu? Jangan-jangan omongan aku tadi benar y

