Shinta menghela napas panjang. "Dia itu anakku, aku berhak ngasih tau. Mas Zain nggak perlu ikut campur."
"Aku yang bertangung jawab karena bolehin Kinanti pulang. Kalau mau marah, sama aku aja."
"Astaga. Mas paham nggak sih, aku cuma mau ngasih tau aja sama Kinanti kalau yang dia lakuin salah. Padahal temen-temennya aja pada bisa nyelesaikan target walaupun harus lembur."
"Kemarin dia pulang jam 3 pagi, kalau ada apa-apa gimana?" Zain meninggikan suara.
"Lho, itu sudah resiko bekerja di dunia Contact Center." Shinta beranjak berdiri. Mulai tidak terima dengan kehadiran Zain. "Kalau dia nggak berani pulang jam segitu, yaudah tunggu aja sampai Subuh."
"Enggak mungkinlah. Dia punya keluarga yang nunggu di rumah." Zain masih membela Kinanti mati-matian. "Kamu nggak perlu kan marahin dia di tempat terbuka, dilihatin orang-orang."
Kinanti setuju dengan ucapan Zain barusan. Shinta bisa membawanya ke tempat sepi saat memarahinya, tidak perlu seperti ini. Membuatnya malu sepanjang masa.
"Yang jadi masalah semua teman seangkatan Kinanti aja pada bisa ngerjain target meskipun harus lembur." Shinta mengerutkan kening. "Mas Zain suka sama dia? Nggak biasanya Mas bela orang sampai kayak gini?"
Zain terdiam. Saat dia hendak memutar tubuh, berniat pergi meninggalkan Kinanti dan Shinta, seseorang menghalangi jalannya.
"Kalian kenapa harus ribut disini, bukannya kasih contoh baik malah malu-maluin sebagai TL." Seorang SPV datang tiba-tiba. Dia bernama Leo. Leo merupakan SPV yang berada satu tim dengan Zain. Mereka juga sebelumnya teman seangkatan namun Leo lebih cepat mendapatkan promosi jabatan sebagai SPV.
"Maaf, Mas Leo." Sahut Shinta. Dia secara bergantian menatap Kinanti dan Zain. "Soalnya Mas Zain ikut campur masalahku dengan Kinanti."
"Kalian berdua sudah punya masalah?" Leo mengerutkan kening.
"Mmm... Maksudnya bukan itu." Shinta berniat menjelaskan tapi Leo langsung memotong kalimatnya.
"Kinanti, kamu bisa keluar dulu, nunggu di ruang SPV?" Leo sedikit memberikan perintah pada Kinanti.
Kinanti menoleh ke arah Leo. Kenapa SPV itu mengetahui nama Kinanti? Apa Kinanti sudah terkenal seantero perusahaan?
Kinanti mengiyakan permintaan Leo. Lalu, keluar ruangan secepat mungkin.
***
Kinanti berada di ruang SPV sekitar lima menit. Setelah itu dia keluar dengan mata berbinar. Beberapa orang yang lewat ruangan itu menatap penuh tanya pada Kinanti saat keluar dari ruangan.
Kinanti mengabaikan tatapan mereka. Wanita itu hanya butuh Ayu di sisinya sekarang. Ingin dia menangisi keadaan. Ingin juga dia menyerah tapi rasanya dia akan menjadi seorang pengecut.
Ini bukan hal yang sulit. Kinanti harus berjuang untuk membahagiakan hidupnya. Yaitu dengan cara bertahan di tempat ini. Masih ada hari esok yang lebih menakjubkan dibanding sekarang.
Betul.
Kinanti hanya perlu memberikan semangat padajdirinya sendiri. Tidak perlu orang lain.
Kemudian, Kinanti pergi ke toilet untuk membersihkan wajahnya.
***
Kinanti berjalan menuju area parkir dengan wajah tertunduk. Sepanjang jalan dia kurang fokus. Karena mendapatkan masalah dengan Shinta tadi pagi, mengharuskan Kinanti lembur untuk mengerjakan target. Kinanti butuh waktu 3 jam penuh untuk menutupi kekurangannya. Tepat jam 18.00 WIB Kinanti bisa pulang kerumah. Tentu dengan wajah yang sangat lelah.
Zain sengaja pulang terlambat demi mengikuti Kinanti pulang. Bukan karena dia ingin menguntit, tapi Zain sadar akan perubahan Kinanti. Wajahnya menjadi pucat dan lemah. Andai saja hari ini Ayu tidak libur kerja, mungkin dia akan menjadi tempat berkeluh kesah Kinanti.
Zain khawatir akan terjadi hal buruk padanya. Jadi, dia mengikuti Kinanti dari belakang tanpa sepengetahuan Kinanti sama sekali. Yang terpenting Kinanti selamat sampai rumah.
***
Sudah 3 hari Kinanti tidak masuk bekerja karena asam lambungnya kambuh. Mungkin karena banyak pikiran termasuk masalahnya dengan Shinta.
Kinanti seharusnya tidak mengeluh dan tidak memohon pada Zain untuk mengizinkannya pulang lebih cepat.
Semua sudah terlanjur, tidak ada yang perlu disesali.
"Nak, makan dulu." Ibu masuk kamar dengan membawa semangkuk bubur polos. Wajahnya menampakkan kekhawatiran melihat putri tunggalnya sakit. Apalagi dia terbaring lemah.
"Terima kasih, Ma." Kinanti berusaha bangun, duduk di tepi kasur.
"Mama suapin aja ya. Kamu nyender aja." Ibu memapah tubuh Kinanti agar menempel pada sandaran kasur.
Beberapa menit kemudian.
"Nak, kamu mending ngundurin diri aja. Mama nggak tega liat kamu pulang malem apalagi sampai lembur. Mana nggak digaji juga, kan?"
Mama mengusap rambut Kinanti berulang kali. Menatap penuh arti ke arah wajah putrinya.
"Ma, seniorku dulu juga gitu. Tapi sekarang mereka udah terbiasa. Kalau ada lemburpun, mereka digaji." Kinanti menggenggam tangan Mama erat. "Cari kerja susah, Ma. Mau daftar PNS juga harus nunggu satu tahun lagi. Gaji ditempatku itu banyak, Ma."
"Izinin aku kerja disana ya, Ma?" Kinanti memelas.
"Ya nanti Mama bilang sama Papamu. Semoga aja Papa bolehin."
"Mama harus dukung aku soal karir, Ma. Aku pengen cepet naik jabatan."
"Jangan terlalu Ngoyo bekerja, Sayang."
"Iya, Ma. Siap. Doakan aja anakmu ini jadi orang sukses dalam berkarir."
"Aamiin, Nak."
***
Kinanti mengangkat panggilan telepon dari Ayu. Karena sudah beberapa hari ini Kinanti tidak membuka ponsel kecuali memberi kabar pada Shinta.
Tubuh Kinanti tentu saja masih lemah, namun dia tidak ingin membuat Ayu khawatir.
"Kinanti, kamu nggak apa-apa, kan?" Tanya Ayu, membuka pembicaraan di telepon.
"Assalamualaikum, Yu?" Sahut Kinanti.
"Eh, Maaf." Ayu merasa bersalah tidak memberi salam pada Kinanti. "Waalaikumsalam, Kinan. Aku khawatir sama kamu. Aku udah denger kabar tentang kamu."
"Dari siapa, Yu?" Tanya Kinanti penasaran.
"Dari temen-temen. Aku nyesel banget nggak masuk hari itu. Pasti kamu butuh temen, kan?"
"Nyesel nggak bisa nemenin aku atau nyesel nggak liat orang berkelahi?" Canda Kinanti, tapi tidak berhasil membuat nada bicara Ayu turun. Dia masih sangat khawatir.
"Ah, nggak lucu." Protes Ayu. "Kamu kapan masuk kerja, atau aku kerumahmu aja, ya?"
"Aku kayaknya nggak lanjut kerja deh." Jawab Kinanti terdengar serius. Padahal dia sedang menahan senyum dibalik telepon. "Yaudah ya, aku capek. Mau istirahat."
"Eh, tapi aku belum puas..." Ayu mendengus kesal mendapati panggilan telepon diputus secara sepihak.
***
Kinanti meliburkan diri selama 3 hari kerja. Terpaksa sekali dia izin selama itu karena keadaan tubuhnya benar-benar kurang sehat.
Untung saja Shinta membiarkan Kinanti untuk beristirahat di rumah. Tanpa mengomel sama sekali.
Hari ini Kinanti sudah masuk kerja dan mendapati jadwal pukul 08.00 WIB. Jadwal dia sama persis dengan Shinta sehingga Kinanti dengan mudah memberikan surat izin sakit pada Shinta.
"Maaf, Mbak. Ini surat sakit dari dokter." Ucap Kinanti, berdiri di depan Shinta.
"Oh, oke. Terima kasih."
"Permisi, Mbak."
Hanya itu saja. Shinta tidak menanyakan keadaan Kinanti sama sekali, dan hanya itu saja kalimat yang keluar dari mulutnya.
Kinanti sedikit kecewa, atau mungkin dia sangat kecewa dengan perlakukan Shinta seperti itu. Harapan Kinanti hanya satu, mendapatkan seorang TL yang baik.
Saat Kinanti berjalan menuju meja kosong, sebuah lambaian tangan berhasil mengalihkan perhatian Kinanti.
Tangan Ayu sedang melambai, meminta Kinanti duduk di dekatnya. Cekatan, Kinanti berjalan mendekati Ayu yang sedang duduk bersama Dita.
"Ya Allah, aku pikir kamu ngundurin diri." Ayu meraih tangan Kinanti, "Syukur banget kamu masuk kerja lagi."
"Orangtuaku nyuruh aku keluar kerja." Sahut Kinanti.
"Terus kamu nurut enggak?" Tanya Dita penasaran.
"Ya kalau aku nurut, nggak mungkin masuk kerja sekarang." Sahut Kinanti, mengulas senyum tipis. Lalu, dia menyalakan laptop untuk digunakan bekerja. "Ini laptopnya enggak enak, ah."
"Ni laptop enak." Ayu meraih laptop di dekatnya, memberikan pada Kinanti yang langsung mengambilnya.
"Bagus deh kalau kamu enggak nurut." Jawab Dita.
"Tapi beneran deh, kata anak-anak Mbak Shinta orangnya galak banget." Bisik Ayu, menempel ke telinga Kinanti. "Lah, aku aja nggak dimarahin kok sama TL-ku. TL-ku baik banget."
"Siapa TL-mu?" Tanya Kinanti penasaran.
"Siapa ya?" Ayu sengaja menahan jawaban agar Kinanti penasaran. "Mas Andi."
"Nggak usah seneng dan nggak usah sedih." Ucap Dita. "Katanya ada TL baru, jadi akan ada perubahan tim lagi. Tapi entah kapan."
"Serius?" Kinanti seakan tidak percaya dengan ucapan Dita. Ada sebuah harapan bahagia keluar dari lingkaran tim Shinta.
"Ya kita liat aja beberapa Minggu, lagi." Dita menaikkan kedua bahu, merasa ucapannya tidak yakin karena dia hanya mendengarkan saja dari yang lain. "Eh, tapi ada juga yang nggak ganti TL. Semua tergantung atasan."
"Eh, mending nggak usah cerita aja deh." Kinanti sedikit emosi namun diakhiri dengan tawa lepas.
Dia sedikit terhibur oleh kedua temannya itu.