Fire and Ice

1671 Words
- Raditya - "Loh, masih bangun Dit?" "Hm." Aku menjawab dengan anggukan. Masih menatap layar laptopku dengan bersila di depan meja TV. "Ngerjain apa sih? Serius amat." Laras menanyaiku sambil berlalu ke arah dapur, mengambil botol air minum. Meneguknya dan memasukkan sisanya ke dalam tas. Mengambil apel dan pisang, dan memasukkannya lagi ke dalam tasnya. "Aku minta apel sama pisangnya ya.." "Ya ambil-ambil aja kali Ras, ga perlu tiap kali minta. Emangnya aku ibu kosmu?" Aku melihatnya heran, ini masih jam 3 pagi. Tapi dia sudah rapi. Maksudku rapi ala Laras adalah memakai jeans, kaos, kemeja kotak-kotak yang dibiarkan terbuka, dan menenteng tas ransel merahnya. Kalau wajahnya, mandi tidak mandi tidak ada bedanya. Gadis itu tak memakai make-up sama sekali. Terkadang membuatku sedikit kesal, kenapa dia tak berusaha sedikit saja merawat diri. "Mau kemana jam segini?" "Ke Bandung. Kan pameranku hari ini sampe Minggu." Oo. Ini hari Jum'at pagi, berarti dia pameran 3 hari di sana. "Naik apa?" "Mobil. Bareng anak-anak dari kampus." Laras masuk lagi ke kamarnya mengeluarkan dua kotak kardus besar, kanvas ukuran 120×80 cm yang sudah dibungkus kain putih dan dilapisi lembaran stereofoam, lalu di buble wrap. Rapi. Tidak seperti pemiliknya yang rambutnya sudah berantakan ke mana-mana karena dari tadi dia mondar mandir keluar masuk kamar sambil sesekali meremas kepalanya. "Trus dari sini ke kampus?" "Ojol." Jawabnya sambil lalu tanpa melihatku. "Bawa segitu banyak? Naik ojol? Taksi maksudnya?" "Bukan. Ojol motor. Duit ga cukup kalo naik taksi, apalagi di Bandung ntar 3 hari ga ada subsidi makan dari kamu Dit. Hahaha." "Harusnya karena seminggu ini ku subsidi, kamu ada uang lah buat naik taksi." "Buat yang laen Dit." Laras membuka pintu, tampak kesulitan membawa semua barang-barangnya. Akhirnya dia menyerah, menaruh kardusnya di depan pintu unit. Dan menenteng kanvasnya saja. "Titip sebentar ya, aku bawa ini turun duluan." Ck. Kugelengkan kepalaku melihatnya seperti tertelan bingkai lukisannya sendiri, berjalan susah payah agar tak menabrak. Aku berdiri, menyimpan file pekerjaan di laptopku, mematikannya, meraih kunci mobil, dan menyusul Laras keluar unit. Kuraih 2 kotak kardus besar yang ditinggalkannya tadi. Menyusulnya ke bawah. "Aku anterin. Tunggu sini!" Teriakku padanya saat aku berhasil menyusulnya di lobby lantai bawah. Kami pun melaju, langit masih gelap, jalanan lengang. Ini bahkan belum Shubuh dan dia mau naik ojol sendirian dengan barang segitu banyak. Kugelengkan kepalaku tak percaya. "Kenapa?" "Gpp. Kamu berangkat pagi buta begini emang pameranmu jam berapa?" "Openingnya masih ntar malem, jam 7." "What??!" Aku mendelik tak percaya. Dia terbahak melihat ekspresiku. "Ya kan harus beberes dulu kali Dit. Pasang sana-sini. Ini juga harusnya kemaren aku udah di sana sih buat siap-siap, biar aman. Tapi masih ada yang harus dikerjain di komputer rumah. Kalo udah di sana udah ga bisa pegang komputer, full jadi tukang." Dia menyeringai, entah bangga entah nelangsa. "Kalo lukisan kan tinggal dicentelin doang kan. Beberesan apa lagi?" "Haha. Bener bener. Tinggal centelin doang sih harusnya." Dia terkekeh geli. Kemudian menyeringai lebih lebar. Aku menatapnya tak percaya. "Kalo penasaran, dateng aja. Gak rugi deh. Beneran." "Ck. Lihat lukisan doang, jauh banget. Ogah!" Aku menepikan mobilku di depan sebuah minimarket 24 jam. "Tunggu bentar." Aku melesat turun dari mobil, meninggalkan Laras yang kemudian sibuk melihat hp-nya. Saat kembali aku sudah menenteng 1 kantong besar belanjaan. Aku menaruhnya asal di pangkuan Laras yang sedang asyik berbalas pesan di hp-nya. "Aduh! Apaan sih?" Dia melotot kaget, lalu melihat isi kantong itu. Roti tawar, roti sobek, beberapa snack, satu pack jeruk, yoghurt, dan sekotak s**u coklat. "Ini buat aku?" "Subsidi. Dari suami." Aduh! Aku terkaget dengan ucapanku sendiri. Wajahku memerah karena risih dan juga malu. Ingin kutelan kembali kata-kataku, tapi Laras sudah terpingkal-pingkal. Dia mengusap air mata di ujung matanya karena saking kerasnya tertawa. "Masih subsidi ya? Kalo disebutnya nafkah kan gak cukup kan ya kalo cuma segini?" Dia terpingkal lagi. "Aku beruntuuuung banget ya Allah... " Nadanya sinis, tapi dia masih tertawa. Aku hanya tertawa kaku, menelan sendiri rasa maluku. Dia benar. Harusnya aku berkewajiban memberinya lebih sebagai suami. Tapi dari hati, aku belum bisa menerimanya sebagai istri. Aku yakin diapun mungkin begitu. Kami tak saling mengenal, dan baru seminggu ini kami berinteraksi, itu pun bertatap muka jarang-jarang. Tapi aku tak keberatan berteman dengannya, dia tak seburuk yang kupikirkan. Bahkan, menjadi temannya rupanya adalah hal yang cukup menyenangkan. Dia gampang sekali tersenyum dan tertawa. Membuat hatiku yang sedang patah ini menemukan cahaya, menemukan secercah bahagia. ** Aku mengecek kondisi restoran makanan Korea milikku di salah satu mall di Jakarta. Namanya Gangnam Grill. Restoran ini kudirikan setahun lalu dengan Melanie sebagai investor utama. Saat ini kami sudah memiliki 3 cabang, satu di Jakarta, satu di Depok dan satu lagi di Pamulang. Omset kami juga sudah bisa dibilang lumayan, namun aku punya mimpi ingin membuatnya menjadi franchise yang lebih besar. Kendalanya adalah sekarang aku dan Melanie sudah tak lagi bersama, maka aku harus membagi restoran ini dengannya meskipun aku masih belum tahu bagaimana caranya. "Mau gak mau, lo harus ketemu sama Melanie buat ngomongin ini semua. Sebelum berlarut-larut. Apalagi ada urusan uang. Jangan sampai urusannya jadi panjang sampai ke pengadilan. Ribeeettt Dit. Bayar pengacara juga mahal." "Iya, iya Derr. Gue tahu. Tapi gue masih sakit hati sama dia. Gue belum siap ketemu dia sekarang, takut khilaf. Takut gue masih cinta, trus maaf-maafan deh." "Ya kan bagus maaf-maafan." "No no no.. Maafinnya sih gpp, balikannya jangan. Cheating is my limit Derr. Gue gak bisa." Derry hanya geleng-geleng kepala. "Apartemen lo gimana kabarnya?" "Belum balik ke sana gue. Banyak Melanie-nya." aku meringis. "Makanya nikah dulu baru kawin." Celetuk Derry, yang lantas menutup mulutnya dengan tangan. "Ups! Sorry, keceplosan Dit." Mataku membulat tak terima. Ingin rasanya kupanggang teman sekaligus sekretarisku ini bersama-sama dengan potongan daging sapi di meja kami. "Yang udah dinikahin malah ga dikawinin. Hahahaa." Plakkk! Kupukul bahu kekarnya dengan capitan daging. Benar-benar memang itu mulut Derry, gak ada saringannya. "Ampun Dit. Ampuuun... Kemeja baru ini. Kita bentar lagi ada meeting sama Bima nih. Tapi bener lho Dit. Ga usah ngelak!" Derry kembali tertawa jahil. "Sialan lo!!" "Lo gak potong gaji gue kan?" "Gak. Tapi ntar lo meeting sama Bima sendirian. Gue cabut dulu." Aku merapikan HP dan ipad-ku lalu memasukkannya ke dalam tas. "Loh. Mau kemana? Kita kan lagi nunggu Bima." Derry mengerjap bingung. "Ke Bandung. Liat lukisan!" Derry melongo, sejak kapan sahabatnya itu jadi doyan lihat lukisan. "Trus meeting-nya gimana Dit?" Derry berteriak. "Salah lo bikin gue bete. Meeting sana sendiri. Makan makan tuh cerewetnya Bima!" Aku melenggang pergi, meninggalkan Derry yang masih melongo tidak percaya. ** Gedung Convention Hall itu penuh sesak. Aku harus memutar 2 kali sebelum akhirnya menemukan parkiran. Di halamannya, ada sebuah panggung besar, dengan band live performance yang menarik banyak kerumunan. Kulihat lagi pamflet yang diberikan Laras kemarin saat turun dari mobil. 'Fire and Ice' Tema pameran ini adalah api dan es. Aku tergelak, memangnya apa yang mereka pamerkan dengan tema seperti ini. Judulnya jadi seperti film seri Game of Thrones yang akhir-akhir ini lagi booming. Akhirnya aku beranjak menuju pintu masuk gedung, di lobi sudah terjajar beberapa partisi kayu yang menampilkan karya-karya fotografi. Ada juga stand makanan, dan spot untuk berfoto-foto. Setelah mengisi buku tamu dan mendapat guest name tag, aku pun masuk. Melongo, ternyata ini pameran yang cukup besar. Di backdrop panggung panitia, tercetak banyak sponsor dari beberapa merk dan brand terkenal. Tempat ini ramai, berdiri di sini sendirian di tengah keramaian menyadarkanku bahwa selama ini aku tak pernah pergi ke suatu acara sendirian. Biasanya kalau tidak mengajak mama atau teman, ya pacar. Tapi tak pernah sendirian. Semua stand sudah di kotak-kotak. Satu stand berukuran 2x2 meter. Yang dipamerkan pun macam-macam. Mulai dari lukisan, patung, maket, kain batik, buku, ukiran, material bangunan, pahatan es, instalasi api, lukisan-lukisan 3D, dan juga karya-karya lain yang aku tidak paham. Aku mencari Laras, kukirimkan beberapa pesan namun dia belum membukanya. Kupikir aku mulai putus asa, dan sedikit menyesali kenapa tadi aku sampai nekat menyetir Jakarta - Bandung hanya karena emosi pada Derry. Lalu kulihat ada satu stand yang seluruh ruangannya ditutupi kain hitam, atas-kanan-kiri-bawah-depan, jika masuk maka kita akan dituntun melewati tirai kain hitam berlapis. Anehnya, banyak orang mengantri di sana. Kuputuskan untuk ikut berderet mengantri. Ternyata sekali masuk hanya bisa maksimal 2 orang. Makanya antriannya sampai mengular panjang. Akhirnya tibalah giliranku. Aku masuk sendirian, karena orang sebelum dan sesudahku adalah pasangan. Awalnya ketika melewati tirai hitam itu, yang bisa kulihat hanyalah kegelapan. Tiba-tiba ada tangan yang menuntunku dan memposisikanku berdiri di sebuah tanda silang dilantai yang juga tertutup kain hitam. Lalu entah bagaimana, Tiba-tiba dari pijakan kakiku, keluar titik-titik cahaya yang berputar-putar menari, meliuk-liuk, semakin lama semakin cepat mengitari seluruh ruang dinding kotak ini, kemudian merapat menuju satu titik di depanku, tepat sejajar di mataku. Titik-titik cahaya itu lalu melebur menjadi satu gumpalan cahaya yang besar. Kemudian menghilang. Gelap. Setelah itu muncul percikan api, di tempat yang sama. Dan disanalah kulihat lukisan wajah seorang laki-laki yang seminggu lalu masih berupa coretan warna sembarangan. Wajahnya dilukiskan dengan kontras warna yang sangat indah, separuh kanan api, separuh kirinya es. Fire and ice. Lukisan itu tajam menatapku. Tajam yang menyayat. Di matanya dapat kulihat keberanian, ketegasan, kesedihan, kerinduan, pengorbanan, dan cinta yang sangat besar. Mata itu, mata hitam pekat yang mengingatkanku padanya, pada si pembuatnya. Tiba-tiba jantungku berdetak kencang seiring dengan munculnya suara musik instrumental sebagai backgroundnya. Semakin lama semakin riuh, dadaku sesak, aku butuh oksigen. Aku harus keluar. Aku harus bernafas! Kusibak tirai hitam itu serampangan. Sedikit berlari menjauh dari kerumunan, kuatur lagi nafasku satu-satu. Kepalaku pusing, mataku berkunang-kunang. Saat itulah, kulihat pemilik mata hitam yang sama, sedang berdiri di ujung lorong, asyik mengobrol bersama beberapa laki-laki paruh baya, seorang ibu berkerudung, dan satu lelaki bule. Gadis berkemeja kotak-kotak itu kemudian menyadari kehadiranku, tersenyum dan melambaikan tangannya. Menyapaku yang hampir mati sesak ini dari kejauhan. Dia tampak bersinar. Terang. Menyilaukan. Larasati. Gadis itu tidak bisa biasa-biasa saja. Tidak bisa menjadi bukan siapa-siapa. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD