Selesai tanda tangan kontrak, Kinanti dan teman-temannya yang lain pergi ke sebuah ruangan berukuran besar. Disana terdapat meja panjang, dan kursi di setiap sisi meja tersebut. Perayaan ini akan berlangsung sebentar. Setelah selesai, mereka harus masuk ke Floor. Mengerjakan beberapa tugas dari atasan. Yaitu, mulai membalas email yang masuk dari pelanggan.
Kinanti cukup terkejut. Dia mengira pertama masuk Floor besok, bukan sekarang. Untung saja hari ini tidak ada penargetan.
"Kenapa tiba-tiba kita suruh kerja sekarang?" Ayu protes dengan nada tinggi.
Zain yang sedang duduk di meja kerja, menahan senyum. "Emailnya lagi banyak. Kalian kan sudah jadi karyawan disini. Jadi bareng-bareng ya habisin email yang masuk, sampai habis."
"Ah... Sejak pertama kerja disini aku enggak pernah lihat email masuk kosong. Pelanggan emang nggak ada kerjaan, ngirim email terus ke kita." TL bernama Tika ikut bergabung dalan pembicaraan mereka. Duduk dia berhadapan dengan Zain.
"Iya sih." Jawab Zain singkat, mengelus pelipis menggunakan telunjuk. Wajahnya tertunduk sedikit.
Kinanti dan Ayu saling bertukar pandangan. Mengedikkan bahu. Ingin menyahut pembicaraan mereka, tapi tidak enak.
"Kalau ada kesulitan, tanya aja sama Kak Tika." Zain melemparkan pada Tika, yang sedang fokus merekap data absen anak-anak yang berada satu tim dengannya. Mendengar Zain menyebut namanya, dia langsung melirik. Melemparkan tatapan tajam.
"TL disini yang selo cuma Zain, dia jarang ada kerjaan gaes. Jadi kalau ada kesulitan, tanya aja sama dia ya." Tika membela diri. Tidak ingin direpotkan oleh karyawan baru saat ini. Tugas dia sedang banyak, apalagi ditambah tumpukan email yang masuk.
"Emang bener ya, Mas?" Tanya Ayu penasaran. Sambil nyengir.
"Enggak ah. Kerjaanku banyak tapi ya selo aja, enggak perlu serius." Sahut Zain. Beranjak berdiri, mendekati Kinanti dan Ayu.
"Ah.. Bisa aja kamu, jamet!" Sahut Tika kesal.
"Kalau selo kapan selesainya, Mas?" Tanya Kinanti. Membuat Zain fokus menatapnya.
"Ya kalau dibantu sama kamu."
"Ah... Enggak jelas banget kami, Zen!" Tika masih menyelutuk. Memiringkan sudut bibir.
***
Keluar dari Floor, Kinanti bersama teman-teman lainnya menuju ke lobi. Merencanakan pergi bersama untuk merayakan bergabungnya di HWOS. Sekedar kumpul biasa.
"Yah, gimana nih? Kita enggak jadi ngemall bareng dong?" Bisik Ayu, di telinga Kinanti.
"Lah, kita kan masih sering ketemu. Perginya kapan-kapan bisa, kok."
"Ya kalau jadwal Shifting kita sama." Ayu berusaha mengingat kembali, kalau jadwal mereka tidak tentu sama.
"Seminggu ini jadwal kita barengan terus, kok." Dita menyambar. Wajahnya serius, membuat Ayu mendelik dengan senyum lebar.
"Serius, Dit?" Ayu masih tidak percaya.
"Iya, kata Mas Zain tadi." Jawab Dita, masih belum tersenyum juga.
"Kalau Mas Zain yang bilang, aku percaya. Dia orangnya baik." Jawab Ayu. "Iya, kan?" Ayu menyikut lengan Kinanti yang masih terdiam, mendengar pembicaraan mereka berdua.
"Hah, kok tanya aku sih."
"Kan kamu yang sering diperhatiin." Ayu tanpa berdosa berkata hal itu. Membuat Kinanti yang polos terkejut.
"Hah, kok bisa?" Kinanti belum menyadari kalau Zain sering memperhatikannya.
"Hah heh hah heh mulu deh." Ayu mengerucutkan bibir. "Yaudah lupain aja."
"Ya gimana ya, Kinanti kan cantik. Wajar aja kalau Mas Zain suka." Dita tersenyum, mendorong paha Kinanti yang duduk di sampingnya.
"Biasa aja, ah." Kinanti mengibaskan tangan ke udara. Pikirannya masih berhenti pada kalimat yang diucapkan Ayu. Zain sering memperhatikannya.
Haris menguping pembicaraan teman-teman wanitanya. Berdiri sambil melipat kedua tangan. Selama ini dugaannya benar. Zain yang selalu ikut campur, ternyata memiliki motif tersembunyi. Secara halus. Meskipun Zain tidak terlalu kentara mendekati Kinanti, tapi orang-orang di sekitarnya paham.
Tapi melihat Kinanti yang tidak peka, sepertinya Zain bukan seorang yang blak-blakan menyatakan rasa sukanya pada seorang wanita. Haris yakin, Zain tidak akan mengambil langkah cepat untuk mendapatkan Kinanti, mengingat pergerakannya lambat.
"Teman-teman, habis ini kita kumpul di angkringan Tugu Jogja pada setuju enggak nih?" Adhi yang ditunjuk menjadi ketua kelas selama Training memberikan tawaran pada teman-temannya. Lantas, mereka secara bersamaan menjawab setuju. Begitupun Kinanti dan Ayu.
"Wah, aku ke Tugu baru sekali doang, padahal asli orang sini." Ayu berkata, membuat Kinanti dan Dita fokus padanya.
"Sama atuh. Kita karena orang asli Jogja, jadi malas ke tempat-tempat wisata." Dita menyahut.
"Eh, kapan-kapan main kerumahku ya, kalian." Kinanti menawarkan diri. "Bentar lagi panen buah Mangga, manis loh."
"Temanmu kan bukan mereka aja." Haris mengambil kesempatan. Ikut bicara ditengah-tengah mereka. "Aku diajak kerumahmu juga enggak?" Haris menaik-turunkan alis ke arah Kinanti.
Ayu melihat tingkah Haris merasa jijik, mengedikkan kedua bahu. Ingin mengumpat tapi berhasil tertahan sambil mengelus da*a.
"Maaf, Haris. Ini khusus cewek-cewek ya." Jawab Kinanti polos. "Nanti Ayah marah kalau aku bawa temen cowok."
"Berarti kamu jarang pacaran dong, jarang bawa cowok kerumah?" Haris penasaran. Masih melipat kedua tangan. "Atau kamu sering bawa cowok tapi di tempat lain?" Haris becanda, tapi membuat Kinanti, Ayu, dan Dita emosi.
"Eh, kanebo!" Ayu sedikit meninggikan nada. "Enggak lucu tau, garing." Ayu ingin memukul perut Haris, tapi tidak jadi.
"Kamu pikir aku murahan, hm?" Kinanti melotot, baru kali ini dia menatap tajam seseorang. Di kantor ini.
"Aku becanda, maaf deh!" Haris berusaha senyum manis, dipaksakan. Tapi hasilnya aneh. Membuatnya tambah ngeri.
"Eh, kanebo. Kamu aja enggak bisa diajak becanda. Ngapain becandain orang!" Ayu menyahut lagi. Giginya bergelutuk, menahan gemas.
"Eh, aku enggak ngomong sama kamu ya, Ayu!" Haris melotot, menatap Ayu. Nadanya masih santai.
"Aku udah pernah bilang, aku juru bicaranya Kinanti, paham enggak sih." Ayu mulai emosi. Sebenarnya sudah emosi dari tadi, tapi kali ini dia tidak bisa menahannya. "Sana deh, gabung sama cowok-cowok. Jangan-jangan..."
"Apa?" Haris mengedikkan kepala, menunggu Ayu melanjutkan kalimat.
"Heh kalian, jadi ikut ke angkringan enggak. Malah ribut dari tadi?" Tanya Adhi, sudah menggendong tas ransel di punggung. "Ayo berangkat sekarang, keburu ramai."
"Kita ikut dong." Sahut Dita, yang sedari tadi menjadi pendengar setia perdebatan mereka. "Eh, aku boncengan sama kamu dong, Yu. Aku enggak bawa motor." Dita memelas, masih ingat kalau rumah mereka satu arah.
"Boleh aja," Ayu langsung setuju. "Kamu bawa helm, kan?"
"Iya bawa kok, tenang aja. Yuk pergi."
Mereka akhirnya pergi bersama ke parkiran. Kinanti yang memiliki arah rumah berbeda sendiri, terpaksa naik motor seorang diri. Padahal sebelumnya ingin berboncengan dengan Ayu.
***
Di tengah perjalanan, Kinanti merasa seseorang mengikuti dari belakang. Perasaan mulai tidak tenang, berkali-kali dia melihat arah belakang melalui kaca spion motor. Seorang pria mengendarai sepeda motor secara perlahan.