Flashback
3 hari yang lalu.
***
Larasati mengangkat kepalanya, membuka satu mata dengan berat sambil celingak-celinguk kanan kiri. Sepi.
"Ah, sial! Aku ketiduran," rutuknya dalam hati.
Dilihatnya mbak Lina, penjaga perpustakaan, sedang tak ada di mejanya. Tak ada orang di sini. Perlahan Raras merapikan satu persatu pensil dan isi kotaknya. Menumpuk kembali serakan buku yang tadi tanpa sengaja dijadikannya bantal tidur. Mengelap ujung mata dan bibirnya dengan tangan, menenteng kembali tumpukan buku yang sedianya akan dia baca kalau saja tadi dia tidak bablas ketiduran di perpustakaan.
Perlahan Laras melangkahkan kakinya ke bagian deret belakang rak buku yang berjajar sesuai abjad. Sembari sesekali membaca sekilas judul buku-bukunya untuk kemudian mengembalikannya sesuai urutan.
11.15
Laras melihat jam di hape yang tergenggam di tangan kanannya. Sudah setengah jam yang lalu harusnya pelajaran bu Yanti dimulai di kelas. Terlambat sedikit lagi tak akan ada bedanya, hukumannya tetap sama. Di jemur, tugas extra, atau coret absensi.
"Ah! Bisa-bisanya aku ketiduran." Gadis itu menepuk jidatnya pelan.
Tiba-tiba langkah kakinya terhenti begitu sampai di lorong rak buku paling belakang. Matanya membola. Mulutnya menganga. Lidahnya tercekat.
"Astaghfirullah, " Teriaknya dalam hati.
Dilihatnya di ujung sana, dua sosok manusia itu sedang membelit penuh nafsu. Seperti binatang. Tanpa malu.
"Astaghfirullah. Stephie. Radit." Batinnya lagi. Kali ini lebih keras.
Laras tidak dapat mencerna apa yang sedang dilihat oleh kedua matanya. Setelah beberapa kali mengerjap, otaknya mulai berfungsi kembali. Segera saja dia memutar tubuh untuk secepatnya lari dari tempat itu. Sebelum sesuatu yang tak diinginkannya terjadi.
DRrrrrrrrtttt... DRrrrrrrrttttt...
Namun terlambat.
Ponselnya berbunyi tepat sebelum kaki kanannya beranjak.
DRrrrrrrrrtttt... DRrrrrrrrtttt...
'ITA Memanggil...'
Sontak saja kepala Raras mendadak pening seketika. Bukan karena semalaman dia begadang di bengkel bapaknya sampai pagi. Tapi karena dua pasang mata yang mendadak menoleh ke arahnya dengan tatapan nanar. Tatapan tajam antara kaget, marah, panik, malu.
Eh, malunya mungkin tidak. Entahlah.
"Ras,... "
Stephie menyebut namanya lirih. Menatap teman sekelasnya itu dengan raut panik dan memelas, memohon. Memohon agar Laras tidak berteriak. Memohon agar Laras tidak menatapnya rendah.
Mungkin.
"MATIKAN HP-mu!!" Radit membentak setengah mendesis. Matanya mendelik garang seolah siap menghujamkan belati penuh racun ke jantung Laras.
Gadis itu membeku di tempatnya. Gemetaran. Sadar akan keselamatannya, dengan panik Laras menggeser tombol merah di hapenya. Namun gagal. Tangannya keringatan.
DRrrrrrrrtttt... DRrrrrrrrtttt...
Terbaca 'ITA Memanggil' sekali lagi.
Radit menggeram.
Raras mencoba lagi menggeser tombol reject beberapa kali. Memencetnya berkali-kali.
Hhh. Fyuuuhh!
Diapun mendesah lega ketika akhirnya suara getar ponselnya tak lagi terdengar. Akhirnya.
"Raaaaaassssss!!! Lo di mana sih?? Gue cariin sampe kantin-UKS-toilet-parkiran-mushola bolak balik. Dikejer bu Yanti guee... Tas lo masih di kelas ya di samping gue, kalau mau kabur itu jangan ninggalin bukti dong neeng..."
Hening.
"Halo? "
"Ras. Halooo?! "
Mata Radit seolah akan melompat dari wadahnya dan menghunjam ke kepala Laras saat itu juga. Disuruh matiin malah di angkat.
MATIIN GAK?! Radit memimik bibir tanpa suara ke arah Raras.
Suara Ita seolah menjadi satu-satunya suara yang didengar Raras di telinganya. Detak jantungnya yang tadi berdegup kencang seolah mendadak sunyi. Senyap.
"Eh, lhohh?! Kamu di mana? " Suara Ita kembali sayup terdengar.
"Lhoh? Radit? Itu.. S.. Steph.. Stephie bukan?"
"Haaaaahh...!! "
Terdengarlah kemudian suara yang lebih ramai. Bersahut-sahutan.
Laras yang bingung akhirnya dengan gemetar melihat ponselnya. Kenapa jadi ramai begini suara teleponnya.
Allahu akbar!
Ternyata tadi Ita video call. Bukan telepon. Dan layarnya sedari tadi menghadap ke arah di mana dua orang di pojokan sana sedang bersiap-siap menerkam mencabik-cabiknya. membunuhnya kalau perlu. Sontak saja suasana kelas menjadi gaduh, riuh. Semua orang bisa melihat apa yang sedang Laras lihat. Tak terkecuali bu Yanti.
Bagaimana tidak. Radit masih dengan nafas tersengal, baju yang setengah keluar dari celana, rambut awut-awutan. Lalu Stephie yang masih dalam keadaan syok. Rambutnya berantakan. Lipstik tipisnya sudah terpoles rata hingga ke pipi. Bibirnya agak bengkak. Baju seragamnya terbuka, memperlihatkan bh hitamnya yang berenda dengan salah satu isinya yang menyembul terlepas dari sangkarnya. Roknya sudah separuh terangkat ke pangkal paha. Parahnya. Celana dalamnya. Celana dalam hitam yang juga berenda itu sudah terjun bebas ke tengah betis.
Hancur.
Raras dengan sigap mematikan panggilan video itu. Dilihatnya Radit sudah beranjak dengan tangan terkepal ke arahnya yang sekarang sedang berjuang bernafas. Ras. Ayo Ras. Lari. Lariii Ras!!
Terdengar langkah-langkah kaki menuju ke arah belakang perpustakaan sekolah itu.
"ASTAGAAAAA!! " Teriak mbak Lina, penjaga perpustakaan, dan pak Bisri, guru olahraga, bersamaan. Tekaget-kaget dengan apa yang mereka saksikan.
Dengan gelagapan Stephie memutar tubuhnya ke arah tembok, mencoba memakai kembali celana dalam dan bajunya dengan tangan gemetaran. Dapat terlihat bahwa gadis 18 tahun itu sedang menangis, sesenggukan. Sedangkan Radit, hanya bisa berdiri dengan tangan terkepal dan wajahnya tertunduk ke bawah. Dia sudah setengah jalan untuk menghantam Laras jika saja tadi mbak Lina dan pak Bisri tidak keburu datang.
Lalu Laras.
Gadis itu hanya diam. Mulutnya masih menganga. Sambil beberapa kali menggelengkan kepala ke arah semua orang. Seolah berteriak dengan tatapannya.
'INI BUKAN SALAH SAYA!'
***