Surat Sakit Palsu

1031 Words
Tinggal setengah jam lagi Kinanti bisa pulang, meninggalkan pekerjaan yang baginya masih terasa berat. Ayu dan Dita sudah pulang beberapa jam yang lalu, karena jadwal mereka selisih 2 jam. Kinanti sudah merencanakan sesampai di rumah ia akan memasak sup ikan karena cuaca di luar sangat mendukung untuk makanan hangat. Andai saja Kinanti tidak memiliki penyakit asam lambung, dia ingin menambahi rasa pedas agar supnya sangat lezat. Kinanti membayangkan hal itu sembari menatap ke luar jendela, dengan senyum lebar. Sebelah tangan menjadi sandaran kepala. Sampai akhirnya, seorang senior menyikut bahu seraya memanggil namanya berulang kali. "Kinanti?" Panggilan ketiga kalinya membuat Kinanti tersadar dari lamunan. Apalagi suara senior itu sangat kencang. Kinanti mendelik, setengah terkejut. Tapi dia sudah bisa mengendalikan diri. "Iya, Mbak? Ada apa ya?" Tanya Kinanti. "Itu," Senior itu mendongakkan kepala ke arah meja paling depan. Disana terlihat Shinta sedang menatapnya tajam. "Dipanggil Mbak Shinta dari tadi." "Hah, sejak tadi?" Kinanti mengerutkan kening. "Ada apa lagi, ya." Kinanti mulai khawatir. "Semangat ya. Semangat bertarung, lagi." Ucapnya, ketika melihat Kinanti berjalan mendekati Shinta. Jantungnya berdebar melebihi saat dia bertemu cinta pertamanya. Sepertinya semua orang sudah tahu kalau Kinanti dan Shinta ribut di ruang kerja. Entahlah, Kinanti sedang berusaha acuh akan hal itu. Dia hanya perlu memasang wajah tembok. *** "Aku sebenernya males ya berhadapan sama kamu terus." Ucap Shanti saat Kinanti berdiri di depannya. "Cepet duduk disitu." Sesuai arahan Shinta untuk menempati kursi kosong di depannya. Kinanti juga menyempatkan diri untuk menoleh ke segala arah, melihat keadaan di dalam sini. Beberapa orang hampir setengahnya yang ada di dalam ruangan, menatap Kinanti tanpa berkedip. "Baik, Mbak." Jawab Kinanti, suaranya lirih ketakutan. Traumanya yang kemarin belum hilang dan sepertinya tidak akan hilang. "Ada apa ya, Mbak manggil saya kesini?" "Surat sakit kamu dari dokter palsu ya?" Shinta melempar kasar surat yang diberikan Kinanti tadi pagi. Untung saja suara Shinta masih bisa dikendalikan sehingga tidak ada orang yang mendengarnya. Jarak mereka agak jauh dari yang lainnya. Namun wajah Shinta memang tidak bisa disembunyikan. Raut wajahnya menyimpan amarah yang besar. "Palsu gimana ya, Mbak?" Kinanti bingung sendiri. Dia kemarin periksa ke dokter sungguhan tapi kenapa Shinta bilang suratnya palsu. "Kemarin saya periksa ke dokter beneran kok, Mbak." "Tapi tempat kamu periksa ini udah terkenal ngasih surat sakit palsu. Alias, kamu cuma beli suratnya aja tanpa periksa." "Kemarin saya beneran periksa kok, Mbak." Kinanti mulai bersikap tegas agar Shinta mempercayainya. "Kamu tau tempat periksa itu dari siapa?" Tanya Shinta, ikut bersikap tegas. "Banyak sekali karyawan yang hanya membeli surat sakit dari sana tanpa periksa. Dokternya aja nggak ada." "Apa perlu ngecek CCTV di klinik itu, Mbak? Aku beneran periksa sama dokter." "Disana nggak ada dokter. Dan itu bukan klinik tapi apotek." Shinta masih bersikeras. Kinanti menghela napas panjang, sepertinya dia akan kalah berdebat dengan Shinta. Tapi kemarin Kinanti periksa dengan seorang dokter. Apa mungkin dia dokter gadungan? Sebenarnya Kinanti juga salah. Dia mencari surat sakitnya sesuai rekomendasi Kelen. Karena dia pernah izin tidak masuk kerja. Untuk periksa ke klinik atau rumah sakit tidak sempat karena kondisinya belum stabil. "Kenapa diem? Kamu salah ya? Aku akan ngasih kamu Surat Peringatan 1." Shinta mulai fokus layar laptop. "Mbak, nggak bisa. Aku bakal kasih bukti kalau aku periksa sama dokter beneran." Shinta tertawa, lalu merapatkan bibir dengan cepat. "Buktikan kalau bisa. Aku bakal ngasih gajiku bulan ini buat kamu kalau emang beneran itu dokter asli." Shinta kembali tertawa layaknya seorang penyihir yang berhasil meracuni putri salju. "Tapi tetep ya, kamu besok harus tanda tangan SP 1. SP 1 bakal hangus selama 6 bulan. Aku nggak yakin kalau kamu bisa buktiin kesalahanmu." "Kita liat aja, Mbak." Sahut Kinanti. "Ya, kita liat nanti." Shinta mengangguk-angguk, masih yakin kalau ucapannya benar. Karena sudah banyak sekali karyawan mendapatkan SP karena surat sakit mereka beli di apotek tanpa dokter itu. *** xxx Sudah ketiga kalinya Kinanti menanggung malu akibat perbuatannya. Pertama, dia kena omel sama Ria. Kedua, Kinanti kena masalah karena tidak menyelesaikan target. Dan yang ketiga ini, Kinanti ketahuan membeli surat sakit palsu. Selain itu, masalah dia dengan Haris juga. Kenapa baru awal bekerja, semua masalah sudah menyambut Kinanti? Apakah ini sebuah peringatan agar Kinanti berhenti bekerja. Atau mungkin karena orangtuanya tidak merestui Kinanti untuk bekerja di dunia seperti ini. Jadi selalu saja ada masalah yang datang tanpa berhenti. *** Untung saja Kinanti satu jadwal dengan Ayu. Dia bisa curhat pada Ayu tentang kejadian kemarin. Sekarang mereka sedang duduk di warung yang agak jauh dari tempat kerja. Agar bisa puas membicarakan orang-orang kantor tanpa khawatir didengar. "Kelen kena masalah nggak sih soal surat sakitnya?" Tanya Kinanti, menaikkan sebelah alis. Sepertinya Ayu belum tahu masalah Kinanti yang ini. Buktinya dia diam saja, tidak menanyakan apapun sejak berangkat kerja. Atau, bisa jadi pura-pura diam agar tidak membuat Kinanti kecewa. "Emang kenapa, aku nggak tau. Jarang banget ketemu sama dia." Sahut Ayu. Masih fokus dengan layar ponsel di hadapannya. "Aku ada masalah sama surat sakitku kemarin." Ayu yang semula sedikit mengabaikan Kinanti, kini menjadi perhatian. Dia meletakkan ponsel di atas meja. Lalu, menatap Kinanti penuh tanya. "Maksud kamu?" Tanya Ayu dengan nada polos. "Ya surat sakitku kemarin palsu kata Mbak Shinta. Aku kena SP 1." "Apa hubungannya sama Kelen? Jangan-jangan kamu periksa di tempat yang Kelen bilang ya?" Ayu melotot, sesekali menggebrak meja karena terkejut. "Kamu nggak tau cerita itu? Tempat itu emang cuma jual surat sakit aja." "Kok kamu nggak pernah cerita sama aku?" Jawab Kinanti, agak kecewa pada Ayu. "Kita jarang ketemu. Lagian akhir-akhir ini kamu banyak masalah." Ayu terlalu jujur. Lalu, dia membekap mulutnya sendiri karena merasa bersalah. Untung saja Kinanti tidak ambil hati dengan perkataan Ayu. Dia hanya memijat pelipis dengan lembut, seakan sedang memikirkan sesuatu. "TL dia siapa emangnya?" "TL dia Mas Zain." Jawab Ayu singkat. "Coba kamu tanya Mas Zain soal itu." "Kenapa nggak nyuruh aku tanya ke Kelen aja, kenapa harus Mas Zain?" Kinanti protes. "Ya kan kamu lebih sering ketemu Mas Zain ketimbang Kelen." Ayu tertawa lepas. Terpaksa, Kinanti ikut tertawa juga untuk mengurangi stres. "Ya nanti deh kalau ketemu Mas Zain aku tanya." Dengan polosnya Kinanti menjawab. "Serius, emang kamu berani tanya langsung?" Ayu menggoda dengan senyum genit. "Aku nggak yakin kamu berani." Sekali lagi Ayu tertawa lepas, membuat orang-orang di sekitarnya melirik tajam ke arah mereka berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD