Keputusan Ibuk

859 Words
Aku menatap wajah asing di pantulan cermin itu dalam-dalam. Tak ada senyum di wajahnya. Tak ada pula airmata. Air matanya telah habis tumpah tadi malam. Air mata permohonan pada ibunya, air mata permohonan pada Tuhannya. Kutarik napas dalam dan panjang. Sekali lagi. Kutatap lagi wajah asingku yang penuh riasan. Cantik. Rambut pendekku tertutup hijab putih yang dihiasi mahkota kecil dan bunga melati. Kebaya sewaan berwarna putih gading menempel sangat pas di tubuhku. Ibukku pintar sekali kalau memilih baju. Kupikir aku tak pernah secantik dan se-wanita ini seumur hidupku. Bahkan tanganku sudah terhias indah dengan henna putih. "Laras... Ayo nak. Sudah ditunggu." Ibu mengusap pundakku dua kali, sebelum kemudian menggandeng dan menuntunku untuk keluar menuju mobil. Di kursi penumpang depan kulihat Bapakku sudah duduk dengan baju koko warna putih, rambutnya tersisir rapi. Adikku, Ali, sedang sibuk memasukkan kursi roda bapak ke bagasi, bersama dengan baju dan barang-barangku yang sudah dikemasi dari kemarin pagi. Aku duduk di kursi tengah bersama ibu. Ali dan bapak di depan, Ali yang menyetir tentunya. Kami akan berangkat ke masjid dekat rumah untuk akad nikah. Ya. Akad nikah ku. Aku sebentar lagi akan menikah. Dengannya. Kutarik lagi napas dalam dan panjang. Andai saja ini hanya mimpi. Berbagai macam pikiran berkecamuk di kepalaku. Tanpa sadar kuremas kain kebayaku, menyalurkan emosi yang tak kupahami. Sebelum ibuku kembali mengusap pundakku lembut. Beliau tersenyum, menatapku dengan mata hitamnya yang agak memerah. Mungkin efek banyak menangis juga tadi malam sepertiku. "Nanti kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi ibuk. Setelah akad, pak Suseno dan bu Rika akan langsung bawa kamu ke rumah mereka." Tampak olehku bibir ibu bergetar. Ada lapisan bening yang muncul di sudut matanya. Aku menggenggam tangannya erat. "Gapapa buk. Nanti aku telepon kalau sudah di sana. Ga usah khawatir. Laras baik-baik aja." ** Tak pernah terpikir olehku bahwa aku akan menjadi istri seseorang saat usiaku baru saja menginjak 18 tahun. Dan orang itu adalah teman sekolahku sendiri. Yang umurnya lebih muda muda dariku 3 bulan. Ralat. Bukan teman. Karena aku tak pernah merasa menjadi temannya. Kami tak pernah bicara satu sama lain sebelumnya. Kami juga tak pernah duduk di kelas yang sama. Tak pernah bersinggungan, tak pernah berpandangan. Entah bagaimana, hari ini, aku resmi jadi istrinya. SAH. Selesai akad, ajudan pak Suseno dengan sigap segera memindahkan barang-barangku dari mobil Bapak ke mobil mereka. Aku hanya berdiri memandang dari jauh. Berpamitan pada Bapak Ibukku. Mencium tangan beliau. Meminta doa dan restu. Semoga pernikahan ini dirahmati, diridhoi Allah. Semoga aku bisa menjalaninya dengan istiqamah. Dengan tanpa derai airmata. Sedangkan Radit, suamiku, sudah pergi entah kemana sejak selesai ijab qabul ditunaikannya. Berlenggang pergi tanpa permisi. Tanpa peduli akan adanya prosesi cium tangan, foto pengantin, bahkan semat cincin. Cincin kami, masih tersimpan rapi di box seserahan. Dan mungkin akan tetap disana hingga entah kapan. Ibukku memeluku erat sebelum melepas ku pergi. Bapakku hanya tersenyum sekilas. Matanya merah, persis seperti mata ibuk. Hanya saja tak ada airmata yang kulihat tertumpah dari beliau sejak kemarin. Tak banyak yang terucap. Namun bisa kulihat gurat keikhlasan di wajahnya, beliau menguatkanku dengan menahan kesedihannya sendirian. Sejak terkena stroke 2 tahun yang lalu, Bapak memang kesulitan berbicara dan berjalan. Keluarga kami hidup dengan Bapak yang berprofesi sebagai tukang kayu. Sebelum 10 tahun lalu, bapak kemudian mendirikan toko material bangunan di dekat pasar. Kami juga memiliki sebuah bengkel kayu di belakang rumah. Setelah terkena stroke, otomatis Ibuklah yang berganti peran mengurus toko dan bengkel itu. Meskipun kian hari, kondisinya semakin memprihatinkan. Banyak pekerja keluar masuk bergantian. Manajemen keuangan yang asal jalan, distribusi barang pun banyak macet. Banyak kena tipu. Ibukku memang hanya ibu rumah tangga sebelumnya. Urusan toko tentu sangat berat bagi beliau. Apalagi itu adalah toko yang menjual barang yang ibukku sendiri tidak paham. Pun pasti sangat berat pula untuk Bapak, seumur-umur, beliau selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Ibuk. Agar ibuk ga perlu susah. Ga perlu bekerja. Namun kini, justru istri tercintanyalah yang harus pontang panting jadi tulang punggung keluarga. Harapan kami tentulah Ali. Adikku itu masih kelas 3 SMP. Beda 3 tahun denganku. Meskipun begitu, dialah sekarang laki-laki di dalam keluarga yang harus siap siaga menjaga kami semua. Menjadi yang terdepan untuk segala situasi. Aku menatapnya iba. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan untuk membantu Ibuk mengelola toko. Meskipun tentu, dia juga kurang paham. Menurutku. Kini aku harus meninggalkan keluargaku, pergi bersama keluarga seseorang yang sangat asing. Rasanya hatiku campur aduk. Tiga bulan lagi ujian nasional dilaksanakan, dan 2 minggu setelahnya Seleksi Ujian Masuk Perguruan Tinggi diadakan. Aku harus tetap fokus. Aku harus tetap berjuang. Mereka sudah berjanji akan membiarkanku bersekolah dan mengejar mimpi. Aku akan bekerja keras, apapun yang terjadi. Setelah mapan aku akan berpisah dengannya dan kembali ke rumah. Kutahan airmataku tumpah. Aku akan menjadi kuat. Aku harus menjadi kuat. Aku harus lulus jadi mahasiswa arsitektur seperti mimpi bapak. Begitulah. Sepanjang perjalanan kubisiki pikiranku sendiri tanpa henti. Berharap seterjal apapun jalan ini nanti, aku akan berhasil melaluinya sampai akhir. Kutatap Bapak Ibu mertuaku yang hanya terdiam tanpa menatapku sedari tadi. Perjalanan panjang ini kulalui dalam keheningan dan keterasingan. Sesuatu yang akan selalu menemaniku beberapa tahun ke depan. Aku sadar. Ini juga berat. Tak hanya bagiku, tapi bagi semua orang. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD