Gym 24 Jam

1609 Words
Raditya mengemudikan mobilnya masuk melewati gerbang tinggi sebuah rumah mewah di kawasan Bintaro. Dari jauh terlihat seorang wanita paruh baya sedang menunggunya di pintu masuk bersama seorang gadis kecil berusia 7 tahun. "Hai, Ma. Halo Kakak Nadhira sayang. Maaf ya om Radit telat, tadi dompet om ketinggalan jadi puter balik dulu deh buat ngambil." Radit memeluk mamanya dan mengecup puncak kepala keponakannya. Radit memang terlambat hadir untuk acara syukuran ultah keponakannya yang ke-7 pagi itu karena dompetnya yang tertinggal. Dia memutar balik mobilnya kembali ke apartemen dan berakhir dengan tak sengaja memergoki istrinya sedang tiduran di balkon dengan baju terbuka. Mengingat ekspresi terkejut Laras tadi seketika membuat Radit ingin tertawa terpingkal-pingkal. "Gapapa, ayo masuk. Papa sama abang kamu sudah nungguin." "Nadhira mau gendong om gak?" "Nggak! Nadhira udah gedhe sekarang om. Lagian om Radit ga pernah nengokin Nadhira sama adik Chika." Gadis itu berlari masuk ke dalam menuju ayahnya dengan cemberut. "Eh, lhoh! Yang ulang tahun ngambek." "Sudah, ayo masuk." Rika menggandeng lengan anak kesayangannya itu masuk ke dalam rumah. Di sana sudah berkumpul beberapa keluarga dekat mereka, dan beberapa anak kecil terlihat bermain bersama di sebuah playground kecil di dekat kolam renang. Balon dan pita menghiasi dekorasi ruang tamu dan ruang keluarga Suseno tersebut. Jajanan dan makanan terhidang dalam dua meja panjang prasmanan, tak lupa stand es krim dan meja-meja kecil penuh cup cake dan kue kering untuk anak-anak undangan Nadhira. "Mas.. mbak.. " Radit menyapa Bhumi dan istrinya Ira yang sedang menggendong Chika yang tertidur. Chika adalah keponakan Radit yang berumur 2,5 tahun, adik Nadhira. "Hadiah nih buat Nadhira. Tadi aku di ngambekin. Karena gak pernah main katanya." Radit terkekeh. "Makanya main-main lah ke rumah Dit. Udah lama banget kamu ga ke sana. Pantes Nadhira ngambek." "Jangankan ke rumahmu Bhumi, ke sini saja kalau gak mama yang paksa atau ada perlunya mana mau adik gantengmu ini nongol." Rika menyahuti perkataan putra sulungnya. "Ih, Mama. Nih, kan udah ke sini. Lagi repot Ma, beneran. Kerjaan banyak." "Katanya Prof. Cahyo kamu minta majuin tanggal sidang skripsimu? Benar? Mau lulus 3,5 tahun? " "Wah, ngejar c*m laude kamu Dit?" Timpal Bhumi jahil. "Mama kok tahu?" "Mama pasti tahulah." "Gila, informan mama ini emang dimana-mana tumbuh subur. Ya biar cepet selesai aja Maa.. Kerja, cari uang, trus bahagiain mama papa. Gituuu mamaku sayaang..." Radit tertawa geli dengan jawaban gombalnya sendiri. "Ih, ini anak. Ga ada serius-seriusnya. Ditungguin papa di ruang kerja tuh, sana cepet." Radit mengangguk cepat, menyomot cupcake coklat dan berjalan menuju ruang kerja ayahnya di lantai dua. 'Tok.. Tok.. ' "Masuk, " "Pa.. " "Dit. Sehat? Duduk.." "Sehat Pa?" Radit mendekat, mencium tangan ayahnya, lalu duduk di sofa sambil masih mengunyah cup cake yang tadi dia bawa dari lantai bawah. "Sehat. Kamu bagaimana? Beneran ambil skripsi semester ini?" "Iya Pa. Radit pengen cepet selesai aja sih. Makasih bantuannya ya Pa, buat nge-lobby jadwal dengan Prof. Cahyo." "Ya kalau jadwal masih awal semester begini kan masih bisa di rubah. No big deal. Restoranmu, bagaimana?" "Mmm.. Biasa aja sih Pa kalau resto. Ada Derry dan Bima juga bantuin." "Kata Sapta kamu sudah lama gak balik apartemen di Kuningan? Betah hidup sama istrimu?" Uhukk!! Radit terbatuk. Tersedak. Potongan cup cake coklat menyangkut di pangkal tenggorokannya. Belum terkunyah. Duh! Pak Sapta ini dasar sopir mulut ember. Pak Suseno mengambilkan segelas air putih untuk anaknya. Segera Radit meminum habis air itu. "Makasih. Papa tau? Radit kayaknya mau jual aja unitnya, Pa. Males balik ke sana." Tak ada yang bisa dirahasiakan Radit dari orangtuanya, mereka punya mata dan telinga di mana-mana. "Trus mau cari unit baru?" "Mmm.. Nggak sih Pa. Mungkin Radit mau tinggal aja di unitnya Laras sementara ini." Pak Suseno menurunkan kacamatanya. Heran. Melihat dengan seksama wajah anak bungsunya itu, mencari keseriusan dari ucapannya. "Papa kira kalian gak akur loh. Berarti kamu betah di sana? Jadi, dia sudah resmi kamu jadiin istri?" "Maksudnya Pa?" "Kok jadi akur, tinggal bareng, memang Laras sudah berhasil kamu tiduri?" "Papaaaa.... Aduh!" Radit dengan segera geleng-geleng kepala menyangkal. Keberatan. "Nggak pa. Suerr! Beneran! Radit nggak ngapa-ngapain dia. Lagian Laras itu beda Pa, nggak kayak wanita lain dia." "Ya papa kan cuma tanya. Semua orang taulah kamu seperti apa dengan wanita pacar-pacarmu itu. Papa juga tahu gimana kamu sama siapa itu namanya, Melanie, sudah sering nginep bareng kan kalian." "Aduh Pa. Jangan bahas Melanie Pa, please...! Radit sudah gak ada hubungan apa-apa lagi sama dia. Radit mau berubah." "Beneer?" "Iya Pa. Radit mau kuliah dulu, kerja yang bener baru nyari mantu buat Mama Papa." "Nyari gimana, kami kan sudah punya mantu." Pak Suseno dan Radit tertawa bersama-sama. Anaknya ini memang kadang-kadang tak berpikir dulu sebelum bicara. "Kalau kamu sama Laras bisa akur sebagai suami istri ya gapapa sih kalau Papa. Bagus malah. Sepertinya dia anak yang baik, gak macam-macam." "Radit cuma tinggal di sana biar ada temen aja kok Pa, biar gak sepi. Mama Papa ga usah khawatir, ga usah mikir aneh-aneh, kejauhan. Lagian Papa bener, gak neko-neko memang anaknya. Selain dari tampangnya yang kayak laki itu, Radit ga ada masalah. So far so good." "Ck. Suruhlah istrimu itu manjangin rambutnya Dit. Bajunya juga, bener kata kamu. Mirip laki Laras itu. Kalau ada acaranya mama bagaimana? Kamu tahu mamamu bawelnya seperti apa." "Yah, Pa. Radit mah gimana nyuruhnya Pa? Tapi Laras itu baik kok pa, meskipun dandanan dia begitu tapi anaknya sopan, pekerja keras juga. Tuh anak tidur mungkin sehari sejam dua jam doang pa. Apa aja dilakuin. Berbakat juga kayaknya dia Pa. Karya-karyanya itu bikin Radit melongo. Kalau Radit ga lihat sendiri mungkin Radit bakal gak percaya. Papa gak usah khawatir deh, Laras itu baik kok. Kalau masalah pesta sosialita temen-temen mama mah gausah datang kita kan gak apa-apa Pa. Radit juga gak suka." Pak Suseno hanya geleng-geleng kepala mendengar penjelasan anaknya yang panjang kali lebar itu. "Sekarang jujur sama Papa, kamu suka sama Larasati?" Glek!!! "Ah. Papa apaan sih. Radit cuma cerita apa adanya. Baru juga dua minggu kenalnya." Radit menelan ludahnya. Pikirannya mendadak buntu untuk mencari-cari alasan, untuk mengelak. "Lah segitunya kamu belain dia di depan papa." Pak Suseno tersenyum tipis, melirik anaknya yang salah tingkah. "Jadi karena dia, tiba-tiba kamu mutusin mau skripsi cepat-cepat?" 'Kalau gak cepat nanti langkah Radit bisa ketinggalan jauh sama Laras Pa. Radit gak mau. Radit berkejaran dengan waktu.' Radit menjawabnya hanya dalam hati. ** Kamar itu temaram, remang-remang. Hanya ada semburat cahaya yang masuk dari gorden yang sedikit terbuka. Membuat panel kayu di dinding kamar Laras berkilauan samar-samar. Di tengah sana, Laras sedang tidur, terbaring telentang di atas kasur lantai yang dilapisi bed cover berwarna coklat muda. Celana pendeknya sedikit tersingkap hampir ke pangkal paha. Dia masih memakai tank top hitamnya tadi pagi, tanpa bh. Radit duduk di pojok kasur itu dalam diam. Asyik mengamati wajah gadis berambut pendek itu yang sedang tertidur lelap. Damai. Indah. Tiba-tiba pandangan Radit tertuju pada bibir Laras yang sedikit terbuka, bibir penuh itu terlihat merona, menggoda imannya yang semua pun tahu kalau tak seberapa. Perlahan, Radit mendekatkan wajahnya. Berhati-hati menempelkan bibirnya pada bibir Larasati. Lembut, hangat. "Dit..?" Laras terbangun. "Ras.." "Kamu ngapain?" Jantung Laras bertalu-talu, bagaimana bisa Radit ada di kamarnya, di depan wajahnya, apalagi baru saja pemuda itu menciumnya. Ciuman pertamanya. "Kamu kenapa gak pake daleman Ras?" Radit bertanya dengan suara serak, menatapnya, wajahnya berkabut. Tatapannya sulit untuk diartikan oleh Laras. "Aku kira kamu sudah pergi. A gak t..." Tiba-tiba Radit menyergap bibirnya, menghentikan perkataannya, menciumnya lagi, lebih dalam, lebih menuntut, haus dan lapar. Laras yang semula ingin menolak, mendadak lunglai, memejamkan mata hitamnya, menyerah pada ciumannya, dan sentuhannya. Mereka mulai saling membelai, saling merasakan tubuh satu sama lain. Bercinta, di kamar yang temaram itu untuk pertama kalinya. "Larasati..." Radit menyebut nama itu lirih sebelum meledak lalu luruh, ambruk menimpa tubuh wanita yang baru dua minggu dikenalnya itu. Napasnya tersengal, jantungnya kacau tak karuan, di bibirnya terbit sebuah senyum kepuasan, kebahagiaan, sebelum akhirnya dia menyerah dan memejamkan mata. Tertidur ke alam mimpi yang indah. ** Radit terbangun sendirian, tubuhnya terasa lengket dan panas. Pasang matanya mencari Laras yang tak ada di sampingnya. Ah! Mungkin Laras sedang di kamar mandi. Radit melesakkan lagi kepalanya ke dalam bantal. Bantal itu harum. Berwarna biru tua. Seperti bantal di kamar masa kecilnya. Eh! Tercengang. Radit duduk sigap menegakkan punggungnya, mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar itu. Ini bukan kamar Laras. Ini kamarku di rumah mama papa. Lalu dia menyibak selimut tebal yang menutupi pinggang dan kakinya, dan jelas saja, di sana terlihat celananya lengket dan basah. Baunya menyengat. "Aaaaaaarrrggh!! Gila kamu Radit!" Dia mimpi basah. Radit menggeram. Meremas rambutnya dengan kedua tangan, meraup mukanya kasar lalu membanting lagi tubuhnya rebah ke belakang. Setelah beberapa saat, dia meraih hp di atas nakas. Menekan tombol kontak seseorang. "Halo.. Yan, gym kakak lo jam segini masih buka gak?" "Dit? Oh.. Tumben lo nelpon jam 3 pagi begini." Terdengar suara Wayan di seberang yang masih setengah mengantuk. "Buka gak?" "Buka 24 jam. Tapi ngapain lo mau nge-gym jam segini?" "Oke. Gue ke sana. Sekarang." Radit menutup teleponnya. Membantingnya ke kasur, berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi. Menghela napas panjang sebelum kemudian masuk dan menutup pintunya dengan keras. Aku belum pernah sekalipun tertarik dengan ukuran 32-B sebelumnya. Astagaaaa!! Sepertinya aku sedang terkena karma yang dibayarkan kontan oleh Tuhan. Radit menggeram kesal dengan suara di dalam kepalanya. Tak percaya, menyangkal, tak ingin mengakui, bahwa dirinya sudah jatuh diseret dalam pusaran perasaan oleh seorang gadis aneh yang bertahun-tahun ini dihindari dan dibencinya. Karma yang tak pernah salah alamat. Yang tanpa diketahuinya akan membawa hatinya merasakan putaran takdir, manis getirnya cinta, dan kepedihan dalam penantian yang tak pasti. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD