- Larasati -
**
01.30 am.
Radit menungguku di parkiran. Hujan gerimis dari sore tak membuatnya berubah pikiran untuk menjemputku pulang ke Jakarta bersamanya. Aku tak paham dengan sikapnya. Sejak kemarin dia datang ke pameran, tiba-tiba dia ngotot untuk mengajakku pulang bersama. Padahal sudah kubilang, bahwa meskipun penutupan pameran dilakukan jam 8 malam, tapi aku masih harus membereskan stand, bersih-bersih, briefing dan evaluasi dengan teman-teman, baru bisa pulang. Tapi dia bersikukuh. Bersikukuh untuk menunggu.
Larasati:
[Dit. Tidur? Aku di lobby, bisa bawa mobilnya ke sini ga? Mau angkut barang, barangku ga bisa kena hujan. Sorry ngrepotin..]
Raditya:
[Oke. Ga tidur. Dan ga ngrepotin.]
[Tunggu.]
Sesaat kemudian dia datang. Keluar dari mobilnya, membuka bagasi dan tanpa basa-basi langsung mengangkut semua barang yang ku kumpulkan di dekat tempatku berdiri. Bengong, aku terheran-heran. Dia bahkan tak melihat mukaku dulu.
“Kamu mau berdiri di situ sampai ayam berkokok?" Dia menanyaiku dari balik kemudi. Masih belum menatap mataku.
"Oh.. "
Aku segera bergegas masuk ke mobilnya. Menutup pintu. Melihat wajahnya yang tetap tak menoleh padaku.
Setelah beberapa saat melaju di jalanan yang lengang. Kuberanikan untuk bertanya padanya.
"Ehm! Kamu ga lagi pms kan Dit?"
"Mana ada laki pms Ras? Ngaco!" Dia terkekeh. Pandangannya masih lurus ke jalan.
"Kamu lagi marah?"
"Sama siapa?"
"A.. Aku lah."
"Kalau marah ngapain aku jemput kamu jauh-jauh pagi buta begini."
"Terus... "
"Terus kenapa?"
"Terus kenapa dari kemaren kok kamu yang kayak ga mau lihat mukaku gitu sih, maksudku ga mau ngeliat natap mataku gitu loh." Radit terbatuk-batuk. Mungkin keselek udara. "Kan aneh kan aku ngomong sama orang yang ga natap aku. Berasa jadi angin lalu."
"Kamu ga capek?"
"Eh.. " Pertanyaanku dianggurin gitu aja.
"Tidur aja. Perjalanannya masih lama." Dia akhirnya menoleh. Tersenyum lembut padaku.
Tampan.
Eh?! Ya Salam!!!
Astaghfirullah. Otakku korslet. Benar kata orang kalau laki perempuan di larang berduaan, apalagi gelap dan pagi buta, orang ketiganya adalah setan. Dan setannya sekarang sedang duduk manis ngedip-ngedipin mataku ke arah Radit.
Salah tingkah, aku memutar tubuhku ke arah jendela. Kali ini justru aku yang ingin menghindari tatapan matanya, dengan berpura-pura tidur selama perjalanan ke Jakarta. Yang nyatanya terasa amat sangat lambat dan lama.
Astaghfirullah.
Malam itu aku beristighfar ribuan kali.
**
"Kamu berangkat lagi?" Radit mendongakkan kepalanya dari sofa, wajahnya kusut, kurang tidur, tapi tetap tampan. Ya ampun Ras! Bisa gak berhenti bilang tampan?
"Ga libur aja sehari ini?" Sekarang dia sudah duduk di depanku di meja makan.
Menggeleng. Aku mengunyah roti dan selai strawberry untuk sarapan. Sekarang jam 8 pagi, aku harus ke kampus untuk minta tanda tangan kajurku untuk surat pengantar kerja praktek lapangan yang sebentar lagi harus kujalani.
"Matamu udah kayak panda, Ras. Libur aja sehari. Bilang sakit."
Aku menggeleng lagi.
"Berangkat naik apa?"
"Oj.. jollgh." Aku tersedak roti tawar. Radit menuangkan air putih di gelas, menyodorkannya ke arahku. Aku berterimakasih padanya lewat gestur tangan. Meminum air itu hingga habis.
"Ojol." Kuulangi jawabanku.
"Aku anter aja." Dia bersiap berdiri.
"Gak usah Dit. Kamu tidur aja, kan tadi sepagian kamu udah nyetir. Lagian tiap hari juga biasanya aku naik ojol."
"Kamu butuh mobil?"
Uhukk! Ughh!
Aku tersedak roti tawarku lagi. Radit menuangkan lagi air putih di gelasku dan ku minum habis.
"Maksudnya Dit?"
"Kalau kamu butuh mobil, aku beliin. Biar ga dikit-dikit naik ojol. Aku juga ga setiap saat bisa nganterin kamu."
"Hah? Gimana?" Telingaku mendadak tuli mendengar kata 'beli' dan 'mobil'.
"Mau aku beliin mobil?" Dia mengucapkannya dengan kecepatan lambat.
"Aaaa... Gak.. Gak u..sah. Aku gak bisa nyetir." Sambil mencerna perkataannya aku menjawab tak kalah lambat. Geleng-geleng kepala. Sebenarnya Radit ini kenapa sih. Sudah semingguan di sini dia yang masak, belanja, anter jemput, eh, sekarang tetiba mau beliin mobil. Padahal, selama 3,5 tahun ini mau melihat ujung rambutku saja nggak.
"Mobil kan mahal Dit." Lanjutku. Mengunyah cepat potongan terakhir roti tawarku.
"Ya kali aku gak mampu. Baru mahal Ras." Dia tergelak sambil berlalu ke kamarnya. Saat keluar dia sudah rapi, memakai jeans warna hitam, kaos polo putih, dan rambut tersisir rapi. Aku melongo, boleh ga sih aku bilang tampan sekali lagi Tuhan? Pleaseee..!
"Aku anter! Ga pake nolak!"
Dia meraih tas ransel ku di atas meja. Sebelum sempat kutahan dia sudah berjalan ke arah pintu. Aku menghela nafas panjang.
Heran.
**