Pengumuman

1010 Words
“Maaf tadi.” Ucap Ayu di tengah perjalanan ke area parkir. Tempat parkirnya berada di Basecamp. Rautnya penuh rasa bersalah. “Aku enggak tau kalau kamu enggak suka Haris.” “Udah. Enggak apa-apa kok!” Jawab Kinanti. Melemparkan senyuman, agar Ayu tidak terus merengut. “Kamu kan enggak tau sebelumnya. Aku memang susah dideketin cowok, jadi keganggu aja sama ajakan dia tadi.” Jelas Kinanti, memiringkan wajah pada Ayu. Ayu mengangguk paham. Ikut tersenyum. “Kapan-kapan kita pergi berdua yuk, ngemall!” Ajak Ayu, bersemangat. Nada bicaranya naik tiga oktaf dari sebelumnya. Tubuhnya berjalan mundur, menghadap ke Kinanti. “Ayolah. Apa kamu keganggu juga sama ajakanku?” Kinanti menggelengkan kepala. Mengulum bibir juga. “Ayo.” Sahut Kinanti, tidak kalah bersemangat. “Besok aja deh, habis ujian.” Jawab Ayu. Merekapun menuju ke masing-masing motor. Pulang ke tempat tinggal mereka. *** Telah tiba, hari dimana menjadi penentuan hidup seseorang. Apakah layak menjadi karyawan di HWOS atau tidak. Kinanti merasa jantungnya berpacu lebih kencang. Terlebih lagi saat dia memasuki sebuah ruangan kecil berukuran 3x3. Hanya ada dia bersama Karis di dalam ruangan. Duduk bersebrangan menghadap ke laptop yang sudah menyala beberapa menit lalu. Satu orang Trainner dan TL sedang mengawasi mereka di depan, menatap sesekali ke arah Kinanti dan Karis. Lima menit lagi ujian dimulai. Karyawan yang melaksanakan ujian penentuan, hanya diberikan batas waktu selama 1 jam. Minimal menjawab pertanyaan dengan benar sejumlah 35 dari 50 soal. Kinanti merasa beruntung, setiap Trainner memberikan materi, Kinanti mencatatnya dengan lengkap. Memudahkan dia belajar dan menghadapi ujian. Fokus Kinanti buyar. Sikapnya yang tidak bisa bersantai, lebih ke gugup. Keringat mulai bercucuran di pelipis. Padahal ruangan sudah ber-AC. Akibat perasaan gugup itu, membuat Kinanti tidak bisa mengoperasikan laptop. Tangannya bergemetar, terlihat seperti orang yang belum makan dua hari. Wajahnya panik melihat laptop di depannya mati. Dia salah meng-klik tombol di laptop. Mengakibatkan layar mati seketika. Zain, TL yang ikut mengawasi jalannya ujian, ikut panik. Kepala Kinanti menoleh ke kanan-kiri. Ke arah depan juga. Sorot matanya meminta bantuan pada Trainner dan Zain. Langkah cepat, Zain menghampiri Kinanti. "Ada apa?" Zain berdiri sejajar dengan Kinanti, lalu sedikit membungkukkan tubuh untuk menyalakan tombol ON di ujung Keyboard. Tubuh mereka sedikit bersentuhan. Kinanti hampir tak bernapas mengingat jarak mereka sangat dekat. Ingin menggeser tubuh atau kursi. Tapi akan sulit, merasa tidak enak dengan Zain. Zain tidak berhasil menghidupkan laptop yang digunakan Kinanti. Dia menghembuskan napas, berharap ada keajaiban datang. "Tolong ambilkan laptop lagi." Ujar Zain pada temannya di depan sana. Tanpa menunggu lama, Trainner tersebut bergegas keluar ruangan. "Waktunya masih setengah jam, lagi." Ucap Zain. Belum berpindah posisi, belum menyerah menekan tombol. "Tapi tetap aja waktunya kurang, Mas." Jawab Kinanti. "Semoga kita lolos yah, Kinanti." Karis berusaha menghibur ditengah menggarap soal. Kinanti mengambil napas dalam-dalam. Mengeluarkannya perlahan. Zain akhirnya menjauhkan diri. Menegakkan tubuh sambil meraih ponsel di saku celana. Dia berusaha menghubungi atasan. Meminta waktu lebih untuk diberikan ke Kinanti. Setelah selesai melakukan panggilan telepon, Zain tersenyum lega. Trainner juga sudah datang membawakan laptop. "Kamu diberikan kesempatan sama atasan. Diberi tambahan waktu setengah jam. Jadi semangat, yah." Zain menepuk bahu Kinanti beberapa kali, setelah dia membantu menyalakan laptop dan mengatur sistem di dalamnya. Agar Kinanti tinggal masuk ke sistem untuk mengerjakan soalnya saja. Selesai itu, Zain kembali ke tempat duduk semula. Mengawasi Kinanti dan Karis dari jauh. Kinanti hampir melotot, terkejut karena tepukan tangan Zain. Untung saja dia segera mengendalikan diri tanpa terlihat secara kentara. *** Pengumuman. Satu angkatan Kinanti lolos semua. Ada juga satu orang memilih tidak melanjutkan diri karena sudah takut target pengerjaan yang diberikan. Tak sanggup. Berbeda halnya dengan Kinanti. Nama dia sudah tertera di sebuah daftar karyawan yang akan dikontrak oleh Perusahaan. Dia tersenyum sendiri membacanya. Saat itu dia duduk di lobi, menunggu Ayu yang sedang menjalankan ibadah sholat. "Kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Haris, muncul secara tiba-tiba dan sudah duduk di satu bangku dengan Kinanti. Kinanti mengalihkan pandangan dari layar ponsel. Ke arah Haris. Posisi duduk mereka sangat dekat. Kinanti memilih sedikit bergeser. Di sudut ruangan, Zain berdiri. Dia baru saja masuk ke bangunan kantor karena selesai makan siang dengan Haikal. Melihat Kinanti bersama Haris, lantas dia mendekat. Menghampiri dan meninggalkan Haikal dibelakangnya. "Bagaimana kalian? Apa lolos ujian?" Tanya Zain penasaran, sambil memasukkan sebelah tangan ke saku celana. Penampilannya terbilang biasa. Menggunakan celana jeans dan kemeja yang kancingnya terbuka semua. Di dalamnya terlihat kaos polos warna hitam. Kinanti belum sempat menjawab pertanyaan Haris. Dia berpaling. Menatap kehadiran Zain. "Semua lolos. Kecuali Sari. Dia mengundurkan diri." "Apa karena target?" Tanya Zain, asal menebak. Tebakan yang benar. Sudah banyak sekali karyawan yang menjalani Trainner sudah kabur begitu saja. Setelah mengetahui target pengerjaan yang harus diselesaikan. Kinanti mengangguk, dengan senyum tipis. Haris mengeluh. Setiap kali dia mendekati Kinanti, selalu saja muncul Zain. "Kalian harus bersemangat. Disini proses naik jabatan cepet, kok. Asal kalian sungguh-sungguh." Jelas Zain. "Benarkah?" Kinanti tak percaya. Harapan dia sekarang masuk ke departemen karena pekerjaannya nyaman dengan gaji tinggi. Masalah penargetan, setiap pekerjaan pasti ada tekanan. Apalagi gaji tinggi. Kalau mau pekerjaan enak dan gaji tinggi, silakan mendaftar sebagai PNS. "Tentu. Setelah ini kalian akan melakukan perayaan sebagai karyawan setelah tanda tangan kontrak. Sampai ketemu nanti." Zain berlalu. Meninggalkan mereka berdua. "Ada apa sama Mas Zain?" Tanya Ayu, sudah selesai sholat. Dia menaikkan sudut bibir melihat Haris duduk di sebelah Kinanti. "Enggak apa-apa." Jawab Kinanti. "Cuma ngasih tau, sehabis tanda tangan kontrak kita akan melakukan perayaan sebagai karyawan disini." "Mmmm....Kinanti," Haris berusaha mendapatkan perhatian darinya. Semenjak kedatangan Zain, dia dianggap sebagai lalat beterbangan. "Udah makan siang belum?" "Udah kok, tadi baru aja." Sahut Ayu, menarik lengan Kinanti agar berdiri. "Aku tanya Kinanti, bukan kamu ya, Ayu." Sahut Haris, nadanya mulai terdengar kesal. "Aku juru bicara Kinanti." Ayu bermaksud becanda. Tapi Haris tidak paham. Dia langsung beranjak, pergi begitu saja. "Yah, cowok kok ngambekan sih." Ayu menggerutu, memperhatikan punggung Haris yang mulai memasuki ruang loker. "Kamu sih, kebangetan." Kinanti mendorong pinggang Ayu dengan lembut. "Kalau enggak digituin, Haris mana paham kalau kamu enggak suka dia." Ayu tak peduli Haris marah. Dia hanya mengedikkan bahu, tangannya melingkar ke lengan Kinanti. Berjalan menuju ruang loker. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD