Bab 11 - Jogging Bersama

1433 Words
“Maaf aku tidak bisa berbicara banyak, aku akan menjawabnya dengan singkat. Aku memang memperkerjakan bodyguard mulai hari ini dan pria yang berada di sebelahku ini memang bodyguard baruku. Namanya Devan dan dia sebelumnya bekerja sebagai tim SAR 115. Dan kenapa aku memperkerjakan bodyguard sekarang? Itu karena aku ingin hidupku aman, karena mengingat beberapa hari belakangan ini jujur saya sering mengalami gangguan dari orang yang tidak bertanggung jawab. Dan untuk masalah pernyataan yang agensi keluarkan kemarin itu adalah salah satu upaya untuk melindungi artisnya, tidak ada salah dengan itu 'kan? Terima kasih, aku harus pergi sekarang.” jelas Ara lalu menobros sekumpulan para wartawan dan langsung menuju mobil yang terparkir tak jauh dari sana dan diikuti dengan Ryan dan Devan yang melangkah dengan cepat, Devan juga sempat menghalangi para wartawan yang ingin mengejar Ara karena ia tahu Ara sedang tidak ingin diganggu. Hingga akhirnya mereka sampai ke mobil di mana Jenny telah menunggu di dalam. Mereka pun meninggalkan lokasi dengan Devan yang mengawal dari belakang. Malam pun tiba dan Ara akhirnya sampai di apartemennya. Setelah mengantar Ara, Jenny dan Ryan langsung meninggalkan kediaman Ara karena mengingat hari juga sudah malam. Kini hanya tinggal Ara dan Devan di halaman depan apartemen. “Jadi, apa aku boleh pulang sekarang? Jadwalmu hari ini sudah selesai 'kan?” “Hm, sudah sih. Tapi, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu sebelum kamu pulang.” Devan sontak menaikkan sebelah alisnya. “Eum, apa itu?” Bola mata Ara terlihat bergerak ke arah lain sejenk lalu membasahi bibirnya gugup. Sebenarnya ia sendiri tidak tahu kenapa ingin menanyakan pertanyaan ini. “Hm ... Apa hubungan kamu dengan Maya? Karena kulihat kalian terlihat sangat dekat.” “Hm, memangnya kenapa ya? Kenapa kamu ingin tahu tentang hubungan kami?” balas Devan dengan mata yang menyipit. “Ya, tidak apa-apa. Cepat jawab saja!” Ara mulai mendesak Devan untuk menjawab. “Hm ... Bagaimana kalau aku bilang dia itu kekasihku—“ “Apa! Kamu tidak boleh berpacaran dengannya!” Ara segera menutup mulutnya ketika tak sengaja berbicara seperti itu. “Huh? Memangnya kenapa? Kamu terlihat seperti orang yang sedang cemburu.” Ara mengigit bibir bawahnya, “Err ... i-itu, bukan begitu maksudku. Tapi, benarkah itu?” Devan terkekeh ketika melihat sikap Ara yang gugup itu, tampak lucu di matanya. “Tidak, aku hanya bercanda soal itu. Dia itu sahabatku, kami sudah kenal sejak masih kecil, bisa dibilang dia teman masa kecilku.” Ara akhirnya bisa bernapas lega. “Oh, begitu hehe ... Oke deh aku mengerti sekarang. Kamu boleh pulang sekarang?” Devan mengangguk. “Oke, kalau begitu aku pulang sekarang. Aku akan datang besok lagi. Selamat malam dan selamat beristirahat.” “Good night too.” balas Ara dengan senyum manisnya. Devan pun berbalik lalu memakai helm dan menaiki motornya. Pandangan mata Ara tak pernah lepas dari pria di depannya sampai akhirnya pria itu pergi meninggalkan kediaman Ara dengan motor ninjanya. Ia pun masuk ke dalam rumahnya untuk membersihkan diri dan beristirahat. *** Ara yang sedang berbaring di kamarnya tampak mengernyitkan dahinya ketika mendapatkan pesan yang bertubi-tubi dari nomor yang tidak dikenal. [Selamat malam my sunshine. Setiap aku melihatmu kamu selalu terlihat cantik. Aku suka senyummu dan aku harap bisa memilikimu suatu saat nanti. Good night my sunshine, love you.] “What! Siapa ini? Ini pasti hanya orang asing, atau ini fansku? Tapi, kenapa isi pesannya seperti ini?” Ara buru-buru menutup aplikasi chat lalu mematikan data ponselnya. “Huhh ... Lebih baik sekarang aku tidur dan tidak perlu memikirkan pesan tadi.” Ia lalu meletakkan ponselnya ke atas meja nakas lalu memposisikan dirinya dengan benar dan menarik selimut hingga ke bawah dagunya. Keesokan paginya, pagi ini Ara tampak telah siap dengan setelan pakaian olahraga dan sepatu kets Lilac kesayangannya. Tinn Tinn... Ara tersentak ketika mendengar suara klakson motor berbunyi di depan apartemennya dan bergegas untuk membukakan pintu dan ternyata Devan yang datang, rapi dengan setelan jas hitamnya. Devan melepaskan helmnya dan turun dari motor, ia mengernyitkan dahinya ketika menatap Ara yang tampak rapi dengan setelan olahraganya. “Selamat pagi Ara! Hm, apa kamu tidak ada jadwal hari ini? Kenapa kamu mengenakan pakaian olahraga?” Ara memperhatikan penampilannya sejenak. “Ah, iya aku lupa semalam mengabarimu kalau hari ini aku tidak ada jadwal, aku free hari ini. Dan sekarang rencananya aku mau jogging pagi ini. Maaf ya tidak mengabarimu dulu Kak.” “Oh, begitu. Apa aku pulang saja ya?” “Eh, jangan! Ikut aku jogging aja yuk, kamu 'kan tetap bisa jagain aku sambil jogging.” “Tapi aku memakai setelan jas seperti ini, tidak mungkin aku jogging dengan pakaian seperti ini.” “Udah gak apa-apa, percaya diri aja. Jadi, kamu tetap bekerja hari ini.” Devan mengangguk. “Baiklah. Kita pergi sekarang?” “Ayo!” Ara menutup pintu lebih dulu lalu mensejajarkan dirinya dengan Devan. Mereka mulai berjalan-jalan kecil menuju taman terdekat di sana. Saat tiba di taman kota, Ara lebih dulu berlari meninggalkan Devan, ia akan memulai joggingnya di taman ini, dan itupun membuat Devan sedikit tersentak ketika Ara mulai berlari, namun ia dengan cepat menyusulnya. Mereka berlari menelusuri taman hingga peluh-peluh keringat bercucuran di dahi mereka. Hingga setelah beberapa saat Ara pun berhenti di dekat trotoar, ia menunduk dan meletakkan kedua tangannya di lututnya, napasnya tampak terengah-engah dan sesekali menghapus keringat di dahinya dengan lengan jaketnya. “Huhh ... huhh ... Capek banget, kita istirahat dulu ya Kak.” “Istirahatnya di sana aja sekalian beli minum.” Ara mengikuti arah dari tangan yang ditunjukkan Devan. Ia menunjuk ke arah orang-orang yang berjualan minuman dan makanan dan di sana juga terdapat kursi taman untuk berisitirahat tapi yang jadi masalahnya Ara tidak sanggup lagi untuk sekedar berjalan ke sana. “Duh, aku ngga sanggup lagi untuk jalan ke sana Kak. Aku capek dan haus juga.” Ara langsung mengambil duduk di atas trotoar dan tidak memperdulikan penampilannya sekarang. “Eh, eh kamu kenapa malah duduk di situ. Ayo ke sana, dekat kok. Tadi, kamu yang ajak aku untuk jogging bareng, eh sekarang kamu yang capek duluan.” “Aku haus kak, belum ada minum dari tadi lemas banget.” balas Ara lalu memijat-mijat kakinya yang sedikit pegal. Ia juga sesekali mengibaskan tangannya di depan wajahnya yang terasa panas. “Ya udah aku ke sana aja sendiri ya beli minum, nanti ke sini lagi.” “Jangan dong Kak, masa aku ditinggal sendirian di sini sih,” Ara sontak menunjukkan wajah cemberut. Devan terdiam sejenak hingga akhirnya ia memposisikan dirinya di depan Ara dengan posisi membelakanginya. “Ya udah ayo naik, aku gendong aja. Katanya kamu ngga sanggup jalan lagi 'kan?” Ara menunjukkan senyum kecilnya. “Beneran ini mau gendong?” “Kalau ngga mau juga gak apa-apa sih, mau cepat ngga udah mulai panas ini.” Devan mendonggakkan kepalanya menatap matahari yang menyinari dengan terik. “Ya udah, iya-iya.” Ara dengan cepat naik ke punggung Devan lalu Devan berdiri dan menggendongnya menuju ke tempat orang-orang yang berjualan makanan dan minuman. 'Apakah benar dia adalah bodyguardmu my sunshine? Kenapa dia sangat perhatian dan bersikap manis padamu? Aku sangat tidak suka melihatnya.’ batin pria dengan pakaian yang serba tertutup dari balik pohon. Sedari tadi ia terlihat memantau Ara dan Devan. Devan dan Ara akhirnya sampai ke sebuah kursi taman. “Kamu tunggu di sini ya, biar aku yang beli minumannya dulu.” Ara mengangguk ribut. “Makasih ya Kak.” Devan pun meninggalkan Ara lalu membelikan minuman untuk Ara dan dirinya. “Pak, saya mau beli air mineralnya 2 botol ya.” ujar Devan pada si penjual. “Yang besar atau yang kecil Pak?” “Yang kecil aja Pak.” Penjual tersebut lalu memberikan dua botol air mineral kepada Devan. “Berapa Pak?” “10 ribu Pak.” Devan pun mengeluarkan uang 10 ribuan dari saku celananya dan menyerahkannya pada si penjual. “Makasih ya Pak.” “Iya sama-sama Pak.” Devan pun membawa dua botol air minum itu menemui Ara. “Ini, minumlah.” “Makasih Kak.” “Iya, sama-sama.” Setelah mendapatkan minumannya, ia segera membukanya dan meneguknya dengan cepat. “Ah, lega banget.” “Terus sekarang bagaimana? Apa kamu masih lemas? Bisa jalan sendiri sampai ke apartemen?” Bola mata Ara sontak bergerak-gerak seperti sedang berpikir. “Hmm ... Sebenarnya masih lemas sih, nanti gendong lagi ya kayak tadi.” Ara menatap Devan dengan wajah memelasnya. Devan menghela napas pelan. “Ya udah, nanti aku gendong lagi.” Ara bersorak di dalam hatinya dan sontak menunjukkan senyum lebarnya pada Devan. ‘Ihh perhatian banget sih. Jadi, tambah suka.’ batin Ara dari dalam hatinya. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD