Ikut Campur

1095 Words
Kinanti mengenakkan sebuah baju terusan berwarna hitam dengan sepatu flat berwarna serupa. Hari ini sebenarnya pertama kali dia bekerja, namun dikarenakan kemarin email masuk terlalu banyak, hingga semua karyawan baru termasuk Kinanti diharuskan membantu menyelesaikan pekerjaan. Kinanti mendapatkan Shift pukul 08.00 WIB beserta karyawan baru lainnya. Namun, Kinanti terlalu bersemangat pergi bekerja, jadi dia datang lebih awal. Wanita itu sebelum masuk ke ruang kerja, duduk di sebuah bangku kosong yang berdekatan dengan pintu masuk ruang kerja. Seraya menoleh ke segala arah, sedikit berharap ada teman-temannya yang datang di awal juga. Nyatanya, mereka semua belum muncul di hadapan Kinanti. "Apa kamu sedang sedih?" Sebuah suara seorang pria berhasil membuyarakan lamunan Kinanti. Zain sedang keluar dari ruang kerja, dan mendapati wanita yang ia sukai sedang duduk sendiri. Kesempatan bagus bagi Zain. "Ah, Mas Zain," Kinanti terkejut ketika sudah mengetahui sumber suara. "Masuk jam berapa, Mas?" Tanya Kinanti basa-basi. "Aku masuk jam 06.00 WIB tadi, ngantuk banget sumpah." Zain memberi jeda kalimatnya karena tiba-tiba menguap. "Mau bikin kopi, siapa tau ngantuknya ilang. Kamu mau kopi juga enggak, Kinan?" Hah. Kinanti ternganga. Refleks dia menunjuk diri sendiri dengan wajah penuh tak percaya oleh kata-kata barusan. "Mas, nawarin kopi ke saya?" "Kan hanya ada kamu disini, masak aku nawarin ke tembok belakangmu duduk." Jawab Zain dengan nada enteng. "Maaf, ya mas. Tapi aku enggak suka kopi." Sahut Kinanti polos. Dia tidak tahu kalau Zain mengajaknya becanda. "Haduh, yaudah enggak apa-apa." Zain masih berusaha memutar otak, mencari topik pembicaraan. Sebenarnya mulai bosan karena jawaban Kinanti selalu singkat, padat, dan jelas. Untung Kinanti tipe ideal Zain, jadi dia harus melakukan segala macam cara untuk mendapatkan hati Kinanti. Apapun itu. "Btw, kamu belum jawab pertanyaanku." "Yang mana ya, Mas?" Kinanti penasaran. "Kenapa pakaianmu serba hitam." Zain akhirnya duduk di sebelah Kinanti. "Apa kamu sedang sedih?" "Inikan hari pertamamu kerja, seharusnya warna pakaianmu lebih terang." Jelas Zain, mencoba menjelaskan pada Kinanti. Kinanti mengerutkan kening. Berpikir kalau Zain mulai menperhatikannya secara berlebihan, bahkan mengatur pakaian yang ia kenakan untuk bekerja. Zain melihat perubahan wajah Kinanti. Kinanti seperti tidak nyaman dengan pembicaraan barusan. "Maaf ya, kalau aku bawel sama kamu. Aku cuma penasaran aja sih." Kinanti terdiam. Dia malah fokus dengan seseorang yang baru saja datang, berdiri di depan Kinanti dan Zain. Haris. "Hai, Kinanti, selamat pagi." Sapa Haris, melambaikan sebelah tangan. Dia mengacuhkan keberadaan Zain yang merupakan seorang TL. Zain tidak peduli hal itu. Dia hanya peduli dengan perhatian yang Haris berikan pada Kinanti. "Kamu dateng jam berapa, kok udah ada disini?" "Aku dateng jam tujuh lebih, terlalu semangat, hehe." Jawab Kinanti sambil menegakkan tubuh. "Rajin banget, terlalu bersemangat." Sahut Haris. "Kemarin kenapa kamu enggak jadi ikut ke angkringan tugu? Pada nyariin kamu, lho." Tanya Haris, memasukkan sebelah tangan ke saku celana. "Iya, tiba-tiba aja pengen pulang, aku juga udah ngabarin ke Ayu biar disampaikan ke yang lain." Zain mendengus kesal. Tidak biasanya Kinanti bersikap ramah pada Haris. Dia selalu menunjukkan hal tidak sukanya pada teman seangkatannya. Berbeda dengan sekarang, dia lebih memperhatikan Haris daripada dirinya. Zain sangat yakin kalau Kinanti marah karena ucapan Zain mengenai cara berpakaian Kinanti. Padahal mereka baru saja berkenalan. Namun, Zain sudah mulai mencampuri urusan Kinanti. "Kinanti, kamu beneran enggak mau kopi?" Zain berusaha mengambil hati Kinanti kembali. "Aku enggak suka kopi, Mas. Tadi udah saya jawab, kan?" Kinanti mulai kesal namun nada bicaranya masih terdengar sopan. "Hmmmm... Maaf aku lupa sama jawaban kamu." Zain beranjak berdiri dengan menggaruk kepala. Rasanya dia sia-sia menawari kopi Kinanti. Hal itu malah membuat Kinanti semakin tidak nyaman dengannya. "Yuk, masuk sekarang, Kinanti. Daripada duduk disini." Ajak Haris yang tidak mau kalah merebut hati Kinanti. "Nggg... Karyawan baru nanti duduknya diatur. Kalian bisa tanya TL yang ada di dalam, ya?" Celutuk Zain, menatap Haris dan Kinanti secara bergantian. "Siap dong, mas." Sahut Haris. Kinanti hanya terdiam. Mengabaikan Zain begitu saja, bahkan tidak mengucapkan kalimat perpisahan saat dia mulai melangkahkan kaki menuju ruang kerja. Haris melirik sekilas raut Zain. Jelas sekali TL itu kecewa diabaikan Kinanti. Haris tahu kalau Kinanti agak menjaga sikap dengan Zain hari ini, entah kenapa. Dengan penuh percaya diri, Haris menyangka kalau Kinanti tertarik padanya dibanding Zain. Sepanjang jalan menuju meja kerja, Haris tersenyum puas. Dia bisa memulai pekerjaan hari ini bersama Kinanti, ditambah sikap Kinanti yang mulai peduli padanya. "Kalian anak baru, ya?" Tanya seorang SPV bernama Ria. Wajahnya angkuh saat menatap Haris dan Kinanti. Penampilannya sangat berlebihan, mengenakan rok di atas lutut beserta kemeja ketat. Gincu merah menyala menjadi hal wajib bagi Ria yang harus ia gunakan saat bekerja. Bersyukur sekali Kinanti berhasil mengendalikan pandangan, tidak melemparkan sorot mata penuh ketidaksukaan ke arah Ria. Wajah Ria saja sudah terlihat galak, ditambah warna gincu yang merah menyala. Haris dan Kinanti menjawab secara bersamaan. "Benar, Bu." "Kalian duduk di pojok sana." Perintah Ria dengan menjulurkan telunjuk ke sudut ruangan. Terlihat disana masih kosong tidak ada orang sama sekali. Namun beberapa laptop sudah berjejer rapi di atas meja. Ria sekarang menatap wanita yang duduk di sampingnya. Dengan kedua tangan terlipat di depan d**a, Ria mulai menyuruh wanita itu. "Tik, lo pindah duduk di meja sana. Temenin anak-anak ini ngerjain email." Nadanya sedikit menurun saat meminta bantuan pada TL yang bernama Tika itu. "Baik, Bu Ria." Jawab Tika dengan sopan. Setelah laptop dan barang lainnya Tika bawa, dia langsung menyuruh Haris dan Kinanti mengikutinya dari belakang. *** Tika duduk di ujung meja yang berukuran panjang, tepatnya berada di paling pinggir. Sebenarnya Tika malas harus duduk bersama dengan anak baru. Mereka pasti merepotkan dan banyak sekali bertanya tentang bagaimana cara pengerjaan membalas email ke pelanggan. Selain itu, tugas dia menjadi TL bisa terhambat. Karena TL harus menyelesaikan beberapa tugas dari atasan serta memeriksa pengerjaan anak-anaknya. "Kalian langsung nyalain laptop, kemarin udah diajarin kan cara ngerjainnya?" Tanya Tika sedikit ketus. "Sudah, mbak." Jawab Haris. "Nah, sekarang nyicil ngerjain. Daripada harus lembur pulangnya. Karena kalian sudah di target pengerjaan tiketnya. Mau enggak mau, kalian harus sesuai target." Jelas Tika. Kali ini nada bicaranya menurun, mungkin sedikit kasihan dengan peraturan itu. "Ini perintah dari atasan, bukan dari aku." Lanjut Tika. "Seriusan Mbak?" Haris tak percaya. "Loh, gunanya aku bohong apa?" Sahut Tika sedikit menyunggingkan senyum. "Toh, gajiku juga enggak naik udah bohongin kalian." "Maaf deh, mbak." Haris mulai santai. "Mbak, ini gimana ya? Bisa minta tolong?" Kinanti yang sudah menyalakan laptop, namun saat masuk ke sistem mengalami kendala. Dia mengarahkan layar laptop ke Tika yang duduk di sebelahnya. Tika mulai merengut. Padahal Haris berhasil membuat Tika mulai bersikap ramah. "Ya ampun. Kan waktu pelatihan udah diajarin. Masak kayak gini enggak bisa, sih?" Tika menggeser laptop Kinanti, untuk menghadap ke arahnya. Jemarinya mulai akan berkutat di atas Keyboard.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD