"Galak banget sih kamu!" Zain tiba-tiba muncul diantara mereka. "Namanya karyawan baru, ya maklumlah." Zain mengangkat laptop di depan Tika, membawanya ke meja kosong yang ada di sisi lain Kinanti.
"Kamu suka sama dia?" Tanya Tika secara terang-terangan. Suara Tika mulai mengisi ruang kerja.
Mungkin semua karyawan di dalam bisa mendengar suara lantang Tika.
"Basi caramu." Tika mulai meninggikan suara.
"Biasa aja kenapa, sih?" Zain tidak nyaman dengan sikap Tika. "Kayak enggak pernah jadi karyawan baru aja."
"Terserah aku dong. Nggak usah ikut campur." Tika mengangkat laptop miliknya, lalu berpindah meja yang lainnya. Tidak jauh dari tempatnya semula duduk. Tika memilih memendam amarah pada Zain demi menjaga imej sebagai TL di mata karyawan baru.
"Dasar tukang ngambek." Bisik Zain, namun dapat didengar oleh Kinanti. "Ada yang bisa dibantu?" Zain menawarkan bantuan pada Kinanti. Kedua mata Zain sudah fokus pada layar laptop tanpa menatap Kinanti
"Hmmmm...." Kinanti bingung ingin menjawabnya. Sebenarnya dia butuh bantuan namun di sisi lain Kinanti masih marah pada Zain.
Zain tidak perlu menunggu jawaban Kinanti. Tangannya bergerak cepat untuk memperbaiki kesulitan yang dialami Kinanti. Beberapa menit kemudian, Kinanti telah berhasil masuk ke sistem miliknya dan mulai mengerjakan target.
"Terima kasih, Mas." Jawab Kinanti dengan seulas senyum tipis sambil menatap Zain.
Zain tidak menjawab ucapan Kinanti. Dia langsung beranjak pergi meninggalkan meja itu.
Kinanti menghela napas panjang. Dia berpikir kalau Zain mulai marah padanya. Entahlah. Kinanti tidak tahu harus berbuat apa.
***
Kinanti dan Ayu duduk di luar gedung kantor setelah selesai menikmati makan siang. Masih tersisa tiga puluh menit lagi, mereka mulai masuk untuk memulai pekerjaan.
Mereka makan siang di sebuah warung nasi rames bersama beberapa teman lainnya. Namun, Kinanti dan Ayu lebih dulu pergi meninggalkan mereka di warung tersebut.
"Kata temen-temen kamu habis dimarahin Tika, ya?" Tanya Ayu penasaran. Wajahnya selesai menoleh ke segala arah, berharap tidak ada orang yang mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
Ayu sudah ingin menanyakan kebenaran berita ini pada Kinanti sejak di dalam kantor. Tapi demi menjaga diri dari serangan orang-orang di sekitar termasuk para atasan dan senior, Ayu rela menahan pertanyaannya.
"Wah, aku yang dengerin aja kesel banget, apalagi kamu yang dimarahin langsung."
"Tahu darimana kamu, Yu?" Kinanti yang semula bersemangat, raut wajahnya sedikit berubah tidak enak. Sepertinya setiap kali ada kabar buruk di kantor, akan cepat menyebar.
Kinanti mulai khawatir. Semua orang pasti akan memperhatikannya.
"Mmm... Maaf ya, Kinan." Ayu meminta maaf terlebih dahulu. Ayu sadar akan perubahan wajah Kinanti atas pertanyaan yang ia lontarkan. "Aku tahu dari Dita."
Ayu sedikit menggeser b****g, mendekati Kinanti. Lalu, merangkulnya dengan lembut. "Kata Dita, Zain belain kamu ya?" Bisik Ayu, sedikit menggoda Kinanti. Tangannya tidak berhenti mengusap pipi milik temannya itu.
"Iya sih. Kenapa ya berita seperti itu cepat menyebar?" Nada bicara Kinanti mulai merendah. "Dan apa semua TL bersikap seperti itu?"
Ayu mengulum senyum. Tangannya berpindah ke bahu Kinanti untuk mengelusnya beberapa kali. "Enggak semua TL seperti itu. Buktinya ada yang perhatian sama kamu." Jawab Ayu singkat.
"Tapi rata-rata cewek pada sensi." Tambah Ayu, menyetujui kalimat Kinanti.
"Huft.. Aku jadi trauma sebenernya dimarahin sama Mbak Tika." Kinanti benar-benar tidak bersemangat bekerja untuk pertama kalinya, mungkin seterusnya dia juga tidak akan bersemangat. "Jadi Down banget, sumpah." Kepalanya tertunduk, kedua tangan menutupi wajah.
"Ya namanya dunia kerja. Ini belum ada apa-apanya. Ayo, semangat!" Ayu dengan penuh kehangatan memeluk Kinanti dari samping. "Ini baru hari pertama, lho! Masih ada hari-hari selanjutnya."
Kinanti mengangkat wajah. Menatap Ayu penuh haru. Dia benar-benar seorang teman yang tulus. Kinanti harus bersyukur mendapatkan teman seperti Ayu.
"Terima kasih ya sudah menghiburku." Kinanti melebarkan senyum.
"Kalian lagi ngomongin aku, ya?" Tanya Haris muncul seperti hantu. Sontak, Kinanti dan Ayu terkejut bersamaan. Tanpa bekerjasama, mereka melemparkan tatapan mematikan ke arah Haris. "Astaga. Kalian galak banget, sih."
"Pergi sana. Kita lagi curhat masalah wanita, enggak usah ikut campur." Ayu mendorong tubuh Haris, berharap dia cepat menyingkir dari tempat Ayu dan Kinanti duduk.
"Yu, kamu galak bener deh. Kayaknya enggak ada cowok yang mau deketin kamu." Celutuk Haris, tak bersalah.
Ayu emosi tentu saja. Refleks, dia beranjak berdiri. Perubahan wajah Ayu sangat kentara, berhasil menusuk d**a Haris. Bola mata Ayu terlontar tajam ke arah Haris.
Sedangkan pria itu, berusaha mengabaikan Ayu. Dan berfokus pada Kinanti yang sedang menatapnya penuh ketidaksukaan. "Kamu lagi mikirin Tika ya?"
"Woi," Teriak Ayu, kesabarannya sudah hilang.
"Apa, woi?" Haris juga membalas dengan teriakan. Wajahnya mulai serius, saat ia mengalihkan ke Ayu. "Sumpah, kamu bener-bener ngeselin ya?"
"Sana pergi. Kamu bener-bener enggak peka." Sahut Ayu.
"Kamu enggak punya hak mengusirku. Ini bukan tempat milikmu, paham?" Haris yang biasanya tersenyum, kini berubah drastis. Wajahnya menegang, seakan dia membenci Ayu sepenuhnya.
Begitu juga Ayu. Wanita itu membenci Haris. Pria tidak tahu diri. Meskipun sebenarnya Haris tidak punya urusan pada Ayu, dia melakukan itu untuk mendekati Kinanti. Dan Ayu hanya membantu Kinanti agar Haris tidak terlalu mengejarnya. Makanya, Ayu membenci keberadaan Haris saat mendekati Kinanti.
"Cukup!" Kinanti menegakkan tubuh. Meraih pergelangan tangan Ayu dengan erat. "Kita pergi darisini aja." Ajak Kinanti pada Ayu.
"Permisi." Kinanti pamit secara singkat pada Haris. Lalu, menggandeng tangan Ayu untuk meninggalkan Haris seorang diri. Haris hanya mendengus kesal, dengan kedua tangan saling mengepal.
Dia berniat membalas Ayu. Semua yang dilakukan Ayu padanya, membuat Haris tidak ada harga diri di depan Kinanti.
***
Kinanti selesai menjalankan ibadah sholat Ashar sendiri. Ayu tidak menemaninya sholat karena ada halangan.
Seperti biasa, Kinanti selalu membawa mukena dari rumah. Selesai sholat, dia menyimpan kembali mukena ke dalam loker. Tanpa sengaja, Kinanti bertemu Zain disana.
Rasanya Kinanti ingin menyapa. Berterima kasih lagi, mengingat ucapan terima kasihnya diabaikan oleh Zain.
Melihat Zain melewatinya begitu saja, Kinanti jadi berubah pikiran. Tidak berani menyapanya lebih dulu.
Tapi... Mengingat hanya Zain yang perhatian dan bersikap baik padanya, Kinanti berusaha menyapa Zain lebih dulu.
"Hai, Mas?" Kinanti sudah mendekati Zain berdiri. Pria itu sedang membuka pintu loker miliknya. Dia juga selesai menjalankan sholat Ashar.
Jantung Zain berdebar kencang mendengar suara milik Kinanti ada di dekatnya. Sepertinya rencana dia berhasil. Berpura-pura acuh pada Kinanti agar dia yang mendekatinya. Cara itu sengaja dilakukan karena Kinanti mengacuhkannya beberapa kali.
"Iya, ada apa?" Nada bicara Zain dibuat serius, padahal dibalik itu, jantungnya tidak teratur.
"Nggg..." Kinanti bingung harus merespon bagaimana. Ternyata semua TL bersikap seperti itu, sangat galak. "Enggak apa-apa, Mas. Permisi." Kinanti akhirnya memutuskan pergi, meninggalkan Zain sendiri.
Dan Zain? Dia membiarkan Kinanti pergi begitu saja sambil menyembunyikan senyum bahagia.