Interogasi Ruang Guru

871 Words
Flashback 3 hari yang lalu. *** Suasana mencekam melingkupi ruangan 3x4 meter persegi itu. Di pojokan dekat pintu masuk, tersandar satu sofa triple seat dan dua sofa single seat. Di sofa berisi tiga tersebut kini terduduk seorang lelaki paruh baya berjas abu-abu, rambutnya cepak rapi, sedikit beruban di bagian samping, tatapannya marah bercampur sendu, lelah mungkin. Di sebelahnya ada seorang wanita paruh baya dengan wajah anggun rupawan, memakai kemeja batik selutut dan celana hitam. Badannya mungil, wajahnya terlihat segar terawat dengan polesan make-up tipis dan lipstik. Wanita tersebut tak henti-hentinya menatap iba pada putra keduanya yang sekarang duduk di salah satu sofa single sambil tak henti-hentinya menggeram dan menarik nafas panjang. Sedangkan di sofa single satunya, terduduklah Larasati, gadis manis berambut hitam legam dengan potongan pendek nyaris seperti laki-laki, bermata hitam jernih, berlesung pipit. Laras, begitu dia biasa dipanggil. Selama hidup, Laras tak pernah suka mencari masalah. Dia tak suka mencari perhatian, entah perhatian karena hal baik atau perhatian karena hal buruk. Dia tak ingin menonjol, tak ingin bermasalah dan dimasalahkan. Baik dalam berteman ataupun dalam pelajaran. Sehingga ketika kejadian ini menimpanya, akal sehatnya serasa buntu. Dia tidak tahu harus bagaimana, harus membela dirinya seperti apa. Sehingga sedari tadi yang bisa dilakukannya hanyalah menundukkan kepala. Bingung, cemas, takut, dan sedikit rasa marah. Kenapa malah dia juga ikut terseret disini? Pikirnya. Untuk urusan ranking saja dia tak pernah ingin jadi ranking 1 meskipun sebenarnya mampu. Hanya agar tak menjadi pusat perhatian. Tapi kenapa sekarang malah dirinya ikut terseret skandal anak-anak orang kaya. Di interogasi. Dihakimi. Dan seolah-olah disalahkan. Bahwa perkara ini bisa tersebar adalah karena ulahnya yang salah menggeser tombol itu. Duh! "Aku tak melakukan kesalahan. Ini akan berlalu. Sebentar lagi ibuku datang." Dalam hati, dia terus mengulang-ulang kalimat itu. Untuk bertahan. Bertahan duduk di antara keluarga dan anak bermasalah mereka yang sekarang terdiam di hadapannya. ** Sudah hampir dua jam lamanya Raras duduk di ruang tamu Ruang Guru ini. Beberapa orang silih berganti datang, berdiskusi, bernegosiasi. Entah tentang apa. Dia tak tahu. Tak menyimak lebih tepatnya. Pikirannya buntu, ibunya tak kujung datang dan segera menyelamatkannya dari tragedi ini. Kini yang dilakukannya hanya menunduk berdoa. Hingga tiba-tiba terdengar suara teduh, menyapanya. "Kamu sudah makan, Nak? Ini, makanlah." Wanita paruh baya yang anggun itu menyapanya sambil tersenyum menyodorkan kotak stereofoam berisi makan siang yang baru saja diantarkan oleh ajudan suaminya. "B.. Belum bu. Terimakasih. Saya nunggu ibu saya datang." Laras menggenggam erat rok sekolahnya, tak berani menyentuh kotak makan itu, sebelum dia kemudian berkata lagi, "Ehm. Apa boleh saya ijin sholat dulu Pak Bu? Sudah mau jam 2. Takut keburu ashar. " "Oh, ya.. ya... Silahkan." Jawab ibu itu cepat. "Balik sini lo. Awas kabur!!" Radit menimpali Raras dengan mimik jengah. "Hush! Radityaaa, yang sopan." Tegur ibunya halus. Raras tak menanggapi tatapan Radit, dengan perlahan gadis itu bangkit dari sofa yang selama 2 jam ini menampung beratnya. Kakinya berat, dia kesemutan. Akhirnya dia masih berdiri sambil berpegangan di samping sofa. Di sudut matanya dapat terlihat kalau Radit masih menatapnya penuh dengan amarah dan cemoohan. Entah kenapa bisa begitu. Harusnya dirinyalah yang menatap begitu padanya. Tak tahu malu. Setelah kakinya membaik, Raras pun beranjak keluar. Dilihatnya 3 orang pria berjas masuk lagi ke Ruang Guru tersebut, sepertinya mereka adalah tim pengacara. Entah punya keluarga Radit, entah keluarga Stephanie. Sayup-sayup terdengar oleh Laras tentang pembicaraan mereka bahwa Stephanie atau Stephie, begitu biasa dia dipanggil, akan dipindahkan sekolahnya ke Singapura. Dan Radit, akan dipindahkan juga ke sekolah lain tapi bukan ke Singapura. Dua sejoli kasmaran itu akan dipisahkan. Dan itu tak pelak langsung membuat bocah laki-laki tersebut tersulut emosinya. Hingga suara lengkingannya masih dapat tertangkap telinga Laras meskipun gadis itu sudah agak jauh berjalan dari sana. * Raditya Bayu Suseno merupakan putra kedua dari pasangan Airlangga Sakti Suseno dan Rika Roeslan. Kakak laki-lakinya, Bhumi Bayu Suseno adalah seorang dokter spesialis anak, Bhumi dan Radit terpaut umur yang cukup jauh, 12 tahun. Mungkin itulah yang membuat 2 anak laki-laki komisaris utama salah satu perusahaan BUMN telekomunikasi ternama itu tidak begitu dekat satu sama lain. Ibunya, Rika Roeslan, merupakan salah satu cucu konglomerat di Indonesia. Orang kaya, dari lahirnya. Skandal ini tidak akan jadi besar, jika hanya melibatkan orang biasa. Namun sialnya bagi Laras, baik Radit maupun Stephie, bukanlah dari keluarga biasa-biasa saja. Stephanie sendiri adalah putri tunggal salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang cukup berkuasa, dan cukup sering terlihat wira wiri di wawancara TV ataupun berita. Apalagi skandal ini terjadi 2 bulan sebelum pemilu 5 tahunan dilaksanakan. Maka dengan segera, berbagai amunisi pun dilancarkan oleh keluarga mereka. Agar berita yang diakibatkan kesalahan dua bocah yang sedang jatuh cinta itu tak mengganggu jalan karir orangtuanya. Tak mengganggu jalan pencitraan orang tuanya. Maka tidak heran, ketika masing-masing keluarga mendapatkan panggilan ke sekolah, yang datang bukan hanya orang tua mereka. Tapi juga tim pengacara, tim IT, dan tim PR yang mengurusi publikasi rekaman video Radit dan Stephie yang sudah terlanjur viral. Entah siapa yang merekam. Dan entah siapa yang memviralkan. Laras sama sekali tak tahu menahu, tak ingin juga diberitahu. Dia hanya ingin agar dirinya tidak disangkut-pautkan. "Bukankah hukuman bolos pelajaran karena ketiduran harusnya tak seberat ini bukan?" Laras mencebik. Sudah 3 jam. Ibunya belum juga datang. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD