- Larasati -
**
Aku menyesap kopiku perlahan. Menikmati matahari pagi di balkon dengan ditemani kelebatan jemuran bajuku yang baru saja selesai ku jejerkan di tiang gantungan. Bau wangi deterjen menguar bergantian dengan wangi kopi. Menemani kelebat-kelebat pikiranku yang berputar.
Sudah seminggu aku berhenti dari coffee shop pak Brian dan mulai bekerja paruh waktu di Griyatri Design & Build. Perusahaan jasa konsultan arsitektur dan interior yang selama setahunan ini menampungku sebagai drafter part time. Mereka begitu baik hati, mempercayakan orang baru sepertiku untuk mengerjakan beberapa gambar teknik proyek yang mereka dapatkan. Memberiku kesempatan dan wadah untuk belajar banyak hal.
Bu Erliana, nama pemiliknya. Usianya masih 41 tahun, namun beliau adalah bos yang bisa diandalkan, dan juga berhati bak malaikat. Sebagian pekerja di sana adalah perempuan, dan beliau dengan lapang d**a mau mempekerjakan mahasiswa miskin ilmu sepertiku. Aku bekerja paruh waktu dari hari Senin-Jum'at, jam 2 sore hingga 8 malam. 6 jam kerja dengan gaji yang lumayan untuk ukuranku.
Hari ini Raditya sedang pergi ke rumah orang tuanya untuk menginap selama akhir pekan . Aku merasa sedikit bebas, lega, meskipun sepi. Tak ada lagi rengekan pertanyaan-pertanyaannya yang sudah seperti hujan musiman. Keluar deras begitu kami bertatap muka.
Tiba-tiba aku merasa mengantuk, angin dan sinar matahari pagi di balkon ini membuat tubuhku yang memang lelah seolah ingin menyerah. Aku menyingkirkan kursi yang sedari tadi kududuki ke pojokan, lalu merebahkan tubuhku telentang menatap langit-langit yang dipenuhi jemuran baju bergelantungan. Sebelum ada Radit, aku biasa memakai celana pendek dan kaos tanpa lengan saat di rumah. Kadang juga hanya berpakaian dalam. Karena celana panjang dan kemeja harus kuhemat untuk pergi kuliah. Maklum, bajuku tak banyak. Namun setelah ada dia, mau tak mau aku harus berpakaian rapi sopan meskipun sedang di rumah. Celana panjang kaos berlengan walau saat malam. Karenanya aku lebih sering mengerjakan tugasku di dalam kamar.
Begitu dia berangkat pagi tadi, aku langsung mencuci semua bajuku. Hanya menyisakan celana pendek sepangkal paha dan tanktop hitam yang kupakai sekarang. Aku bahkan tak memakai celana dalam dan bra. Semua sedang tergantung indah di atas kepalaku. Perlahan-lahan bergoyang tertiup angin.
Aaahhh! Indahnya kebebasan...
Hari ini hari libur kerjaku yang pertama. Tanganku telentang, mataku memejam.
"Ras, kamu gak masuk angin tiduran di situ?"
Samar-samar terdengar suara membangunkanku. Suara Radit. Panjang umur kan itu orang, baru aja diomongin dalam pikiran, sudah kedengeran aja suaranya.
"Ha.. Ha.. Ha." Aku tertawa dalam tidurku.
"Nih anak malah ketawa. Bangun woi! Tidur kamar sana! Masuk angin ntar goleran di balkon pake tanktop doang gak pake BH!
'Gaa paakee BeHaa.. '
Suara Radit menggema di telingaku beberapa kali.
Astaghfirullah.
Apa tadi? Suara Radit?!
Kaget, aku segera membelalak membuka mataku lebar-lebar. Dan benar saja, dia sudah berjongkok dengan mukanya tepat di atas wajahku. Aku mengerjap beberapa kali, sebelum kemudian oksigen sampai ke otakku dan aku bisa berpikir.
'Aku lagi gak pake BH dan ada Radit di atasku.'
"AAAaaaaarrrgghh!!!"
Sontak aku langsung berdiri. Aku menabrak kepalanya dengan dahiku cukup keras. Kusambar kilat celana training dan kemeja kotak-kotakku yang masih lembab di gantungan, membawanya masuk dan memakainya di ruang tamu. Lalu seketika itu aku langsung masuk ke kamarku dan menutup pintu.
Braakk!!!
Bersandar di balik pintu, kupegang dadaku erat-erat, takut jantungku meloncat karena degupnya yang sedikit lagi mau ngalahin riuhnya bedug hari raya.
Radit tertawa terbahak-bahak di ruang tamu. Tawa yang terdengar sangat sangat jahat di telingaku.
**
Setelah insiden Sabtu pagi itu aku masih belum melihat wajahnya lagi. Dia menginap di rumah orangtuanya dua malam. Aku lega. Semoga dia segera sadar dan kembali ke apartemennya sendiri, melupakanku, dan gak pernah mabuk trus salah ngetuk pintu di sini lagi. Aamiin.
Aku memanggang roti untuk sarapan mengolesinya dengan selai kacang, mengupas pepaya, dan menuang s**u di gelas. Lalu menikmatinya sambil bersenandung di meja makan. Ah.. Sarapan sederhana ini enak sekali. Selama ada subsidi Raditya, asupan giziku terjamin dan tercukupi. Aku nyengir.
'Ddrrrrttt Drrrrrttt... '
Hapeku berdering. Ada telepon masuk dari Prof. Djati. Berbarengan dengan itu kudengar pintu unitku berbunyi. Tiba-tiba mendadak aku ingin segera lari, tapi sayang sarapan ku belum selesai.
"Halo, assalamu'alaikum prof.."
"Wa'alaikumsalam warahmatullah. Laras, nanti kamu ada jadwal ke kampus?"
Kulihat Radit masuk dan kemudian duduk di kursi meja makan di depanku. Dia menatapku menyelidik, aku memutar tubuhku ke arah kulkas. Tak ingin melihat wajahnya. Takut dia mengingatkanku tentang insiden jemuran itu. Aku mencoba berkonstrasi menjawab telpon.
"Nggak ada prof, ada kelas bu Widya tapi diganti jadwal besok karena beliau sedang ke Jogja."
"Kalau begitu nanti kamu ke kampus ya. Ketemu saya di ruang dosen. Jam 10-an kurang lebih, kalau belum ada tunggu aja. Saya ada perlu sama kamu."
"Oh, iya.. baik prof. "
"Mm.. Ajak juga temen kamu sekelas itu si Ahmad dan Firman. Kalian bertiga nanti ke ruangan saya."
"Baik prof. Nanti saya beritahu Ahmad dan Firman."
"Oh, hampir lupa. Kamu sudah lihat emailmu Larasati? "
"Belum prof."
"Wah.. Belum? Lihatlah, cepet dilihat itu. Berita bagus. Yasudah, assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam warahmatullah.."
Aku menutup panggilan itu. Mengernyit heran sebelum kemudian menekan tombol sss di hp-ku. Namun emailku tak kunjung terbuka, loading tak ada habisnya. Kucek kuotaku, dan benar saja. Kuotaku sudah habis karena kemarin aku stress gara-gara Radit, aku menggunakannya berfoya-foya untuk menonton acara Before After di YouTube. Kutepuk jidatku keras. Tak sadar kalau ada Radit di sana. Menatapku heran.
"Ada apa? Kena marah dosen?"
Aku mendengus, kesal. Lalu menggeleng.
"Temenin aku sarapan yuk. Pengen bubur ayam nih. Sekalian jalan liat udara segar." Dia tersenyum ramah sambil bertopang dagu di atas meja. Seolah tak ada apa-apa yang terjadi.
"Udara kok dilihat." Aku menjawab asal.
"Ouch! Sakit Dit.." Dia mencubit pipiku keras. Kulirik penuh dendam padanya, sejak kapan dia mulai berani cubit-cubit pipi.
"Udah ayo, temenin makan bubur. Gak akan kukasih tau siapa-siapa kalau ukuranmu 32-B."
"RAADIIIIIITTTT....!!!"
Aku mencoba memukul lengannya tapi dia mengelak. Kucoba lagi namun gagal, akhirnya aku hanya bisa mendengus kesal melihatnya tertawa mengejekku dari seberang meja.
Ku alihkan pandangan ke hpku. Agar hatiku tak semakin gila dibuatnya.
"Punya kuota internet gak? Tethering dong. Buat buka email."
"Apa?? Gak denger?"
"Minta tethering Dit... "
"Ooh.. Ada yang gak punya kuota internet. Benci-benci butuh nih ceritanya." Dia tertawa semakin keras.
Aku menggertakkan gigiku ke arahnya, bersiap bangkit untuk pergi dari sana. Namun tiba-tiba Radit menyambar HP di tangan kananku dan mengetikkan sesuatu dengan cepat di sana lalu mengembalikannya lagi ke tempat semula. Dia tersenyum lebar, seolah telah menyelamatkan anak kucing tak berdaya dari pemangsanya.
Segera kubuka emailku lagi. Dan benar, ada satu email dengan nama Profesor Gillian Anderson. Gugup, aku membukanya. Email itu ter-cc ke beberapa alamat lain termasuk diantaranya email Prof. Djati dan juga mas Fahri, seniorku. ehm! Membaca nama email itu saja pipiku merona.
Secepat kilat aku membaca isinya yang mengatakan kalau lukisan fire and ice-ku kemarin sudah selamat mendarat di Australia, dan sekarang sudah rapi terpajang di salah satu galeri seni di Sydney. Lengkap dengan instalasi cahayanya. Kubuka lembar attachment-nya, terlihat disana foto lukisanku sedang menghiasi dinding yang asing. Dinding yang ada di benua lain.
Alhamdulillah ya Allah.
Aku menyeringai. Lebar. Ada rasa haru dan bahagia, kerja kerasku terbayarkan. Tuhan Maha Baik, memberikanku lebih dari yang kuharapkan. Jauh.
"Kenapa? Lihat!" Radit merebut hp-ku, membacanya. Setelah beberapa saat dia meletakkannya di atas meja di depanku.
"Selamat!" Senyumnya juga sangat lebar. Bahkan seperti ada rasa bangga di sana. Atau mungkin itu hanya perasaanku saja karena aku sedang bahagia.
"Pinjem hp-mu Dit. Mau telpon rumah. Boleh?"
"Ga punya pulsa juga?"
Radit menyodorkan hp miliknya, masih dengan tersenyum. Aku menekan nomor telepon Ali, adikku.
"Assalamu'alaikum, Al ibuk ada? Ini mbak Raras, pake nomor temen."
Radit mengerjap.
"Buk, lukisan Raras sampek di Australia buuuk. Alhamdulillah buk. Iya, iya buk. Makasih doa ibuk bapak dan Ali. Iyaa. Iyaa. Aamiin. Iya, ntar Sabtu depan Raras mampir rumah. Iya buk. Makasih. Assalamu'alaikum."
"Nih. Makasih."
"Jadi, udah seneng? Sekarang temenin makan bubur. Yuk!" Dia berdiri, menarik ujung lengan kemejaku. Membawaku. Merayakan hari ini dengan semangkok bubur ayam kesukaannya. Dan aku terlalu bahagia untuk tidak menerimanya. Traktiran perayaan darinya.
Perasaan maluku tadi yang meluap-luap sudah menguap entah kemana.
***