"Nael semangat cari harta karunnya, ya?" "Siap, Mama! Nanti kalau Nael dapat harta karun, Nael kasih semua ke Mama. Tapi Mama jangan lupa kasih Papa, ya?" Mendengar itu, hati Januar tercolek. Sontak tatapannya bergulir kepada sang anak yang sedang Hanin pakaikan sarung tangan, lalu kupluk rajut di kepala. "Sedikit aja," balas Hanin. Mengerling ke arah Januar. Nael haha-hihi. "Mama pelit." Senyum Hanin otomatis terkembang, dia cubit-cubit pipi Nael sebelum dikecupnya. "Nanti hati-hati jalannya, jangan pisah dari yang lain. Mama tunggu di garis finish." Nael mengangguk. Sementara, Januar sudah keluar kamar. Hanin pun sempat melihatnya. Kini dia berdiri, menuntun tangan kecil sang putra. "Yuk, Mama antar ke main house. Kumpul dulu di sana, kan?" "Iya. Nanti Nael pergi ramai-ramai sam

